Episode 3 : Intan Dalam Keluarganya

1915 Words
Irma duduk dengan angkuh di tengah-tengah bibir tempat tidur Intan yang cukup berantakan, akibat keberadaan selimut tebal yang menggulung tak beraturan di atas kasur. Irma melirik kesal Intan yang masih melangkah pelan sambil menunduk ketakutan menyusulnya, dan baginya itu makin membuat Intan membuang-buang waktunya. Selain itu, Intan juga sampai melepas sarung tangan dan sepertinya basah. Irma berlaku seperti itu, seolah-olah anak pertamanya itu telah melakukan kesalahan fatal, hanya karena statusnya yang masih lajang, terlepas dari Intan yang juga tidak pernah ia dapati memiliki teman dekat laki-laki. Kehidupan anak pertamanya itu sangat sepi dan tak ada tanda-tanda aroma pernikahan akan dijalani. “Cepat duduk! Mamah enggak punya banyak waktu!” tegur Irma sesaat setelah bersedekap. Ia melirik sinis Intan yang kemudian duduk di seberangnya. Intan tidak duduk persis di sebelahnya, layaknya biasa. Ia dapati, kedua telapak tangan gadis dewasa itu yang berkeringat dan sibuk saling remas di atas pangkuan, menandakan Intan sedang merasa sangat tertekan. “Enggak sampai lima hari lagi, Inara akan menikah!” Irma berkata lantang. Sepanjang menyimak, selama itu juga Intan yang bungkam kerap menelan salivanya di antara ketegangan yang membuat Intan makin berkecil hati. Apalagi sebagai orang tua bahkan seorang ibu yang telah mengandung sekaligus melahirkannya, Irma selalu dengan enteng mengatai Intan sebagai perawan tua. “Semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal menjalani saja.” Intan menggigit kuat-kuat bibir bawahnya. Kini, ia melakukannya sambil menyibukkan diri memandangi kedua kakinya yang terbungkus sandal bulu warna biru. “Lalu, bagaimana dengan kamu?” Irma menatap sengit Intan. Ia menagih keputusan Intan, perihal kedua pilihan yang ia dan Andri tawarkan satu tahun lalu. Ia dapati, Intan yang menjadi sampai terlihat gemetaran, berangsur mengangguk-angguk. “Enggak usah menikah bila calon kamu bukan orang kaya apalagi dari kalangan terhormat seperti yang Inara dapat!” tegas Irma mengingatkan. Sambil menatap sengit Intan yang tersentak kemudian menatapnya dengan tatapan teraniaya, ia berkata, “Paling enggak kamu harus dapat yang lebih dari Arden karena kalau dapat yang biasa saja, lebih baik enggak usah!” Intan sungguh tidak bisa berkata-kata. Dadaanya langsung kebas. Bukankah ucapan bahkan ucapan dari seorang ibu ibarat doa termujarab untuk anak-anaknya? Intan sungguh tak bisa berkata-kata kenapa Irma begitu tega kepadanya. Kenapa di mata Irma ia selalu salah? Dan sampai kapan Intan harus mendapatkan perlakuan seperti itu? Sampai ada laki-laki kaya raya melebihi Arden sekeluarga yang sudi menikahi Intan? Mencoba berlapang dadda dan berusaha setegar mungkin, Intan menunduk sambil berdeham. “Aku benar-benar minta maaf, Mah. Malam ini juga, ... malam ini juga aku akan siap-siap.” Perih menyerang hati Intan tanpa jeda. Intan merasa dibuang. Menyandang status lajang di usianya yang dikata sudah terbilang matang sedangkan sang adik sudah menyambut hari pernikahan, bukanlah sebuah kenyataan yang Intan rencanakan apalagi harapkan. Semuanya termasuk rezeki dan jodoh sudah ada yang menggariskan. Tuhan sudah menentukan semua itu dan tidak bisa disamaratakan karena prosesnya juga berbeda-beda. Tentu saja perjalanan hidup Intan dan Inara termasuk mengenai rezeki dan jodoh akan berbeda meski keduanya telahir dari rahim yang sama. Kini, Intan merasa berhak menjalani kehidupannya tanpa harus memfokuskan kehidupannya hanya pada pernikahan, sedangkan sejauh ini, Intan selalu menjadi hidup lurus. Belajar, merampungkan pendidikan, menjadi dokter spesialis anak, sambil terus memperhatikan orang tuanya. Jika memang Intan masih lajang, tentu karena Tuhan belum mengizinkan, terlepas dari Intan yang tidak keberatan, statusnya yang masih lajang membuatnya tampak kurang bahkan caacat. “Maksudmu apa?” Irma mengerutkan dahi dan menatap Intan tidak mengerti. Meski terasa sesak bahkan sakit di hatinya makin membludak, terlepas dari kedua matanya yang panas dan basah, Intan memberanikan diri untuk menatap Irma dan memberikan senyum terbaiknya. “Pihak rumah sakit mengizinkan aku tinggal di kamar yang sudah disediakan khusus untuk karyawan. Alhamdullilah, Mah. Aku bisa tinggal di sana.” Irma menggeleng tak habis pikir, terheran-heran menatap Intan yang membuat dahinya makin dipenuhi kerut samar. “Kamu yakin dengan keputusanmu?” Setelah terdiam sejenak sambil memipihkan bibir tipisnya, Intan berangsur mengangguk dan memasang wajah bahagia. Sebuah kenyataan yang sangat kontras dengan Irma. Sebab Irma menjadi sibuk menggeleng sambil menatap kecewa sang putri pertama. “Terserah kamu-lah! Tapi kalau sampai satu tahun lagi kamu belum menikah juga, kamu harus mau kami jodohkan! Nanti biar Inara turun tangan cariin kamu jodoh orang kaya!” tegas Irma sambil menatap kesal Intan. “Dunia ini enggak akan langsung kiamat hanya karena aku belum nikah, kan, Mah? Sabarlah, Mah. Yang namanya jodoh, maut, termasuk rezeki, rahasia Tuhan. Lagi pula, yang menikah saja bisa bercerai dan belum tentu jodoh.” Intan berusaha berbicara sesantai mungkin demi meredam emosi Irma. Namun, lantaran Irma tetap menekuk wajah, Intan memilih mengakhiri usahanya. Intan berdeham dan kemudian berkata, “Aku janji, selama aku belum menikah, aku enggak akan menginjakkan kakiku di rumah ini. Aku akan makin menjaga sikap, agar aku enggak makin membuat kalian malu. Tapi, kalau Mamah sama Papah memang butuh apa-apa, Mamah sama Papah jangan sungkan buat hubungin aku, ya?” Intan menatap Irma dengan sangat memohon. Berharap, meski ia sudah dicap sebagai anak yang tidak bisa diharapkan apalagi diuntung, orang tuanya tetap mau mengandalkan sekaligus bergantung kepadanya. Irma mendengkus sebal sambil melirik sinis Intan. “Kamu fokus cari jodoh saja. Urusan Mamah sama Papah, pasti Inara akan lebih mengurus kami. Apalagi Inara akan menikah dengan Arden. Keluarga Arden kaya raya, dan mereka juga sangat baik ke kita. Pokoknya, kamu enggak usah pusing mikirin kita!” balas Irma yang menjadi makin emosional. Irma sampai beranjak dengan kasar dari duduknya. Intan menunduk pasrah. Air mata yang sedari awal ia tahan akhirnya pecah bersama hati dan pengendali kehidupannya yang seketika dililit rasa sakit. Dengan terisak-isak, wanita bermata indah itu berkata, “Jadi selama ini, aku masih kurang mengurus, aku masih kurang peduli pada Mamah dan Papah? Bahkan meski selama ini aku yang pontang-panting bagi waktu agar aku tetap bisa bekerja sambil urus kalian?” Intan menggigit keras bibir bawah bagian dalamnya agar tangisnya tidak pecah. “Maksudmu, kamu mau mengungkit semua yang selama ini kamu lakukan? Kamu mau perhitungan? Kamu ingin mengatakan bila selama ini, kamu yang mengurus kami, sedangkan Inara terlalu sibuk mengejar pendidikannya?!” Suara Irma menggelegar tak ubahnya gemuruh petir yang memecahkan keheningan sore tadi, menemani hujan yang turun dengan ringan. Intan memilih bungkam, meski apa yang Irma tegaskan memang benar. Intan sungguh tak mau lagi berkomentar karena apa pun yang ia lakukan pasti akan tetap salah selama ia tak juga mengakhiri mas lajang, menikah dengan laki-laki kaya raya. “Inara berjuang keras buat jadi dokter bedah saraf terbaik. Dia susah payah melakukan semuanya demi membanggakan keluarga. Bahkan karena usaha kerasnya juga, Inara akan menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya raya! Mikir kamu, Tan. Mikir ke situ! Jangan dangkal! Kamu mau iri bahkan syirik pada adikmu sendiri? Picik kamu!” bentak Irma sambil menunjuk-nunjuk kepala Intan menggunakan telunjuk kanannya. Irma sungguh tak segan mengolok-olok anak gadisnya yang sudah tumbuh dewasa dan sebenarnya bukan orang sembarangan. Namun, karena statusnya yang masih lajang, bagi Irma Intan sungguh mencoreng nama baik keluarga mereka. Pasrah dan menerima, kembali menjadi pilihan yang Intan jalani. Intan memilih diam termasuk mendiamkan air matanya yang terus mengurai cerita. Tak ada lagi rasa dingin yang begitu menyiksa. Tak ada lagi rasa kaku berikut mati rasa yang membungkus kehidupan Intan. Sungguh, semua itu luruh bersama caci maki yang ia dapat dari ibu kandungnya sendiri. Semua luka yang berkumpul menjadi satu tengah berpesta ria, mengolok-olok Intan layaknya apa yang beberapa saat lalu Irma lakukan. Seperginya Irma yang menahan banyak rasa kecewa sekaligus emosi, Intan melangkah tergopoh dengan kedua tangan menahan kedua lutut. Ia terduduk di lantai dan menyandar pada tempat tidur. Ia dapati, sebuah koper berukuran cukup besar yang tergeletak di sebelah lemari pakaiannya, di seberang sana. Koper tersebut sudah terisi hampir penuh. Tentunya, Intan tak boleh menunda lagi dalam membereskannya lantaran besok pagi juga, ia harus angkat kaki, pergi dari rumah orang tuanya sendiri. Mau tak mau, Intan harus mau. Meski rasa rindu terhadap orang tuanya lantaran harus hidup berjauhan dari keduanya, akan menjadi satu-satunya candu atau malah racun yang bisa saja kian mengikis kesehatan Intan. **** Pagi ini, Intan telat bergabung untuk sarapan lantaran ia kesiangan. Sambil menenteng kopernya yang besar dan memang kerepotan, dari anak tangga keberadaannya yang jauh dari kata luas, Intan yang sudah mengenakan jas putih sebagai seragam kedokteran kebanggaannya, mendapati orang tuanya tengah menyantap sarapan. Irma dan Andri duduk mengapit Inara bertabur senyuman. Sambil mengunyah sarapan mereka berupa roti panggang dengan selai, selain segelas suusu dan potongan buah apel, keduanya sibuk mencoba menyuapi Inara. Jangan heran kenapa mereka begitu memanjakan Inara tak ubahnya putri raja. Sebab seperti yang sudah Irma tegaskan, Inara dengan semua yang ada dalam hidup gadis itu berikut pernikahan yang akan dijalani, merupakan kesempurnaan sekaligus kebanggaan mereka. Iri? Tentu Intan merasakannya karena pada kenyataannya, orang tua mereka memang pilih kasih. Namun, Intan sungguh tidak mau semakin melukai dirinya sendiri dengan semua rasa itu. Terlebih selain mendapatkan cinta yang begitu melimpah dari orang tua mereka, Inara juga akan menikah dengan Arden selaku pria yang sangat Intan cintai. Sudahlah, Tan. Jangan terus-menerus meratapi nasib. Toh meski kamu menghabiskan waktumu untuk meratapi nasib, beneran enggak ada gunanya! batin Intan yang mencoba menasehati sekaligus menguatkan dirinya sendiri. Intan menarik napas dalam demi mengumpulkan tenaganya untuk mengangkat kopernya yang besar. Intan berniat langsung pamit karena seperti satu minggu terakhir, kali ini di meja makan kembali tidak ada jatah sarapan untuknya. Boleh dibilang, makin dekatnya hari pernikahan Inara dan Arden, orang tua Intan memang sengaja mengusir Intan dengan halus. Salah satunya, tak ada lagi jatah vitamin dan makan, bahkan jatah keperluan hidup semacam perlengkapan mandi untuk Intan. “Sayang, ... makan dong. Sebenarnya kamu kenapa, sih? Kamu marah? Ada yang salah?” keluh Irma yang sangat mencemaskan Inara. Irma membelai wajah Inara dan menyisihkan rambut lurus berwarna hitam legam sang putri kesayangan yang pagi ini digerai, ke belakang telinga. Karena kulitnya yang putih bersih, rona merah yang menghiasi hidung berikut kedua mata Inara tidak dapat disembunyikan, bahkan meski Inara telah mengenakan kacamata min. Inara tetap bungkam. Kesedihan sungguh membungkus gadis itu tak ubahnya sore kemarin ketika Intan baru pulang. Sebuah kenyataan yang terbilang langka sekaligus aneh. Bukankah Inara sudah memiliki segalanya? Lantas, apa lagi yang kurang dan sampai membuat Inara sesedih sekarang? Dengan terengah-engah, Intan meninggalkan kopernya tak jauh dari meja makan kebersamaan orang tua dan adiknya. Intan menghadap ketiganya yang tetap mengabaikannya meski deru napas berikut langkahnya telah menimbulkan suara. “Mah, Pah, Ra, … aku pamit, ya?” Intan menatap hati-hati ketiga wajah di hadapannya yang masih mengabaikannya. “Sudah … sudah, sana langsung pergi saja. Inara sedang sangat sedih gara-gara malu dan itu karena kamu! Bisa panjang urusannya kalau Arden sampai tahu!” Tanpa menatap Intan, Irma mengiprat-ngipratkan sebelah tangannya yang tidak membelai kepala Inara. Ia melakukannya seolah-olah, ia tengah mengusir hewan untuk segera pergi meninggalkannya. Intan refleks menelan salivanya seiring rasa sakit yang kembali menjadi teman baik. Kemudian ia menatap Andri yang hanya menatapnya dengan tatapan berat. Hal terakhir yang Intan tunggu adalah tanggapan Inara, tapi adiknya itu tetap diam menunduk dengan kesedihannya, seolah-olah, wanita itu merupakan orang paling menderita di muka bumi ini. “Baiklah. Assalamualaikum. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!” Tetap tidak ada balasan. Ketiga orang di meja makan itu begitu sibuk dengan problematika yang tengah membuat Inara bungkam, tenggelam dalam kesedihan. “Tuhan pasti memiliki alasan, kenapa aku bisa ada dalam situasi seperti sekarang? Sabar ….” Intan menarik kuat kopernya. Ia keluar dari rumah yang selama enam belas tahun terakhir menjadi alasannya untuk pulang. Namun, mungkin kenyataan itu akan membuatnya sangat rindu, lantaran ia tak mungkin bisa melakukannya lagi jika ia tak kunjung mendapatkan pasangan kaya raya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD