episode 14

1075 Words

20 juli 2020 Suami terbaik Episode 14             Gemes deh dengan sindiran Nita, membuat ku terpaksa berkata jujur kalau betapa taku rasanya kehilangan suami terbaikku, kalau dipikir rasa cinta itu seperti apa diriku tidak tau, yang ku tau hanya merasa nyaman berada didekatnya, seakan suamiku itu akan selalu melindungiku, meski terkadang rasa penasaranku kerap muncul melihat wajahnya yang tiba-tiba pucat seperti mayat hidup, bayangkan saja tadinya cerah berubah pucat, takut sendiri kalau tiba-tiba mati mendadak dikira aku ini yang memberi sianida.             “ Ah, laparnya. Nit, cari makan yuk!” seruku mengajak si Nita cari warung bakso disebelah, paling suka makan bakso merah yang pedas.             “ Ogah, artinya aku harus bonkarin tong sampah untuk nyari sisa makan orang. Meski

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD