Davira melangkahkan kaki ke ruang ruang rawat di salah satu rumah sakit itu yang dipenuhi aroma khas rumah sakit, campuran antiseptik, bunga, dan udara dingin dari pendingin ruangan yang membuat suasana terasa sedikit kaku. Di hari minggu yang biasanya dia isi dengan bermalasan di rumah, kini dia memilih keluar karena di rumah pun pikirannya tak lepas dari memikirkan Zhavi yang entah sedang berada di mana? Karena pesannya belum juga dibalas pria itu. Davira berdiri di depan pintu kamar, menarik napas sebentar sebelum akhirnya mengetuk pelan dan masuk. Senyumnya langsung terpasang ketika melihat salah satu sahabat di masa SMAnya terbaring lemah namun wajahnya tampak bahagia, dengan bayi mungil di sampingnya. “Davira,” panggil temannya lirih. “Ya ampun, sudah lahiran? Kamu hebat banget,

