Sepulang dari kantor, Ardika lebih banyak diam. Dia memikirkan mimpinya tadi siang di kantor. Kenapa dia bisa bermimpi seperti itu? Di tangan pria itu sudah ada foto bocah berusia lima tahun, foto terakhir yang dicetak sebelum kejadian itu. Wajah mereka sekilas mirip. Ardika jadi teringat anak kecil yang menabraknya di trotoar jalan kala itu. Anak kecil yang sedang bermain dengan salah seorang ibu-ibu yang belakangan ia ketahui adalah pengasuh anak kecil tersebut. Kala itu mereka sedang ada urusan di Amsterdam, tetapi siapa sangka urusan itu membawa seorang kakak bertemu dengan adik kandungnya dan menjadi maut bagi si adik. "Argh!!!" Pria itu berteriak kesal. Beruntung kamarnya kedap suara sehingga tak perlu ada yang tahu apa yang terjadi padanya. Kedua orang tuanya juga entah kemana s

