Alasan Ratna yang sangat bekerja keras adalah untuk membuat keluarganya tidak kekurangan. Selain itu, alasan terbesar Ratna adalah agar ia tidak melihat Riana. Ia benci melihat wajah Riana. Wajah itu membuatnya selalu ingat dengan kejadian kelam itu. Semenjak kejadian itu, keluarganya di jauhi oleh para saudaranya. Bahkan mereka tidak menganggap keluarga Ratna lagi. Karna bagi mereka, keluarga Ratna adalah aib bagi mereka.
Bukan kemauan Ratna untuk mengalami kejadian itu. Bahkan ia dengan susah payah mencoba menerima masa lalunya. Ia harus pergi ke psikolog untuk menyembuhkan traumanya. Dengan kejadian itu, membuat dirinya tau, mana orang yang benar-benar tulus padanya, dan mana yang tidak tulus. Bahkan teman-teman terdekatnya saja bisa pergi jauh meninggalkannya di saat dia sedang terpuruk dan butuh dukungan. Marcell, salah satu orang yang benar-benar tulus mengulurkan tangannya, membantunya, dan memberi dukungan.
Saat Ratna mengundang para saudaranya untuk datang ke pernikahan dirinya dan Marcell, tidak ada satupun yang datang. Mereka benar-benar tidak menganggap Ratna lagi. Bahkan saat orang tuanya meninggal pun, tak ada satupun diantara mereka yang datang. Rasa bersalah selalu timbul di hati Ratna kepada orang tuanya. Karena dirinya, mereka tidak di anggap lagi oleh para saudaranya yang lain. Tapi Ayah dan Ibunya tidak pernah menyalahkannya. Karena itu hanya sebuah kecelakaan. Tidak ada yang ingin hal itu terjadi. Ayah dan Ibunya selalu memberinya semangat. Ayah dan Ibunya selalu ada disampingnya. Ratna kini tau, bahwa keluarga adalah tempat pulang. Disaat semua orang pergi meninggalkannya, hanya keluarganya yang ada untuk dirinya.
"Mikirin apa, hmm?" tanya Marcell sambil mengusap lengan istrinya. Ratna menggelengkan kepalanya dan ia memeluk suaminya dari samping dan menyenderkan kepalanya di d**a bidang Marcell.
"Kalau ada apa-apa cerita ya. Jangan dipendam sendiri. Kita udah saling terikat sebagai suami-istri. Masalah kamu, juga masalah aku. Pikirin juga kesehatan kamu. Kalau kamu mau cerita, cerita aja sama aku." ucap Marcell dengan lembut sambil mencium pelipis Ratna.
Ratna semakin memeluk erat suaminya. Entah kebaikan apa yang ia perbuat di masa lalu hingga ia mendapatkan sosok pendamping sebaik Marcell. Berkali-kali Ratna bersyukur kepada Sang Pencipta karena memberikan dirinya pendamping yang sangat baik.
Marcell tidak tau apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya. Ayolah, dia bukan orang cenayang yang bisa tau apa pikiran seseorang. Sejak tadi, ia melihat Ratna melamun, padahal mereka sedang menonton drakor pilihan Ratna. Marcell tidak terlalu senang menonton drakor, ia hanya ingin menemani istrinya saja. Ia ingin memanjakan istrinya. Marcell sangat tau masa lalu Ratna, bahkan para saudara Ratna yang tidak menganggap keluarga Ratna lagi. Semua Marcell tau. Kecuali pria itu, pria yang memberikan trauma kepada Ratna. Selama hampir sepuluh tahun sejak kejadian itu, Ratna tidak pernah memberi tau siapa pria itu. Orang tua Ratna dan Marcell tidak memaksa Ratna, karena mereka takut Ratna kembali trauma karena membahas pria itu.
"Siapa sebenarnya pria itu Ratna? Bagaimana aku bisa mempertemukan Riana dengan Papanya? Bahkan aku sendiri tidak tau siapa pria itu." batin Marcell.
Marcell sudah mencari tau kejadian itu, namun ia tidak menemukan bukti apapun. Ia tidak menemukan apapun. Sepertinya memang ada yang menutup kejadian itu. Ingin sekali rasanya Marcell menghajar pria itu karena tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya. Ingin bertanya pada Ratna itu tidaklah memungkinkan. Bisa-bisa Ratna kembali trauma.
"Maafin saudara-saudara aku ya Mas. Mereka gak ada yang bisa dateng di acara pernikahan kita." ucap Ratna dengan tiba-tiba. Ratna benar-benar tidak enak dengan keluarga Marcell. Apalagi tantenya Marcell, ia sangat tidak suka dengan Ratna. Dan tantenya itu memperlihatkan sikap tidak sukanya secara terang-terangan. Marcell paham sekarang. Ia pun memeluk Ratna dan mengusap bahunya.
"Sssttt.... Udah gak usah di pikirin. Lagi pula semuanya berjalan dengan lancar. Jangan memikirkan hal-hal yang bisa membuat kesehatan kamu menurun. Kita tau bagaimana keadaannya." ucap Marcell menenangkan istrinya. Ia tau betul bagaimana saudara-saudara dari pihak Ratna. Mereka benar-benar tidak menganggap Ratna lagi. Terkadang Marcell tidak habis pikir dengan mereka. Bagaimana bisa mereka memutuskan tali persaudaraan bahkan itu bukanlah salah Ratna.
"Mau makan?" tanya Marcell. Tak terasa sekarang sudah saatnya makan siang. Ratna pun mendongakkan kepalanya menatap Marcell. Kemudian ia pun mengangguk sebagai jawaban. Marcell pun tersenyum gemas. Ia menggigit pucuk hidung Ratna.
"Ih sakit tau! Suka banget sih gigit-gigit." gerutu Ratna dengan kesal. Marcell malah terbahak melihat Ratna yang tengah kesal. Makin imut.
"Mau makan dulu atau mau sholat dulu?" tanya Marcell.
"Sholat dulu aja deh." sahut Ratna.
Setelah melakukan ibadah, mereka pun makan siang bersama. Hari ini Ratna tidak perlu memasak karena sudah di masak kan oleh ART suruhan Mira.
***
Damar dan Anya kini akan menetap di Jakarta. Selama ini mereka tinggal di Malang karena tuntutan pekerjaan Damar. Mereka membeli rumah di dekat rumah Mira dan Dennis. Hanya berbeda dua rumah saja. Galaksi, anak bungsu Anya dan Damar sangat senang bisa di sini. Selain dekat dengan Eyang dan Utinya, ia bisa bermain dan bersekolah bersama Riana. Mereka cukup dekat, tapi terkadang juga suka bertengkar. Namun hanya sebentar, setelah itu mereka akan kembali baikan.
Damar Putra Dermawan berumur 38 tahun dan Anya Tamara Adiguna berumur 36 tahun, mereka mempunyai tiga anak. Dan ketiganya adalah anak laki-laki. Anak pertama mereka adalah Antariksa Dermawan, ia berumur 15 tahun. Saat ini Anta duduk di kelas 1 SMA. Anak keduanya adalah Mars Dermawan, ia berumur 11 tahun. Mars duduk di bangku kelas 6 SD. Dan yang terakhir adalah Galaksi Dermawan, ia berumur 9 tahun. Dan ia duduk di kelas 4 SD. Seperti Riana. Mars dan Galaksi akan bersekolah di tempat yang sama dengan Riana.
Selain dengan Kalandra Sadewa dan Sagara Sadewa, Riana juga sangat akrab dengan Antariksa, Mars, dan Galaksi. Saat ini mereka ada di halaman belakang rumah. Saat ini mereka sedang bermain basket. Dennis sengaja membuatkan lapangan itu khusus untuk cucu-cucunya. Sagara dan Kalandra juga datang kesini. Pagi tadi, Riana menelpon Bunda Maya agar Kalandra dan Sagara di perbolehkan main di rumah Eyangnya. Tentu saja Maya mengabulkannya. Ia meminta tolong kepada supirnya untuk mengantar anak-anaknya ke rumah keluarga Adiguna.
"Anak-anak! Sini minum dulu!" ucap Anya dengan sedikit berteriak. Keenam anak itu pun menyudahi permainan mereka dan menghampiri Anya.
"Ya ampun, sampai basah gitu bajunya." gerutu Anya. Mereka hanya cengengesan mendengar gerutuan Anya.
"Nyengir semua." cibir Anya. Walaupun mencibir tapi ia sangat gemas dengan anak-anak di depannya itu.
"Habis ini kalian mandi, terus sholat. Setelah itu makan siang bareng-bareng." mereka dengan kompak menganggukkan kepalanya ketika mendengar ucapan Anya.
"Siappp Mommy!"
"Siaaapp Tante!"