09 Kencan

1717 Words
“Ra, lo kok bisa sih sembunyi dari gue setahun lebih? Perasaan, lo hari-harinya juga selalu sama gue. Terus kapan kalian pacarannya?” Saat ini Ara tengah makan siang di kantin kantor bersama sahabatnya, Helen. Sejak tadi gadis itu masih terus menginterogasi perihal hubungan Ara dan Juna yang masih hangat diperbincangkan khalayak luas. Helen masih belum sepenuhnya percaya jika Ara yang terkenal pendiam dan polos di kantor bisa memiliki kekasih super terkenal dan kaya seperti Arjuna. “Dia sering sibuk, Len. Makanya aku lebih sering sama kamu,” jawab Ara hati-hati. Tentu ia tak ingin kebohongannya diketahui. “Sesibuk-sibuknya Juna, masa’ sih lo bisa serapi itu nyembunyiinnya? Lo gak ngada-ngada kan, pacaran sama Juna?” Uhukk Ara tersedak saat sedang meneguk air dari dalam gelasnya. Sedetik kemudian ia menerima tisu yang diulurkan Helen dan membersihkan bibirnya. “Hati-hati kalau minum,” Helen menegur. “Iya.” “Jadi gimana? Apa rahasia lo bisa serapi itu sembunyi bahkan dari gue?” “Hemmm...” Ara terlihat berpikir dengan keras. Sungguh ia tak ingin membohongi Helen lebih jauh lagi. Karena bagaimanapun, setiap kebohongan pasti akan melahirkan kebohongan lain untuk menyempurnakan kebohongan sebelumnya. Sehingga tidak heran jika selama mengenal Juna, otak Ara harus bekerja lebih ekstra hanya untuk mengarang kata-kata dari kejadian yang belum pernah dilaluinya. “Ra!” Dddrrrttt...ddrrrttt... Ara menghela napasnya lega saat getar ponselnya seolah sedang menyelamatkan sel-sel otaknya yang semakin berhamburan. Iapun tersenyum meminta maaf pada Helen untuk menjawab panggilan masuk itu. “Bentar ya, Arjuna,” ujar Ara lirih seraya menggeser icon berwarna hijau di layar ponselnya. Helen mengangguk seraya menyandarkan punggungnya ke kursi. “Halo, Mas,” sapa Ara mencoba lembut. Padahal jika tak ada siapapun ia akan berbicara dengan ketus pada Juna. “Lagi sama orang?” tanya Juna dari seberang. “Iya, ini aku lagi makan siang sama Helen. Ada apa?” “Biar gak buang-buang waktu, gue kirimin data-data apartemen yang bisa lo pilih sekalian harganya. Kalau bisa siang ini lo udah tentuin mau pindah kemana biar ntar pas gue jemput bisa langsung pindahan.” “Buru-buru banget? Bukannya semalem bilang masih mau lihat-lihat?” “Gue sibuk,” balas Juna ketus. “Yaudah, gak usah repot-repot! Aku bisa sendiri,” sahut Ara tak kalah sinis. “Maksud lo?” “Gak usah jemput kalau sibuk. Aku bisa sewa jasa kurir buat ngakut barang-barang aku.” Rasanya Ara sudah ingin mengumpati pria itu jika saja ia tak mengingat ada orang lain disekitarnya. Ia tahu pasti jika Juna juga terpaksa menjemput serta menemaninya pindahan, bukan sibuk. “Gue udah janji mau nemenin! Dan gue tipe pria yang bisa dipegang omongannya, jadi gak perlu sinis atau baperan gitulah,” balas Juna yang ikut terpancing rasa kesalnya. “Udah, mendingan lo cepet pilih biar cepet diurus kontraknya! Gue tunggu sejam.” Sebelah tangan Ara yang berada dibawah meja terkepal erat, namun ia masih bisa mengontrol ekspresinya dengan tenang. “Iya.” Bbiippp Sambungan telephone pun terputus. Helen menegakkan punggungnya dengan sedikit condong kedepan pada Ara. “Kenapa? Kayaknya lagi debat?” tanya Helen penasaran. “Arjuna nyuruh aku pindah ke apartemen. Katanya setelah identitasku terekspos, bisa bahaya kalau aku tetap di kontrakan. Jadi dia cariin apartemen yang lebih aman,” jelas Ara yang kali ini begitu lancar karena ia tak perlu berbohong. Bersamaan dengan itu beberapa pesan masuk ke ponsel Ara. Pesan dari Juna yang berisi foto-foto serta detail apartemen yang harus Ara pilih. Gadis itupun memusatkan perhatiannya pada ponsel dan mulai membolak-balik setiap foto untuk membandingkan. “Oh, bener juga sih sarannya Juna. Kadang netizen suka kepo sampek ada yang nyariin ke rumah juga.” Helen mengangguk-angguk setuju. “Terus, lo mau pindah kemana?” “Ini masih disuruh milih. Ntar Arjuna yang ngurus administrasinya.” “Dia mau ngurus-ngurus begituan? Bukannya dia sibuk banget?” “Iya, makanya tadi aku bilang gak usah jemput kalau sibuk banget. Tapi dia ngeyel, udah janji bilangnya,” jawab Ara tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. “So sweet.” Helen menyipitkan matanya sambil tersenyum-senyum malu. Kalau saja gadis itu tahu kondisi Ara saat ini, mungkin ia akan melihat Ara memutar kedua bola matanya jengah. “Menurut kamu yang ini gimana? Lokasinya di Kebon Jeruk, gak terlalu jauh dari kantor dibanding kontrakan aku sekarang.” Ara mengalihkan pembicaraan mereka seraya mengulurkan ponselnya pada Helen yang langsung diterima gadis itu. Mata Helen menelisik setiap detail yang Juna kirimkan dengan kepala yang sesekali mengangguk. “Bagus. Udah full furnished juga jadi gak perlu repot beli barang-barang. Kalau lo suka dan nyaman, ambil aja,” saran Helen seraya mengembalikan ponsel Ara. “Tapi harganya,-” kalimat Ara menggantung. “Di Jakarta apartemen dengan harga segitu termasuk terjangkau, Ra. Emang sih dua kali lipat daripada harga sewa kontrakan lo yang sekarang. Tapi demi keamanan, gue kira sepadan kok!” “Yaudah, aku bilang Arjuna dulu!” Ara mengirimkan detail apartemen yang dipilihnya pada Juna. Alasan ia memilih apartemen dengan harga terjangkau meski Juna yang membayar adalah karena Ara tak pernah dibiasakan menerima bantuan orang lain secara cuma-cuma. Meski pada kenyataannya ia dan Juna sedang dalam kerjasama untuk menguntungkan pria itu, namun tetap saja hal ini menyalahi nurani Ara. ===== Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, Juna menjemput Ara tepat saat jam pulang kantor. Bedanya kali ini pria itu tidak turun dari mobilnya dan hanya menunggu dari area parkir. Walaupun demikian, ia tetap saja menjadi pusat perhatian para pekerja lainnya yang juga akan mengambil kendaraan mereka. Juna sengaja menampakkan dirinya meski bisa saja ia berdiam diri didalam mobil dan menyembunyikan dirinya. Namun apa gunanya kontrak yang sudah ia buat dengan Ara jika mereka sembunyi-sembunyi? Setelah berpisah dari Helen, Ara langsung menemui Juna di area parkir. Tanpa aba-aba pria itu langsung memeluknya dengan tujuan agar setiap orang melihat mereka. Ara yang merasa risih pun segera melepaskan dirinya. Namun senyum merekah Juna seolah menghipnotis kesadaran Ara hingga membuat gadis itu mengikuti setiap rencana Juna. “Lo udah packing, kan?” tanya Juna basa-basi saat mereka tinggal berdua di dalam mobil pria itu. “Belum semuanya,” jawab Ara jujur. “Bawa yang penting-penting aja! Gak perlu semuanya.” “Iya.” “Tumben nurut banget nih cewek. Kesambet apa gimana?” batin Juna heran. ===== Setelah berpamitan dengan pemilik kontrakan dan beberapa temannya, Ara benar-benar meninggalkan pemukiman padat penduduk itu dan menyambut kehidupan barunya yang mungkin akan sangat berbeda. Sekitar pukul delapan malam apartemen bertipe satu kamar itu sudah rapi dan dipenuhi barang Ara. Kini gadis itu tengah duduk menyandarkan dirinya di sofa karena kelelahan. Untung saja Juna benar-benar membantunya hingga pekerjaan mereka bisa cepat selesai. “Laper gak?” tanya Juna yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah dan ia keringkan dengan handuk kecil berwarna putih. Tadi ia memang cukup kelelahan hingga menumpang mandi disana. “Laper,” jawab Ara lirih. Terlihat sekali betapa lelahnya gadis itu hari ini. “Makan ke bawah, yuk!” Juna memberikan ide. Bangunan apartemen yang Ara tempati memang tepat berada diatas mall dengan beragam jenis gerai, salah satunya adalah restoran. “Capek,” balas Ara dengan nada yang agak merengek. “Bentar doang daripada kelaperan. Disini juga belum ada bahan makanan, ntar sekalian gue temenin belanja ke supermarket.” Ara menegakkan tubuhnya menatap Juna dengan tajam. Ia terlihat heran mengapa pria itu menjadi cukup ramah hari ini? Adakah maksud tersembunyi dari kebaikannya? Ara memang tak boleh lengah saat sedang berhadapan dengan seorang Arjuna. “Bagus buat publikasi. Bukannya kelihatan romantis kalau belanja sama-sama?” Juna mengedikkan bahunya seraya meletakkan handuk yang baru ia pakai keatas jemuran. “Ah, tentu saja. Semua hal manis yang dilakukan Juna selalu adalah tameng untuk karirnya. Tapi kenapa aku ngrasa kecewa? Ini gak bener. Sungguh!” batin Ara sambil menggelengkan kepalanya. “Tunggu sebentar, aku mau cuci muka dulu!” Tak butuh waktu lama, sekitar lima belas menit kemudian keduanya sudah sama-sama siap. Mereka pun turun ke lantai dasar untuk mengisi perut terlebih dahulu. Selama berada didepan publik, Juna benar-benar menjadi sosok kekasih yang sempurna. Senyum manis yang hangat, lengan posesif yang tak sedikitpun melepaskan pinggang gadis itu, serta tindakan kecil lainnya terlihat begitu romantis. Seperti menarik kursi untuk Ara, menanyakan apa yang akan gadis itu makan, merapikan anak rambut Ara yang menutupi wajah cantik gadis itu, dan yang paling penting adalah kalimatnya yang begitu lembut dan menenangkan. Seandainya saja Ara tidak teringat pada kontrak mereka, ia mungkin sudah akan terbawa perasaan dan jatuh hati pada sikap-sikap Juna. Namun Ara selalu tersadar ketika ia sudah berdua saja dengan pria itu. Sikap Juna langsung berubah seratus delapan puluh derajat berbeda. Pria itu menjadi super menyebalkan yang seringkali memancing emosi Ara. Saat sedang menunggu makanan mereka datang, Juna menyadari jika banyak yang memperhatikan mereka. Terutama para pria yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya dari Ara yang memakai blouse agak tipis yang membuat siluetnya menarik mata. Juna pun mendengus seraya melepaskan jaket denim yang ia kenakan dan langsung memakaikan pada Ara. “Eh, kenapa?” tanya Ara kaget. “Lain kali pakai baju yang tebelan dikit! Keliahatan,” jawab Juna tanpa keramahan. Ara membelalakkan matanya seraya mengenakan jaket pria itu ke tubuhnya dengan benar. Ia tak menyadari jika pilihan pakaian yang dikenakannya akan mengundang persepsi buruk. “Kamu lihatin dari tadi?” tanya Ara dengan mata memicing. “Makasih udah bikin mata gue seger,” seloroh Juna yang membuat Ara semakin membulatkan matanya dengan lebar. “Tapi gue gak suka kalau cowok-cowok lain liatin milik gue.” “Milik kamu?” “Selama enam bulan lo jadi milik gue!” Ara mendecih. Tentu saja hanya itu yang ada di pikiran Arjuna. “Kita kelihatan kayak lagi bertengkar gak sih?” tanya Juna kemudian yang hanya dibalas Ara dengan mengedikkan bahunya cuek. “Siniin tangan lo!” “Buat apa?” “Udah, siniin aja!” Ara mengulurkan tangan kanannya keatas meja yang langsung diraih oleh Juna. Tanpa permisi pria itu menggenggam tangan Ara yang membawanya kedepan bibir pria itu. Seolah kejutan belum berakhir, Juna mencium punggung tangan Ara dengan lembut dan tatapan teduhnya. Samar-samar terdengar suara pengunjung lainnya yang merasa iri karena hubungan mereka. “Sudah, pacar idaman,” gumam Juna tanpa mengendurkan senyumnya dengan mata yang menatap lurus manik coklat gelap Ara. Kedua tangannya juga terus menggenggam tangan Ara yang membuat gadis itu mematung. Ara tak pernah ada dalam posisi ini hingga ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD