Dengan menggunakan penerbangan paling pagi dan kelas bisnis, Juna membawa Ara beserta timnya ke Bali untuk pemotretan bersama salah satu majalah kenamaan dunia. Pria itu memang akan langsung setuju untuk bekerjasama dengan media global untuk lebih melambungkan namanya di kancah internasional. Kali ini majalah fashion MC yang berbasis di Paris Perancis mendapuknya sebagai model sampul mereka untuk edisi musim panas.
Setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai, Juna langsung membawa rombongannya menuju tanjung Benoa untuk menaiki yatch yang akan membawa mereka menuju Nusa Penida. Hari masih cukup pagi saat mereka mencapai resort milik Juna dan semua orang langsung bersiap-siap untuk melakukan pekerjaan mereka.
"Aku di resort aja ya, Kak," pinta Ara pada Raka yang ikut bersama mereka.
Saat ini Juna tengah menemui penanggung jawab resort untuk sekaligus memantau perkembangan usahanya itu. Benar-benar definisi sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Pria itu sama sekali tidak membiarkan waktunya terbuang sia-sia dengan hanya berdiam diri saja sembari menunggu waktunya bekerja nanti.
"Kenapa? Ikut aja lah Ra, gak bakalan lama, kok," bujuk Raka persuasif.
"Pasti bakal rame banget deh, kak. Dan aku kan bukan siapa-siapa, gak punya kerjaan, nanti malah ganggu dan ngrepotin kalian aja," Ara berusaha membujuk.
"Masa' udah sampek sini kamu gak mau nemenin Juna, sih? Atau kamu cuma mau manfaatin kesempatan ini buat liburan?"
"Nggak, Kak, sungguh," Ara menggoyangkan telapak tangannya tanda bantahan. "Aku cuma gak mau ganggu kalian kerja aja."
"Lo gak bakalan narik lagi kalimat yang bilangnya mau nemenin gue, kan?" Suara baritone Juna menginterupsi perbincangan keduanya.
Akhirnya dengan ajakan persuasif bernada ancaman dari Arjuna, Ara pun setuju untuk mengikuti pria itu bekerja. Meski ternyata Ara memang memilih menonton dari kejauhan dan tak sedikitpun mendekat.
Pemotretan itu dilakukan di beberapa lokasi, salah satunya adalah pantai kelingking yang akhir-akir ini cukup terkenal. Dengan mengenakan dress pantai panjang yang berkibar-kibar karena angin, Ara tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Juna yang berganti-ganti pose tanpa terlihat canggung sedikitpun.
Setelah beberapa kali mengganti pakaiannya yang bertema musim panas, Juna serta Raka saat ini terlihat sangat serius berbincang dengan perwakilan majalah yang merupakan seorang pria berusia tiga puluhan. Beberapa kali mereka juga tampak menoleh pada Ara yang sendirian di belakang. Bersamaan dengan itu terlihat wajah Juna yang berkerut hingga membuat pria itu menyugar rambutnya dengan kasar.
"Mas Juna marah. Ada apa?" batin Ara yang bisa membaca raut wajah pria itu dari kejauhan.
Raka serta Juna beberapa kali terlihat berdebat dengan perwakilan majalan itu. Hingga tak lama kemudian Juna menampilkan raut pasrahnya. Pria itu kemudian berjalan mendekati Ara dengan langkah lunglainya. Setelah sampai didepan gadis itu, Juna tak langsung berbicara, ia malah menampilkan raut bersalahnya serta menghela napas dengan kasar.
"Maaf."
Hanya satu kata yang keluar dari bibir Juna yang membuat Ara kebingungan.
"Harusnya gue biarin lo tetep di resort."
"Kenapa? Ada apa?"
"Mereka minta lo ikutan jadi model nemenin gue," jawab Juna dengan nada frustrasi. "Gue sama kak Raka udah jelasin ke mereka kalau lo cuma warga sipil biasa, gak punya pengalaman, tapi mereka terus maksa. Lo mau kan bantuin gue? Cuma beberapa kali pose aja!"
"Tt-tapi, aku gak pernah difoto begini," protes Ara terbata. Ia sangat terkejut.
"Gue tahu, makanya kita tadi nolak. Masalahnya mereka mengancam untuk membatalkan pemotretan kalau permintaannya ditolak," jelas Juna merasa bersalah. "Mau ya? Tolongin gue lagi!"
Ara terlihat berpikir selama beberapa saat. Dahinya berkerut tiap kali otaknya bekerja keras. Ara ragu. Selain gadis itu tidak menyukai kamera serta menjadi pusat perhatian, ada hal lain yang selalu mengganggu pikirannya jika ia jadi semakin dikenal banyak orang.
"Bell, please!" Juna terus meyakinkannya dengan tatapan memohon.
"Kamu gak lagi acting, kan?" tanya Ara memastikan yang membuat Juna menepuk jidatnya.
"Gue serius, Bell!"
"Tapi beneran cuma bentar aja, kan?" Juna mengangguk pasti. "Aku bener-benar gak suka ada di depan kamera, mas!"
"Asal mereka udah dapet foto kita berdua yang layak publish, udah cukup, kok!"
"Yaudah deh! Ayok!"
Juna tersenyum sumringah setelah mendapat persetujuan gadis yang tiga tahun lebih muda darinya itu.
Tim make up pun segera mendandani Ara dengan tone yang sesuai dengan tema pemotretan. Gadis itu juga harus mengenakan sundress berbahan sifon dengan motif bunga-bunga, serasi dengan yang dikenakan oleh Juna saat ini. Sayangnya model pakaian itu membuat Juna sedikit kesal karena menggunakan desain low v-neck yang memamerkan belahan d**a Ara. Meski sangat pas dikenakan oleh gadis itu, namun bentuk tubuhnya yang memang berlekuk serta sintal itu membuat para pria seperti mendapat angin segar di bawah terik matahari.
"Bu, gak ada baju model lain, ya? Aku gak nyaman."
Ternyata bukan hanya Juna yang terganggu. Ara sendiri juga merasakan hal yang sama.
"Kakak pakai ini dulu, baru nanti ganti lagi," bantah penata busana yang bertanggung jawab menyiapkan pakaian untuk pemotretan ini.
"Tapi ini gak nyaman," Ara terus mengajukan protesnya.
"Ini ketentuan managemen, Kak! Kakak gak bisa nolak, dong," penata busana yang seorang wanita berusia tiga puluhan itu berkata dengan sedikit keras. Sepertinya ia tengah kesal.
"Cuma orang biasa yang mau numpang tenar aja pake' protes! Sok banget sih mentang-mentang pacarnya Arjuna." Wanita itu menggerutu sendiri yang masih didengar oleh Ara.
Gadis yang menurut Juna memang baperan itupun moodnya langsung memburuk. Tak terlihat sama sekali aura ceria dalam dirinya. Gadis itu bahkan terus mengerucutkan bibirnya sebagai tanda protes. Ara memang tipe gadis yang akan menunjukkan secara terang-terangan rasa tidak nyamannya meski hal itu akan membuat orang lain membencinya.
Juna yang berada disekitar mereka merasa harus bertindak. Jika tidak, maka pemotretan hari ini akan berlangsung lebih lama.
"Ikut gue bentar," bisik Juna sambil menarik lengan Ara menuju ruang ganti.
Selama berjalan, Ara terus menutupi dadanya dengan telapak tangannya.
"Lo tanggung jawab gue disini. Cukup dengerin gue aja, jangan peduliin stylist itu, paham?" Juna mencengkeram kedua bahu Ara sambil menatap gadis itu tajam.
"Aku beneran gak nyaman, mas! Mana ini kainnya juga ringan banget. Sekalinya ada angin gede pasti bakalan tersingkap." Ara menggerutu.
"Sekarang lo masuk ke ruang ganti, pakai ini didalemnya. Biar gue yang ngurus stylist itu!"
Juna menyerahkan sebuah tank top berwarna putih yang masih akan terlihat cocok dengan dress yang dikenakan Ara. Gadis itu mengangguk seraya menuruti arahan Juna dan mempercayakan semuanya pada pria itu.
Setelah selesai memeperbaiki penampilannya, Juna membawa Ara ke area yang akan dijadikan spot foto. Namun stylist yang bertanggung jawab melihat apa yang Juna lakukan pada Ara dan langsung menyusul ke tengah set untuk melakukan protesnya.
"Bukan desain ini yang harus dipakai! Gimana sih? Kalau gak bisa profesional jangan didepan kamera, dong." Stylist tersebut terus marah-marah.
Juna menggenggam tangan Ara untuk meyakinkan jika gadis itu aman bersamanya. Ia bahkan sedikit menyembunyikan Ara dibalik bahu lebarnya agar tak bertatapan langsung dengan stylist yang terlihat garang tersebut.
"Bu, yang maksa pacar saya ikutan syuting siapa? Kalian tahu pasti pacar saya ini bukan model, bukan juga orang yang dilatih buat profesional. Berapa kali lagi saya harus jelaskan? Kalau ibu tidak bisa menghargai pilihannya, harusnya gak usah maksa dia tampil didepan kamera juga, dong." Juna balik memarahi stylist itu.
"Kak Juna gak bisa gitu, lah! Taruhannya kontrak, Kak! Dan baju ini juga dari sponsor, gak bisa diubah-ubah semaunya!"
"Produser! Kita batalkan syutingnya! Silahkan ajukan tuntutan penaltinya, saya tunggu," teriak Juna yang membuat semua orang tercengang. Ia hendak membawa Ara kembali keluar set, namun gadis itu menahannya.
"Mas, jangan gitu! Aku lepasin aja kalau emang gak boleh," ujar Ara lirih. Tampak sekali jika ia terpaksa mengatakannya.
"Nggak Bell. Aku gak mau makin ngebebanin kamu! Dan aku juga gak rela badan kamu jadi konsumsi publik," bantah Juna pasti. Ia sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ara.
"Drama," gerutu stylist tadi yang masih ada disekitar mereka.
"Aku yang udah bawa kamu masuk ke duniaku, jadi aku harus bisa lindungin kamu, Bell," tambah Juna.
"Tapi mas Juna harus bayar penalti lagi kalau kita nolak." Ara merasa bersalah.
"Gak apa-apa. Daripada kamu gak nyaman, aku juga yang tenang," balas Juna meyakinkan. Ia kemudian menarik lengan Ara menjauh dari set.
"Wait! Udah tanggung kalau mau dibatalin. Oke kita ikutin persyaratan kamu masalah pakaian." Produser pemotretan itu mengalah yang membuat Juna tersenyum menang.
"Gak bisa dong pak! Gimana sama brand sponsor yang udah percaya sama kita?" Stylist tadi terus memprotes.
"Gak apa-apa! Lagian gak ngerusak model bajunya juga! Biar nanti saya yang ngomong, daripada cari model baru malah nambah-nambahin kerjaan," balas produser itu santai.
Setelah perdebatan panjang tersebut, akhirnya proses syuting kembali di mulai dan semua berjalan dengan lancar hingga akhir. Produser bahkan memuji Ara yang bisa dengan natural mengikuti arahan dengan baik. Tentunya dengan bantuan Juna sebagai partnernya. Hasil jepretan gambar mereka pun terlihat sangat sempurna. Siapapun tak akan mengira jika Juna dan Ara hanya pasangan pura-pura saking naturalnya interaksi mereka.
"Jun, lihat!"
Raka buru-buru menyerahkan ponselnya pada Juna tepat setelah pemotretan itu selesai. Ara sedang berganti pakaian saat ini.
"Kenapa?" tanya Juna singkat.
"Kalian viral lagi! Kejadian tadi ada yang videoin." Raka terlihat cukup panik karena hal ini diluar rencana mereka. Namun reaksi Juna terlalu santai menanggapi hal ini hingga terlihat aneh dimata Raka.
"Kenapa? Gue emang sengaja bikin drama biar dilihat orang dan rencana gue berhasil." Juna mengedikkan bahunya.
"Lo manfaatin Ara?" Raka mengernyitkan dahinya tak percaya.
"Udah tugasnya dia buat bikin gue gak kehilangan kerjaan dan makin terkenal!"
"Kalau Ara sampai tahu, dia bakalan sakit hati banget udah diperalat sama lo!"
"Semua ini juga bakalan berakhir dan kita juga gak bakal saling kenal lagi. Apa salahnya dimanfaatin sebaik-baiknya?" Juna mengedikkan bahunya acuh. "Lagipula, dengan kejadian tadi citra gue bisa semakin baik dimata netizen. Bella juga gak rugi, dia bisa makin terkenal berkat gue. Terus pemotretan tadi juga dia dibayar, bisa nambah penghasilan dia juga!"
"Kenapa sih lo terobsesi banget jadi terkenal?" Raka tak habis pikir.
"Lo tahu sendiri alasannya tanpa harus gue ceritain berulang-ulang! Udah ah, gue capek mau balik duluan! Bella bareng sama kalian aja!"