Revita melangkah kaki seorang diri pada lantai koridor sekolah yang cukup lenggang. Semilir angin yang cukup kuat mengibarkan ujung-ujung rambutnya yang tergerai panjang. Membuat Revita sedikit mengeratkan sweater merah muda yang melekat di tubuhnya. "Sendirian aja, pantes jomlo!" Tubuh Revita langsung berjingkat kaget saat seseorang tiba-tiba mengusap kepalanya. Revita menoleh, mendapati Vano yang tersenyum kecil kearahnya. Jantung Revita seakan berhenti berdetak. Aliran darah terasa dingin di dalam tubuhnya. Gadis itu dengan cepat menundukkan kepalanya takut-takut. "Btw, makasih ya ...," ujar Vano tulus dengan bibirnya yang mengulas senyum. "Makasih? Untuk?" tanya Revita tanpa mendongak. "Makasih udah mau nemenin gue semalam." "Hmm," balas Revita dengan sebuah gumaman serta anggu

