Hari ini datang juga.
Hari dimana kak Karen, adik dari Davin akan menikah. Setelah pertemuan terakhir kami, dimana akhirnya aku mengikuti saran teman-temanku yaitu menyatakan perasaanku, aku belum pernah bertemu Davin sama sekali. Selain karena aku tidak tahu harus menghadapi dia seperti apa, aku juga malu padanya karena dengan berani menyatakan perasaanku padanya. Tapi setidaknya aku lega.
Kini aku percaya, walaupun mereka mungkin tidak merasakan apa yang kurasakan namun setidaknya mereka dapat memberi solusi yang terbaik untukku. Tentu saja aku tidak menginginkan hubungan yang tidak jelas apalagi sampai tahap pernikahan. Aku tidak mau kehidupanku benar-benar seperti yang diucapkan Rio tempo hari. Menyaingi sinetron. Memikirkannya saja sudah mampu membuatku bergiding ngeri.
Uhm, tunggu dulu. Mungkin aku pernah bertemu dengan Davin setelah hari itu. Sekali. Waktu aku fitting kebaya untuk pagar ayu dari pihak kak Karen, dua minggu lalu. Sebenarnya aku sangat canggung saat itu, apalagi keadaan ku dan Davin kurang baik membuatku rasanya ingin cepat pulang. Tapi mengingat sepertinya Davin tidak bercerita apa-apa mengenai hubungan kami kepada keluarganya akhirnya aku bertahan sebisa mungkin untuk menyelesaikan acara fiting baju itu.
Hari ini aku datang lebih pagi dari biasanya karena aku menjadi bagian dari acara. Aku diantar oleh kak Gemas menuju hotel Shangri-la, sedangkan keluargaku akan datang saat acara resepsi nanti malam. Akad nikah akan diadakan sore hari pukul 3, setelahnya baru resepsi akan diadakan pukul 7 malam.
Setelah menutup pintu mobil dan menunggu hingga kak Gemas membawa mobil keluar dari lobi hotel, aku berjalan menuju resepsionis dan meminta informasi dimana seharusnya aku berada. Resepsionis itu memberitahuku nomer kamar hotel yang berada di lantai 3 setelah itu aku segera berjalan menuju lift dan menekan tombol 3 pada dinding lift.
Aku mengetuk pintu kamar bernomor 314. Begitu pintu terbuka, sudah banyak orang didalam dengan ruangan yang cukup berantakan. Aku tersenyum sopan dan segera masuk. Belum sempat pintu tertutup ketika ku dengar suara ceria milik tante Farah – bunda Davin- dari arah pintu.
“Alya sayang kamu udah dateng? Yuk langsung di rias aja. Davin lagi di kamar Karen sama kamar nya Haris nenangin mereka berdua” seru tante Farah sembari menarikku menuju meja rias. Beberapa wanita yang sepertinya keluarga dekat tante Farah sudah hampir rapih semua.
“aku kesiangan kayaknya ya, tan” kataku tidak enak. Emang sih malem minggu gini dari pagi juga tol Tangerang- Jakarta macetnya minta ampun. Gak kebayang deh kalo hari kerja gimana.
“ngga kok. Pas kamu dateng jam segini, daripada kepagian malah gak ada kerjaan yang ada ngantuk” Tante Farah terlihat cuek berjalan mundar mandir dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Jelas anak perempuannya akan segera dipinang. Mana ada orangtua yang tidak senang?
“ALYA!!!” nah itu suara Windy, dia terlihat keluar dari... entahlah itu walk in closet atau kamar mandi. Yang jelas dia menenteng baju casualnya dan kini dia sudah menggunakan kebaya berwarna kuning emas dengan kain selutut –kebaya yang sama yang akan aku gunakan juga.
Aku tersenyum dari cermin kepada Windy karena sekarang sudah ada penata rias dibelakang ku sedang melepas cepol rambutku. Kemudian datang satu lagi dari arah kananku dan mulai mengambil peralatan make-up.
Alright, this is gonna be a loongggg dayyyyy.
-------------
Kembali aku menatap cermin besar di depanku sambil mengerutkan kening di dalam walk in closet dalam kamar super mewah yang disediakan oleh hotel shangri-la. Sepertinya ada yang salah. Bukan pada riasan di wajahku atau pada rambutku yang –syukurnya- tidak di sanggul, melainkan di tata dengan style mess bun setelah sebelumnya di kepang. Hanya tersisa sulur-sulur rambutku yang berada di sekitar wajah.
Maksudku yang salah disini adalah, pada kebaya yang ku gunakan. Kebayanya berwarna silver, bukan kuning keemasan seperti yang Windy dan saudara-saudaranya kenakan.
Apa mungkin panitia yang memberikan salah kasih, ya?
Aku segera keluar dan mencari tante Farah atau Windy karena dari seluruh keluarga Davin, hanya mereka yang ku kenal. Gak mungkin kan aku mencari Davin atau om Andre.
“tante” panggilku begitu melihat tante Farah sudah ada kembali di dalam kamar.
Tante Farah tersenyum riang dan terlihat puas ke arahku. “calon mantu, cantik banget” seru tante Farah membuatku yakin blush on yang di berikan oleh penata rias tadi tambah semakin merah.
“tan, ini kebayanya salah” kataku lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Tante Farah mundur selangkah dan mengamati ku dari atas sampai bawah dan kembali lagi keatas. “gak ada yang salah kok, sayang.”
“kebayaku beda sama Windy” aku masih terus mencoba menyadari tante Farah.
Beliau malah tersenyum. “ya jelas dong, sayang. kamu kan masuk dalam keluarga inti” aku syok. Jelas. Gimana ngga? Hubunganku dan Davin sudah diambang kehancur –sepertinya- dan tante Farah malah menganggapku keluarga intinya. Aku benar-benar bingung bagaimana harus menyikapi ini semua.
Aku mengangguk dan tersenyum salah tingkah. Bingung mau menyahuti apa. “kalau udah selesai keluar, yuk. Yang lain udah ngumpul. Sebentar lagi acaranya mulai. Ya ampun tante gak nyangka akhirnya sebentar lagi Karen nikah” tiba-tiba saja mata tante Farah terlihat berkaca-kaca. Secepat kilat aku memberikan tisu yang sudah standby ada di dalam clutch berwarna hitam milikku.
----------------
Waktu berlalu sangat cepat. Rasanya baru tadi kak Haris mengucapkan ijab kabul dan menggema kata-kata ‘SAH’ di dalam grand ballroom hotel shangri-la, tapi sekarang kami sudah bersiap lagi untuk resepsi.
Sampai saat ini aku belum benar-benar ngobrol dengan Davin karena selalu ada yang menginterupsi. Entah saudaranya, orangtuanya, sampai event organizer dari hotel shangri-la. Sebenarnya aku amat sangat bersyukur karena jujur aku gak tau mau ngomong apa kalau benar-benar berada selama lebih dari 3 menit berdua dengan Davin.
“al, sini foto dulu” Windy berteriak sambil melambaikan tangannya.
Dengan heels 10 senti ini rasanya mustahil aku bisa berlari. Bahkan rasanya aku mau melepas sepatu ini dan berjalan tanpa alas kaki. Jari-jari kakiku sakit semua, padahal acara akad nikah tadi semua tamu duduk di kursi.
Untuk mengisi waktu kosong sebelum acara resepsi sepertinya banyak juga saudara sepupu Windy yang berfoto-foto di area ballroom. Windy menarikku berdiri disampingnya di sebuah booth juga fotografer yang selalu bersama dengan kamera slrnya yang disediakan oleh EO untuk memeriahkan resepsi pernikahan kak Karen dan Kak Haris.
Baru beberapa kali pose, tiba-tiba saja kami sudah di kerubuti oleh saudara-saudara Windy yang sepertinya tidak memiliki umur yang jauh dari kami. kebanyakan saudaranya perempuan. Juga ada kakak dari Windy, Arya dan Axel yang ku dengar baru kembali dari Australia karena berkuliah disana.
Yang ku dengar dari Windy sebenarnya orangtua nya tidak ingin anak-anak mereka keluar negeri. Tapi karena kak Arya mendapat beasiswa untuk melanjutkan masternya, maka kak Axel pun diizinkan kuliah disana dengan catatan tinggal bersama kakaknya.
“jadi, kamu tunangan Davin?” aku memilih mengundurkan diri dari sesi foto yang tidak ada habisnya itu dan duduk di salah satu kursi yang ternyata suda ada ka Axel disana.
Aku tersenyum canggung. “iya. Aku Alya.”
Kak Axel mengulurkan tangannya dan segera ku jabat. “Axel” sahutnya. “maaf ya aku gak ikutan dateng waktu Davin ngelamar kamu. Dadakan sih, aku juga gak bisa ninggalin kuliah.”
“gak apa-apa kok. Emang bener sih, dadakan banget” aku menggelengkan kepala dan tertawa kaku.
“aku kira waktu denger Davin mau lamar cewek itu, dia mau lamar sahabatnya” aku tersentak kaget dan mengigit bagian dalam pipiku.
“oh, ya?” aku mencoba mencari informasi mengenai sahabat Davin ini karena dari awal kami bertemu, Davin tidak pernah bercerita kalau dia punya sahabat perempuan.
“iya. Soalnya sahabatnya itu lagi hamil—“
“APA?” jeritku kaget memotong ucapan kak Axel. Beberapa orang memperhatikan kami dan menatap kami ingin tahu.
“kamu jangan teriak dong. Kamu emang gak tau? Aku kira kamu tau” matanya menatapku dengan rasa bersalah.
Sebagai jawaban, ku gelengkan kepalaku. “Davin hamilin sahabatnya” aku tidak berani menatap kak Axel dan sebagai gantinya menatap kedepan, kearah pelaminan yang terlihat elegan dan mewah dengan nuansa abu-abu.
“bukan. Kamu jangan su’udzon. Namanya Sabrina kalau gak salah. Dia hamil karena punya suami, al. Tapi sayang, suaminya meninggal, kecelakaan gitu waktu keluar kota. Jadi Davin, Farhan, Rian sama Derry suka ganti-gantian jagain sahabat mereka. Tapi mengingat Derry sekarang udah nikah, jadi Farhan dan Davin juga Rian yang suka bantu-bantu Sabrina gitu. walaupun yang paling aktif ada disekitar Sabrina itu Davin. hehehe” jelas ka Axel.
“kok ka Axel bisa tau banyak?” tanyaku heran.
Dia malah tertawa. “aku deket sama mereka karena aku sering main sama mereka ya walaupun aku lebih muda dari mereka. Kalau libur aku suka main sama mereka. Tapi kalau Sabrina aku belum pernah ketemu langsung. Yang terakhir aku denger sih dia lagi di Jogja, pulang ke rumah orangtuanya sambil nunggu lahiran anaknya.”
Kini aku yang tertawa. “ya ampun ka Axel kamu apdet banget deh.”
“informan aku kan terpercaya, terus tanpa perlu diminta udah berbagi berita. Gimana gak mau apdet coba.”
“emang siapa?” tanyaku penasaran.
“siapa lagi kalau bukan farhan” jawabnya sambil tertawa.
“aduh merasa terpanggil nih gue. Berasa ada yang nyebut-nyebut nama gue” suara ka Farhan tiba-tiba mendominasi obralan kami. aku tersenyum padanya dan kini aku duduk diapit oleh dua pria tampan.
Rezeki anak soleh.
“nah panjang umur juga nih tukang gosip” seru ka Axel.
“gak adek, gak kakak. Kelakuan sama aja. kurang aja sama yang lebih tua” cibir ka Farhan.
“ya gue sih liat-liat dulu, orang itu pantes di sopanin apa ngga” sahut ka Axel enteng.
“songong banget nih orang jawa yang sok bule.”
Ka Axel hanya melirik sengit pada ka Farhan yang dibalas ka Farhan dengan menjitak kepalanya. “heh, pada rebutan si Alya, ya? Inget, dia udah ada yang punya. Gila lo berdua. Apalagi lo, xel. Dia tunngan sepupu lo” kini suara ka Derry yang ikut meramaikan suasana diantara kami.
Ka Derry segera menarik dua kursi ke hadapan kami. Satu untuknya dan satu untuk istrinya – Kak Amara. “jangan suka ngambil kesimpulan yang salah, kali” ketus ka Farhan pada Derry.
“ya kali aja” sahut Ka Derry tidak mau kalah. Aku hanya tersenyum menanggapi obrolan mereka dengan sesekali berbalas Line dengan teman-temanku. Berusaha sekeras mungkin menahan kepalaku untuk tidak mencari-cari dimana Davin berada.
Aku mencoba untuk tahu diri setelah mengetahui perasaan Davin padaku. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Aku tidak bisa menyalahkan Davin yang tidak membalas perasaanku karena itu haknya. Juga dia tidak bisa melarangku untuk sayang padanya karena ini perasaanku. Aku bebas menyayangi siapapun.
“davin mana sih? Punya tunangan malah dianggurin” seru kak Rian tiba-tiba yang ternyata sudah sedari tadi duduk dihadapan ku dengan memegang sebuah piring kecil berisi cheese cake.
“gue liat tadi dia mau masuk lift sama si Brina. Dia belum lahiran juga ternyata” ka Derry menyahuti kak Rian dengan santai.
“jangan cemburu ya, al. Dia emang gitu kok ke Sabrina. Sherly dulu aja sampe mencak-mencak gara-gara Davin kelewat perhatian sama Brina” ka Farhan menepuk bahuku dan aku hanya tersenyum kecut.
Sepertinya kisah cintaku memang tidak pernah seberuntung Amel atau Nuri. Atau lebih parah, tidak berakhir happy ending seperti ka Karen.
--------------------
Acara resepsi berlangsung megah dan meriah. Tidak kalah dengan resepsi Anang – Ashanti waktu dulu. Hanya saja resepsi artis pencari sensasi itu terlihat sumpek karena banyaknya tamu undangan. Sedangkan untuk acara Kak Haris dan kak Karen, terlihat elegan karena tamu yang diundang tidak terlalu banyak jadi grand ballroom ini terlihat lengang.
“dek, aku perhatiin kamu daritadi gak bareng Davin” kak Gemas tiba-tiba berada disampingku.
“iya malah sama cewek yang lagi hamil itu terus. Maksudnya apa coba? Kalian lagi berantem?” ini suara kak Bagas. Matanya menatap Davin tidak bersahabat.
Sudah bukan rahasia lagi kalau kak Bagas kurang setuju dengan lamaran dadakan yang dilakukan Davin. Untuk ukuran orang biasa seperti kami, kak Bagas terlalu berfikir sok detektif menjadinya selalu mencurigai hal-hal yang menurutnya tidak masuk akal. Mungkin ini akibat dari kecil selalu nonton detektif conan.
“gak kak. Itu temen deketnya baru dateng dari jogja. Kasian tau, lagi hamil tapi ditinggal suami” kataku mencoba membangun simpati kak bagas dan kak gemas walaupun aku sendiri belum bisa bersimpati dengan perempuan itu.
Bagaimana mau simpati kalau yang ada di hati dan fikiranku ketika melihat dia adalah perasaan iri dan cemburu karena selalu berada disekitar Davin.
“serius? Bukan dia yang ninggalin suami demi Davin? Itu cewek keliatan cinta mati gitu sama Davin” seru ka Bagas dengan gaya sok detektifnya.
“jangan su’udzon. Suaminya meninggal karena kecelakaan” sahutku.
“udah sebulan juga dia gak kerumah. Trus selama itu juga aku yang anter-jemput kamu ke rumah oma. Pasti ada sesuatu, iya kan? Dia gak selingkuh sama cewek itu kan? Jangan-jangan itu cewek hamil anaknya Davin lagi” kak Bagas masih berusaha menganalisa keadaanku dan Davin.
“gas, gila lo. Jangan mikir gitulah. Adek kita ini kasian, b**o” ka Gemas memukul lengan ka Bagas.
Aku hanya tersenyum kaku. Terserah mau mereka saling memiliki rasa sayang atau perempuan itu menyukai Davin atau tidak. Yang jelas, Davin memang tidak memiliki perasaan apapun padaku. titik.
“itu anaknya bu Farah? Si Davin itu kan? Aku denger dia udah ngelamar perempuan loh. Tapi kok sekarang perempuannya udah hamil?” suara dari ibu-ibu undangan memenuhi gendang telingaku dan pasti juga masuk ke telinga kak Bagas dan kak Gemas.
“maklum lah, bu. Namanya juga anak jaman sekarang. Nikah karena si perempuan udah tekdung mah biasa” salah satu dari ibu-ibu itu menyahut.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu yang menggunakan gamis berwarna hijau tua menghampiri ibu-ibu penggosip itu. “lagi ngomongin si Davin ya? daritadi juga aku denger orang-orang pada ngomongin si Davin. Kasian banget bu Farah, lagi acara bahagia gini tamu-tamu malah ngejelekin si Davin.”
“bukan ngejelekin,bu. Itu faktanya tunangan si Davin memang udah tekdung. Perutnya udah gede banget gitu walaupun ditutup pakai maxi dress” sahut seorang ibu menggunakan gaun berwarna hitam.
“atau jangan-jangan mereka udah nikah lagi tapi belum resepsi.”
“syukur-syukur udah nikah, bu. Kalau belum kasian itu si perempuan.”
Pembicaraan itu terus berlanjut, bagai pisau yang terus menyayat hatiku tanpa ampun seakana-akan sikap Davin yang tidak bisa membalas perasaanku belum cukup melukai hatiku.
Kak Bagas yang memang tidak bisa ‘panasi’ langsung saja meraih tangan kananku dan tanpa permisi melepas cincin tanpa pertunanganku dengan Davin. Dia segera berjalan membelah kerumunan tamu undangan. Kak Gemas segera menarikku untuk mengikuti kak Bagas. Aku tahu, pasti dia takut kak Bagas melakukan hal-hal yang memalukan di acara pesta orang.
“kalo Cuma mau main-main sama cewek, tolong jangan pilih adek gue. Masih banyak cewek di luar sana yang rela-rela aja di mainin sama lo, tapi bukan adek gue. Dari awal gue emang gak suka sama ide lo yang ngelamar adek gue tiba-tiba. Nih gue balikin cincin yang lo kasih ke adek gue. Jangan datengin adek gue lagi. sampe gue tau lo datengin dia. Abis lo sama gue” semprot kak Bagas dengan emosi sembari menarik tangan Davin yang masih belum merespon ucapan kak Bagas.
“gak usah fikirin barang-barang kamu dikamar hotel ini. Biar kak bagas sms Windy buat paketin barang-barang kamu” Kak Bagas segera meletakkan cincin di telapak tangan Davin dan segera menyeretku menjauh dari Davin dan kerumunan orang-orang yang sepertinya sempat mendengar ucapan kak Bagas.
Tiba di lobi sudah ada mama dan papa yang ternyata menunggu kami. Begitu mobil SUV mazda yang ku kenali sebagai mobil kami tiba di lobi, kak bagas segera menyeretku masuk ke dalam mobil. Seakan-akan takut Davin datang dan menarikku masuk kembali ke dalam.
Melihat reaksi Davin tadi, aku yakin Davin tidak mungkin mengejar kami hingga ke lobi dan menahan ku pulang. Memang ka bagas ini cerita sinetron?
“sabar ya, dek. Yang tergesa-gesa emang tidak pernah berjalan baik” mama mengusap lembut rambutku yang masih kaku karena diberi hairspray saat di rias tadi.
“sekarang kamu belajar aja yang bener. Bikin skripsi lalu lulus dan cari kerja. Di tempat kerja nanti baru kamu bisa cari suami” kata papa dengan datar walaupun aku yakin papa pasti emosi karena juga mendengar omongan tamu undangan tadi.
Aku menganggukan kepalaku dan bersandar pada bahu mama yang memang duduk tepat disampingku. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah sampai dikamarku dan menangis hingga pagi.