Zayn menghentikan mobilnya di depan sebuah gang yang menuju ke arah rumah Belvina.
“ Aku turun disini aja, soalnya rumahku masuk ke dalam gang, pak. “ Ucap Belvina sambil melepaskan Seatbelt.
“ Masih jauh gak rumah kamu? “ Zayn ikut melepas seatbeltnya. “ Aku antar ya sampai depan rumah? “
“ Ja—jangan, pak. “ Belvina menggeleng cepat. “ Kasihan pak Zayn nanti capek kalau jalan kaki. Jadi, aku mohon gak usah ya. Cukup sampai disini aja. “ Pintanya.
“ Hmm… Baiklah. “ Merasa tak ingin memaksa, Zayn pun mengiyakan saja.
“ Makasih banyak ya pak udah bantuin belvi. “ Ucapnya sambil bergerak ingin melepaskan jas milik Zayn.
“ Jangan dilepas, kamu pakai aja dulu. “ Zayn menahan tangan Belvina yang sudah bergerak ingin melepaskan jas tersebut. “ Kamu lebih membutuhkannya saat ini dibanding aku. “
“ Sekali lagi, makasih banyak ya pak. “ Belvina menatap Zayn penuh arti. Sekali lagi, dia sangat kagum pada sosok lelaki dihadapannya.
“ Belvi? “ Mata Zayn tertuju pada pergelangan tangan kiri Belvina yang terlihat memerah. “ Tangan kamu...” Zayn meraih tangan Belvina, dia terlihat khawatir.
“ Umm… gak apa – apa kok, pak. “ Belvina berusaha tersenyum meskipun aslinya merasakan nyeri pada pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman Barra yang luar biasa kuat.
“ Ini pasti gara – gara Barra? Ya, kan? “ Tebakan Zayn yang sangat tepat itu membungkam Belvina. “ Belvi, kita kerumah sakit dulu yuk? Biar luka kamu diobatin? “ ungkap Zayn menunjukkan rasa perhatian yang semakin membuat Belvina terbawa perasaan.
“ Gak usah, pak. “ Belvina menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Zayn karena hal itu membuat jantungnya berdetak cepat. “ Cuma luka kayak begini gak perlu dibawa kerumah sakit. Di diemin aja nanti juga sembuh. “
“ Belvi…”
“ Pak, aku pulang dulu ya. Sekali lagi, terimakasih. “ Sebelum Zayn memaksanya ke rumah sakit, Belvina bergegas cepat keluar mobil. “ Hati – hati di jalan ya. “ Belvina melambaikan tangannya sebentar, setelah itu berjalan cepat menjauh dari mobil Zayn.
“ Belvina… Belvina… “ Zayn hanya bisa menggeleng saja melihat gadis itu sedang berusaha menutupi kesedihan yang dirasakannya. Zayn tahu betul, pasti tangan Belvina terasa sakit karena bekas cengkraman Barra hingga menciptakan luka memerah.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Belvina merenungi setiap langkahnya. Dia yakin akibat tindakannya tadi pasti Belvina akan dipecat, tapi kali ini Belvina tidak akan menyesal. Setidaknya dia melawan Barra karena membela dagangan orang tuanya yang diremehkan.
“ Terserah, deh. Mau dipecat atau gak! Habisnya Barra api nyebelin banget! “ katanya kesal sendiri. “ Gue sumpahin dia kena diare!!! “ doa Belvina dengan penuh perasaan.
Sampai dirumah, Belvina langsung masuk ke dalam kamar. Dia mencari – cari koran dimana terdapat foto Barra yang waktu itu sengaja dia gambar tanduk dan kumis. Setelah ketemu, untuk melampiaskan amarahnya kepada Barra, dengan cepat Belvina mengeluarkan spidol dan mencoret kembali foto Barra yang semula terlihat keren dan gagah dengan senyuman merekah menampilan deret giginya yang bersinar, dengan sengaja Belvina coret gigi Barra yang berwarna putih dengan spidol merah miliknya.
“ Gigi lo berwarnah merah lebih cocok! Anggap aja itu habis gue tonjok jadi berdarah! “ Belvina memaki – maki foto itu. Lalu, dia mengambil gunting, memotong koran tersebut dan hanya menyisakan foto Barra saja.
Belvina berjalan mendekati gabus yang menempel di dinding kamarnya. Biasanya dia menempelkan foto miliknya yang sudah dicuci di Gabus itu seperti mading. Namun, kali ini Belvina harus menurunkan beberapa fotonya agar memiliki ruang untuk menaruh selembar potongan foto Barra dari koran yang tadi dia gunting.
Agar tidak terjatuh, Belvina tancapka paku pin di foto Barra yang kini sudah menempel di gabus yang berada di dinding Belvina.
“ Ah, ada yang kurang! “ Belvina mengambil spidol lagi dan menulis di bagian atas foto CEO nya itu dengan tulisan ‘BARRA API!‘
Setelah merasa puas dengan hasil karyanya, Belvina menghela nafas lega. Setidaknya, mulai saat ini jika dia kesal dengan Barra, Belvina bisa melampiaskan dengan mencoret – ceret wajah Barra.
“ Wleee….” Belvina memeletkan lidahnya ke arah foto Barra yang tersenyum dengan giginya yang diwarnai merah oleh Belvina.
**
Pernah dengar kalimat bahwa doa orang yang tersakiti akan mudah terkabul? Ya, mungkin saat ini hal itu benar terbukti karena Barra sejak tadi tak berhenti bulak – balik ke kamar mandi untuk BAB. Itu artinya doa Belvina terkabul setelah menyumpahi Barra agar terkena diare.
Barra terduduk lemas di sofa kamarnya karena lelah energinya terkuras mondar – mandir ke kamar mandi. Dia sendiri bingung, padahal dia selalu mengkonsumsi makanan sehat dan tak sembarangan.
“ INI PASTI KARENA TADI MINUM KOPI PEREMPUAN GAK WARAS ITU! “ keluh Barra sambil memegang perutnya yang masih terasa mules.
Tiba – tiba, Barra jadi teringat perkataan Belvina tadi di kantor yang masih terngiang – ngiang di kepalanya.
‘ Kamu monster yang gak punya hati dan sombong! Kamu gak layak disebut manusia!‘
‘ Mungkin, kamu seperti ini karena tidak diajarkan etika yang baik oleh orang tua kamu karena hanya kesombongan saja yang mereka tunjukkan pada anaknya yang kini mengikuti jejak mereka! ‘
Kalimat itu sangat mengganjal di hati dan membuat telinga Barra panas setiap kali mengingatnya. Baginya, Belvina sudah sangat keterlaluan karena sudah menyeret keluarganya dalam perdebatan tadi pagi. Padahal, tanpa Barra sadari bahwa dirinya juga bersalah. Dia hanya melihat dari satu sisi saja.
“ Gue gak akan biarkan perempuan gak waras itu merasa damai di kantor! “ Ucap Barra dengan penuh penekanan sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
“ Barra? “ Tiba – tiba saja Zayn masuk ke dalam kamar Barra tanpa permisi, hal itu sudah biasa Zayn lakukan karena Barra pun juga seperti itu jika dirumah Zayn.
“ Ngapain lo kesini? “ Barra langsung membuang muka ketika melihat kedatangan Zayn. Dia masih merasa kesal karena secara tidak langsung Zayn telah membantu Belvina.
“ Emang gue gak boleh dateng ke rumah sodara sendiri? “ Zayn duduk disebelah Barra. “ Ada hal penting yang mau gue omongin. “
“ Apa? “
“ Ini tentang Belvina. “
“ Zayn, ngapain bahas perempuan itu? “ Barra bangun dari duduknya menuju balkon kamarnya, Zayn pun mengikutinya.
“ Ada satu hal yang perlu lo tau, Barra. “
“ Apa? “ Barra pun berhenti melangkah dan kini berhadapan dengan Zayn.
“ Pergelangan tangan Belvina terluka dan gue yakin itu karena lo. “ Ungkap Zayn, sedangkan yang diajak bicara pun terdiam. “ Lo jangan main fisik sama perempuan, Barra. “
“ Sikap dia yang memaksa gue untuk berbuat seperti itu! “ Barra menghela nafas kasar. “ Pasti perempuan itu banyak ngadu yang enggak – enggak ke lo untuk cari pembelaan? Ya, kan? “
“ Dia gak ngadu apa – apa ke gue, bar. “
“ Lagian, lo kenapa jadi perduli gitu sih, ke dia? “ Barra bertelak pinggang, matanya menyipit menatap Zayn. “ Jangan – jangan lo berdua punya hubungan gelap ya? “ ledek Barra yang tak masuk di akal.
“ Gila lo ya? “ Zayn menggelengkan kepalanya, dia tak habis fikir dengan Barra.
“ Ya, kali aja gitu. “ Barra tersenyum miring. “ Atau lo suka sama dia ya? “ Tebaknya.
“ Ah, ngaco lo! “ Zayn memutar badannya, berjalan menuju pintu keluar kamar Barra dengan cepat. “ Ayo turun! Nyokap lo udah nungguin di bawah buat makan malam. “
“ Duluan aja, perut gue mules! “ Bukannya ikut turun ke bawah untuk makan malam, Barra malah kembali berlari ke kamar mandi.
Belvina duduk di bangku kayu depan rumahnya. Tangannya sesekali memukul betis, paha dan tangannya karena digigiti nyamuk yang berterbangan bebas di dekatnya. Belvina dilanda kebingungan dengan nasib pekerjaannya. Sebenarnya, dia mencoba untuk tidak perduli jika memang dipecat, tapi disisi lain Belvina merasa membutuhkan pekerjaan.
“ Ya allah, cobaan gak kelar – kelar. “ Ucapnya dengan nada mengeluh.
TING….
Sebuah pesan masuk dari manajernya, Endah. Atasannya itu memberitahu bahwa Belvina besok masih diperkenankan untuk bekerja setelah insiden yang terjadi hari ini.
“ Ini seriusan? “ Belvina terperangah. Dia tak percaya bahwa si lelaki tak berperasaan itu masih mengizinkannya untuk tetap bekerja. Ya, meskipun Belvina masih sakit hati dengan Barra, tapi jauh didalam lubuk hatinya dia juga merasa bersalah karena sudah bicara lancang seperti tadi.
Apalagi setelah mendengar bahwa ibu dan ayahnya membutuhkan uang lebih untuk keperluan sehari – hari yang semakin meningkat, tentu saja hal itu membuat Belvina harus memutar otaknya dan berlapang d**a untuk tetap bekerja meskipun telah mendapat penghinaan dan penganiayaan dari Barra.
“ Oke! Pokoknya, mulai besok gue kerja gak mau cari masalah lagi sama tuh monster Barra api! “ Belvina berjanji pada dirinya sendiri. “ Semangat kerja belvi demi ibu dan ayah! “
**
Lia baru saja datang dan langsung heboh melontarkan banyak pertanyaan pada Belvina.
“ Ya ampun, belvi!!! Lo masih hidup? “
“ Kemarin katanya lo disiram pak Barra pakai coffe ya? “
“ Terus lo beneran di marah – marahin sama pak Barra? “
“ Dan apa benar lo di anterin pulang sama pak Zayn? “
Belvina langsung menyekap mulut Lia yang super cerewet.
“ Stop, Lia! Gue malu tau! Kalo mau tanya itu satu – satu dan suaranya pelan aja! “ ujar Belvina. Setelah Lia mengangguk faham, Belvina menjauhkan tangannya dari mulut Lia.
“ Jadi…. Semua gosip itu bener? “ Tanya Lia yang kini bicara dengan suara sedikit berbisik.
“ Iya? “ Belvina mengangguk.
“ YA AMPUN BELVINA HIDUP LO ANTARA TRAGIS DAN BERUNTUNG! “ tiba – tiba saja suara Lia meninggi membuat seluruh karyawan menoleh ke arahnya. Sedetik kemudian, Lia pun merasa malu karena tidak bisa mengontrol dirinya.
“ LIA!!! “ Belvina menepuk jidatnya. Sepertinya, menyuruh Lia untuk tidak heboh sangatlah tak mungkin.
“ Sorry. “ Lia terkekeh.
“ Tragis dan beruntung gimana maksud lo? “ tanya Belvina.
“ Pertama, hidup lo tragis banget. Selain di omelin sama pak Barra, lo juga di siram pakai coffe! Sumpah ya, gue kalo jadi lo gak mau masuk kantor lagi dan nangis dipojokkan kamar sampai akhir hayat! “ ucap Lia dengan nada berlebihan.
“ Huss!!! Ngomongnya!! “ Belvina mencubit lengan Lia.
“ Biarin aja! “ balas Lia.
“ Terus beruntungnya dimana? “ tanya Belvina penasaran.
“ Ya, lo beruntung aja karena gak di pecat atas insiden yang terjadi kemarin dan ditambah lagi lo di anterin pulang sama pak Zayn yang juga tampan kayak pangeran! OMG!! “ Terang Lia, dia terlihat geregetan ingin berteriak gemas namun di tahan karena takut mengganggu karyawan lain.
“ Hmm… lo bener! “ Belvina menyenderkan tubuhnya dipenyangga kursi. “ Tuhan emang adil ya. “
“ Tapi, gak adil ke gue. “ Bibir Lia mengerucut. “ Gue yang udah lama kerja disini aja gak pernah di siram coffe sama pak Barra! “
Mendengar ucapan Lia barusan membuat Belvina terheran – heran.
“ Kok, lo malah kepingin disiram sama si Mr. Barra? Dasar aneh! “
“ Ya, anggap aja siram – siram manjyaaaah…..” Lagi – lagi Lia bicara berlebihan. Selain heboh dia juga aneh. “ Dan gue juga belum pernah di anterin pulang sama pak Zayn!! Sedangkan lo yang masih anak baru aja udah di anterin sama dia! “ tambahnya.
“ Aduh, udah deh. Capek gue ngomong sama lo Lia! “ daripada harus menanggapi Lia yang tak ada habisnya, Belvina lebih memilih menyalahkan komputernya karena sebentar lagi jam masuk,.
“ Belvi jahat! “
“ Bodo! “
**
Belvina merenggangkan urat – urat di tangannya yang terasa pegal karena banyak data yang masuk dalam sistem kerjanya, namun dia dapat dengan cepat menyelesaikan sebagian. Dia berniat untuk beristirahat di kantin bersama Lia, tapi teman hebohnya itu dipilih jadi perwakilan meeting untuk Staff Analis bersama manajernya, Endah.
“ Giliran gue mau ke kantin, si Lia malah gak ada. “ Ujarnya. Belvina bangun dari duduknya dengan tangan membawa tempat makan, yakni bekal yang ibunya buatkan.
Belvina berjalan sendiri menuju kantin. Dia tidak begitu akrab dengan karyawan lain karena hanya Lia saja yang dekat dengannya, jadi saat ini dia memutuskan untuk sendirian saja.
Sampainya di kantin, Belvina membeli ice jeruk, setelah itu mencari – cari tempat duduk yang kini terlihat penuh kecuali salah satu tempat yang berada dipojokkan.
“ Disana kosong? Kenapa gak ada yang tempatin? “ dengan santainya Belvina berjalan menuju tempat duduk yang terlihat berbeda dari yang lainnya. Disaat semua bangku di kantin terbuat dari besi, tapi tempat yang belvina tuju saat ini sebuah sofa dan meja terbuat dari marmer di depannya.
“ Akhirnya dapet tempat juga. “ Belvina duduk manis di tempat itu. Dia menyereput ice jeruk miliknya, lalu membuka kotak makan yang dia bawa.
Belvina sempat merasa heran karena beberapa pasang mata melihatnya dengan aneh sambil berbisik – bisik, tapi dia berusaha tidak memperdulikan semua itu dan memulai makan siangnya.
Tak lama datang Barra bersama Devo dan betapa terkejutnya Barra melihat Belvina duduk ditempat yang ternyata memang khusus untuk Barra bersama orang – orang yang menurutnya layak duduk di sana. Pantas saja orang – orang melihat Belvina dengan aneh karena mungkin mereka membicarakan betapa beraninya perempuan itu duduk di tempat khusus CEO nya.
“ APA – APAAN INI!! “ Barra bicara dengan nada tinggi membuat Belvina yang ingin menyuapkan nasi kedalam mulutnya sampai tidak jadi.
“ Mr. Barra? Mau duduk bareng? “ Tanya Belvina yang tidak tahu menahu penyebab lelaki di hadapannya kini memandangnya tak suka.
“ BANGUN!! “ Perintah Barra, tapi Belvina masih duduk dengan tatapan tak mengerti.
“ Kenapa? “ Belvina melirik sofa di depan dan sampingnya masih kosong. “ Disini masih cukup kok, Mr. “ Belvina berusaha bersikap manis dan melupakan kejadian kemarin antara dirinya dan Barra.
Barra diam menatap Belvina penuh kebencian.
“ Ayo sini duduk. “ Belvina tersenyum tipis sambil mempersilahkan Devo dan Barra.
Devo melirik Barra, dia tau apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Dengan cepat Devo menghampiri Belvina.
“ Belvi, kamu pindah aja ya. “ Ucap Devo baik – baik.
“ Kenapa? “ tanya Belvina.
“ Karena…..”
“ Dasar sampah!! “ Barra yang sudah tak dapat menahan emosinya dengan sengaja membuang tempat makan Belvina hingga isi makanan didalam kotak tersebut jatuh berserakan di lantai. Barra marah pada Belvina karena merasa gadis itu telah menantangnya dengan cara sengaja duduk ditempatnya, ditambah lagi Belvina masih terlihat tenang ketika Barra mengusirnya.
Belvina terperangah, dia langsung terbangun dengan mata yang tertuju pada makanannya yang terbuang sia – sia.
Semua mata tertuju ke arah mereka karena terdengar keributan.
“ Kamu tau? Ini tempat khusus untuk saya! Orang seperti kamu sangat tidak layak duduk disini! “ Teriak Barra tak merasa iba melihat Belvina yang sudah berkaca – kaca ingin menangis.
“ Saya gak tahu…” Ucap Belvina lirih.
“ MEMANGNYA APA YANG KAMU TAHU? “ Barra mencengkram lengan kanan Belvina dengan sangat kuat, lalu menarik gadis itu agar menjauh dari tempat duduknya. “ Lancang sekali kamu!! “
“ Aww…. Sakit, Mr. “ Belvina berusaha melepaskan cengkraman Barra namun tak berhasil. “ Saya minta maaf. “
“ Maaf? “ Barra semakin mencengkram kuat. “ Tempat saya sudah ternodai orang rendahan seperti kamu dan dengan entengnya kamu minta maaf? “
“ Bar, udah! Jangan di perpanjang! “ Devo berusaha melerai, tapi percuma saja karena jika Barra sudah marah, dia tidak akan mendengarkan siapapun.
“ Dasar perempuan gak waras!! “ Tanpa merasa kasihan, Barra melepas cengkramannya lalu mendorong tubuh gadis itu hingga terjatuh ke lantai.
“ Ah…” Belvina dapat merasakan punggungnya terasa nyeri karena tubuhnya seperti terbanting oleh dorongan kuat dari Barra.
Emosi Barra memang sangat mudah sekali terpancing. Sejak dulu dia akan bersikap kasar pada orang yang menurutnya menentangnya.
Baru saja Devo ingin membantu Belvina, tetapi Zayn lebih dulu datang dan dengan sigap menolong Belvina.
“ Belvi, ayo bangun. “ Zayn mengulurkan tangannya.
Barra bertelak pinggang sambil tersenyum miring menatap Zayn.
“ Pahlawan kesiangan datang! “ kata itu keluar dari mulut Barra.
Zayn diam. Dia tidak menggubris ucapan Barra karena dia lebih memilih sibuk membantu Belvina. Dia kasihan pada gadis itu yang terus saja mendapat perlakuan buruk dari Barra.
Belvina yang sudah tidak dapat menahan air matanya, akhirnya dia menangis saat itu juga. Suara tangisnya terdengar begitu menyedihkan. Dia merasa terkejut sekaligus malu diperlakukan seperti itu oleh atasannya sendiri didepan banyak orang.
Melihat Belvina seperti itu, Zayn langsung memeluk Belvina sebentar untuk menenangkan, lalu ia membantu Belvina untuk segera berdiri.
Barra sempat terdiam melihat Belvina menangis seperti tadi. Dia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Seperti ada rasa tak tega dan sedikit perasaan bersalah karena sudah berlebihan pada gadis itu, tapi egonya lebih tinggi sehingga dia berusaha memudarkan perasaannya kasihannya itu.
“ Kamu ikut aku ya. “ Zayn mengajak Belvina berjalan keluar kantin. Sebelum pergi, Belvina sempat menatap Barra beberapa saat dengan penuh kesedihan.
Hatinya sungguh terluka.
“ Udah puas? “ Tanya Devo ketika Belvina sudah menghilang dari pandangannya.
“Maksud lo? “
“ Ya, setelah lo udah mempermalukan Belvina apa lo udah merasa puas? “ Devo tak habis fikir dengan Barra. Perkara Belvina duduk di tempatnya saja terlalu dibesar – besarkan. Padahal, Belvina juga tidak sepenuhnya salah karena gadis itu tidak tahu kalau itu tempat duduk khusus untuk Barra.
“ Berisik lo! “ Barra pun segera keluar kantin, dia mendadak tidak nafsu makan.
**