Barra mengeluarkan ponsel dari saku jas nya, ia mencari nama seseorang di kontaknya lalu dia menelfon nomor atas nama ‘ BELVINA ‘. Disisi lain, Belvina yang sedang sibuk bekerja ketika mendapat panggilan dari Barra segera keluar ruangan untuk mengangkatnya.
‘ Hallo! ‘ teriak Barra dari sebrang sana membuat Belvina terkejut kerena lelaki itu tak ada sopan santunnya berbicara dengan nada tinggi.
Belvina mengelus d@danya untuk lebih bersabar. “ Iya, kenapa Mr. Barra? “
Tiba – tiba saja suara Barra berikutnya menjadi tidak jelas terdengar.
“ Hallo? Mr. Barra? “ Belvina terus saja memanggil – manggil atasannya itu tetapi tidak ada lagi suara dari lelaki itu karena hanya ada suara seperti radio rusak.
“ Aduh, lupa. “ Belvina menepuk jidatnya ketika teringat ponselnya tidak bisa menerima telefon karena speakernya sudah rusak dan belum sempat dia service. “ Ini Hp kan, speakernya udah gak jelas. Lagian, Mr. Barra ngapain sih telefon segala? “ Dia jadi bertanya – tanya sendiri. “ Apa gue samperin aja kali ya ke ruangannya? “ fikirnya untuk mengetahui mengapa atasannya itu menelfonnya secara pribadi.
Disisi lain, Barra sedang ngomel – ngomel dengan Belvina yang tidak menyahut ketika dia memanggilnya dan mengajak bicara. “ Kamu dengar tidak apa yang saya bilang? “ Barra melihat layar ponselnya untuk mengetahui apakah telefon dari Belvina masih terhubung dan ternyata panggilan masih terus berjalan. “ Kamu budeg ya? saya bilang kemari! “ teriak Barra jadi kesal sendiri karena Belvina tidak menyahut, dia tidak tahu saja kalau ponsel Belvina tidak bisa mendengar suara darinya.
“ Dasar perempuan tidak waras, budeg, dan nyebelin! “ umpatnya. Dia mematikan ponselnya karena merasa jengkel Belvina tidak meresponnya. “ Apa dia sedang mengerjaiku? “ Barra jadi bertanya – tanya. “ Lebih baik gue samperin dia aja! “ dengan penuh amarah, Barra bangun dari duduknya untuk menemui Belvina, padahal dia bisa saja menyuruh Endah agar menyuruh Belvina segera pergi ke ruangannya, tetapi nampaknya Barra tidak bisa berfikir jernih saat ini.
Setelah panggilan terputus, Belvina pun melangkahkan kakinya menuju ruang Barra. Namun, ditengah jalan dia berpapasan dengan Zayn. Dia pun berhenti berjalan dan ngobrol sebentar dengan lelaki idamannya itu.
“ Zayn? Habis darimana? “ tanya Belvina.
“ Habis dari ruang rapat. “ Jawab Zayn. “ Kamu sendiri mau kemana? Kok ke arah sini? “ tanya Zayn karena kini Belvina berada di koridor yang menuju ke arah ruang CEO, Ruang Meeting dan Ruang Manajer keuangan yang tak lain tempatnya Zayn. “ Mau ketemu aku, kah? “ godanya.
“ Bukan. “ Belvina menggeleng sambil tersenyum tipis. “ Aku mau ketemu Mr. Barra. “
“ Mau ngapain? lagi gak ada masalah, kan? “ tanya nya.
“ Enggak, kok. “ Jawab Belvina.
“ Yaudah kalau gitu kamu hati – hati ya, kalau Barra berbuat sesuatu sama kamu langsung pergi aja tinggalin dia dan jangan dilawan. “ Pesan Zayn karena dia tak ingin Belvina mendapat perlakuan kasar lagi dari sepupunya.
“ Iya, Zayn. “ Sebuah senyuman merekah tercetak di wajah Belvina.
“ Kamu kalau senyum tambah cantik. “ Ujar Zayn sambil mengusap kepala Belvina, ia memberikan tatapan penuh arti membuat Belvina semakin terbawa perasaan dengannya.
Belvina menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang menyeruak di wajahnya menandakan dia sedang malu karena di puji seperti itu. “ Makasih, Zayn. “
“ Yaudah kalau begitu aku mau ke ruangan dulu ya, soalnya lagi banyak kerjaan. “ Zayn segera pergi meninggalkan Belvina yang kini masih memandangi punggung Zayn yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk.
“ Udah ganteng, baik, perhatian, ah pokoknya banyak banget hal dari dia yang gue suka! “ Ungkap Belvina penuh rasa. Dia sangat berharap kelak Zayn akan menjadi kekasihnya.
Setelah Zayn mengilang dari pandangannya, Belvina membalikkan badannya untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangan CEO, namun ketika dia berputar badan dikejutkan dengan seseorang yang sudah ada didepannya.
“ Astaghfirullah. “ Belvina tersentak kaget karena kini ada Barra di hadapannya.
Ternyata, sejak tadi lelaki itu memantau mereka berdua yang sedang bicara dan ketika Zayn sudah pergi Barra pun mendekati Belvina.
Alis Barra bertautan, bibirnya mengecil dan tatapan yang dia lemparkan kepada Belvina terlihat menajam. “ Saya telefon kamu diam aja ternyata lagi godain sepupu saya! “ Barra bicara dengan suara penuh penekanan.
“ Sa—“
Barra menunjukkan lima jari tangannya ke depan wajah Belvina mengisyaratkan agar Belvina berhenti untuk berbicara. “ Gak usah banyak alasan! Kamu ini selalu buat saya kesal! “
“ Mr—“
“ Dasar centil! “ cibirnya seraya membuang pandangannya tak ingin menatap Belvina. Entah mengapa dia merasa amarahnya lebih meningkat ketika melihat Belvina malah asik ngobrol dengan Zayn dibanding tadi mengabaikannya saat di telefon.
“ Mr. Barra saya itu gak godain, Zayn. “ Belvina masih berusaha ingin menjelaskan tetapi Barra malah pergi meninggalkannya.
“ Ikut saya! “ teriak Barra dan akhirnya Belvina mengikuti Barra menuju ruangannya dengan perasaan sedikit takut kalau lelaki itu bertindak macam – macam kepadanya.
‘ Semoga dia gak apa – apain gue. ‘ Batin Belvina.
Sampainya diruangan, Belvina disuruh duduk dihadapan lelaki yang kini masih memasang wajah ketus andalannya.
Belvina diam memandang wajah Barra sedikit takut, sedangkan Barra memandang wajahnya sambil membayangkan tadi bagaimana Zayn mengelus kepalanya dan membuat Belvina nampak tersenyum senang.
‘ Kenapa gue jadi kepikiran itu, sih? ‘ Barra mengusap wajahnya sendiri agar menghapus bayangan itu.
“ Ada apa, Mr. Barra? “ Belvina memberanikan diri untuk bertanya apa tujuannya dipanggil.
“ Kamu cek semua berkas – berkas itu apakah sudah ditanda tangani oleh saya atau belum. “ Barra menunjuk tumpukan kertas yang cukup banyak itu.
Belvina melongo memandangi berkas tersebut, lalu ia berkata. “ Maaf sebelumnya, tapi itukan bukan tugas saya? “
Barra menggebrak meja. “ Kamu dengar apa yang tadi saya katakan tidak? “
Belvina bergidik ngeri dan langsung mengangguk. “ De—dengar. “
“ Itu adalah perintah jadi jangan dibantah! “ omel Barra membuat Belvina langsung bergerak mengambil beberapa berkasi itu untuk di cek. “ Yang penting kan, kamu saya gaji. “ Tambah Barra agar Belvina mau mengerjakan perintahnya meskipun diluar dari jobdesknya.
Belvina mengecek satu persatu lembaran kertas itu sesuai perintah Barra sambil menggerutu dalam hatinya.
‘ Dasar Barra Api! Dia gak tahu apa pekerjaan gue masih banyak di bagian analis, eh ini ditambahin lagi sama kerjaan dia! Males banget sih, jadi CEO bukannya cek berkas sendiri! ‘
Selama Belvina berkutat dengan berkas – berkas itu, Barra yang berada di hadapannya sesekali melirik gadis itu yang nampak serius. Mata gadis itu bergerak ke kanan dan ke kiri mengecek dokumen dari atas dan kebawah nampak begitu teliti. Rambut panjang Belvina perlaha turun sedikit menutupi wajahnya, hal itu membuat Barra menjadi sedikit terhalang menatap wajah Belvina.
Dengan refleks tangan Barra bergerak membenarkan rambut Belvina, ia selipkan rambut gadis itu dibalik telinganya. Mendapati perlakuan itu, Belvina merasa terkejut dan terkesima secara bersamaan. Dia berhenti menatap berkas – berkas itu dan beralih untuk melihat wajah Barra yang kini juga menatapnya.
Selama beberapa detik mereka bertatapan sampai akhirnya Barra melotot ke arah Belvina lalu berkata. “ Ngapain kamu lihatin saya? cepet kerjakan lagi! “
Belvina mengulum senyumnya, ia masih menatap Barra. “ Tadi itu maksudnya apa? “ tanya nya dengan nada meledek.
Bola mata Barra berkeliling pertanda dia gugup mendapatkan pertanyaan seperti itu, padahal dia sendiri juga tidak tahu mengapa berani melakukan hal itu.
“ Saya cuma risih aja lihat kamu bekerja rambutnya berantakan seperti itu. “ Barra berusaha mengelak.
“ Umm… begitu. “ Belvina mengangguk. “ Yaudah saya kuncir, deh. “ Belvina bergerak untuk mengikat rambutnya agar tidak menggangu konsentrasinya saat bekerja.
Barra memandangi gadis itu sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, ia sadari aura kecantikan gadis itu semakin bertambah ketika rambutnya di kuncir.
“ Gimana? udah gak risih, kan? “ tanya Belvina.
“ Hm. “ Barra hanya berdehem saja, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak terus memandang gadis itu.
Belvina memperhatikan kening Barra yang masih menggunakan plaster semalam. Dia merasa bingung apa kah lelaki itu sengaja tidak menggantinya setelah mandi atau terlupa.
“ Mr. Barra? “
“ Kenapa? “
“ Kok, plasternya gak di ganti? “ tanya Belvina.
“ Hah? “ Barra memegang keningnya, dia jadi terlihat gugup karena ketahuan tidak menggantinya, padahal tadi pagi orang tua dan kakaknya sudah menyuruh ganti, tetapi Barra abaikan perintah itu.
“ Sa—saya lupa ganti. “ Jawab Barra.
“ Ganti, dong. Itu kan udah seharian, nanti kalau ada kumannya gimana? “ ungkap Belvina, ia terus memperhatikan kening Barra.
“ Saya gak sempat! “ balasnya ketus.
Belvina berdecak. “ Ck, yaudah kalau gitu biar saya yang ganti. “ Belvina bangun dari duduknya, ia berjalan mendekati dinding yang kini terdapat lemari obat yang menempel disana. Belvina mengambil kotak obat tersebut lalu menghampiri Barra.
Barra menatap Belvina terheran – heran, ia bingung kenapa gadis itu bersikap perhatian dengannya dan anehnya entah mengapa Barra tidak menolak apa yang akan Belvina lakukan kepadanya seperti membiarkan saja itu terjadi.
“ Saya buka ya plasternya? “ Belvina meminta izin terlebih dahulu sebelum akhirnya Barra mengangguk.
“ Oke. “
Posisi Barra saat ini masih duduk di kursinya sedangkan Belvina berdiri disampingnya. Tangan Belvina mulai bergerak membuka plaster itu dengan hati – hati.
“ Aw… pelan – pelan, dong. “ Ringis Barra ketika Belvina melepaskan plaster yang sudah sangat melekat di kulit Barra karena terlalu lama menempel.
“ Iya, maaf. Ini juga udah pelan – pelan, kok. “ Belvina mengambil kapas untuk membersihkan terlebih dahulu sisa darah yang sudah mulai mengering, setelah itu kembali memasangkan plester baru dikening Barra.
“ Mengganti plaster itu perlu dilakukan untuk mencegah infeksi dan timbunnya kuman. Makanya, saya langsung geregetan lihat Mr. Barra masih pakai plaster kemarin malam. “ Jelas Belvina dengan tangan yang terus bekerja.
Barra mendongakan kepalanya agar dapat melihat Belvina, gadis itu nampak sangat serius memberishkan noda darah di dahinya. Barra merasakan jantungnya sedikit berdetak cepat dari biasanya, ia memegang dad@nya sebentar sambil berkata dalam hatinya. ‘ Kenapa setiap Belvina berada didekat gue, dad@ gue jadi berdebar – debar. ‘
“ Perih gak? “ tanya Belvina.
“ Sedikit. “ Jawab Barra, ia jadi kepikiran mengapa tadi Belvina tidak meresponnya di telefon dan malah asik ngobrol dengan Zayn. “ Belvina? “
“ Iya, Mr. Barra? “
“ Kenapa tadi kamu tidak merespon telefon saya? “ tanya Barra ingin tahu.
“ Oh, itu. “ Belvina manggut – manggut. “ Mr. Barra ingat kan, waktu itu ponsel saya terjatuh gara – gara, Mr? Nah, sejak saat itu speaker ponsel saya jadi rusak dan tidak bisa dengar suara dengan jelas kalau di telefon karena sudah tidak berfungsi dengan baik. “ Jelasnya. “ Sebenarnya, tadi itu saya sudah berusaha menjawab, tetapi percuma saja karena gak kedengeran. “ Terangnya secara rinci agar Barra tidak salah faham.
Barra jadi merasa bersalah karena tadi sudah marah – marah padanya tanpa bertanya lebih dulu alasannya. “ Hmm, lagian kamu dikasih duit buat service malah dipakai untuk keperluan lain. “
“ Ya, maaf. “ Hanya itu yang keluar dari mulut Belvina. “ Udah selesai. “ Ucap Belvina seraya mengusap pelan plaster di kening Barra yang sudah terpasang rapih.
Barra menatap Belvina, lalu berkata. “ Makasih. “
“ Sama – sama, Mr. Barra. “ Belvina merapihkan kotak obat tersebut. Dia kembali menaruh kotak obat ke tempatnya, lalu duduk dihadapan Barra lagi. Belvina kembali fokus dengan berkas – berkas.
Barra merasa gadis itu sangat perhatian kepadanya terlepas dari apa yang sudah Barra perbuat kepadanya. Dia merasa bingung mengapa Belvina masih saja menunjukkan sikap perdulinya dan seperti melupakan bahwa Barra selalu membuatnya kesulitan dan hari – harinya tidak damai.
Barra jadi mengingat apa yang Zayn katakan waktu itu bahwa Belvina adalah perempuan yang tulus, namun sekali lagi Barra patahkan pernyataan itu dengan berfikir bahwa ini hanyalah sebuah hal biasa.
Barra jadi tidak tega menyuruh Belvina melanjutkan tugas untuk mengecek berkasnya sedangkan dia sendiri sebenarnya tahu pekerjaan Belvina juga sangat banyak.
“ Udah sana kamu kembali keruangan. “ Ucap Barra membuat Belvina terheran – heran.
Belvina menunjuk berkas yang berada ditangannya. “ Tapi, ini masih belum selesai? “
“ Kamu kerjakan saja pekerjaanmu, biar ini saya yang urus. “ Ungkapnya tetap memasang wajah ketus.
“ Tapi—“
“ Ini perintah, jangan dibantah! “ tegas Barra.
Belvina malah tersenyum menatap lelaki itu, ia menyadari satu hal yaitu setiap kali dirinya berbuat baik kepada Barra, pasti lelaki itu jadi mendadak baik juga kepadanya.
Baiklah, kini Belvina sudah menemukan cara untuk sedikit menaklukan lelaki Arrogant dihadapannya itu dengan cara berbuat baik dan perhatian. Meskipun nanti tidak akan selalu berhasil, paling tidak Belvina punya sedikit jurus untuk mereda lelaki itu.
“ Yaudah kalau begitu saya permisi dulu ya. “ Belvina bangun dari duduknya dan segera pergi keluar ruangan Barra.
“ Belvina? “ Panggil Barra sebelum gadis itu menghilang dari pandangannya.
“ Iya, Mr. Barra? “
“ Apa tangan kamu masih sakit? “ tanya nya.
“ Udah enggak, kok. Ini tinggal sisa bekas lukanya saja. “
“ Yaudah sana pergi! “ usirnya.
Belvina mengerucutkan bibirnya, dia tak mengerti kepada Barra yang terkadang sebenarnya ingin menunjukkan simpatik namun sikap ketusnya tetap di tonjolkan, sehingga dia terlihat seperti orang tak perduli.
Barra menghela nafas lega setelah mengetahui bahwa tangan Belvina sudah semakin membaik, paling tidak dia jadi tenang karena gadis itu tidak mengalami luka serius sampai harus di lakukan pengobatan rutin.
**
Belvina berjalan bersama Lia menuju kantin. Mereka berbincang – bincang, ralat maksudnya hanya Lia saja yang berbincang – bincang membicarakan banyak hal, sedangkan Belvina menjadi pendengar yang terpaksa setia, bukan pendengar setia seutuhnya.
“ Sumpah ya, gua itu benci banget sama kecoa! Pokoknya, dia adalah musuh terbesar gue di muka bumi ini! “ Seru Lia dengan heboh. “ I HATE KECOA! Terutama kecoa terbang! Rasanya pengen gue bunuh secara sadis aja itu para kecoa! “
“ Lia, kita mau makan. Jadi, tolong jangan terus – terusan bahas kecoa. Bikin enek tau gak? “ Ujar Belvina tapi Lia terus saja membicarakan tentang hewan serangga yang cukup menggelikan itu.
“ Ya, abis gue kesel aja sama dia. Suka muncul tiba – tiba dan terkadang terbang. Ish, nyebelin! “ Lia bicara dengan nada mengeluh. “ Apalagi baunya itu sangat menyengat. Dari jauh juga gue udah bisa mencium detik – detik kemunculan dia. “
“ Lia…lia. “ Belvina menghentikan langkahnya. Mereka berdua berhenti di dekat tempat duduk Barra yang kini terdapat Barra sendirian menunggu Devo dan Zayn yang sedang memesan makanan.
“ Kita mau makan apa? “ tanya nya daripada harus mendengarkan Lia bercerita tidak jelas.
“ Nasi padang uni udah sayang? “ saran Lia. “ Atau soto ayam madura? “
“ Kayaknya gue mau makan nasi kuning aja deh, lebih murah dan sesuai kantong gue. “ Jelas Belvina membuat Lia berdecak sebal seraya memutar kedua bola matanya.
“ Setiap hari lo makan nasi kuning mulu emang gak bosen? “ tanya nya, mereka berdua malah berdebat. “ Nanti lama – lama muka lo jadi kuning kayak bendera orang meninggal, mau? “ ucap Lia asal – asalan.
“ Sembarangan aja kalau ngomong. “ Belvina menoyor kening Lia.
“ Lagian, setiap hari itu – itu aja yang dimakan. Gue aja anak kost makannya nasi padang mulu. “
“ Ya habis gimana lagi? nasib tanggal tua. “ Ungkap Belvina cengar – cengir.
“ Ah, lo mah mau tanggal muda ataupun tua pasti makannya nasi kuning terus. “ Cetus Lia.
Barra yang sejak tadi duduk dapat mendengar jelas perdebatan kedua gadis yang berdiri tak jauh darinya. Dia menggeleng sambil berfikir untung saja dia tidak jadi orang susah yang harus menghitung – hitung pengaluaran ketika mau makan.
“ Miskin sekali si Belvina! sudah rumah seperti gubuk, pintunya pendek dan mau makan saja bingung! “ cibirnya. Namun, disisi lain dia jadi merasa kasihan dengan gadis itu, ia ingin sekali membelikan Belvina makanan, ya hitung – hitung karena gadis itu tadi sudah mengganti plasternya, tetapi rasa gengsi yang sangat kuat membuatnya berfikir dua kali karena takut Belvina berfikir dirinya mulai perhatian atau bahkan suka kepadanya.
“ Gimana caranya ya? “
Tiba – tiba sebuah ide muncul di otak Barra, lelaki itu segera berdiri lalu mengatur suaranya untuk berbicara dengan cukup keras agar terdengar semua orang di kantin.
“ Perhatian…Perhatian! “ Seru Barra langsung menjadi pusat perhatian semua yang ada di kantin.
“ Wah Bargem mau ngumumin apa tuh? “ tanya Lia yang masih berada di posisi tadi bersama Belvina.
“ Hari ini saya akan traktir kalian semua pesan makanan di kantin. Terserah, kalian bebas pilih apa saja nanti biar saya yang bayar. “ Barra menoreh ke arah para pedagang di kantin yang kini juga ikut mendengarkannya. “ Untuk para pedagang, nanti catat saja total biaya yang harus saya bayar. Kalau sudah infokan ke saya. “ Selesai bicara Barra kembali duduk.
Terdengar suara riuh dan ucapan terimakasih untuk Barra. Para karyawan pun langsung memesan makanan sesuka hati.
“ Belvina? lo denger apa yang pak Barra umumin, kan? kita semua ditraktir makan apa aja sepuasnya, belvi! “ Lia lompat – lompat penuh semangat. “ Setidaknya, hari ini lo terbebas dari nasi kuning. “
“ Iya, Lia. Ayo kita pesan makanan yang banyak sekarang juga. “ Belvina juga ikut bersemangat, mereka berdua langsung mengantri untuk memesan makanan yang di inginkan tanpa harus memikirkan harganya. Hal itu sangat menguntungkan, terutama bagi Belvina yang punya uang pas – pasan karena belum merasakan gajian ditempat bekerjanya sekarang.
Devo dan Zayn baru saja datang membawa makanan. Mereka memberi tatapan penuh pertanyaan kepada Barra.
“ Tumben lo baik hati, bar? “ tanya Zayn karena tak biasanya Barra royal dengan orang yang tidak dekat dengannya.
“ Mood gue lagi bagus. “ Jawab Barra seadanya. “ Mana minuman gue? “ tanya nya kepada Devo karena tadi dia menitip minuman kepada sahabatnya itu. Barra memang jarang membeli makanan di kantin.
“ Nih. “ Devo menyerahkan Ice Milk Tea kesukaan Barra. “ Plaster lo siapa yang ganti? “ tanya Devo, ternyata ia memperhatikan kening Barra yang terlihat sudah terganti dengan Plester lebih bersih dari sebelumnya alias plaster baru.
“ Ganti sendiri. “ Bohong Barra seraya menyeruput minumannya.
“ Tumben. “
“ Kalau tiap hari lo traktir karyawan seperti ini, dijamin pahala lo nambah berkali – kali lipat. “ Ujar Zayn. “
“ Gue gak sebaik itu. “ Bukannya merasa senang sudah berbuat baik seperti itu agar menambah pahala, Barra malah menjawab seperti itu.
“ Ya, gue tau banget seorang Barra Eugene. “ Cetus Zayn. “ Tidak mungkin bersikap dermawan. “
“ Ya, gak penting juga bagi gue bersikap dermawan ke semua orang. “ Cetus Barra mendapat gelengan dari kedua sohibnya.
Barra mengedarkan pandangannya mencari – cari keberadaan seorang gadis yang selalu membuatnya naik pitam. Pandangan Barra berhenti ketika melihat Belvina sedang menikmati makanan yang cukup banyak di mejanya bersama Lia.
Barra tersenyum miring. “ Rakus sekali dia pesan makanan sebanyak itu mentang – mentang gratis. “ Ucapnya pelan dengan mata yang masih memperhatikan Belvina. Meskipun dia baru saja mencibir Belvina, tetapi di dalam hatinya ada rasa senang melihat gadis itu makan dengan puas dan terpampang kebahagiaan diwajah Belvina.
Walaupun cara Barra terkesan rumit sampai harus mentrakitr banyak orang hanya karena tidak ingin bilang kepada Belvina secara pribadi bahwa dirinya ingin mentraktir makan, tetapi setidaknya Belvina juga ikut menikmati makanan itu.
“ Kenapa lo senyam – senyum? “ celetuk Devo yang selalu saja memperhatikan Barra.
“ Mau tau aja urusan orang! “ Balas Barra ketus.