Belvina menempelkan keningnya di jendela mobil yang tertutup rapat, ia mengetuk – ngetuk kaca jendela menggunakan jari telunjukknya dengan pelan, matanya terfokus memandangi dunia luar yang kini terdapat banyak pedagang kaki lima berjajar dipinggir jalan. Berbeda dengannya yang sangat menikmati perjalanan, seorang Barra Eugene kini tengah merengut sambil mengemudikan mobilnya. Dia kesal karena sudah hampir lima belas menit tidak kunjung sampai ditempat tujuan yang kata Belvina dekat dari kedainya, tapi ia merasa ditipu.
“ Habis ini kita belok kemana? “ tanya Barra ketus.
“ Dipertigaan, belok kiri. Habis itu lurus terus dan ada pertigaan lagi, lalu belok kanan. “ Jelas Belvina masih dengan posisinya tadi menghadap jendela.
“ Kamu sedang mempermainkan saya ya? “ celetuk Barra.
Perlahan Belvina menoleh ke arah sumber suara sambil menggeleng pelan. “ Enggak, kok. Ini beneran jalan menuju tempat makan gulai kambing. “
“ Buktinya dari tadi kita gak sampai – sampai! Kamu bilang lokasi tukang gulai kambing nya dekat dengan kedai coffe, tapi ini kenapa belum nyampe juga! “ gerutu Barra disambut tawa kecil oleh Belvina. “ Kenapa kamu ketawa? “ Barra melirik Belvina sekilas.
“ Ya gak apa – apa, sih. Lucu aja kalau liat Mr. Barra lagi marah – marah. “ Jawabnya sambil tersenyum tipis.
“ Lucu? Kamu fikir saya badut? “
“ Saya gak bilang kalau Mr. Barra badut. “ Jawab Belvina santai.
“ Ah, sudahlah. Bicara sama kamu bikin tensi darah saya naik! “ Barra kembali fokus mengemudi daripada meladeni Belvina.
“ Lagian, siapa suruh jadi orang emosian. “ Ucap Belvina pelan namun dapat didengar oleh Barra.
“ Tadi kamu bilang apa? “ Barra menoleh ke arah Belvina dengan mata melotot, hal itu membuat Belvina jadi ngeri sendiri karena takut lelaki itu akan berbuat kasar padanya di dalam mobil. Apalagi, saat ini dia hanya berdua dengan Barra.
“ E—enggak,bukan apa – apa. “ Belvina cengar – cengir, meskipun dalam hatinya ketakutan.
Tangan Barra sudah geregetan ingin mencengkram gadis disebelahnya, namun dia mengurungkan niatnya setelah mengingat tangan Belvina masih dalam keadaan tersayat pisau karena kemarin telah menolongnya.
Belvina memperhatikan wajah Barra semakin nampak masam, mungkin saja karena dia telah membuatnya kesal dan membohonginya karena berkata lokasi gulai kambingnya dekat, padahal jaraknya lumayan jauh.
“ Mr. Barra, gimana kalau kita main tebak – tebakan saja? biar gak bosen? “ Ucapnya, ia menunggu jawaban dari Barra, tapi lelaki itu diam tak bersuara.
“ Kalau diam berrati tandanya setuju. “ Belvina langsung berfikir tebakan apa yang akan dia berikan kepada Barra. “ Oke, kamu siap – siap ya. Kalau misalnya salah tebak, hukumannya boleh jitak kepala, tampar pipi atau tarik hidung. Pilih salah satu, oke? “ terang Belvina, namun Barra tetap diam, ia fokus saja mengemudi.
“ Baiklah, kita mulai. “ Belvina nampak begitu semangat, ia berharap Barra tidak bisa menjawab tebakannya agar dia dapat menghukum Barra. “ Jika merebus 1 indomie diperlukan waktu selama 5 menit, maka berapa waktu yang dibutuhkan untuk merebus 12 indomie? “ tanya Belvina, ia membenarkan duduknya menghadap Barra. “ Ayo jawab? “
Barra diam, ia mengacuhkan Belvina. Baginya, tidaklah penting menjawab tebak – tebakan itu.
“ Mr. Barra kenapa diam saja? jawab, dong. “ Belvina bicara dengan nada mengeluh.
Barra tetap diam.
Mata Belvina menyipit menatap Barra, ia sedang berfikir bagaimana caranya agar Barra mau merespon dirinya. Seulas senyuman miring pun tercetak diwajah Belvina. “ Bilang aja Mr.Barra gak tau jawabannya, kan? “ katanya, lalu ia tertawa. “ Yah, katanya lulusan universitas ternama! Masa pertanyaaan kayak gitu aja gak bisa jawab. Berarti kamu itu oon gak pinter. “ Ungkap Belvina memanas – manasi Barra dan benar saja lelaki itu langsung terpancing.
“ Sembarangan sekali kamu kalau bicara! “ Barra memutar otaknya untuk menjawab.
“ Yaudah coba jawab kalau kamu memang pintar? “ ujar Belvina memberi penekanan pada kalimat ‘PINTAR’
“ Kamu fikir saya bodoh tidak bisa menjawab pertanyaan simple seperti itu? “ Kini Barra tertawa mengejek. “ Sudah jelas waktu yang perlukan untuk merebus 12 indomie adalah 60 menit alias 1 jam jika 1 indomienya 5 menit, maka dikalikan saja 12 dikali 5. “ Jelasnya panjang lebar dengan sangat lugas.
“ Belvina, kamu itu harus tau kalau IQ saya itu sangat tinggi, jadi kecerdasan yang ada di otak saya tidak perlu di ragukan. “ Katanya dengan sangat angkuh sambil menyapu rambutnya dengan jari – jemarinya.
Belvina mengulum bibirnya sendiri menahan tawa, sedangkan Barra kini merasa sombong karena telah berhasil menjawab.
“ Jawaban saya benar, kan? “ tangan kiri Barra bergerak untuk menjitak kepala Belvina sebagai hukuman karena jawabannya benar, namun gadis itu dengan cepat menghindar.
“ Kamu jangan curang, dong! harus terima hukumannya!“ omel Barra tak terima.
“ Siapa yang bilang jawaban kamu benar? “ tanya Belvina, kini ia tertawa. “ Jawaban kamu itu salah. “
Barra menghentikan mobilnya secara mendadak.
“ Aduh, Mr. Barra kebiasaan rem mendadak mulu. “ Belvina terlihat sangat shock, untungnya kali ini keningnya tidak terbentur Dashboard lagi seperti waktu itu.
“ APA KAMU BILANG? JAWABAN SAYA SALAH? “ Barra bicara dengen gigi bermertak, kerutan di dahinya begitu jelas menandakan bahwa dia marah dan tak terima jika tebakannya salah.
“ Iya salah. “ Belvina manggut – manggut.
“ Dimana letak salahnya? “ Barra nampak penasaran.
Belvina membenarkan duduknya, ia menghadap Barra dan mulai mejelaskan jawaban yang sebenarnya. “ Coba kamu fikir lagi, deh. Kalau satu indomie membutuhkan waktu 5 menit untuk direbus, maka waktu yang diperlukan untuk merebus 12 indomie ya tetap 5 menit juga karena kan, bisa merebus semua indomie itu dalam waktu yang bersamaan. “
Penjelasan Belvina membuat Barra berfikir keras, ia menggaruk – garuk kepalanya yang tak gatal sebelum akhirnya bicara dengan nada tinggi. “ Jawaban kamu ngaur! Kamu pasti sengaja biar jawaban saya salah, kan? “
“ Ih… udah salah gak mau terima. “ Belvina memeletkan setengah lidahnya ke arah Barra.
“ Jawaban saya itu sudah sangat benar sesuai perhitungan. Kenapa jawaban kamu tetap 5 menit karena dimasak nya bersamaan? Kalau saya maunya di masak satu persatu gimana? Hasilnya 60 menit, kan? “ Barra terus saja protes, ia masih tak terima dan merasa malu karena jawabannya salah. Apalagi, tadi dia sudah sempat menyombongkan diri.
“ Logika saja, ngapain masak indomenya satu persatu kalau sekaligus bisa menghemat waktu? “ balas Belvina sedikit sewot. “ Kalau ada cara simple, kenapa harus cari yang ribet? “
“ Dasar bodoh! “ cibir Barra, ia kembali menyalahkan mobilnya dan melajukan kendaraannya menuju tempat gulai yang tak sampai - sampai.
“ Kamu harus dihukum. “ Kata Belvina, tangannya bergerak mendekati wajah Barra lalu menampar pipi Barra.
PLAK…
“ Aww… gak sopan sekali kamu tampar atasan kamu sendiri! “ omel Barra karena gadis itu memberi tamparan sedikit kencang seperti ada unsur sengaja melakukan itu, tapi Belvina menanggapinya dengan santai.
“ Kan, kita lagi main games. Kalau saya kalah juga gak apa – apa ditampar Mr. Barra. “ ujarnya, dalam hati ia berkata. ‘ kapan lagi gue bisa tampar anak pengusaha kaya keturuan EUGENE. ‘
“ Sekarang, giliran saya yang tanya kamu! “ Kini Barra jadi nampak antusias ingin bermain tebak – tebakan atau lebih tepatnya dia ingin membalas perbuatan Belvina yang sudah menamparnya tadi. Barra tidak mau kalah.
Belvina mengangguk. “ Silahkan. “
“ Kenapa matahari bisa tenggelam? “ tanya Barra.
Belvina memetik jarinya sambil menjawab. “ Karena matahari tidak bisa berenang. “ Jawabnya dengan kedua alisnya yang naik turun. “ Bener, kan? “
Barra mendung kesal, ia melirik Belvina dengan sinis. ‘ Bagaimana bisa perempuan ini menebak pertanyaan itu dengan benar! sia! ‘ batin Barra.
“ Mr. Barra, jawaban saya bener, kan? “ ulang Belvina.
“ I—iya. “ Dia mengangguk kaku. “ Darimana kamu bisa tahu jawaban itu? pasti kamu cari di internet, kan? ngaku! “ tuduh Barra.
“ Dih, Mr. Barra sembarangan kalau ngomong. Dari tadi kamu lihat kan, kalau saya gak main hp sama sekali? “ protesnya. “ Bilang aja kalau Mr. Barra gak terima saya berhasil menebak dengan benar. “
Barra diam sambil menghela nafas kasar.
“ Sekarang giliran saya. “ Belvina berfikir lagi untuk memberi tebak – tebakan yang sulit untuk Barra. “ Salah…Salah apa yang tidak bisa di pidanakan? “ tanya nya.
Barra tertawa sebentar sebelum akhirnya menjawab. “ Ya jelas salah sambung, lah. Mana mungkin kan, kalau salah sambung di pidanakan? Kali ini jawaban saya pasti benar! jika masih salah berarti kamu tidak waras! “
“ Bukan! “ Belvina menggeleng cepat. “ Jawabannya adalah SALAH URAT. “ Selesai bicara Belvina tertawa terbahak – bahak, tetapi Barra diam memandangnya aneh.
“ Gak! Gak bisa gitu, dong. Salah sambung juga harusnya benar! “ Lagi – lagi Barra memprotes, dia selalu tidak terima karena kalah dari Belvina.
“ Ya terserah saya dong jawabannya apa. Udah deh, kamu terima aja hukumannya. “ Belvina menjulurkan tangannya ke arah wajah Barra.
“ Sial! “ Dengan sangat terpaksa, Barra berusah menerima hukuman yang Belvina berikan kepadanya.
Kali ini Belvina tidak menampar Barra lagi, melainkan ingin menjitak kepala Barra, namun hal tak terduga membuat Barra merasakan sesuatu yang aneh ketika Belvina malah mengusap kepalanya sambil berkata dengan lembut. “ Jangan di jitak deh, nanti ngomel. “ Katanya sambil mengelus kepala Barra. “ Mr. Barra jangan marah – marah mulu, dong. “ Ucapnya setelah itu menyudahi mengusap kepala Barra.
Barra merasakan hatinya sedikit bergemuruh saat di elus tadi oleh Belvina, ia tidak terlalu memperhatikan wajah gadis itu karena posisinya dia masih mengemudi, jadi pendangannya lurus ke depan, tapi Barra bisa merasakan bagaimana tangan gadis itu mengelusnya dengan lembut.
‘ Kenapa gue jadi deg – degan ‘
“ Lagi, gak? “ tanya Belvina.
“ GAK! “ balas Barra ketus. Dia tidak ingin lagi bermain tebak – tebakan karena sejak tadi selalu saja salah dan kalah. “ Ini kita kapan sampainya? Kayaknya…“ Barra memperhatikan kembali jalanan yang Belvina beritahu, ia baru tersadar kalau sejak tadi dirinya berputar – putar dan melewati jalan yang sama beberapa kali. “ Belvina kamu beneran kerjain saya ya? ”
Belvina terkekeh sambil mengusap leher belakangnya. “ Iya, sebenernya saya gak kepengen makan gulai. Saya cuma pengen sekedar jalan – jalan aja karena suntuk. Kapan lagi kan, muter – muter naik mobil mahal. “ Jelasnya tanpa berdosa.
“ Benar – benar kamu, Belvina. “ Barra jadi merasa menyesal telah memilih datang menemui Belvina, kalau tahu begini lebih baik dia main golf saja bersama Devo dan Zayn.
Barra juga merasa menyesal karena telah mengucapkan kata maaf kepada Belvina, padahal selama ini dia tidak pernah meminta maaf pada siapapun sekalipun dia salah karena rasa angkuh dan gengsinya melebihi rata – rata.
Akhirnya, Barra pun mengantarkan saja gadis itu pulang.
Sampainya di depan gang rumah Belvina, ia pun menghentikan mobilnya.
“ Mr. Barra, maafin saya ya. “ Ungkap Belvina jadi merasa tak enak hati. “ Ya jarang – jarang juga kan, saya kerjain Mr. “
“ Terserah. ” Singkat Barra dia sudah lelah berdebat.
“ Mau mampir dulu gak ke rumah saya? “ tanya Belvina, tapi kemudian Belvina menjawab sendiri. “ Ah, iya pasti kamu gak mau mampir kerumah orang miskin. “ Jawabnya sambil melepaskan SeatleBelt.
Barra memperhatikan lingkungan disekitarnya yang saat ini sangat sepi dan gelap karena minimnya lampu penerangan.
“ Belvina? “ Barra menahan gadis itu yang akan segera turun.
“ Kenapa? “ Belvina menatap Barra bingung, terlihat lelaki itu ikut membuka SeatleBelt nya.
“ Saya antar kamu sampai depan rumah. “ Ucapnya membuat Belvina terkesima bahkan ingin kejang – kejang mendengar sebuah kalimat yang sangat mengesankan keluar dari mulut Barra.
“ A—APA? “ Belvina melongo sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, ia masih tak percaya.
“ Ini sudah larut malam, kalau kamu kenapa – kenapa nanti saya jadi semakin merasa bersalah karena orang yang terakhir kali bersama kamu adalah saya. “ Ucap Barra. Dia merasa kali ini tidak ada salahnya menemani gadis itu pulang, setidaknya ia bisa memastikan Bahwa Belvina sampai rumahnya dengan utuh dan aman.
Barra segera turun dari mobil, sedangkan Belvina masih di dalam mobil dengan sejuta fikiran. “ KOK BISA? ” Setelah banyak berfikir karena sikap Barra yang mendadak baik, akhirnya ia segera turun dari mobil.
“ Mr. Barra yakin mau anterin saya sampai depan rumah? emang gak jijik sama lingkungan yang kayak begini. “ Belvina memperhatikan sekelilingnya tidak lah ramah lingkungan karena banyak sampah berserakan dijalan dan rumah – rumah yang saling berdempetan serta selokan yang berada disana berwarna kecoklatan menimbulkan bau yang sedikit tak sedap.
“ Gak yakin sebenarnya. “ Jawab Barra.
“ Yaudah, kalau gak yakin lebih baik tidak usah. “ Jawab Belvina cepat.
“ Sudah jangan banyak omong. Kemana arah rumah kamu? “ tanya Barra.
“ Ikuti saya. “ Belvina berjalan lebih dulu, sedangkan Barra berada dibelakangnya.
Barra terlihat risih berjalan di lingkungan padat penduduk yang banyak debu tidak seperti di lingkungan rumahnya yang sangat asri. Sesekali Barra menutup hidungnya karena tercium bau tak sedap.
Barra mempercepat jalannya agar bisa sejajar dengan Belvina.
“ Belvina kenapa kamu betah sekali tinggal di daerah seperti ini? “ tanya nya ketika sudah bersebelahan.
“ Aku sudah dari kecil tinggal disini, jadi udah jelas betah dan terbiasa. “ Jawabnya.
“ Apa kamu tidak ada niatan untuk pindah rumah? “
“ Ada. “ Belvina manggut – manggut. “ Nanti kalau saya sudah punya banyak uang, baru deh beli rumah dan pindah dari sini. “ Jelasnya.
“ Kumuh sekali lingkungan ini. “ Cibirnya.
“ Ya, mau gimana lagi. “
Belvina menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan rumahnya.
“ Mr. Barra, ini rumah saya. “ Belvina menunjuk ke arah rumahnya dengan jari jempolnya.
Barra mengamati rumah yang jauh dari kata mewah itu dengan setengah meringis, ia merasa tempat itu tidak layak untuk ditinggali. Sangat jauh berbeda dengan rumahnya yang sangat luas di lengkapi berbagai macam fasilitas.
Melihat Barra terdiam, Belvina mencoba bertanya. “ Mr. Barra mau mampir dulu? “ tawarnya langsung dibalas gelengan cepat.
“ Kenapa? istirahat dulu sebentar. “ Belvina menarik paksa tangan lelaki itu agar mengikutinya masuk kedalam rumah.
“ Gak usah Belvina, saya mau pulang aja. “ Tolak Barra.
“ Sebentar aja. “ Belvina melepaskan tangan Barra, lalu ia membuka kunci pintu rumahnya. “ Ayo masuk pak Boss. “ Belvina sedikit berbungkuk sambil mempersilahkan Barra masuk layaknya seorang pangeran.
Barra menatap pintu rumahnya Belvina yang bahkan tak lebih tinggi dari Barra, hal itu membuat Barra harus sedikit bungkuk untuk masuk kedalam.
“ Apakah ini layak disebut rumah? “ Barra sedikit menunduk seraya berjalan masuk ke dalam. “ Bahkan tempat ini lebih layak disebut gubuk! “ tambah Barra yang selalu saja mengeluarkan kata – kata nyelekit.
“ Sembarangan! “ cetus Belvina dengan tatapan setengah melotot ke arah Barra. Dia menutup pintu rumahnya, lalu mengajak Barra untuk duduk di sofa yang ada di ruangan pertama ketika memasuki rumah. “ Silahkan duduk Mr. Barra terhormat. “ Belvina menepuk – nepuk sofanya.
“ Ck, kenapa kamu memaksa saya masuk kerumah seperti ini, sih! “ Barra masih saja menggerutu, tapi ia tetap menuruti Belvina untuk duduk.
“ Udah jangan ngedumel melulu. “ Belvina berdiri di samping Barra. “ Kamu pasti haus, kan? mau minum apa? “ tanya nya.
“ Buatkan saya Ice Milk Tea. “ Jawab Barra sambil menaikkan kakinya ke atas meja. Dia benar – benar bersikap seenaknya saja bahkan terkesan tak sopan.
Belvina melirik kaki Barra yang sudah berada di atas mejanya, dia ingin marah tapi pasti percuma saja karena Barra akan tetap meletakkan kakinya disana. “ Mr. Barra, ini bukan caffe jadi gak ada Ice Milk Tea. “ Jawab Belvina mencoba untuk bersabar. “ Minuman yang lain aja ya. “
“ Yaudah bawakan aja minuman soda. “ Jawab Barra lagi.
Belvina terkekeh. “ Disini juga gak ada minuman bersoda. Um… yang lain aja ya? “
“ Jus alpukat. “ Ucap Barra.
“ Gak ada buah alpukatnya, blender nya juga lagi rusak. “ Belvina tersenyum meringis.
Barra menurunkan kakinya, ia hentakkan kakinya ke lantai dengan kasar sambil menatap Belvina kesal. “ Terus ada nya apa di rumah gubuk mu ini? “
“ Air putih. “ Jawab Belvina membuat Barra menghela nafas kasar sambil berdecak sebal.
“ Kalau cuma ada itu kenapa kamu tanya saya mau minum apa? “ Barra sudah mulai jengkel dengan Belvina yang selalu saja memancingnya untuk marah.
Dengan santainya Belvina berkata. “ Cuma basa – basi aja, sih. “
“ Benar – benar perempuan tidak waras. “ Barra bangun dari duduknya. “ Saya mau pulang aja. Berada di gubuk seperti ini membuat saya gerah. “
“ Enak aja ya dari tadi kamu bilang rumah saya gubuk terus! “ Belvina juga sudah mulai kesal karena Barra terus mengejeknya.
“ Terus kamu mau sebut apa rumah mu ini, hah? Bahkan kandang burung dirumah saya lebih besar dari gubuk kecilmu ini! “ Celoteh Barra sambil bertelak pinggang.
“ Udah, deh. Kalau Mr. Barra mau pergi silahkan! Saya pusing berdebat terus! “ Belvina berjalan untuk membuka pintu rumahnya. “ Cepetan pergi. “ Usirnya daripada harus mendengarkan kata - kata menyakitkan lagi yang keluar dari mulut beracun Barra.
“ Tadi kamu yang suruh saya masuk, terus sekarang kenapa kamu jadi usir saya? “ omel Barra berjalan mendekati Belvina. “ Awas aja ya kamu! Hari ini kamu sudah buat saya kesal dan beberapa kali ngerjain saya! “
Belvina diam saja, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena Barra kini menatapnya serius.
“ Saya akan balas perbuatan kamu! “ Tegasnya, tapi mulut Belvina malah seperti orang komat – kamit ketika di marahi oleh Barra.
“ ARGGHH!!! “ Barra ingin sekali mencengkram gadis itu namun tidak jadi lagi karena tangan Belvina masih terluka. “ Yaudah saya mau pulang! “ Barra langsung keluar rumah itu sambil marah – marah membuat dirinya terlupa kalau kusen pintu rumah Belvina pendek, alhasil kepala Barra terbentur keras.
“ Aduh!! “ Barra meringis kesakitan dan menyebabkan keningnya sedikit mengeluarkan darah karena cukup kencang terbentur.
“ HA HA HA. “ Melihat Barra seperti itu Belvina sempat tertawa beberapa saat sebelum akhirnya tersadar kalau atasannya itu kini mengeluarkan darah dibagian sudut keningnya.
“ Mr. Barra? “ Belvina mendekati lelaki itu. “ Ya ampun jidatnya berdarah. “ Belvina menutup multunya menunjukkan bahwa dia terkejut. “ A—ayo duduk dulu biar saya obatin . “ Dia menarik lengan Barra namun lelaki itu menepisnya.
“ Gak usah! Saya mau pulang aja! “ Serunya, tapi Belvina tidak perduli. Dia tetap memaksa Barra untuk kembali duduk, ia menarik paksa lengan Barra agar menuju sofa kembali. Dia dorong tubuh Barra agar duduk.
“ Aw… kamu ini mau menganiaya saya ya? “ ucap Barra ketika tubuhnya di dorong kasar hingga terduduk.
“ DIAM DITEMPAT! “ tegas Belvina membuat Barra terdiam. Setelah itu Belvina pergi ke belakang.
“ Kenapa jadi galakan dia? “ katanya sambil mengusap keningnya yang masih sedikit mengeluarkan darah. “ Dasar pintu sialan! “ cibirnya menatap pintu itu dengan kesal. Bahkan dengan benda mati saja amarahnya masih tetap tidak bisa di kendalikan.
Belvina kembali datang dengan membawa tissue dan plester.
“ Makanya, kalau jalan itu jangan sambil ngomel. Jadi ke jedot, kan? “ Ucap Belvina yang baru saja datang langsung duduk di sebelah Barra.
“ Ini semua salah pintu kamu! Hancurkan saja pintu bodoh mu itu! “ omelnya membuat Belvina tertawa mendengarnya.
“ Mr….Mr…. pintu yang lagi diam aja masih salah di mata kamu. “ Ucapnya sambil mengambil sehelai tissue.
“ Kamu mau ngapain? “ tanya Barra karena Belvina menggeser duduknya agar lebih dekat.
“ Mau di bersihin darahnya. “ Katanya. “ Tenang aja, saya gak akan macam – macam. “
Barra akhirnya diam saja dan membiarkan Belvina melakukan kegiatannya itu.
Selama membersihkan darah di kening Barra, tentu saja wajah Belvina sedikit berdekatan dengan Barra.
Perlahan mata Barra melirik Belvina yang kini sibuk mengobatinya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali mengamati wajah Belvina yang jujur kalau dilihat lebih dekat memang aura kecantikannya bertambah. Dia jadi teringat perkataan Zayn waktu itu.
‘ Apa lo gak bisa lihat kalau Belvina itu cantik banget, bro! Apalagi, kalau lo lihat dia dari deket. Beuhh!! Damagenya bukan main. Semua yang ada diwajahnya sangat sempurna.‘
Terlalu menikmati memandangi wajah Belvina sampai membuat Barra tidak sadar kalau gadis itu sudah selesai mengobatinya.
“ Mr. Barra kenapa lihatin saya seperti itu? “ tanya Belvina, ia sedikit bergeser duduknya lalu memicingkan matanya menatap Barra. “ Mr. Barra lagi memperhatikan wajah cantik saya ya? hayo ngaku ? ” ledek Belvina.
“ I—ih kepedean sekali kamu! “ Barra berusaha mengelak. “ Wajah kamu kalau dilihat dari dekat itu sangat jelek, saya sampai mual melihatnya terlalu lama. “ Bohongnya.
“ Kurang ajar! “ Belvina melemparkan tissue yang sudah ia remukkan ke arah Barra.
Barra memegang keningnya yang sudah di plester. “ Ini kamu obatinnya bener gak? “
“ Bener, lah. “
“ Hm…” Barra mengangguk.
“ Biasanya orang kalau habis ditolongin itu harusnya bilang apa ya? “ tanya Belvina dengan suara bernada tinggi, seperti ada unsur menyindir Barra yang tidak mengucapkan terimakasih sudah di obatin oleh Belvina.
Barra diam tak merespon.
‘ Dasar cowok tidak tahu terimakasih. ‘ Batin Belvina melihat Barra malah sibuk berkutat dengan ponselnya.
“ Catat nomer kamu. “ Tiba – tiba saja Barra menyerahkan ponselnya ke arah Belvina.
“ Buat apa? “
“ Udah catet aja. “
Belvina pun mengambil ponsel Barra dan mulai mengetik nomernya.
“ Nih. “ Belvina kembali menyerahkan ponsel itu ke pemiliknya.
Barra langsung menelfon nomer Belvina untuk memastikan bahwa dia tidak dibohongi atau dikerjai gadis itu.
Belvina pun menunjukkan ponselnya yang terdapat panggilan masuk dari Barra agar lelaki itu percaya bahwa Belvina tidak memberinya nomor asal – asalan.
“ Udah terbukti, kan? saya gak bohongin Mr. Barra. “ Ucap Belvina mematikan panggilan dari Barra.
Barra mengangguk. “ Simpan nomor saya. Kalau kamu butuh biaya untuk pengobatan tanganmu itu langsung kabarin saya. “ Barra bangun dari duduknya. “ Yaudah kalau gitu saya mau pulang. ”
“ Oke. “ Belvina mengantar Barra sampai depan rumahnya. “ Kepalanya nunduk, nanti kejedot lagi. “ Ucap Belvina memperingati Barra yang akan melewati pintunya.
Sebelum Barra pergi, Belvina ingin mengatakan sesuatu kepada lelaki itu. “ Mr. Barra? ”
“ Apa? “
“ Maafin saya hari ini udah banyak bikin Mr. Barra kesal. “ Ungkapnya dengan penuh harapan agar Barra mau memaafkannya sekarang daripada nanti lelaki itu malah akan membuat rencana untuk membalas perbuatannya seperti ancamannya tadi.
Barra tidak langsung menjawab, ia sedang berdebat dengan dirinya sendiri antara harus memaafkan atau tidak, sampai akhirnya dia mengangguk. “ Ok. “ Setelah itu Barra berjalan pergi, namun baru beberapa langkah Barra menghentikan kakinya dan kembali membalikkan badannya ke arah Belvina yang masih berdiri di depan pintu.
“ Belvina? “ panggilnya.
“ Iya? “
Barra menunjuk plester di keningnya. “ Makasih. “ Ucapnya setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya.
Belvina tersenyum senang mendengar Barra berterima kasih kepadanya karena dia tahu seorang Barra Eugene sangat sulit mengucapkan hal seperti itu.
“ Hati – hati, Mr. Barra. “ Teriak Belvina seraya melambaikan tangannya, hal ini juga membuat Barra tersenyum tipis mendengar Belvina mengatakan itu.
Disepanjang perjalanan, Barra menatap wajahnya melalui cermin yang ada di dalam mobil. Dia arahkan cermin itu ke bagian keningnya yang tadi di plester oleh Belvina, lalu seulas senyum tercetak diwajahnya.
“ Padahal gue selalu kasar sama dia, tapi kenapa dia masih tetap perhatian? “ Barra bertanya – tanya pada dirinya sendiri. “ Ah, kenapa gue harus mikirin dia, sih? “ Barra berusaha membuyarkan fikirannya tentang gadis itu. “ Ingat rencana awal, Barra. Lo harus buat dia resign dari perusahaan! Titik! “