M.A.B (41)

2218 Words

Barra masuk ke dalam ruangannya dengan emosi yang menggebu – gebu, ia tutup pintunya dengan sangat kencang. Hatinya kecewa, perempuan yang dia anggap baik – baik ternyata punya sisi gelap yang tak terduga. Barra duduk dikursinya dengan nafas terengah, kerutan di keningnya begitu jelas dan bibirnya dia gigit kuat – kuat. Bukan apa – apa, saat ini Barra berfikir dirinya begitu bodoh bisa tertarik begitu dalam kepada Belvina.   Niana masuk kedalam ruangan Barra, ia ingin membicarakan masalah ini secara baik – baik.   “ Barra? “ Niana menarik kursi dan duduk dihadapan adiknya. “ Tenang dulu, jangan emosi. “ Niana tahu betul adiknya itu mudah terpancing.   “ Sekarang, kak Niana sudah gak punya alasan lagi untuk mempertahankan Belvina. “ Ucap Barra. Dia berusaha tidak perduli dengan Belvin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD