M.A.B (24)

2421 Words
Barra baru saja keluar dari gerbang kantor, ia melihat ke sisi jalan terdapat Belvina yang kini sedang melakukan kegiatan favoritenya yaitu berbagi kepada para pengemis. Dia sendiri tidak mengerti, padahal Belvina bukanlah orang kaya atau banyak uang tetapi gadis itu selalu saja saling berbagi. Oh ya, hari ini Barra sedang berbaik hati tidak memberi Belvina data terlalu banyak agar bisa pulang cepat karena dia telah membantu Barra melepas dan membersihkan lukanya yang sudah sembuh tadi.   Ngomong – ngomong, saat ini Barra merasa bingung apakah yang dilakukan Belvina berbagi dengan para pengemis itu benar atau selama ini Barra yang salah dalam berfikir tentang berbagi. Barra jadi teringat perkataan Belvina ketika di restauran Mall saat menemaninya membeli kado Niana.   “ Untuk berbagi kepada seseorang gak harus tunggu kaya kok, Mr. Barra. Bahkan, banyak orang kaya yang tidak pernah berbagi dan perduli terhadap orang yang membutuhkan. Itu membuktikan bahwa banyaknya orang yang sudah berjaya, tapi tidak memiliki kesadaran dan keperdulian antar sesama! “   Barra jadi melamun memandangi Belvina yang kini menciptakan sebuah senyuman di wajah anak – anak kecil dengan baju lusuh yang sudah mulai pergi menjauh setelah Belvina memberinya uang.     TIN…TIN…     Bunyi klason mobil membuyarkan lamunan Barra, ternyata beberapa mobil sudah antri di belakangnya yang ingin segera keluar kantor. Barra pun segera melajukan mobilnya, ia sempat menoreh ke arah Belvina sebentar sebelum akhirnya tancap gas.   Sampainya dirumah, Barra langsung bercermin di kamarnya. Dia mengamati keningnya yang sudah terbebas dari plaster, ia mengusap bekas lukanya itu sambil tersenyum tipis. Barra sendiri heran mengapa dia bersikap aneh seperti saat ini. Di obatin oleh Belvina dengan jarak yang sangat berdekatan entah mengapa menjadi candu bagi Barra.   “ Aneh. “ Ucapnya, ia jadi tertawa sendiri macam orang tak waras, tapi sedetik kemudian ekspresinya kembali ketus. “ Kenapa gue harus fikirin dia! “ ucapnya. Barra duduk di atas kasurnya sambil berfikir apa yang ingin dia lakukan hari ini. “ Zayn lagi ada urusan, Devo lagi ada acara reuni, terus enaknya gue ngapain ya? “   Barra pun memilih rebahan saja sambil memainkan ponselnya.     **     Belvina baru saja sampai dirumahnya, ternyata kedua orang tuanya berada dirumah tidak di kedai.   “ Loh, ibu sama ayah gak ke kedai? “ Belvina menghampiri kedua orang tuanya yang kini duduk di sofa, terlihat wajah Bani nampak pucat. “ Ayah kenapa? “   “ Tadi ibu dan ayah udah ke kedai, tapi tiba – tiba ayah kamu sakit. Jadi, ibu memutuskan untuk menutup kedai agar ayahmu bisa istirahat. “ Jelas Asri.   “ Ya ampun ayah. “ Belvina memeluk Bani dari samping. “ Apanya yang sakit? udah minum obat belum? “   “ Dad@ ayah terasa nyeri dan sesak. “ Terang Bani dengan suara lemas.   “ Ibu kita harus bawa ayah berobat. “ Belvina nampak sangat cemas, ia tidak bisa melihat ayahnya sakit namun tidak diberi pengobatan.   “ Belvi, duit kita gak cukup untuk biaya berobat. Besok pagi aja kita ke puskesmas. “ Ucap Asri, sebenarnya dia juga tidak tega pada suaminya, tetapi mau bagaimana lagi? keuangan mereka sangatlah tiris bahkan hanya cukup untuk makan saja.   “ Sudah gak apa – apa, biar ayah istirahat saja dirumah gak usah berobat. “ Jawab Bani berusaha terlihat kuat.   Belvina merasa sangat sedih, ia memutar otaknya untuk mencari jalan keluar. Tiba – tiba terlintas Barra di otaknya. Tangan Belvina langsung bergerak mencari kontak Barra.   “ Sebentar, bu. “   Belvina keluar, ia duduk di bangku yang berada didepan rumahnya. Dia menekan tombol untuk menelfon Barra dan untung saja langsung di angkat. Lagi – lagi, Belvina lupa kalau speaker telefonnya rusak, alhasil dia tidak bisa bicara dan mendengar suara Barra.   Sedangkan Barra sudah berteriak ‘ Hallo. ‘ Berkali – kali.   Belvina pun mematikan ponselnya, ia berfikir lagi bagaimana caranya agar dia bisa meminta tolong Barra. Sialnya, Belvina tidak bisa mengirim pesan karena dia hanya punya gratisan telefon saja. Sungguh miris sekali.   “ Aduh, gimana ya? “ Akhirnya Belvina mencoba untuk menelfon Barra lagi, lalu ketika di angkat dia matikan kembali. Belvina lakukan itu secara berulang kali, ia berharap Barra penasaran mengapa Belvina menelfonnya lalu ketika di angkat sengaja di matikan.   Disisi lain Barra nampak kesal karena Belvina lagi – lagi memutuskan panggilan ketika dia sudah menjawab.   “ Perempuan tidak waras ini kenapa, sih? dia selalu bikin gue kesel! “ Barra menatap layar ponselnya kesal sendiri karena sudah puluhan kali Belvina melakukan itu.   “ Ada apa sebenarnya? “ Barra jadi bertanya – tanya sendiri. “ Apa ada sesuatu yang terjadi? “ Dia jadi nampak cemas. “ Kayaknya, gak mungkin kalau dia sengaja seperti ini. “   Barra bangun dari duduknya, ia memakai jaket, lalu mengambil konci mobil yang tergeletak di atas meja. Dia bergegas keluar rumah dan pergi melajukan mobilnya tentu saja menuju rumah perempuan yang baru saja menelfonnya berkali – kali.   “ Belvina menyusahkan sekali. “ Ucapnya, dia merasa dibuat kesal tetapi Barra tidak bisa berdiam diri. Dia merasa perlu menemui Belvina untuk mengetahui apa yang terjadi, lagi pula Barra sedang tidak ada kegiatan. Jadi, tidak ada salahnya dia kesana untuk mengisi waktu kosongnya.   Bani kembali merasakan sakit lagi dibagian dad@nya, namun kali ini lebih nyeri membuatnya meringis kesakitan. Belvina bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan ayahnya, ia tak kuasa menyaksikan Bani wajahnya semakin pucat, keningnya berkeringat dan tangannya memegangi dad@nya sambil terus saja meringis.   “ Ayah, tunggu sebentar ya. Belvina minta bantuan dulu sama tetangga. “ Belvina semakin panik.   “ Abangmu itu entah kemana di saat tenaganya dibutuhkan. “ Omel Asri, ia merasa butuh bantuan Denis untuk membawa Bani ke rumah sakit karena jika dia dan Belvina saja sepertinya tidak kuat mengangkat tubuh Bani yang kini nampak sangat lemas.   “ Tunggu sebentar, bu. “ Belvina lari keluar rumah dengan terburu – buru, ketika di depan pintu dia menabrak sesuatu. Bukan, dia bukan menabrak pintu ataupun tembok melainkan tubuh bidang seseorang yang berdiri didepan rumahnya.   “ Aw…” Belvina hampir saja terjatuh namun tubuhnya segera di tahan. “ Mr. Barra? “ Belvina tertegun melihat kini ada sosok yang sejak tadi dia butuhkan.   Barra setengah melotot. “ Kamu ini kalau jalan tidak hati – hati. “ Omelnya. “ Ngapain kamu telefon saya berulang kali tetapi dimatikan? Kamu ini bikin saya—“ Barra tidak jadi melanjutkan ucapannya ketika tangan Belvina menutup mulutnya.   “ Mr. Barra, marah – marahnya tunda dulu ya? saya lagi butuh banget pertolongan. “ Ucapnya tergesa – gesa dengan raut wajah cemas membuat Barra yakin kalau gadis itu tidak bercanda.   “ Ada apa? “ tanya Barra.   “ Ayah saya... Ayah saya harus segera dibawa kerumah sakit. “ Terang Belvina dengan mata berkaca – kaca. “ Please, bantu saya. “   “ Ayo, belvi. “ Barra langsung masuk ke dalam rumah Belvina menghampiri Bani yang sudah tak berdaya, ia terkulai lemas. Belvina juga ikut masuk ke dalam.   “ Pak? Ayo kita kerumah sakit. “ Barra langsung membantu Bani berdiri, ia melingkarkan tangan Bani di bahunya dan berjalan dengan hati – hati dibantu Belvina.   “ Syukurlah ada si ganteng. “ Ucap Asri ketika melihat kedatangan Barra.   Mereka pun segera menuju mobil Barra yang terparkir di depan gang, setelah itu membawa Bani ke rumah sakit.   Sampainya di rumah sakit, Bani langsung mendapat perawatan. Dia segera di bawa ke ruangan untuk di cek apa penyebabnya sakit di bagian d@da. Setelah diperiksa ternyata Bani terkena serangan jantung akibat tingginya kolestrol dan faktor usianya juga yang semakin menua sangat rentan terkena penyakit jantung. Untungnya Bani segera dibawa kerumah sakit tepat waktu, kalau tidak mungkin bisa fatal.   Belvina keluar ruangan setelah mendengar penjelasan dokter, Barra mengikuti gadis itu yang kini bersandar di dinding sambil menitikan air matanya. Barra mengerti mengapa Belvina menangis, ia pasti terkejut ayahnya kini menderita penyakit jantung yaitu salah satu penyakit yang cukup mematikan.   Barra berdiri disebelah Belvina, kedua matanya memandang ke arah lain tetapi tangan kirinya bergerak mengusap kepala Belvina. Barra seperti itu karena merasa canggung.   “ Sabar ya. “ Kalimat itu keluar dari mulut Barra. Kepala Belvina mengangguk sambil mengusap air matanya, ia menoleh ke arah Barra.   “ Makasih ya, Mr. Barra. Kalau gak ada kamu aku gak tau apa yang akan terjadi dengan ayahku. “ Merasa sangat terharu, Belvina dengan refleks memeluk Barra dari samping.     DEG…   Barra merasa dirinya juga seperti akan terkena serangan jantung sama seperti Bani ketika mendapat pelukan dari Belvina. Dia diam membeku membiarkan gadis itu memeluknya.   “ Sa—sama – sama. “ Jawab Barra terbata – bata karena terlalu grogi mendapati pelukan dari Belvina.   “ Permisi? “ Salah satu perawat menghampiri mereka berdua, Belvina pun segera melepaskan pelukannya. “ Dengan keluarga pak Bani Dewana? “ tanya nya.   “ Iya saya sendiri. “ Jawab Belvina. “ Ada apa ya mbak? “   “ Silahkan selesaikan pembayaran terlebih dahulu agar beliau bisa mendapatkan perawatan berikutnya karena pak Bani harus rawat inap dalam beberapa hari kedepan. “ Jelas perawat tersebut.   Belvina terdiam, ia bingung harus membayar darimana pengobatan ayahnya itu.   “ Harus hari ini ya, mbak? “ tanya Belvina dengan wajah memelas.   “ Iya bu. Harus hari ini dan tidak bisa dicicil. “   Belvina menarik nafasnya, ia jadi pusing sendiri.   Barra memperhatikan Belvina, terlihat gadis itu nampak kebingungan. Barra pun langsung mengerti apa yang Belvina fikirkan.   “ Mbak tenang aja, hari ini saya lunasi semuanya. Tolong segera beri penanganan yang terbaik untuk pak Bani. “ Ungkap Barra membuat Belvina terkejut bukan main, ia sampai tak bisa berkata – kata.   “ Baik pak. Nanti langsung ke loket pembayaran saja ya. “ Perawat itu segera pergi.   “ Mr. Barra? “ Belvina melongo menatap Barra.   “ Kamu tenang saja. Saya akan bayar semua biaya pengobatan dan rawat inap ayah kamu. “ Jelas Barra.   Belvina mengusap air matanya yang hampir menetes. “ Makasih banyak, Mr. Saya janji nanti akan ganti uang Mr. Barra atau kalau perlu setiap bulan gaji saya langsung dipotong aja gak apa – apa, kok. “   “ Gak usah. Anggap aja ini sebagai ucapan terimakasih saya karena kamu sudah tolongin saya waktu hampir dirampok. “ Jawab Barra, ia kasihan pada Belvina jika harus memotong gajinya karena dia tahu gaji gadis itu sudah di potong 20% sebagai hukuman karena telah berbuat lancang padanya waktu itu, jadi tak mungkin jika Barra harus memotong lagi.   “ Mr. Barra serius? “ Bibir Belvina gemetar, dia merasa terharu kepada lelaki yang biasanya selalu membuatnya sakit hati dan merendahkannya, tapi untuk hari ini dia sangat membantu dirinya.   “ Hm. “ Barra berdehem , ia tetap berusaha memasang wajahnya yang sok ketus.   “ Peluk sekali lagi boleh gak? “ tanya Belvina dengan mata berbinar.   Barra berfikir sebentar sambil mengepak – ngepakan bajunya yang tiba – tiba merasa tubuhnya gerah. “ Gak, enak aja kamu kesempatan dalam kesempitan peluk – peluk saya! “ Seru Barra sok – sok’an menolak.   “ Yaudah kalo gak boleh. “ Belvina melengos, tapi dengan cepat Barra bertindak sebelum Belvina benar – benar tak ingin lagi memeluknya.   “ Karena saya kasihan sama kamu, kali ini saya biarkan kamu peluk saya. “ Kata Barra tanpa menatap gadis itu, ia tetap memasang wajah angkuhnya.   Belvina tersenyum meledek. “ Udah gak kepengen peluk Mr. Barra lagi. “ Katanya sambil terkekeh, sedangkan wajah Barra kini merah padam karena merasa malu telah ditolak.   “ Benar – benar menyebalkan! “ Barra segera pergi meninggalkan gadis itu.   “ Mr. Barra mau kemana? “ Teriak Belvina.   Barra tidak menjawab.   “ Tukang ngambek. “ Cetus Belvina, ia pun memilih untuk masuk kedalam ruangan dimana tempat Bani dirawat saat ini.   Terlihat Bani terlelap, sedangkan Asri duduk di kursi yang berada di samping Bani. Dia menemani suaminya itu sejak tadi.   “ Bu? “ Belvina mengusap punggung Asri. “ Ibu pulang saja biar Belvina yang jaga ayah. “   “ Kamu saja yang pulang, biar ibu yang temani ayah. Kamu kan, besok bekerja. “ Balas Asri.   “ Yaudah besok pulang kerja Belvina kesini lagi. Nanti Belvina suruh kak denis anterin ibu makanan ya. “   “ Iya, nak. “ Asri mengangguk. “ Belvina, siapa yang akan membayar semua biaya perawatan ini? “   “ Ibu tenang saja. Mr. Barra yang akan membayar semuanya. “ Terang Belvina.   “ Syukurlah kalau begitu. “ Asri menghela nafas lega karena sejak tadi dia kepikiran mengenai biaya rumah sakit yang tentunya tidak murah. “ Sampaikan ucapan terimakasih ibu pada Barra ya, belvi. “   Belvina mengangguk, lalu berkata. “ Yaudah ini sudah malam, kalau gitu Belvina pulang dulu ya? “   “ Iya, nak. “   Belvina mencium pipi Bani terlebih dahulu sebelum pergi. “ Cepet pulih, ayahku. “ Setelah itu dia keluar ruangan dan ternyata sudah ada Barra didepan.   “ Kamu darimana? “ tanya Belvina ketika sudah berhadapan dengan Barra.   “ Habis bayar biaya pengobatan. “ Barra menyerahkan lembar kwitansi pembayaran kepada Belvina.   “ HAH? “ Belvina melotot melihat biaya yang sudah Barra bayar sejumlah sepuluh juta. “ Ba—banyak banget. “ Dia menelan ludahnya susah payah.   “ Biasa aja. “ Jawab Barra enteng. “  Bagi saya itu sangatlah murah. “   Belvina menggeleng takjub. “ Bisa – bisanya kamu bilang ini murah. “   “ Kamu cerewet sekali. “ Cetus Barra. “ Saya mau pulang. Kamu mau ikut atau tetap disini. “   Belvina cengar – cengir sebelum akhirnya menjawab. “ Mau ikut. “   “ Sangat merepotkan. “ Barra memutar kedua bola matanya karena harus mengantar Belvina pulang dulu, tetapi dia tetap melakukan itu meskipun sebenarnya malas. “ Ayo cepat. “ Barra berjalan lebih dulu.   “ Tungguin. “ Belvina berlari kecil mengejar Barra.     **   Barra menghentikan mobilnya ditempat biasa dia menurunkan Belvina, ia menguap karena sudah mengantuk tetapi memaksakan diri mengantar Belvina.   “ Sanah buruan turun saya udah ngantuk pengen cepat – cepat pulang. “ Usirnya.   “ Sabar, dong. “ Belvina melepaskan SeatleBelt nya. “ Mr. Barra hati – hati ya? “   “ Hm. “ Barra mengangguk sambil mengerjapkan matanya yang sudah terlihat sayu.   “ Mau istirahat dulu gak dirumahku? “ tawar Belvina.   “ Gak! “ tolak Barra.   “ Yaudah. “ Belvina membuka pintu mobil, ia menurunkan satu kakinya untuk turun tetapi dia tarik kembali dan membenarkan duduknya menghadap Barra.   “ Apa lagi? “ Kening Barra berkerut menatap perempuan disebelahnya tidak jadi turun.   Bibir Belvina melengkung membentuk sebuah senyuman. “ Gak apa – apa cuma mau bilang makasih banyak dan—“   “ Dan apa? “ Barra nampak penasaran.   Belvina tidak menjawab, dia langsung memeluk Barra dari samping selama beberapa detik sebelum akhirnya turun dari mobil. “ Selamat malam boss ku. “ Belvina melambaikan tangannya ke arah Barra yang kini terbujur kaku.   Barra yang semula merasa ngantuk mendadak jadi segar bugar ketika mendapat pelukan dari Belvina.   “ Perasaan macam apa ini? “ ucap Barra dengan tatapan kosong, ia merasakan seluruh tubuhnya bergemuruh bersamaan dengan debaran jantungnya yang tidak terkendali. “ Kayaknya gue harus cek jantung juga, deh. “   “ Ah, sudahlah. “ Daripada berdiam diri disana, Barra segera melajukan mobilnya menuju rumah.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD