"Dari mana saja kamu?" tanyanya. "Dari pasar Mas." Terlihat senyum mengejek dari bibir Dimas. "Oh ya? Dari pasar atau habis janjian dengan laki-laki itu?" tanyanya lagi, List dulu "Tidak Mas, tadi kami tak sengaja ketemu di jalan." "Heh, maling mana ada yang mau ngaku!" "Terserah kau saja Mas." Tak ingin memperpanjang masalah, kutinggalkan saja Dimas yang masih mematung di depan pintu. Namun baru selangkah, lenganku disambarnya. "Hei, aku belum selesai bicara denganmu!" sentaknya. "Sudahlah Mas, aku tak ingin kalau sampai Mbak Sherly curiga sama kita." Ya, aku tak ingin Sherly sampai mendengar perdebatan kami. Dia sudah terlalu baik padaku, aku tak ingin sampai dia curiga bahwa ada sesuatu antara aku dan Dimas. Sherly terdengar masih berbincang dengan Ryan di halaman.

