Edward melangkah lebar setengah berlari membelah mansion-nya. Ia tidak memedulikan apapun, fokusnya hanya satu. Ia harus menemui Ilona sebelum perempuan itu benar-benar pergi. Ia harus mendapat keyakinan dari perempuan itu. Apakah ia masih harus berjuang dan datang sebagai seorang pejuang, ataukah ia menyerah saja? Ia membutuhkan kepastian. Sebab di sini, ia tidak mau lagi keras kepala, ia tidak mau hanya memikirkan dirinya sendiri dan egonya saja. Ia harus mendengarkan pendapat Ilona seperti yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. “Ilona please, don’t leave me. Hiks! Please stay with me.” Langkah Edward memelan begitu mendengar suara isak tangis dari putri kesayangannya. Dadanya sesak, hantaman beton dan hunusan pedang tak kasat mata terasa di dadanya, semakin sesak, semakin perih,

