14

1150 Words
"Untuk simbolisnya, gimana kita buat plakat aja sebagai cendramatanya." "Boleh juga tuh, Han. Yang lain gimana?" Nata yang menimpali "Gue sih oke aja." Galih yang jawab Dan sisanya mengangguk setuju. Maka Azka sebagai ketua kelompok menyetujui usulan Hana. Oke. Kiara catat yang menjadi kesepakatan bersama. Kiara bukan sekretaris, tapi dia adalah bendahara kelompok. Berhubung agenda rapat hari ini adalah membahas persiapan acara perpisahan mahasiswa PPL di sekolah. Jadi Kiara cukup sibuk mencatat apa saja yang di perlukan dan harus di beli sebagai tanda terimakasih mereka terhadap sekolah. "Oh iya, kita gak ngadain acara makan makan gitu?" Amel yang bersuara. "Tapi kalau prasmanan gitu ribet gak sih?" "Gak usah prasman Jul. Kita beli nasi kotak aja biar simple." Nah iya. Kenapa gak terpikirkan oleh July. Kalau denger makan makan otaknya langsung on ke prasmanan aja. Ya ampun. "Nasi kotak ayam bakar gitu kan, Mel?" Amel mengangguk pada terkaan Galih. "Pake lalapan sama sambel." "Beuuuh mantap." "Ya ilah, Nat. Jadi lapar gue." Galih sama Nata malah membayangkan makanan. Tapi sayangnya fantasi makanan mereka di sela oleh Hana. "Ih. Lo berdua tuh ya. Orang lagi serius malah ngebayangin makanan." "July yang mulai kan." Protes nih Nata Tapi July lebih protes. "Kok gue?" "Yang bahas makanan pertama siapa?" "Amel." Tunjuk July. Jiah jadi main salah salahan kan. "Ya udah sih. Lagian bentar lagi juga jam makan siang. Iya kan Nat." Nata anggukkan kepalanya pada pernyataan Galih. "By the way, nanti kita makan dimana Lih?" "Bebek goreng depan kampus yuk. Lo udah gak ada jam kan abis ini?" Sambil menganggukkan kepala Nata katakan. "Boleh bangat. Gue kangen nih. Udah lama gak makan disana. Sambel mangganya itu loh." "Mantep bangat. Asem asem seger gimana gitu." "Buset dah jadi ngiler gue." Nah kan jadi nyambung ke perut. Nata sama Galih tuh emang sebelas dua belas bangat dah. "Heh! Serius dong!" Dua lelaki itu terkesiap saat meja di gebrak. Duh mohon maaf. Kalau urusan perut suka gak bisa di tunda sih. Sampai mereka lupa kalau mereka sedang ada di tengah rapat. Gak formal sih. Tapi kan yang namanya rapat tetap saja rapat. Setidaknya harus menghargai ketua. "Ya kali gue gak di ajak. Gue juga mau kali." Nata hembuskan nafasnya. Sementara Galih mengumpat, "Si bego. Gue kira lo marah gara gara gue sama Nata gak serius." Sedang para gadis mentertawakan mereka. Ya ampun. Selera humor Azka seperti itu ternyata. Kiara yang duduk di sampingnya juga hampir copot jantung loh tadi. "Terus gimana jadinya, Ka?" Kiara bertanya "Boleh." Kembali Azka ke mode serius. Duh kalau lagi serius gitu, Azka gantengnya nambah. Sumpah gak bohong. "Karena di sini gurunya ada sekitar 80 orang, pesen aja 100 box." Oke 100 box. Kiara catat. Tapi, "Pesennya dimana? Ada rekomendasi yang enak dan sesuai budget gak? Jangan yang terlalu mahal." "Di tempat Tante lo aja sih, Ra." Begitu kata Silva pada Kiara. "Tantenya Kiara punya rumah makan gitu. Masakannya enak enak. Harganya juga terjangkau." Sarannya pada yang lain. "Nah, boleh tuh. Siapa tau kita bisa dapet diskon atau bonus kan." Ya namanya cewek kan. Apalagi Hana yang anak kost-an. Dia mah hobinya cari diskonan dan yang murah meriah muntah. "Gimana, Ra?" Tanya Azka Ya Kiara sih, "Oke. Nanti gue coba tanya Tante gue dulu ya. Mudah mudahan dapet harga miring." "Pasti lah. Kan Lo keponakannya." Itu Hana "Oke. Jadi fix nih, ya. Plakat nanti Hana sama July yang pesenin. Terus untuk urusan cari alat olah raga biar cowok cowok aja. Dan nasi kotak biar urusan Kiara, Amel sama Silva." Sang ketua pukul palu ketika semua menyepakati apa yang sudah di diskusikan. "Rapat kita tutup. Semoga acara perpisahan kita bisa berjalan tanpa adanya kendala. Terimakasih semuanya. Tetep semangat di minggu terakhir kita di sekolah ya. " Begitu penutup Azka sebagai ketua. Berhubung hari sudah siang, Galih dan Nata langsung otw tempat makan. Perut mereka sudah keroncongan gara gara ngomongin makanan. Begitu juga dengan Hana dan July. Mereka langsung pulang karena sudah tidak ada jam mengajar setelah istirahat jam makan siang. Menyisakan Amel, Silva, Kiara dan Azka disana. Ruangan kurikulum tempat mereka rapat tadi adalah ruangan yang di sulap jadi kantor dadakan khusus guru PPL. Tidak besar, memang. Tapi cukuplah untuk mereka yang sudah mulai dewasa. "Ra, kapan mau ke tempat Tante, Lo?" Amel yang bertanya. Kalau Amel dia masih ada jam mengajar. Makanya dia nyantai. Kiara rapikan alat tulisnya. Mahasiswa satu ini sih sudah beres ngajarnya. Tapi dia malas pulang kerumah. Yang ada dia menyendiri di kamar terus nangisin mantan deh. Ya ampun. Makanya Kiara pilih tinggal sebentar sambil menunggu Silva yang juga masih ada jam mengajar sehabis jam istirahat. "Besok aja kali ya, Mel? Gimana Sil?" "Gue sih, kapan aja oke." "Ra.." Bukan Amel yang bersuara. Tapi Azka yang menginterupsi. "Boleh ngomong sebentar." Tanpa di kode lebih lanjut Silva paham kok maksud dari yang Azka katakan barusan. Makanya dia bilang. "Ya udah, Ra. Lo kabarin aja dulu Tante lo. Supaya besok kita kesana langsung nge-DP." "Oke deh." "Makan yuk, Mel. Nanti nyusul ya, Ra." Silva tarik tangan Amel, meningggalkan ruangan. Menyisakan Kiara dan Azka berduaan. Duh, sungguh teman yang pengertian. "Mau ngomong apa, Ka?" Kiara sudah masukkan alat tulisnya ke dalam tas. "Lo udah mau balik?" "Belum sih. Kenapa?" Kalau Mahasiswa yang satu ini sih sudah seperti kuncen. Karena dia alumni disini dan Mamahnya juga mengajar disini, jadi ya dia sih pulang pergi semaunya. "Kunci motor lo mana?" Lah ditanya balik nanya. Lagian ngapain dah nanyain kunci motor Kiara segala. "Buat apa?" "Kunci motor lo mana?" Azka bahkan tadahkan tangannya di hadapan Kiara. "Ya buat apa?" "Ya, kunci motor lo nya mana?" Ih ngeselin deh. Maunya apa sih nih anak. Bikin Kiara emosi. Cuma tinggal jawab aja ribet bangat. Apa jangan jangan, "Lo mau minjem motor gue?" "Ya udah siniin kunci motor lo. Jangan ribet deh jadi cewek." Dih perasaan cowok itu deh yang ribet."Kalau mau pinjem motor tuh bilang. Ra, gue pinjem motor dong. Gitu" sembari Kiara berikan kunci motornya. "Nih." Kadang Kiara suka aneh sama cowok. Tinggal bilang tolong aja apa susahnya sih. Sok gengsi bangat deh. Kiara baru saja balik badan, baru juga beberapa langkah. Dia bahkan belum saempat pegang gagang pintu. Tapi Azka sudah menghadang jalannya. Lelaki itu tepat berdiri di hadapan Kiara. "Nih gue balikin kunci motor lo." Langsung Kiara terima karena Azka berikan kunci motor itu langsung ke tangan Kiara. "Jangan di ilangin lagi ya." Begitu katanya sambil mengacak rambut Kiara sebelum pergi meninggalkannya sendiri mematung dan kehabisan oksigen. Demi apapun Kiara sesak nafas dibuatnya. Dia tidak bisa bernafas dengan normal. Dia bahkan hampir terjatuh lemas setelah Azka menghilang di balik pintu. Azka terlalu ekstrem sampai membuat Kiara merasa seperti ini. Gak pernah tuh Kiara ngerasain yang begini sebelumnya. Bahkan pada Reno saja Kiara gak pernah kehabisan oksigen kayak gini. Kiara pandangi kunci motornya. Ternyata Azka berikan gantungan kunci beruang kecil yang Kiara suka. Ya ampun. Gimana gak baper kalau begini caranya. Kenapa sih Azka harus seperhatian itu sama Kiara. Kiara kan jadi bingung harus bersikap gimana. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD