Berbalut dress brokat off shoulder, dengan anting mutiara yang tercapit di telinganya dan rambut panjang yang bergelombang. Serta paduan heels berwarna peach yang selaras dengan warna bajunya. Membuat Kiara tampak memukau.
Tidak pernah gagal, memang. Apapun itu jika menempel di tubuhnya selalu sempurna. Meski tinggi badannya tidak semampai, tapi akan menjadi selalu pas jika itu Kiara.
Padahal pengantin ada di atas pelaminan, tapi yang baru datang itu menyita perhatian. Kecantikannya sungguh membuat mata bersilauan.
Sebenarnya, dari Kiara turun mobil, perempuan itu sudah membuat semua mata tertuju padanya. Baik perempuan apalagi laki laki. Yang tua atau yang muda. Apalagi bocil bocil para keponakannya Reno. Ada sekitar 5 orang yang sudah menghampiri Kiara dan menggiringnya memasuki area hajatan.
"Aduh, si cantik baru dateng. Udah di tunggu dari kemaren kemaren. Kemana aja sih?" Bibinya Reno yang menyambut kedatangan Kiara.
Ya, akhirnya dia datang ke acara pernikahan Reni dengan mandiri. Betul betul sendiri karena Silva yang Kiara ajak untuk menemaninya tidak bisa ikut karena punya acara keluarga.
Kiara cipika cipiki sama para Bibi. Begitu pun beberapa sepupu. Sampai seseorang menghampiri dan langsung memeluk haru dirinya.
Emak.
Dia lah orang yang menjadi alasan Kiara susah lepas dengan Reno.
"Mantu Emak apa kabar? Emak kangen bangat."
Mantu gak tuh sebutannya. Anak Emak cuma dua, Reni dan Reno. Mantu satunya sedang mejeng di pelaminan. Suami Teh Reni. Nah yang ini, Bakal calon mantu. Entah jadi atau tidak, yang Emak elus sayang wajah Kiara.
Dia terharu. Pun Rindu. Bahkan Emak sampai menitikan air mata. Membasahi wajah bermake up-nya.
"Aku baik kok, Mak. Emak sehat?"
Emak mengangguk haru. Dia ajak masuk Kiara ke dalam rumahnya. Sudah seperti tamu istimewa saja.
Sekarang, Kiara sudah duduk lesehan di karpet yang di gelar di ruang tengah rumah. Berbagai macam kue basah tersaji. Pun Kiara di sajikan makanan utama. Ada semur ayam, gado gado, sup ayam, lengkap dengan lalapan, sambal dan kerupuk. Ya begitulah sajian hajatan orang kampung.
Kiara sudah terbiasa kok. Karena sebelumnya juga Kiara pernah menghadiri pernikahan saudara saudara Reno yang lain.
"Ayo Neng di makan." Begitu kata Emak setelah dia duduk di sisi Kiara.
Maka tanpa ragu Kiara santap sajiannya. Sambil mendengarkan Emak berkata, "Emak kangen bangat sama Neng Kiara. Emak kira, Neng gak bakalan dateng kesini lagi."
Di telannya suapan Kiara. Dia sedot air mineral dari kemasan sebelum berkata, "Aku juga kangen sama Emak, Bapak, Teh Reni. Makanya aku dateng. Aku juga kan pengen lihat Teh Reni jadi pengantin."
"Iya, anak gadis Emak udah ada yang punya. Nanti Reni di bawa pindah sama suami. Emak sendiri deh." Ceritanya.
"Emang Teh Reni gak tinggal di sini?"
"Mau di bawa ke Jogja katanya."
Oh iya, suaminya Teh Reni memang orang Jogja. Kiara pernah dengar itu dari Reno.
"Makanya, Neng Kiara sering sering main kesini ya besok. Temenin Emak. Nanti emak bikinin piscok goreng kesukaannya Neng."
Mau jawab apa Kiara? Gak bisa jawab apa apa. Dia cuma mengulum senyumnya. Dalam hati dia bersedih. Ingin rasanya mengiyakan. Tapi Kiara rasa itu tidak mungkin.
"Ceu aya tamu."
Oh iya. Sebagai tuan rumah dan yang punya hajat, Emak harus menyambut para tamu undangan. Jadi dia tidak bisa menemani Kiara yang sedang santap. Emak pamit undur diri, meninggalkan Kiara yang di temani saudara dan tamu yang lain.
****
"A Reno, Teh Kiara dimana?"
Memang sih, dari kemarin kemarin Kiara selalu di tanyakan. Apalagi hari ini, setiap ketemu orang pasti yang ditanya Kiara. Dan Reno risih mendengar pertanyaan itu.
Makanya dia jawab dengan kata "Teuing ah! Kaditu kaditu!" yang artinya: gak tahu. Sana sana.
Padahal yang bertanya masih bocil. Di bentak gitu sama Reno ya dia nangis lah. Dia ngadu sama Mamahnya yang sedang jaga prasman.
"A Reno, ningali Teh Kiara teu?" Lagi Reno di tanya sama bocil
"Teu nyaho!"
Ini Reno lagi ngobrol sama saudara dan temen temennya di belakang panggung. Lagi ngopi ngopi dan ngisep rokok sambil menikmati suara merdu sang biduan. Ogah naik ke panggung padahal daritadi namanya di sebut sebut.
"Buat A Reno anu kasep, mana atuh? Hayu naek ka panggung." Kurag lebih seperti itu panggilan manjah dari sang biduan.
"A Reno, Teh Kia.. Mamah... A Reno galak..."
Sekali lagi ada yang nanya tentang Kiara, Reno bakalan beneran lempar sendal deh. Udah males bangat Reno denger nama Kiara. Pengennya mah kabur aja gitu. Tapi kan gak mungkin. Masa sih dia ninggalin Teh Reni yang lagi jadi pengantin.
Lagian kenapa tiba tiba para bocil nanyain Kiara sih?
"Ren .."
"Naon deui sih?!"
"Ey si Reno m**i galak pisan. Di titah poto itu ku Emak."
Duh jadi malu kan Reno. Maklum lah gara gara nama Kiara di sebut dia jadi sensi dan emosi. Gak tahu kalau yang manggil barusan itu pamannya sendiri.
Ya sudah Reno keluar dari tempat persembunyian. Melangkah menuju pelaminan. Tapi setelah dia meluruskan pandangan. Ada yang membuat langkahnya tertahan. Karena ini benar benar di luar dugaan.
Perempuan yang dia hindari ada di hadapan. Perempuan yang sudah ia kencani 6 tahunan. Yang tadinya akan dia ajak untuk naik pelaminan setelah perempuan itu dapatkan pekerjaan.
Ah kenapa nama yang membuatnya sensitif justru wujudnya hadir?
"Eh"
Seorang perempuan yang terkesiap. Padahal lagi duduk anteng main gadget. Tapi langsung di tarik oleh Reno. Di gandeng tanpa tau mau di bawa kemana.
"Geura atuh, Ren. Rek poto kaluarga yeuh." Itu perintah Emak.
Ya langsung dong dia naik. Gak lupa juga tuh perempuan yang dia gandeng juga di ajak naik. Kiara yang berdiri di antara Reni dan Emak memperhatikan dalam diam. Sedaritadi Reni sudah genggam erat tangan Kiara. Dia khawatir, Kiara jatuh pingsan tiba tiba. Kan bisa heboh acara nikahannya nanti.
"Echa tunggu dulu ya. Emak mau poto keluarga."
Oh God. Mau sombong gitu rasanya denger Emak bilang gitu. Karena di hati Emak Kiara jelas pemenangnya. Tapi di hati Reno. Kiara tidak yakin. Apalagi Kiara dengar Reno bilang, "Reno gak mau foto kalau gak sama Echa"
Karena merasa tidak enak hati. Akhirnya Keysha angkat bicara. "Ih, Aa. Itu kan foto keluarga inti Aa. Aku mah nanti ajah atuh." Iya. Keysha. Sepupunya yang dia gandeng.
Tau nggak sih. Kiara mau pulang. Dia gak mau disini. Dia seperti tidak di harapkan oleh Reno. Dan itu memalukan dan sangat menyakitkan pastinya.
"Eh, mantu Emak mau kemana?" Di tarik lengan Kiara saat dia hendak beranjak. "Sini, sini. Kamu di sebelah sini sama Reno." Emak yang lebih rempong dari fotographer karena sibuk mengatur posisi.
Jadi sekarang posisinya, Pengantin pria dan wanita yang di tengah. Dimana disebelah pengantin lelaki ada keluarga dari pihaknya, Bapak, Ibu, serta kedua kakak berikut pasangannya. Bocilnya juga ada, berdiri di depan pengantin laki laki dan pengantun perempuan. Sementara di sisi pengantin perempuan ada Emak, dan Bapak, berikut Kiara yang di akhiri dengan Reno di ujung.
Kiara liat ekspresi Reno yang sudah sangat malas dengan kelakuan Emak. Dia seperti sangat terpaksa dan tertekan di kondisi seperti ini.
"1, 2, 3"
Saat sang fotographer tekan tombol kameranya, saat itu juga Kiara ucapkan kata, "Maaf"
"Coba A senyum ya. 1, 2, 3"
Di jepretan kedua. Reno katakan, "Gak ada yang perlu di maafin"
"Maaf bikin cewek kamu harus liat ini."
Lelaki berkemeja batik itu langsung menoleh. Yang Kiara sadari. Dan mereka saling pandang di sesi fotonya.
Lihat. Wajah itu ingin sekali Kiara raba. Tubuh itu ingin sekali ia peluk. d**a itu ingin sekali Kiara sandarkan dan berkata bahwa dia merindu. Tapi semua itu hanya angan. Dan tidak bisa Kiara realisasikan. Menyedihkan.
Semenyedihkan ini kan hubungan Reno dengan Kiara. Seharusnya tidak begini, dalam bayangan sudah tergambar jelas bahwa mungkin Kiara akan ikut sibuk mempersiapkan acara pernikahan Teh Reni. Bakalan sibuk juga pilih baju seragam. Dia kan paling rempong kalau ada acara nikahan. Pasti Reno sudah di dandani sedemikian rupa agar tampil serasi bergandengan dengan Kiara.
"Yang lain ayo naik naik. Foto keluarga besar mempelai wanita." Suara yang membuyarkan pikiran mereka berdua.
Semua keluarga besar naik ke pelaminan. Berhimpitan bahkan bocil juga ikutan nimbrung. Duh rame bangat. Kiara yang terus mundur tanpa sadar menabrak kursi pelaminan. Untung saja Reno yang di sampingnya cepat tanggap. Dia sanggah pinggang ramping perempuan itu.
"Ciee A Reno so sweet..." Bocil nih yang cie cie.
Langsung tuh Kiara berdiri dan Reno bertingkah seolah tak terjadi apa apa.
"Ih anak kecil. Tuh liat kamera tuh mau di foto" Begitu kata Kiara demi mengalihkan mereka.
Ah Kiara suka ada di tengah tengah mereka. Kiara mau jadi bagian keluarga mereka seutuhnya. Entah kenapa Kiara bahagia meski sederhana. Tapi, sepertinya ini akan jadi kebersamaan terakhir mereka. Sedih rasanya.
Dan menjadi semakin pedih karena Kiara melihat dengan mata kepalanya sendiri katika Reno lebih pilih mengobrol dan menggandeng perempuan lain di sisi satunya.
****