Setiap hari kamis sepuluh menit sebelum jam perkuliahan dimulai, selalu ada pembacaan cerita yang dikirimkan mahasiswa dan akan dibacakan oleh klub penyiaran.
Gabriel masih memakasa Garda untuk menerima amplop berisikan cerita yang dirinya tulis. Gabriel meminta agar ceritanya dibacakan hari ini juga, bukan minggu depan.
Dia ingin segera memberikan kejutan kepada Jessica agar tidak terus bermain-main dengan dirinya.
"Gak bisa, antrian cerita orang banyak. Gak mungkin cerita lo duluan. Gue harus adil ke semua yang udah kirim. Mereka juga tunggu dibaca sejak lama.” Garda berusaha menolak meski Gabriel sudah memaksa.
Sebagai ketua dirinya harus adil supaya tidak ada yang kecewa.
"Gak ada yang tau, Gar. Mereka pasti ngira gue udah lama ngirimnya. Tolong banget kali ini aja lo bantu.” Gabriel memohon dengan wajahnya yang sangat memelas.
"Tapi, Iel ini juga kecurangan namanya. Ada rules untuk semua pengirim.”
"Gar, gue lagi mohon sama lo. Kapan lagi coba gue mohon kayak gini. Punya gue gak terlalu panjang kok, baca aja dua sekaligus gak masalah. Terpenting tulisan gue juga masuk list hari ini.” Gabriel menggunakan banyak akal supaya Garda menuruti permintaannya.
"Isinya apa kalau gue boleh tau? Gue gak bisa terima kalau gak jelas.”
"Suruh bacain biar lo tau," ucap Gabriel. “Gak aneh-aneh kok, kalau pas lo baca rasanya gak nyaman. Robek aja kertasnya gak masalah buat gue.”
"Ya udah, gue kabulin kali ini aja. Awas kalau lo berulah lagi nantinya.
Gabriel tersenyum senang, usahanya berakhir dengan baik. Makasih bro, lo emang sahabat gue paling baik.” puji Gabriel setiap kali keinginannya terpenuhi.
Gabriel langsung duduk di bangku barisan ketiga, di sebelahnya ada Rager yang sedari tadi memperhatikan interaksi dirinya dengan Garda.
“Gue gak nyangka lo juga se-excited ini sama klub penyiaran. Sejak kapan suka nulis cerita kayak barusan? Biasa dengerin mereka baca aja udah ngantuk.”
“Sejak hari ini, gak sabar gue nunggu ceritanya dibaca."
"Emang nulis apa lo?"
"Dengerin aja biar ada kejutan, kalau gue kasih tau gak bakal seru.”
Anggota klub penyiaran sudah bersiap di ruang UKM. Garda langsung memanggil Jessica yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa, Gar?"
“Trisa gak datang hari ini, bisa lo gantiin dia buat baca cerita?"
"Dengan senang hat, kayak sama siapa aja lo tanya gitu. Mana cerita yang harus gue baca hari ini?"
“Ada dua ya, soalnya gak panjang.”
Garda memberikan amplop tersebut kepada Jessica, dan gadis itu langsung bersiap-siap.
"Selamat pagi semua murid kebanggaan Kampus Global, kali ini saya Jessica Azkaleria dari klub penyiaran akan membacakan kembali cerita dari salah satu mahasiswa. Sebelumnya kami selalu berterima kasih untuk kalian yang berpartisipasi. Tidak perlu menunggu waktu lama, langsung saja saya akan mengajak kalian untuk masuk ke alur cerita kali ini."
Jessica membuka amplop tersebut, sedangkan Garda merasa was-was takut jika Gabriel usil dan menuliskan hal yang tidak masuk akal. Salahnya juga tadi, kenapa tidak membaca terlebih dahulu. Garda benar-benar menyesal jika Gabriel memang melakukan hal buruk kali ini.
"Ini sebuah teka-teki. Aku seorang gadis berumur 18 tahun, mahasiswi jurusan manajemen. Tidak banyak yang mengenal diriku, karena aku tergolong dalam lingkaran mahasiswa yang suka mencari perhatian kepada dosen. Namun, satu hari aku bertemu seseorang yang mungkin bisa kujadikan perisai ke depannya."
Jessica tersenyum singkat, ternyata Gabriel memang berniat bermain-main dengannya. "Dia mengetahui kehidupanku yang berbeda dengan di kampus, tetapi dia berkata tidak akan membocorkan kepada siapapun. Secara tidak langsung dia menyadari bahwa aku memiliki dua sisi, bisa menjadi protagonis dan antagonis. Menurut kalian, siapakah aku? Tertanda inisial pengirim GAP."
Jessica melipat kembali surat tersebut dan memasukkannya ke amplop. Sungguh sangat singkat seperti yang Garda katakan. Gabriel memang sengaja memancing dirinya.
Jessica sama sekali tidak terusik, dia melanjutkan membaca kertas satu lagi.
"Wah, sekian teka-teki hari ini. Saya berharap kalian menyukainya. Sampai jumpa kamis depan dengan cerita menarik lainnya, selamat mengikuti kegiatan pembelajaran. Saya Jessica Azkaleria dari klub penyiaran pamit."
Sementara itu seseorang yang berada di kelas tersenyum puas mendengarnya. Dia juga tak menyangka bahwa Jessica sendiri yang langsung membacanya.
"Bagus gak menurut lo?" tanya Gabriel.
“Ngawur kek orang yang buat. Emang maksud lo apaan? Terinspirasi dari mana buat teka-teki segala."
"Gue cuma iseng. Lo gak mau gitu ngirimin cerita tentang curhatan hati lo buat Melisa? Setidaknya Melisa tau kalau ada yang suka sama dia."
Rager tersenyum. "Kenapa gue gak pernah kepikiran soal itu. Makasih udah buat pikiran gue terbuka, bakal gue coba deh.”
"Pikiran lo ketinggalan mulu tiap mau ke kampus, makanya gak pernah ingat ke arah sana."
"Makasih sarannya, bakalan gue buatin." Rager kembali menelungkupkan wajahnya dan tidur.
****
Tengah malam seperti biasa, Gabriel selalu datang ke tempat yang sama untuk menenangkan dirinya. Tentu saja pergi dengan cara kabur tanpa ketahuan orang tua dan kakaknya.
Saat sedang duduk bersama temannya, seseorang yang tidak asing mendekat ke arah keberadaan mereka.
"Bisa bicara bentar?"
"Sama siapa?" tanya Dean.
"Gabriel."
"Woi, Iel. Gak nyangka gue lo gerak cepat banget." Kevin mendorong bahu Gabriel yang terlihat santai.
"Ngomong aja, mau apa?"
"Gak bisa di sini, berisik. Gue mau ke tempat lain."
“Ke hotel aja gimana?" tawar Gabriel.
"Boleh aja."
Dean dan Kevin bersorak, lalu berkata. "Sikat, Iel. Tumben juga lo selera sama cewek.”
Gabriel berdiri dan membawa Jessica keluar dari klub. Menjauhi temannya sebelum semakin banyak ledekan yang akan dia dapatkan.
Saat sudah berada di luar klub, Gabriel melepaskan jaketnya dan memakaikan ke tubuh Jessica. "Udara malam dingin, baju kayak gitu cuma bikin lo masuk angin."
Jessica tidak menolak, dia masuk ke mobil saat Gabriel membukakan pintu. "Ngomong aja sekarang, gak mungkin gue ngajak lo ke hotel."
Jessica tertawa singkat. "Takut ketahuan sama nyokap? Cupu banget."
"Cuma menghargai orang yang telah melahirkan dan membesarkan gue, gak mungkin kecewain mereka. Nakal boleh, tapi jangan sampai ngerusak cewek. Berduaan sama lo di hotel bukan berarti gue bisa kontrol diri, gue cowok normal yang juga bisa nafsu. Lebih baik cegah, daripada rumit." Kata Gabriel panjang lebar.
Gabriel menatap Jessica yang diam. "Jadi, mau ngomong apa? Penting banget sampai lo cariin gue kayak barusan."
"Maksud dari cerita yang lo tulis apa?"
"Kenapa lo nuduh gue?"
"Gue gak sebodoh itu sampai harus gak tau. Siapa lagi anak SMA Global yang tau hal ini kalau bukan lo."
"Jadi gimana?"
"Lo pengecut!" Hanya itu yang Jessica ucapkan.
"Maksud lo?"
"Kemarin lo narik perhatian gue dengan berakting mesra sama Kakak kelas, terus hari ini lo berusaha kembali mengusik gue dengan cara menuliskan cerita. Lo butuh perhatian gue, iya?" tanya Jessica.
"Kepercayaan diri lo tinggi banget, lo beli di mana? Gue sama Quinla emang saling suka. Jauh sebelum gue kenal sama lo. Jadi, itu bukan alasan gue buat narik perhatian."
Jessica manggut-manggut. "Mungkin cuma gue yang tetap bersikap biasa aja setiap kali kita berinteraksi, dan hal itu bikin lo jadi penasaran sama gue. Kali ini, gak salah 'kan?"
"Gue cuma penasaran, kenapa gak ada yang tau perilaku lo di luar sekolah, dan kenapa lo selalu menghindar setiap gue membahas soal keluarga?"
"Bukan menghindar, bagi gue keluarga terlalu privasi untuk diceritakan sama orang asing." jawab Jessica santai.
"Sebenarnya gue bisa aja baca data diri lo dengan mudah, atau tanya langsung ke mama. Cuma gue lebih suka tantangan, gue bakalan cari tau semuanya sendiri."
"Gue senang, bisa bikin orang acuh kayak lo penasaran. Lanjutin misi lo, kalau udah berhasil jangan lupa kabarin gue." Jessica melepaskan jaket dan hendak turun dari mobil.
Gabriel menahan tangannya. "Udah jam dua, kenapa gak pulang?"
"Masih terlalu pagi buat gue, lo pulang aja."
"Mau lanjut sampai jam berapa?" tanya Gabriel yang masih belum mau berpisah.
“Jam tiga mungkin kayak biasa.”
"Gue temenin kalau gitu.” Gabriel ikut turun bersama Jessica dan kembali memasuki klub.
Hanya di sini Jessica bisa menjadi dirinya sendiri, dan cuma di sini Jessica bisa menemukan wajah asli seseorang. Bukan tampilan palsu bersikap baik hati untuk menipu.
Jika boleh, Jessica tidak ingin pulang. Jessica terlalu malas mendengarkan kata-kata makian di setiap harinya. Dia ingin selalu berada jauh dari rumah yang ditinggali.