Prabu duduk di samping tempat tidur, tepat di balik punggung Elina. Prabu memanggil Elina sambil terus menguncang pelan bahu Elina. Elina hanya mengerang, enggan membuka kedua matanya yang masih terasa begitu berat. "Bangun Sayang, sudah waktunya mandi." Tentu saja sebelum melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, mereka harus mandi terlebih dahulu, mengingat semalam mereka langsung tertidur pulas setelah puas bercinta. Rasa kantuk masih Elina rasakan, tapi ia juga tahu kalau ia harus bangun dan pergi mandi. Elina menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya agar tidak melorot ketika ia merubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Tangan kanan Elina terangkat, mengucek kedua matanya secara bergantian. "Mas sudah mandi?" tanyanya dengan suara sera

