Beberapa bulan kemudian. "Mas!" Elina berteriak memanggil Prabu, lalu menunggu sampai ada balasan dari Prabu, tapi setelah hampir 1 menit menunggu, tak kunjung ada balasan dari Prabu. "Mas Prabu!" Elina kembali berteriak, kali ini jauh lebih kencang dari sebelumnya. "Iya, Mas datang!" Terdengar balasan dari Prabu di berengi dengan suara langkah kaki yang terdengar begitu jelas. Untung saja pintu kamar terbuka, jadi Prabu tidak perlu bersusah payah untuk membukanya mengingat kini kedua tangannya sedang membawa nampan yang berisi minuman serta makanan untuk Elina. "Kamu kenapa Sayang?" Dengan terburu-buru Prabu meletakan nampan yang ia bawa di meja, lalu berlari mendekati Elina yang kini sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil meringis kesakitan dan terus mengusap peru

