Derap langkah sepatu kulit yang mantap bergema di sepanjang lantai marmer mall. Luc berjalan mendekat dengan kedua tangan terselip santai di dalam saku celana bahannya. Di belakangnya, dua pengawal berjas hitam melangkah siaga. Aura kekuasaan yang menguar dari tubuh pria itu seketika membuat beberapa pengunjung di sekitar lorong menahan napas dan menyingkir secara refleks. Luc berhenti tepat di samping kursi roda Ave. Tatapan matanya yang kelam membeku, memancar dingin menusuk langsung ke arah Siska dan dua temannya. "Ada keributan apa di sini?" tanya Luc dengan suara bariton rendah, begitu datar namun sanggup menghentikan aliran udara di sekitar mereka. “Siapa yang berani menghinanya” Suasana sempat hening sejenak. Namun, Siska yang tidak mengenali siapa Luc dan hanya melihat seo

