Part 20

2105 Words
Kubuka mata perlahan dengan rasa berat yang masih bergelayut di kepala. Samar menghirup aroma tak asing, menyengat memenuhi rongga hidung. Kemudian, hadir dia raut wajah mengitari area pandangan. “Nah, Alya sudah siuman!” seru suara Della menusuk telinga. “Cepetan! Jauhin kaos kakinya, Ndre!” Yang diperintah langsung menarik secarik kain kumal dan berbau busuk, menjauh dari wajahku. Cepat-cepat menyembunyikannya di bawah tempat tidur. ‘Kaos kaki?’ pikirku langsung merasa mual ketika bayangan pembungkus kaki itu hadir di ruang imajinasi. “Kalian menyebalkan!” gerutuku begitu gerbang alam sadar telah terbuka utuh. “Kaos kaki kamu, ya, Ndre?” Andre terkekeh sendiri. “Maaf, Lya. Tadi disuruh Della.” PLAK! Bahu anak muda itu dikeplak Della. “Sakit, Del,” sambung Andre sambil meringis. “Comel lu kayak cewek!” gerutu gadis itu, bersungut-sungut. Lalu dia mendekatiku. Duduk di samping, sembari memijit kaki. “Kenapa, sih, tiap kali deket Papah, elu pingsan melulu, Cuy? Elu ada rasa ama bokap gue?” Waduh, mengapa Della tiba-tiba bertanya seperti itu? Jangan-jangan dia sudah mulai curiga dengan kelakuanku selama ini? Gawat! Secepat kilat aku bangkit. Duduk berselonjor sambil menatap mata Della. “Rasa apaan? Aku selama ini menganggap Om Bram sebagai orang tuaku sendiri. Bukankah beliau sendiri yang ingin menjadikanku anak angkat? Apakah itu salah, Del?” “Tapi yang gue lihat dari sikap elu ama bokap gue, gak kayak gitu, Cuy,” kilah Della setengah menyelidik. “Elu gak lagi ngebokis, ‘kan?” “Ya, endaklah. Buat apa aku bohong,” kataku terpaksa berdusta untuk kesekian kali. “Lagi pula, aku pingsan karena sebelumnya udah merasa ndak enak badan, sejak diantar Andre tadi. Iya, kan, Ndre?” tanyaku meminta pembelaan dari laki-laki setengah bule itu. Andre mengangguk. “Tuh, lihat sendiri, ‘kan? Mana mungkin aku bohong sama kamu, Del.” Gila memang. Lambat laun, kelakuanku makin tak karuan. Dulu sangat anti berbohong, apalagi terhadap Della. Sekarang, sudah menjadi lalapan setiap hari. Alasannya cuma satu; terpaksa. Benar menurut pepatah, ‘Kebohongan akan terus terlahir, untuk menutupi kebohongan yang lalu’. Eh, begitu, ya, bunyinya? Della mendengkus. “Terserah elu, deh, Lya. Gue udah terlanjur sayang sama elu. Jadi, gue pinta jangan keseringan elu ngebohongin gue. Lebih baik jujur walaupun itu bakal bikin gue kecewa.” Duh, Della serius rupanya. Tak seperti biasa. Ada apa, sih? Jangan-jangan karena cemburu aku jalan dengan Andre? “Kamu sendiri juga bohong sama aku, Del.” Aku tak mau kalah. “Bohong apaan?” Della mendelik. “Katanya kamu benci sama Andre. Kok, malah kerja sama mempermainkan aku, sih?” “Yang bilang benci sama dia itu, siapa?” Della ngotot. “Gue cuma pengen jaga jarak ama dia.” “Lho, kenapa?” pancingku. Kembali Della mendengkus. “Udah, gak usah dibahas. Gue males ngomongin kayak begini,” semprot gadis itu galak. Lalu berbalik badan, menatap Andre yang berdiri di belakangnya. “Elu lagi!” “Kenapa gue? Elu kalo mau ngomel, sono lanjutin ama Alya. Jangan bawa-bawa gue,” ujar Andre beringsut mundur melihat kilatan bola mata Della. Gadis itu makin membelalakkan mata. “Ngapain elu masih ada di rumah gue? Ini, kan, udah hampir malem! Ada di kamar cewek pula!” “Lho, yang bopong Alya dari bawah ke sini, kan, gue. Kalo bukan gue, lalu siapa? Pak Bram? Bisa makin lama, dong, durasi pingsannya,” kata Andre diiringi kekehan menyebalkan. “Tugas elu udah selesai. Pulang sekarang juga!” sentak Della galak. Andre mundur selangkah. “Tapi gue pengen ngomong dulu ama Alya, Del. Sebentar aja,” pinta Andre memelas. “Pulang!” “Lima menit aja, deh, Del. Gue janji.” “Pulang!” bentak Della makin keras. “Del, tenang, dong. Jangan teriak-teriak begitu,” kataku mencoba menenangkan. “Elu diam dulu, Lya. Gue mau urus cowok pecicilan ini,” seru Della sambil menudingkan telunjuknya ke arahku. Ya, Tuhan! Ada apa, sih, dengan Della? Mengapa semua jadi begini? “Gue bilang, pulang sekarang, Andre!” “Iya, gue pulang,” balas Andre kemudian. Perlahan menatapku. Tiba-tiba muncul Om Bram dari ambang pintu kamar. “Ini ada apa, sih, Sayang? Kok, teriak-teriak begitu?” tanyanya sembari memperhatikan kami bertiga. Om Bram? Huh! Laki-laki itu. Mendadak muak melihatnya. Kupalingkan pandangan ini ke arah berlawanan. Dihiasi raut masam sedemikian rupa. Siapa tahu, dia mendekat. Lalu bertanya, ‘Ada apa, Alya? Kok, mukanya begitu? Kamu marah sama Om?’ Ditunggu sekian lama, dia tak segera masuk kamar juga. Dasar, laki-laki b*****h! Hhhmmm, aku doakan, semoga Om Bram tak jadi berjodoh dengan si Tante Cassandra. Cassandra? Itu nama orang atau judul telenovela, sih? Jangan-jangan nama jalan raya, Casablanca. Jadi mendadak benci dengan nama tersebut! Pret! “Enggak ada apa-apa, Pak,” jawab Andre mulai angkat kaki. “Saya mau pamit pulang.” “Terima kasih, ya, udah mau ngajak Alya jalan-jalan, Andre,” ucap Om Bram ramah. Sedikit tergoda, aku mencoba melirik, mencuri pandang sosok Om Bram. Hhmmm, masih merasa muak, tapi tetap bikin kangen. “Hati-hati di jalan, ya.” “Iya, Pak,” jawab Andre langsung menghilang di balik pintu. “Eumm, Della .... “ panggil Om Bram pada anaknya. Buru-buru kubuang lagi muka ini. Menghindari adu tatap dengan pemilik mata kecoklatan tersebut. “Besok kamu kuliah, kan, Sayang?” “Iya, Pah,” jawab Della disertai anggukan. “Ada apa emangnya, Pah?” “Besok, selepas kuliah, kamu mampir ke kantor Papah, ya?” Aku masih enggan memandang Om Bram, walaupun hati ini tergelitik untuk menoleh dan melihat ekspresi dia saat berbicara dengan Della. Ah, tidak! Harus kuat. Tak boleh tergoda, apalagi sampai membuatku kembali jatuh pingsan. Panas sekali rasa hati ini, laki-laki itu akan menjadi milik wanita lain. Sebentar lagi. Tinggal menghitung hari. “Mau ngapain, Pah?” tanya Della kemudian. Om Bram terdiam sejenak. Mungkin sedang berpikir. Bisa jadi juga tengah memperhatikanku yang masih asyik merajut bibir keriting. “Antar Tante Cassandra untuk fitting gaun pengantin. Soalnya Papah besok ada meeting dengan staff kantor. Bisa, kan?” Dih, buat apa bicara seperti itu di depanku? Mau bikin aku lebih tersiksa, Bram? Kamu jahat! Tak bisa merasakan, apa? Walaupun asli tanpa campuran silikon, Isi dadaku hampir meledak, tahu? Dasar laki-laki. Di mana-mana tetap saja sama. Perasaan mereka tak peka. Egois! “Oh, itu. Tentu bisa, dong, Pah,” jawab Della. “Sama Alya juga, kan, Pah?” Hah, aku? Oh, tidak! Jangan! Tak akan sudi melihat wujud pesaingku itu berlenggak-lenggok mengenakan gaun pengantin di depan mata ini. Hanya akan menambah luka mendalam dan membekas selamanya di sini. Jangan ajak aku, Del! Please! “Alya?” Hhmmm, si Bram mulai merayuku. Pasti akan meminta menemani Della dan si Tante telenovela itu mencoba gaun pengantinnya. “Alya?” Aku tak akan menoleh. Sebal rasanya melihat wajah laki-laki yang bernama si Bramanditya itu. “Alya!” “Eh, iya, Om. Ada apa?” terpaksa kujawab seraya memutar cepat kepala ini, ke arah laki-laki itu. “Iya, Om ... iya, Om .... “ Suara Della memprotes. “Gue yang panggil elu, Lya!” “Oh, kamu yang manggil?” aku meralat. “Iya, ada apa, Del?” “Elu kenapa, sih? Ngelamun?” “Kepalaku masih sakit. Berat rasanya,” jawabku seraya memijit-mijit kening. Tentu saja disertai ringisan yang meyakinkan. “Kamu perlu berobat, Alya?” tanya Om Bram. Suara langkah kakinya terdengar mendekatiku. Uh, buat apa, sih, mendekatiku, Bram? Mencium aroma parfummu saja bisa membuat otak ini kram, tahu? Aku masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa kamu akan menjadi milik orang lain. “Jangan, Om!” pintaku setengah berteriak. “Kenapa? Kelihatannya kamu sakit,” kata Om Bram mengulur tangan, mencoba meraba keningku. “Tidak, Om! Alya sehat!” kataku sambil beringsut menjauh. Aku sedang tak ingin disentuh laki-laki itu. Terkecuali dipeluk. Apalagi dibawa berobat ke dokter yang jidatnya mengilap, mirip etalase konter pulsa dulu. Masih ingat, dokter tua dengan indera pendengaran bermasalah. Della memperhatikanku. Heran. Mungkin. “Ya, sudah. Kalau begitu, minum paracetamol. Di kotak P3K masih ada stok,” kata Om Bram kembali. “Del, ambilin obatnya, ya, Sayang.” “Tidak usah, Del. Biar aku sendiri yang ngambil,” ujarku buru-buru turun dari atas kasur. Sebenarnya bukan hendak mengambil obat, hanya ingin menjauh dari sosok Om Bram. Entah mengapa, aku merasa sebal saja berdekatan dengan laki-laki berbulu d**a lebat itu. “Beneran elu bisa ngambil sendiri, Cuy?” tanya Della seakan belum percaya. “Iya, aku bisa. Kamu sama Om, terusin saja obrolannya.” Sambil terus memijit-mijit kepala, kupercepat langkah meninggalkan kamar. Setiba di luar, diam-diam berusaha mendengarkan sisa pembicaraan mereka. Penasaran juga, perbincangan seperti apa selanjutnya. Konsentrasi penuh memasang daun telinga. Sampai akhirnya .... DUK! “Aduh!” jeritku spontan. “Alya!” panggil Della dari dalam kamar. Kudengar langkah kaki mendatangi. “Kamu jatuh pingsan lagi?” Sambil meringis kesakitan, kujawab, “Endak, Del? Duh, pusing! Kepalaku kepentok tembok.” Sialan! Saking fokus ingin mendengar obrolan mereka, aku tak menyadari keadaan di depan. Alhasil, batok kepala ini bertabrakan dengan dinding ruangan. Malangnya, setelah tadi pura-pura, kini rasa pusing itu benar-benar nyata. “Makanya, gue bilang juga elu tunggu di kamar. Biar gue yang ngambil obatnya. Dasar ‘pig head’, sih, lu!” gerutu Della sembari membantuku masuk kembali ke kamar. “Aduh, aku gak kuat jalan, Del. Kepalaku serasa berputar-putar,” desisku lirih. “Pah, Della gak kuat, nih, nahan badan Alya. Berat.” “Biar Papah saja yang membopong Alya, Del. Sini,” kata Om Bram sigap mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya. Duh, Tuhan! Gila benar! Aku merasa seperti tengah dibawa terbang malaikat rupawan menuju surga idaman. Tolong jangan bikin hamba-Mu kali ini pingsan. Biarkan menikmati kesempatan yang mungkin tak ‘kan lagi didapatkan. Sedikit hiburan bagi pemburu cinta dalam sentuhan kemanjaan. Melalui dekapan hangat, lengan kekar laki-laki pujaan. Tuhan, mengapa tak Engkau takdirkan dia bersanding denganku? Tak cukupkah doa-doa yang selama ini sering dipanjatkan pada-Mu? Lihatlah, sampai kapan terus bergulat dalam kecamuk kalbu. Berharap tulangku dan rusuknya menyatu dalam padu. Tuhan, tolong perlambat lagi waktu yang sedang berputar saat ini. Buatlah langkah laki-laki ini tak pernah berhenti. Maka akan semakin panjang keindahan ini kunikmati. Hingga .... “Lya!” “Hhmmm.” “Elu kenapa nyengir terus?” “Siapa?” “Elu?” Oh, rupanya aku sudah kembali tergolek di atas tempat tidur. Sejak kapan, ya? Kok, tak merasa? “Masa, sih?” Della mengernyit. “Heran gue, baru kali ini ada orang yang segitu bahagianya abis kejedot tembok.” “Siapa?” “Elu!” Della kesal. “Dan yang lebih bikin gue heran, lama-lama elu makin telmi, ya?” “Telmi? Apa itu?” “Telat mikir, Lya!” geram Della tambah jemu. Jemari gadis itu sampai mengeras hendak mencengkeram, seakan ingin mencakar-cakar wajahku sedemikian rupa. “Haduh, kalo elu bolu, udah gue gares dari tadi, Lya! Kesal banget gue!” Ah, kamu tak paham, sih. Aku jadi begini, kan, karena papahmu, Del. Pesona Om Bram telah meracuni setiap sel darah yang mengalir di dalam tubuh ini. Kamu tak mengerti, bagaimana rasanya jatuh cinta dan tak pernah terbalas. Sakit, Del. Teramat sakit. “Ya, sudah. Kamu urus dulu, deh, Alya. Papah mau istirahat dulu, ya, Sayang,” Om Bram pamit pada Della. Senyum di bibir laki-laki itu menjadi pengantar malam peristirahatan kami. Usai mengecup kening Della, Om Bram bergegas meninggalkan kamar. “Perlu gue temenin gak tidurnya, Cuy?” “Ndak usah. Aku ingin sendiri, Del.” “Ya, sudah. Gue juga mau tidur dulu, ya,” ujar Della. “Jangan lupa, minum obatnya sebelum tidur.” “Del.” “Hhmmm.” “Kalau besok aku ndak bisa ikut kamu nganter Tante Cassandra, ndak apa-apa, kan?” Della tersenyum. “Gak apa-apa, Lya. Elu istirahat aja di rumah. Kalo perlu, besok elu jangan masuk kuliah dulu, deh.” “Aku ndak tahu.” Della menarik napas dalam-dalam. “Ya, pokoknya terserah elu, deh. Biar gue aja yang pergi sendirian, besok.” Usai berpamitan, Della meninggalkan kamar. Kini tinggal aku sendiri, terdiam merenungi. Entah nasib apalagi yang akan diterima. Terbayang, bulan depan akan selalu disuguhi pemandangan yang menyakitkan. Om Bram dan Tante Cassandra. Laki-laki impian itu jatuh ke pelukan wanita lain. Aku tak tahu, seberapa kuat bisa menahan kepedihan ini. Atau mungkinkah, ada salah satu pihak yang harus mengalah. Pergi menjauh, entah ke mana. Memendam kecewa di sepanjang sisa usia. Aku ... ya, sebaiknya akulah yang undur diri. Meninggalkan semua kenangan di dalam rumah ini. Termasuk memutus persahabatan dengan Della. Kembali merajut awal di mana letakku berasal. Aku menangis meratapi diri. Berlinang air mata dalam kesunyian malam. Tak ada yang mau memahami, termasuk binatang malam itu. Dia tak peduli. Menikmati setiap tetes darah yang terisap, tanpa berbelas kasih pada sang pemilik yang tengah gundah gulana. Aku harus pergi .... BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD