Bab 5

1718 Words
" Yang, kamu nggak usah kuliah hari ini ya ? temani aku " rengek Fito pada Fida untuk yang kesekian kalinya. Fida mengangguk mengiyakan. Lebih baik Fida bolos saja hari ini. meninggalkan Fito yang sedang demam sendirian dirumah memang bukan pilihan yang tepat. cowok semanja Fito, yang sayangnya sangat dicintai oleh Fida mana bisa sendirian saat sedang sakit. Jiwa bocahnya langsung keluar begitu ia sakit. entah sakit berat ataupun ringan sama - sama memantik jiwa kolokannya. apa - apa mesti disediakan dan dilayani. orang tuanya sedang pulang kampung sehingga Fida yang turun tangan mengurusi sang kekasih. " Yang beneran ya kamu nggak pergi, aku nggak bisa sendiri, aku sakit " " iya, aku nggak akan berangkat tapi kamu makan dulu " balas Fida sambil membantu Fito duduk. Fito langsung tersenyum mendengar Fida yang akan menemaninya, rasa sakitnya serasa berkurang membayangkan akan bersama Fida seharian. Fito duduk dan bersandar dikepala tempat tidur. Fida mengaduk - aduk bubur yang masih mengepul agar segera dingin. dengan telaten disuapinya Fito sampai bubur yang ada didalam mangkok nyaris tandas. meski sedang demam tampaknya selera makan Fito tidak terganggu. selesai makan Fito kembali merebahkan badannya tapi kali ini ia meletakkan kepalanya diatas paha Fida. Panas dari kepala Fito menembus kebalik celana jeans yang dipakai oleh Fida. " kamu kecapean ini " sebut Fida ," lain kali jangan memforsir tenaga lagi. kerjaan nggak akan ada habisnya " " mumpung lagi banyak yang mau make aku Yang " jawab Fito dengan mata terpejam. " lihat hasilnya kamu jadi sakit begini " omel Fida. Selalu saja Fito beralasan begitu saat diingatkan olehnya. Laki - laki rajin bekerja memang bagus dan punya daya tarik tersendiri dimata Fida. tapi jika sudah gila kerja seperti Fito sekarang malah membuat Fida tidak tenang. kian hari Fida merasa Fito kian ambisius dalam bekerja. Semuanya dihitung secara materi. Fito yang dulu sangat bersahaja mulai berubah menjadi money oriented. Fida mengakui bahwa setiap manusia butuh uang tapi tidak lantas membuat kita berfikir segala sesuatu dihitung dan diorientasikan dengan uangkan. " Kalau semua yang kita impikan sudah tercapai barulah aku nyantai. nanti aku akan ajak kamu liburan keliling Eropa " janjinya. " aku tidak butuh liburan, aku hanya butuh kamu tetap sehat " " Aku tahu, tapi aku ingin membahagiakan kamu " kata Fito yakin. Fida tidak akan pernah menang saat berdebat dengan Fito karena semua alasan yang Fito sebutkan akan bermuara padanya. Parameter kesuksesan Fito adalah kesanggupannya secara materi dalam membahagiakan Fida. *** " Mbak Fida, minum dulu " Aldi mengulurkan gelas plastik yang berisi kopi. tadi Aldi sempat turun untuk membeli kopi dan roti untuk bekalnya malam ini. Fida menerimanya dan meletakkan dikursi kosong yang ada disebelahnya. sudah hampir lima jam mereka menunggu didepan ruang operasi namun tanda - tanda operasi akan berakhir belum juga ada. Setelah dua hari dirawat, tangan dan kaki Fito yang patah akhirnya dioperasi juga. Selama dua hari itu, tidak sekalipun Fida muncul dihadapan Fito. Fida akan masuk ke kamar perawatan saat Fito tertidur, selebihnya Fida hanya duduk di luar saja. Fida tidak mau kehadirannya mempengaruhi kondisi psikis Fito. kondisi psikis Fida sendiri sudah terganggu sejak diminta menemani Fito dirawat. ada rasa cemas yang menghantuinya jika nanti harus bertemu dengan tunangan Fito. namun sebisa mungkin ditepisnya. beruntung Fida belum melihat keberadaan tunangan Fito didekatnya. Fida masih bingung apa yang harus ia lakukan jika tunangan Fito telah tiba. apakah tetap disitu atau pergi saja agar tidak menimbulkan rasa kurang nyaman didiri Gisella. Semoga saja Gisella tidak mempermasalahkan keberadaannya nanti. Fida meneguk perlahan kopi yang tadi diberikan oleh Aldi. rasa pahit kopi cukup ampuh menghilangkan kantuknya. Aldi duduk diujung kursi yang diduduki oleh Fida. Fida agak bingung melihat cuma Aldi sendiri yang menemani Fito. Harusnya ada banyak teman ataupun karyawan management yang ikut menemani. memang sih banyak yang membesuk saat siang hari tapi tidak ada satupun yang bergantian dengan Aldi. Aldi berulang kali melirik pada Fida yang duduk agak jauh darinya. Perasaannya bercampur aduk antara tidak enak hati dan bersalah pada Fida. merasa tidak enak karena melihat Fida yang terpaksa ikut menemani Fito dirawat. menyadari Fida yang tidak mau bertemu langsung dengan Fito membuat Aldi jadi sadar bahwa kehadiran Fida semata demi memenuhi permintaan orang tua Fito saja. Perasaan bersalah dirasakan oleh Aldi karena ada andil darinya dan teman - teman mereka yang membuat Fito meninggalkan Fida dengan berpaling pada Gisella. dunia showbiz memang gila dan penuh dengan kepura - puraan. mereka yang silau dengan gemerlapnya dunia selebritas mendorong Fito agar mendekati Gisella yang memang sedari awal terlihat punya ketertarikan pada Fito. mereka sadar jika kedua bintang muda tersebut punya hubungan maka ketenaran mereka akan cepat meroket dan dipuja - puja oleh para penggemarnya. menjadi artis dengan mengandalkan prestasi saja tidak akan menjamin kariernya bertahan lama. perlu ada bumbu pemanis yang bisa mengikat agar penonton terus menantikan kehadiran mereka. Skandal dan sensasi adalah bagian dari cara tersebut. niat awal management yang ingin membuat settingan saja, berujung jadi sungguhan karena Fito dan Gisella menyatakan keseriusan mereka menjalin hubungan. Aldi sadar kalau mereka telah salah melangkah. dibalik senyum merekah Fito disetiap acara yang ia hadiri ada seorang wanita yang tersakiti. Aldi tidak bisa mundur lagi, atau mungkin lebih tepatnya tidak mau karena disetiap kontrak yang Fito tandatangani ada nominal yang tidak sedikit yang mengalir kedalam rekeningnya. Dan juga, Aldi tidak mungkin menyuruh Fito kembali saat mereka sudah terlalu jauh berjalan. Atau reputasi Fito yang akan jadi taruhannya. kehancuran nama baik Fito akan berdampak bukan saja pada dia dan Fito tapi juga pada ph yang menaungi mereka. Banyak kontrak yang perlu direvisi yang pastinya akan menjadi masalah nantinya. pelanggaran pada isi kontrak juga mengancam mereka dengan denda yang tidak sedikit. Kembali, Aldi melirik Fida yang kali ini terlihat sedang berdzikir demi kelancaran operasi Fito. hanya mulutnya yang bergerak pelan. Lihatlah, betapa tulusnya wanita yang dulu Fito sia - siakan. Aldi menghembuskan nafasnya kasar. Fida yang menjaga jarak dengannya terasa belum ada apa - apanya dibanding dengan apa yang sudah mereka lakukan. Aldi tersenyum getir, berusaha mengurangi perasaan bersalahnya. Fito benar - benar merugi karena meninggalkan Fida demi gadis yang bahkan tidak mau menunda acaranya demi Fito. Gisella tahu kalau Fito kecelakaan dan akan dioperasi namun dia berdalih tidak bisa meninggalkan kegiatannya dengan dalih sudah terikat kontrak. Mengingatnya membuat Aldi ingin tertawa terbahak - bahak. apa Gisella mengira Aldi bodoh atau sebenarnya dia sendiri yang bodoh, karena Aldi tahu segala macam t***k bengek perjanjian kerja seperti itu. anggap saja Gisella lupa kalau Aldi juga bergelut didunia yang sama dengan dia. Fida menyudahi dzikirnya dan melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah tujuh jam berlalu. wajar saja tubuhnya terasa penat. Meski biasa bekerja delapan sampai sepuluh jam setiap harinya, tapi Fida sering berjalan disela waktu duduknya. Fida berdiri dan berjalan menuju jendela. seorang pria berjas putih baru keluar dari lift yang ada didekat jendela yang sedang dituju oleh Fida. senyum mengembang dari dokter Ryan. Dokter muda yang sedang jaga malam. " Mbak Fida " sapanya ramah. Semua orang yang bekerja disana memanggil Fida dengan sebutan mbak karena Fida enggan dipanggil ibu, terlalu formal dan kaku baginya. " Dokter Ryan " balas Fida berusaha tersenyum. " Kenapa mbak Fida ada disini ? ada yang bisa saya bantu ? " Fida menggeleng ," tidak ada dok, saya sedang menunggu pasien " Dokter Ryan mengangguk ," apa pasien didalam keluarga mbak Fida ? " " Bukan " sangkal Fida ," dia teman sekolah saya " jawab Fida pelan tapi terdengar sampai ke telinga Aldi. Ternyata Fida mengakui Fito sebagai temannya. Padahal Aldi yakin mereka tidak pernah bertegur sapa lagi sejak putus. Pribadi Fida memang patut diacungi jempol. Beberapa hari bersama Fida meski tidak banyak berinteraksi, Aldi bisa melihat betapa humble nya dia. Sebagai pengamat, Aldi melihat hubungan Fida dengan karyawannya sangat cair. tidak sekalipun Aldi melihat wajah arogant menghiasi muka petinggi Rumah sakit tersebut. Menjadi satu - satunya pewaris Rumah sakit ternama tidak membuat Fida berubah dari yang dikenal Aldi terakhir kali. Keramahannya tidak menghilangkan kewibawahannya. Setelah berbasa - basi sebentar dengan dokter Ryan, Fida meneruskan langkahnya menuju jendela. Berdiri disana seraya melemparkan pandangannya keluar gedung. Lalu lintas jalanan yang mulai sunyi menyambut pandangannya. Hari sudah menjelang tengah malam tentu saja jalanan mulai sunyi. Malam ini Fida akan menginap dirumah sakit. Tidak seperti Aldi yang tidur diruang rawat inap Fito, Fida akan menginap diruangannya sendiri. Ruang kerja Fida memang dilengkapi dengan kamar pribadi, tempatnya melepas penat disiang hari. Sebelumnya Fida tidak pernah menginap disana. Suara pintu yang dibuka membuat Fida menoleh ke belakang. Dokter yang bertugas dan timnya keluar dari ruang operasi. Fida berjalan menghampiri mereka, begitupun dengan Aldi yang berdiri dan menghadap pada mereka. " Bagaimana operasinya dok ? " tanya Aldi mendahului Fida. Dokter Firman selaku ketua tim yang mengoperasi Fito menoleh kepada Fida dan Aldi bergantian. " Syukurlah operasinya berjalan lancar. Sekarang sedang menunggu pasien sadar dulu untuk selanjutnya dipindahkan keruang perawatan " jelasnya. Fida langsung mengucap syukur dalam hati. Aldi dengan lantang mengucap hamdalah. " Mbak Fida sudah boleh beristirahat sekarang " ucap dokter Firman sambil tersenyum pada Fida. Dokter Firman sudah berteman lama dengan orang tua Fida. Fida mengangguk ," terima kasih banyak dok " ucapnya balas tersenyum. Dokter dan perawat yang bertugas meninggalkan Fida dan Aldi. " Saya kabari tante Ratih dulu " ucap Fida yang dibalas anggukan oleh Aldi. Fida mengabari ibunda Fito lewat pesan saja. tidak ingin mengganggu waktu istirahat mereka yang mungkin cuma sedikit karena sedang giat beribadah. Tidak begitu lama sejak pesan dikirim, panggilan masuk dari nomor yang bersangkutan. " Halo tante " sapa Fida. " Halo nak, Terima kasih sudah mengabari tante ya " " iya tan " " tante tidak tidur dari tadi, menunggu kabar dari sana. syukur Alhamdulillah operasinya bejalan lancar " " iya tan, Alhamdulillah ... " jawab Fida sambil menguap. " sekali lagi maafkan tante yang sudah merepotkan kamu ya nak " " iya tan, nggak apa - apa " tangan kiri Fida sedang mengurut pangkal hidungnya yang terasa nyeri. " sekarang kamu istirahat ya, jangan sampai kamu sakit karena menjaga Fito " ujar tante Ratih dari seberang. Fida mengangguk yang tidak akan terlihat oleh tante Ratih. " tante tutup ya, kamu segeralah istirahat " " iya tante " jawab Fida mengakhiri pembicaraan mereka. Fida melihat pada Aldi yang ternyata sedang melihat kearahnya juga. " saya ke atas dulu, titip dia ya " ucapnya yang dibalas oleh Aldi dengan anggukan beserta sebuah senyuman. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD