"Sayang.. ! " Mina melangkah keluar dari kamar mandi, tetesan air masih menempel pada ujung rambutnya. "Iya," jawabnya, singkat,nyaris tanpa intonasi. Setiap kali kata 'Sayang' keluar dari bibir Mas Sabil, hati Mina menipis, terkikis, hingga menyisakan sepotong rasa jijik. Panggilan mesra yang seharusnya menjadi penenang hatinya kini terasa seperti tali yang melilit lehernya. Ia tahu, ia harusnya marah, harusnya memaki-maki suaminya tapi luka di dadanya terlalu dalam untuk sekadar diwakilkan oleh amarah ini. Cinta yang telah mereka rajut selama tiga tahun, yang ia kira akan baik-baik saja ternyata serapuh ilalang dihempas oleh badai. Dalam sekejap mata, janji suci dan kenangan manis itu hancur luluh lantak oleh Mas Sabil sendiri dengan tega membawa istri barunya ke rumah ini tanpa perm

