Mina membuka matanya perlahan sesuatu yang berat melingkari pinggangnya, lengan yang kekar. Seketika, ia menyadari posisinya. Mereka berdua terbaring tanpa sehelai benang pun tak melekat. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit dan aroma yang samar namun memabukkan memenuhi seprai yang kusut. Mina mengedarkan pandangannya dia ternyata mash di kamar Hotel di Singapura bersama dengan suaminya. Mina seolah-olah seperti sedang mimpi saja tidak ada dalam rencana bisa menghabiskan waktu akhir pekan di tempat - tempat indah di Singapura. Mina menarik napas dalam-dalam, membiarkan sensasi lembut dan rasa puas itu menyebar di dadanya. Pagi ini terasa seperti lembaran baru yang diukir dari malam yang telah berlalu ini. Ia memejamkan mata lagi, membiarkan momen tenang ini menjadi perpanjangan dari je

