Nara’s Love

585 Words
Hari itu hari pertama sekolah Nara persiapan menghadapi ujian semester. Dan hari itu juga Nara sudah membuat sebuah keputusan penting. Pagi-pagi sekali Nara sudah sampai disekolah. Dia sudah membuat janji dengan seseorang pagi itu. Nara menunggu orang itu di depan pintu kelas. “Kenapa pagi-pagi gini lo suruh gw datang, Nara?”tanya Revin saat mendapati Nara bersandar di pintu kelas menunggunya. “Aku cuma mau bilang, kalau aku udah gak peduli kalau kamu ngasi tau siapa aku sebenarnya ke seluruh anak sekolah, bahkan ke seluruh dunia. Aku gak bisa pura-pura pacaran sama kamu. Karena entah sejak kapan, aku mulai menyukainya.”ujar Nara tegas. “Siapa dia??”tanya Revin sinis,”Revan?!” “Bukan… Dia Raka.”jawab Nara yakin. “Lo suka sama Raka?! Gak mungkin! Lo pasti cuma mau menghindar lagi dari gw kan?? Lo gak mungkin suka sama dia!! Dia wali lo!! Beda umur kalian jauh banget!!”ujar Revin jelas gak terima dengan apa yang di dengarnya. “Udah lah, Vin… Kali ini aku gak cari-cari alasan. Aku benar-benar menyukai Raka. Aku selalu mencari masalah saat Wina datang berkunjung ke rumah. Aku selalu cemburu saat Raka bisa memperlakukan Wina dengan lembut.” “Kenapa harus dia?? Kenapa gak gw atau Revan?? Kami sama-sama menyukai lo!! Kami gak akan ngebuat lo sakit hati seperti yang selalu Raka lakukan sama lo.” “Vin… Kamu tau?? Kalau aku gak bisa mencintai kalian saat pertama kali kita ketemu, aku gak akan bisa mencintai kalian untuk selamanya. Maaf… Tapi aku merasa kalau Raka juga menyukaiku. Dia selalu bad mood kalau aku pergi sama Revan atau sama kamu…” “Tapi, Nar… Raka itu jauh lebih tua dari kamu. Apa kata orang nanti??” “Udahlah, Vin… Percuma kamu mengharapkan sesuatu dari aku yang kamu sendiri tau kalau aku gak mungkin bisa memberikannya padamu atau pada Revan.” “Okay… Gw akan melepaskan lo kalau terbukti Raka juga menyukai lo. Tapi kalau enggak, gw akan terus mengharapkan lo.”putus Revin yang kemudian berlalu pergi dan sama sekali gak kembali ke sekolah sampai jam pulang. Malamnya saat Revan datang main kerumahnya, Nara juga mengatakan hal serupa pada Revan, dan ajaibnya reaksi Revan sama seperti Revin. Nara tahu, saat dia mengatakan hal itu, dia harus bersiap akan kehilangan dua temannya. Nara sedang termenung saat Raka masuk ke kamarnya,”Gak bisa ketuk pintu dulu ya??”tanya Nara kesal dengan kebiasaan Raka yang gak pernah mau ngetuk pintu. “Hari minggu besok kamu ada kegiatan??”tanya Raka tanpa memperdulikan protes Nara. “Gak ada, palingan beresin rumah kayak biasanya. Kan kamu sendiri yang ngelarang aku punya kegiatan diluar rumah.”sahut Nara malas. “Hari Minggu besok kita piknik, sebagai ucapan terima kasih karena kamu membantuku menyelesaikan bahan seminarku yang kemudian berjalan dengan sukses.”ujar Raka to the point. Nara langsung bangkit dari tempat tidur,”Serius?? Piknik kemana??”tanya Nara antusias. Nara memang sangat menyukai piknik. Selama Nero masih hidup, mereka sering kali piknik di setiap ada hari libur. Walaupun seandainya dalam minggu itu lebih dari 3 tanggal merah, mereka tetap piknik ke berbagai tempat berbeda. “Kita pergi ke pantai.”jawab Raka. Dengan tiba-tiba dalam satu gerakan singkat, Nara mencium pipi Raka,”Makasih… Aku suka banget piknik, apalagi ke pantai.”ujarnya setelah mencium pipi Raka. Raka terdiam. Kaget melihat reaksi Nara yang dengan sangat berani mencium pipi-nya. Raka langsung berlalu dari kamar Nara tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD