1 minggu penuh siksaan_menurut mereka yang gak belajar untuk menghadapi ujian_sudah berlalu. Nara yakin dengan semua jawabannya, begitu pula dengan Revan yang emang selalu PD berat disetiap situasi. Reno dan Diana agak cemas dengan jawaban mereka, lain lagi dengan Revin yang entah terlalu PD entah terlalu takut buat nunjukin perasaannya. Soalnya tu cowok santai badai aja, disaat anak-anak kelas lain sibuk menemui guru meminta ujian perbaikan. Dan besok adalah hari Sabtu, hari pembagian hasil belajar mereka. Hari ini, dengan izin khusus, Nara diizinkan Raka untuk pergi jalan-jalan bersama teman-temannya.
Nara baru kembali ke rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 6 tepat. Dan ajaibnya Raka sama sekali tidak bicara apapun tentang keterlambatan Nara. Bahkan Raka tidak keluar saat makan malam. Nara memutuskan untuk menyatakan perasaannya sebelum Raka berangkat ke Bandung. Raka sudah bilang kalau mereka akan segera berangkat ke Bandung langsung setelah pembagian rapor pada hari Sabtu. Nara mengetuk pintu kamar Raka.
“Masuk...”ujar Raka dari dalam.
Nara langsung masuk ke kamar Raka. Kamar yang sangat rapi. Nara melihat kalau Raka saat itu sedang mengemas pakaian yang akan dibawanya besok ke Bandung.
“Ada apa??”tanya Raka karena Nara gak juga mengatakan apa keperluannya mencari Raka.
“Oh.. Itu, ada yang mau aku bilang.”ujar Nara saat sadar apa tujuannya datang ke kamar Raka.
“Bilang aja.”ujar Raka semi baik semi jahat.
“Aku… Aku gak mau kamu ke Bandung besok. Aku gak mau kamu tunangan sama Wina…”ujar Nara tanpa tedeng aling-aling.
“Vela?! Kamu??”
“Aku menyukaimu Raka. Walaupun kamu gak pernah baik sama aku. Aku menyukaimu.”tegas Nara.
Raka memandang Nara dengan pandangan aneh, pandangan yang sama saat melihat Nara pergi dengan Revan,”Kamu masih anak kecil, Vela. Kamu belum mengerti arti menyukai seseorang.”ucap Raka pelan.
“Aku tahu!! Aku bukan anak kecil lagi!!”ujar Nara setengah teriak.
Raka menggeleng pelan,”Kamu gak tau apa artinya menyukai seseorang. Karena orang yang mengaku mengerti arti cinta dia sama sekali gak memahami arti cinta. Cinta gak pernah bisa didefinisikan. Lagian aku gak mungkin membatalkan pertunanganku. Wina bilang kalau orangtuanya mengatakan bahwa sebaiknya pertunangan kami dipercepat. Dan mereka ingin saat aku datang besok, kami akan langsung mengadakan acara pertunangan.”jelas Raka.
“Gak!! Kamu gak boleh tunangan sama Wina!! Aku menyukaimu, Raka… Tolong pandang aku sebagai wanita. Jangan pandang aku sebagai gadis yang gak bisa apa-apa!”
“Tapi kamu memang masih kecil kan??”ujar Raka dingin.
“Aku sudah dewasa!!”tegas Nara yang tanpa malu langsung membuka baju tidur yang dikenakannya,”Aku udah dewasa, Raka!”
Raka benar-benar terkejut melihatnya, tapi Raka berhasil menguasai dirinya dan berjalan mendekati Nara,”Pakai lagi bajumu.”ujarnya sambil meraih baju yang dipegang Nara dan menutupkannya ke badan Nara yang terbuka,”Yang kumaksud dengan masih kecil bukan dari bentuk fisik. Tapi dari caramu berpikir. Sudahlah, lebih baik kamu istirahat sekarang, besok kita akan mengadakan perjalanan.”tegas Raka.
Nara sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dia tidak bisa membuat Raka mengubah keputusannya. Nara kembali ke kamarnya dan memikirkan sesuatu. Sesuatu yang harusnya dia lakukan sejak lama.
***
“Weits!! Selamat ya, Vel… Gw gak nyangka lo bisa ngalahin Revan.”ujar Diana yang emang paling senang kalau Revan menderita.
Nara tersenyum simpul,”Makasih.”ucap Nara.
“Habis ni, lo mau kemana??”tanya Diana.
“Aku udah punya rencana… Tapi belum pasti juga sih. Kenapa??”tanya Nara.
“Kita udah punya rencana mau jalan-jalan ke Jogja, Kita sih pengennya lo ikut.”sela Revan sebelum Diana lagi yang nyerocos.
“Wah… Sorry banget deh…”ucap Nara benar-benar menyesal gak bisa ikut.
“Vela!!”panggil Raka sambil menghampiri Nara.
“Tuh liat kan?? Ini dia alasan kenapa aku gak bisa ikut sama kalian.”ucap Nara nyaris berbisik karena saat itu Raka sudah hampir berada di dekat mereka.
“Kita berangkat sekarang!”ujar Raka tanpa memperdulikan teman-teman Nara.
“Bentar. Aku pamit dulu.”pinta Nara yang kemudian diizinkan oleh Raka,”Aku akan ke Bandung siang ini, dan mungkin aku akan menghabiskan liburan disana. Kalau bisa, kalian ke Bandung aja, kita ketemu disana.”bisik Nara pada Diana sesaat sebelum berlari ke mobil Raka.
“Oke, sekarang gw minta lo jelasin kenapa lo nyuruh ngumpul di rumah gw? Apalagi sampai bawa-bawa ni anak.”tanya Revan setelah menuruti semua perintah singkat yang diberikan Diana.
Saat itu Revan, Revin, Diana, dan Reno sedang berkumpul di rumah Revan karena Diana mengatakan bahwa dia punya rencana baru untuk liburan mereka.
Diana tersenyum jahil,”Kita ngumpul karena gw ada sebuah misi buat liburan nanti. Nama misinya ‘Misi Penyelamatan Vela Dari Tangan Raka Selama Liburan di Bandung’.”ujar Diana bangga.
“Maksudnya apa??”tanya Reno bingung.
Jangankan yang disamarin gitu, yang lurus-lurus aja Reno masih bingung.
“Gini lho, tadi itu sebelum pergi Vela bilang kalau dia siang ini berangkat ke Bandung, jadi dia minta kita juga ke sana. Dengan kata lain, Vela minta diselamatkan dari Raka.”jelas Diana dengan semangat berkobar-kobar.
“Vela ke Bandung??”ulang Revan dan Revin bersamaan.
“YUPHZ!!!”jawab Diana yakin.
“Oke!! Malam ini kita berangkat ke Bandung dengan penerbangan terakhir! Gw akan minta Om gw di Bandung buat nyiapin segala kebutuhan kita di Bandung. Kita akan nyulik Vela besok pagi-pagi sekali! Nyari alamat gak masalah buat Om gw.”ujar Revan semangat.
“Gw cuma bisa bantu biaya. Soalnya Revan udah nge-handle semuanya sendirian.”ujar Revin.
“SIIPPLAH!!”seru mereka berempat semangat.
Tanpa diketahui siapapun, disaat yang sama Dyon sedang berada dalam pesawat penerbangan ke Indonesia. Ada hal yang harus disampaikannya pada Nara secepat mungkin, karena mau gak mau harus diakui Dyon, dewan direksi dan para pemegang saham di kantor pusat The Shamash Company menuntut agar Nara segera kembali ke London dan mengambil alih jabatan Nero yang kosong. Karena perusahaan saingan The Shamash Company berhasil membuat para klien The Shamash Company beralih ke mereka. Selain itu, Dyon berangkat ke Indonesia juga untuk memberitahukan masalah surat wasiat terbaru yang disimpan Nero dalam laci meja kerjanya yang baru ditemukan Dyon beberapa hari yang lalu.
***
“Ha ha ha!!! Sumpah!! Aku bener-bener gak nyangka kalau kalian bisa dengan mudah tahu hotel tempat aku sama Raka nginap.”seru Nara ngalahin bunyi speaker mobil Revan,”Dia pasti lagi sibuk sekarang nyari aku.”sambung Nara disertai senyum liciknya.
“By the way, lo ngapain sampai ke Bandung sama dia??”tanya Revan sambil terus menyetir menuju villa keluarganya.
“Dia mau tunangan… Besok malam.”ujar Nara enggan,”Aku jahat banget ya? Aku manfaatin kalian supaya aku gak harus menghadiri pertunangan Raka. Aku gak bisa jamin kalau aku gak bakal buat masalah saat itu.”
“Gak pa-pa… Lagian kita kan bisa senang-senang.”seru Diana yang duduk di bangku penumpang bersama Reno.
“Revin gak bisa ikut ke Bandung, karena secara tiba-tiba kedua orang tuanya datang sesaat sebelum mereka ke bandara dan mengatakan kalau Revin harus kembali ke London.”ujar Revan.
“Baguslah… Aku paling gak ingin ketemu sepupumu yang satu itu.”ujar Nara lega.
“Emang lo sama Revin ada apa?? Kayaknya lo benci banget sama dia?”tanya Reno yang rasa ingin tahunya lebih besar daripada badannya sendiri.
“Bukannya benci… Aku cuma dendam aja sama dia.”jawab Nara.
“Dia pernah ngapain lo??”tanya Revan penasaran.
Nara menghela nafas,”Dia udah merebut first kiss aku.”ucap Nara pelan.
“b******k dia! Awas kalau gw ketemu dia lagi…”geram Revan yang jelas gak terima kalau ciuman pertama cewek yang disukainya sudah direbut oleh orang yang tidak lain tidak bukan saingan Revan seumur hidup.
Nara, Revan, Diana, dan Reno menghabiskan hari pertama liburan mereka di villa keluarga Revan. Mereka tidak keluar dari kawasan villa. Mereka lebih memilih untuk berkuda. Sesaat setelah Nara dan Revan selesai berkuda (Diana sama Reno tidak bisa naik kuda), Diana langsung menghampiri Nara.
“Lo hebat banget naik kuda-nya, Vel…”puji Diana.
“Nero sering banget ngajak aku berkuda sewaktu kami liburan di peternakan kami di utara Inggris.”sahut Nara cepat.
Nero??bathin Diana bingung. Nama yang cukup familiar….
Akhirnya mereka menghabiskan malam di villa Revan dengan membuat acara bakar ayam dan main kembang api. Nara benar-benar menikmati liburannya dan sempat melupakan masalah Raka.
Keesokan harinya di hotel tempat Raka menginap…
“Aku gak bisa ke rumah kamu, Win. Vela belum ketemu sampai sekarang.”ujar Raka pada Wina yang datang menjemputnya.
“Mungkin aja kan dia lagi jalan-jalan. Ayolah, Raka… Kedua orang tuaku sudah menunggumu.”bujuk Wina.
Raka menggeleng pelan,”Sampaikan maafku pada kedua orang tuamu. Aku benar-benar harus menemukan Vela. Jangankan Bandung, daerah di Jakarta aja dia belum kenal.”ucap Raka menyesal telah membuat Wina kecewa.
“Apa dia lebih penting dari pada aku??”
“Bukan begitu… Aku hanya merasa bertanggung jawab pada Nero. Dia anak yang dititipkan pada Nero, dan sekarang Nero memintaku untuk menjaganya selama sisa masa SMU-nya. Aku mohon kamu mau mengerti.”
“Tapi kamu berubah sejak ada dia, Ka… Kamu jarang meluangkan waktu untukku. Dan hari Minggu kemarin kamu membatalkan janji kencan denganku karena kamu bilang kamu ingin istirahat. Kamu berubah, Ka…”
“Maaf kalau kesibukanku belakangan ini membuatmu merasa seperti aku tinggalkan. Aku gak akan seperti itu lagi. Tapi aku minta pengertianmu sekali lagi. Vela menghilang… Aku harus segera menemukannya.”
“Baiklah… Tapi kamu harus ingat Raka, nanti malam kita tunangan. Aku mohon jangan kecewakan kedua orangtuaku.”ucap Wina pelan.
“Aku janji.”
Ternyata bukan hanya di hotel tempat Raka menginap terjadi kehebohan. Di villa Revan juga terjadi kehebohan yang sama. Nara juga menghilang dari villa Revan. Revan, Diana, dan Reno kalang kabut mencari Nara. Tapi sudah lebih dari 3 jam mereka mencari di sekitar villa, bahkan sampai melibatkan warga sekitar, Nara tetap gak ditemukan.
Dimana Nara??
Sementara itu di sebuah pesawat terbang tujuan London, Dyon sedang berusaha memberi penjelasan pada seseorang. Orang itu Nara.
“Bisa jelaskan kenapa aku harus diculik seperti ini, Dyon??”tanya Nara pada seseorang yang duduk di depannya dalam pesawat khusus milik The Shamash Company itu.
“Maaf kalau saya melakukan ini. Tapi, ini semua demi The Shamash Company…”ujar Dyon takut-takut.
Nero pernah mengatakan pada Dyon, jangan sampai membuat Nara emosi. Dia bisa hilang kendali. Bukan menyakiti orang lain, tapi dia akan menyakiti dirinya sendiri.
“Apa hubungannya dengan perusahaan?? Bukannya aku gak boleh kembali ke London kalau belum satu tahun?? Apalagi sekarang aku jelas kembali ke London tanpa izin Raka.”tanya Nara yang emosinya sudah sedikit mereda karena mendengar masalah ini ada sangkut pautnya dengan perusahaannya.
“Begini… Beberapa hari yang lalu saya membereskan meja kerja Tuan Nero, dan menemukan sepucuk surat yang masih terlipat rapi di salah satu laci meja kerjanya. Ternyata surat itu adalah surat wasiat juga yang menyatakan bahwa Titanara Armalite Shamash boleh kembali ke London tanpa izin Raka Mensa ataupun sebelum masa SMU-nya selesai apabila perusahaan sedang berada dalam keadaan diluar kendali Alexander Dyon.”jelasnya,”Dan sekarang, perusahaan memang sedang berada di luar kendali saya. Para dewan direksi dan para pemegang saham menuntut agar Anda segera mengambil alih jabatan yang ditinggalkan Tuan Nero dan mengatasi masalah yang terjadi dengan AW Coorporate…”
“Kalian… Semua surat wasiat itu menyusahkanku!! Lagipula, sebenarnya berapa banyak dia membuat surat wasiat??!”ucap Nara setengah teriak.
Dyon hanya bisa diam selama sisa perjalanan dan menikmati aura kemarahan Nara di dalam pesawat milik perusahaan itu. Dia sama sekali tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan saat ingin ke toilet saja, Dyon rela menahannya hingga pesawat mendarat.
Sesampainya di London, Nara diantar ke rumahnya terlebih dahulu untuk istirahat. Dan keesokan harinya Nara langsung menjalani rutinitasnya sebagai CEO di The Shamash Company untuk pertama kalinya. Walaupun berbisnis bukanlah hal yang asing lagi buat Nara, karena Nara sudah dilibatkan Nero dalam kepengurusan perusahaan sejak Nara SMP. Dan sudah lebih dari sekali Nara ikut dalam rapat dewan direksi dan para pemegang saham.
Saat hari terakhir Nara di London, Dyon mengantarkannya ke bandara. Nara berhasil membuat semua dewan direksi dan para pemegang saham kembali ‘jinak’. Bahkan Nara berhasil membuat beberapa perusahaan lawan takluk dibawah The Shamash Company hanya dalam 3 hari kepemimpinannya.
“Dyon… Aku ingin minta satu hal.”ujar Nara serius saat menunggu kedatangan pesawatnya.
“Apa??”
“Aku janji aku akan menyelesaikan sekolahku dengan baik di Jakarta, hanya saja izinkan aku mengatur semua hal tentang perusahaan. Walaupun itu selama aku di Jakarta. Aku hanya butuh sebuah note book untuk mengirimkan semua instruksiku.”ucap Nara.
Dyon terlihat berpikir sebentar, tapi kemudian dia mengangguk setuju,”Saya rasa saya bisa mengabulkannya. Saya akan mengaktifkan kembali semua aset atas nama Anda. Hanya atas nama Anda yang bisa saya jamin, karena kalau aset itu atas nama Tuan Nero, pengacaranya-lah yang menangani. Dan itu artinya saya tidak bisa membantu apa-apa.”jelas Dyon.
“Thank you…”ucap Nara tulus.
Nara langsung terbang menuju Indonesia. Nara memilih untuk ke Bandung terlebih dahulu. Karena dia yakin, secemas-cemasnya Raka, teman-temannya pasti akan jauh lebih cemas.
Nara sampai di Bandung saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Pengawal yang sengaja menunggu di bandara mengantarkan Nara sampai ke villa. Nara langsung berlari dari gerbang villa ke dalam. Ternyata Revan, Diana, dan Reno baru saja turun dari mobil. Dan ketiga orang itu melihat Nara berlari ke arah mereka. Tanpa sempat kaget terlebih dahulu, Revan langsung menghampiri Nara dan memeluknya sekuat tenaga.
“Lo dari mana aja? Kita udah hampir mati nyari lo ke seluruh Bandung.”ucap Revan terdengar cemas.
“Iya, Vel… Lo kemana aja sih, Vel? Revan udah kayak orang gila pas lo hilang. Semua orang di marahin. Semua orang dibentak-bentak. Sampai yang ketemu dijalan aja habis diomelin. Gw aja udah stress duluan liat dia kayak gitu.”ujar Diana sambil berjalan mendekati Nara.
“Lo emang suka buat sensasi yah?”kali ini giliran Reno yang bicara.
“He he he… Sorry banget udah buat kalian khawatir. Tapi aku benar-benar gak bisa bilang kemana aku selama 3 hari ini. Aku janji, suatu saat, kalau waktunya tiba, aku pasti akan menceritakan semuanya sama kalian.”ujar Nara serius, masih dalam pelukan Revan.
“Apa itu berlaku padaku juga??”tanya sebuah suara yang sangat dikenal Nara.
Suara yang sangat dirindukan Nara beserta pemiliknya. Orang yang selalu ingin Nara lupakan beberapa hari ini, tapi malah semakin kuat berada dalam pikiran Nara.
“Raka?!”ucap Nara tak percaya.
Raka berdiri di pintu masuk villa bersama Wina. Jelas-jelas Wina memegang tangan Raka dengan erat, takut kalau ada orang yang akan merebutnya. Bahkan walaupun sekilas, Nara dapat melihat cincin di tangan Raka, yang kemudian di gesernya sedikit untuk menghindari tatapan Nara.
“Dari mana saja kamu selama ini?? Menghilang dari hotel dan menghilang juga dari sini. Kalau mereka gak mengaku bahwa mereka yang membawamu lari dari hotel, aku mungkin sudah lapor polisi.”ujar Raka dingin.
Raka yang biasa, bathin Nara.
Nara melepaskan tangan Revan yang masih memeluknya dengan posesif,”Maaf, tapi jawabanku tetap sama. Aku belum bisa mengatakannya pada siapapun. Untuk saat ini anggap saja kalau aku pergi berlibur sendirian ke suatu tempat. Lagipula, aku kembali dengan selamat, bukan?? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”ujar Nara yang entah kenapa sedikit terlihat dewasa sejak hari terakhirnya menangani perusahaannya,”Dan aku juga minta maaf karena gak bisa menghadiri pesta pertunangan kalian.”
“Gak masalah. Yang penting kamu udah pulang.”ucap Wina terdengar hanya berpura-pura ramah.
Raka berbalik, tapi dia gak melangkah lebih jauh,”Bereskan barang-barangmu, kita pulang ke Jakarta malam ini.”tegasnya.
Gila, lo!! Baru turun dari pesawat aku langsung kesini, eh belum juga dapat duduk nyaman, ngelurusin kaki, eh malah udah disuruh naik pesawat lagi! Emang gw travel bag!!bathin Nara kesal, tapi tetap aja dia menuruti ucapan Raka.