"Is this what you call fun, Delilah?"

1446 Words
Aku bisa melihat dengan jelas, bagaimana Leo tampak sangat tidak nyaman saat ini. Ia terus memperhatikan sekelilingnya dengan pandangan jijik. Maksudku tentu saja. Sekumpulan pria teler yang muntah dan asap ganja yang mengapung mengelilinginya akan membuat seorang Leonardo Gavinsky jijik. Dan, aku tidak bisa menyembunyikan senyumku melihat itu. "Kau yakin tidak ingin pulang?" Aku menyikut lengannya dengan senyum mengejek, "Aku sungguh tidak apa-apa di sini sendiri. Ini seperti kantorku." Leo menatapku kesal, "Ya, dan untuk alasan itu aku di sini." Seorang bartender menghampiri kami. Ia menyerahkan sebotol Jack Deniel untukku dan soda untuk Leo. "Thank you, Steven." Kataku, dan bartender itu mengangguk dengan senyum. Leo membuka kaleng sodanya dengan kesal. Aku di sisi lain cukup menikmati pemandanganku. Leo memang tampan, tapi ia sejuta kali lebih tampan dengan ekspresi kesalnya itu. "Kau yakin tidak ingin mabuk malam ini? Kau bisa saja akan menjadi seorang ayah besok. Dan itu tidak membuatmu ngeri?" Aku meneguk Jack Daniel-ku, lalu menyenggol kaleng sodanya dengan botol itu. "Aku harus menyetir." Katanya singkat, tanpa menoleh. "So? Bukankah kau pria paling kaya di kota ini?" Aku mendekat padanya, menyentuhkan jemariku di lengannya, "Panggil saja salah satu anak buahmu dan mereka akan menyetir untukmu." Ia mengetuk-mengetukkan jemarinya di meja bar dengan gelisah. "Aku hanya tidak ingin." Dan saat itulah aku tersadar, "Kau... tidak mabuk?" Ia menoleh sangat cepat, "Aku hanya tidak terlalu menikmatinya, terlebih jika di tempat seperti ini. Aku akan minum dengan tenang di meja kantorku seorang diri." "Wow..." Aku menatapnya tidak percaya, "Kau adalah pria yang kaku, Leonardo Gavinsky. Apa kau bahkan pernah berdansa di club?" "Aku hanya tidak ingin, Delilah." Ekspresinya tampak terganggu, "Terlebih di tempat seperti ini." "Kau harus belajar bersenang-senang, tuan." Aku meneguk Jack Danielku sekali lagi, "Buat dirimu senyaman mungkin. Aku ingin berdansa." Aku bangkit dari kursiku, mengambil botol Jack Daniel-ku, dan melambai padanya. Aku berjalan ke lantai dansa, dimana sekumpulan orang melikuk-likukkan tubuhnya mengikuti musik. Dan, aku melakukan hal yang sama. Tubuhku dengan sendirinya bergerak menikmati musik yang berderau kencang. Kepalaku terasa berat karena efek alkohol, tapi justru membuatku gerakkanku semakin liar. "Dee!" Seseorang menepuk pantatku dengan sedikit keras. Aku menoleh, mendapati seorang pria berdiri di belakangku dengan sebotol bir di tangannya. "Joshy!" Teriakku begitu mengenali sosok itu. Aku melompat ke pelukannya, membuat Josh tertawa. "I miss you, i miss you so much!" Josh Mclaren adalah pelanggan pertamaku di dunia gelap ini. Tapi kemudian, ketika ia mengajarkanku bagimana caranya bertahan hidup di dunia yang gelap itu, kami menjadi teman yang tidak terpisahkan. "I miss you, too, Dee!" " Katanya ketika pelukan itu terlepas. "Kau kemana saja, huh? Kupikir kau diculik!" Aku menari di dekatnya, dengan tangannya yang masih berada di pinggangku. Aku meneguk botolku, "Semacamnya." Astaga, kepalaku mulai terasa berat. "Oh, aku kangen sekali dengan b****g ini!" Josh mengikuti gerakkanku. Ia mulai merabakan tangannya ke bokongku dan meremasnya sedikit. Dari balik bahunya, aku bisa melihat Leo terus manatapku. Tapi aku terlalu mabuk untuk peduli padanya, jadi aku mengkalungkan tanganku di leher Josh. Tapi sepertinya itu hal yang bodoh karena detik berikutnya, Leo bangkit dari kursinya dengan cepat, dan menarikku dari pelukan Josh. Ia mencengkram lenganku, menarikku ke tubuhnya. "Apa yang kau lakukan, Delilah?" Suaranya serak. Aku nyaris bisa mendengar giginya bergemeletuk. "Leo!" Aku menarik sikuku dari cengramannya. "Kau menyakitiku!" "Whoo.. lihat siapa ini, Tuan Leonardo Gavinsky," Josh mengatakan itu dengan irama, "Apa yang membawamu ke sini, tuan?" Josh mengatakan itu dengan senyum mengejek, membuat wajah Leo semakin keras. Ia tidak tersenyum, bahkan tidak membalas ucapan Josh sama sekali. "Ini yang sebut bersenang-senang, Delilah? Dengan menjual tubuhmu pada b******k ini-" "Siapa yang kau bilang b******k, rich boy?" Josh mendorong bahu Leo dengan birnya. Astaga, aku mulai tidak bisa merasakan tubuhku. "Aku tidak bicara padamu." Ketus Leo. Ia menatap Josh tajam, lalu menoleh menatapku lebih tajam. "Sudah cukup bersenang-senang, nona?" "Leo, dengar. Aku tidak butuh izinmu untuk tidur dengan siapapun jika aku mau. Kau sendiri yang bilang begitu, kan?" Aku menaruh satu tanganku di d**a Leo, untuk berpegangan. Dalam keadaan mabuk, aku masih bisa melihat betapa tajam tatapannya saat ini dan betapa kuat ia menggepalkan tangannya. "Izin apa? Apa yang bicarakan, Dee?" Josh di sebelahku, menatapku penuh kebingungan. Sebelum aku sempat menjawab, Leo menarik tanganku. Membawaku keluar dari lantai dansa itu. Kepalaku berdengung karena pusing. Leo menarikku ke lorong sepi. Lorong kamar sewaan. Kami masuk ke salah satu kamar itu. Dan baru saat itu dia melepaskan genggaman tanganku. Sedikit terlalu kencang hingga menghempaskan tubuhku ke dinding kamar itu. "What the hell are you doing, Delilah?" Leo berdiri tepat di hadapanku. Aku masih terlalu pusing untuk menjawab ucapannya. Dan kamar ini baunya seperti mayat, membuatku ingin muntah. Dan, ya, detik berikutnya aku bisa merasakan sesuatu bergejolak dari perutku. Aku berlari mencari kamar mandi. Tubuhku jatuh di lantai kamar mandi, tepat di hadapan sebuah kloset. Dan, aku memuntahkan isi perutku. Aku menyandarkan kepalaku di dinding kamar mandi setelah itu. Leo mengikutiku hingga ke kamar mandi. Dia hanya berdiri di kusen pintu, memandangiku dengan tangannya yang terlipat di d**a. Dia memberiku tatapan itu lagi, tatapan merendahkan ketika kami pertama kali bertemu. Aku tertawa, menertawakan hidupku. "Kau lihat aku, Leo? Inilah duniaku. p*****r sepertiku tidak akan cocok memasuki duniamu yang sempurna itu. Hidup di istanamu dengan gaun mewah untuk setiap harinya." Aku tidak tahu kenapa, tapi mataku rasanya perih sekali. Wajahnya terlihat buram dengan air mata mengenangi pelupuk mataku. Leo berjongkok di depanku. Aku tidak bisa tahu ekspresi apa yang ia keluarkan saat ini, karena air mataku. Yang aku tahu, Leo hanya diam, seolah memandangiku. "Kehidupan membosankan dan kaku, maksudmu?" Satu tangannya bergerak, menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahku. Aku tertawa lagi tapi air mataku jatuh begitu saja. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Dia memandangiku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Tapi mata hitamnya tidak lagi manatapku dengan tajam. "Kita pulang sekarang." Aku sungguh mengira dia akan membiarkanku berjalan dalam keadaan mabuk, tapi justru Leo membawaku dalam gendongannya. Satu-satunya yang membuat kepalaku terasa ringan adalah wangi tubuhnya yang menenangkanku dan betapa hangat tubuhnya. Sebelum aku menyadarinya, aku jatuh tertidur dalam gendongan Leonardo Gavinsky. Aku terbangun dengan kepala yang rasanya seperti akan meledak. Hal pertama yang kulihat adalah bahu bidang Leo. Ia duduk di sebelahku, di kursi belakang sebuah mobil yang bergerak lamban. "Aku... tertidur?" Aku nyaris tidak bisa berbicara. Kepalaku sakit seperti di hantam sesuatu. Leo menoleh padaku dengan ekspresi datar. Ia tidak menjawabku, alih-alih memberiku sebuah botol minuman. "Minum ini, untuk menghilangkan pengarmu." Aku merampas botol itu dengan cepat. Kepalaku terasa lebih ringan setelah meminumnya. "Thanks." Kataku, singkat. Aku menegapkan posisi dudukku, agar tidak bersandar pada tubuhnya. Dia tidak menjawabku. Hanya diam menatap sisi kaca mobil di sebelahnya. Suasana mobil itu tiba-tiba terasa sangat mencengkram. Hal yang paling kubenci. Aku tidak suka rasa sunyi ini. Jadi aku bergeser, mendekat padanya. "Leo?" Ia tidak bergeming. Seolah sesuatu di jendela itu lebih penting untuk di lihat dari padaku. "Kau serius marah padaku saat ini? Aku pikir kita akan bersenang-senang." Dan Leo menoleh. Wajahnya terlihat sangat keras dan mata hitamnya menatapku tajam. "Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Delilah." "Apa? Aku yang tidak mengerti jalan pikiranmu, Leo." "Josh Mclaren, siapa pria itu?" Aku mengernyit bingung, "Kau mencari tahu tentangnya?" "Tentu saja." Suara Leo mulai meninggi, "Aku bukan seorang i***t yang akan menikahimu tanpa tahu backgroundmu. Tentu saja aku punya orang untuk mencari tahu kehidupanmu." "What?" Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan, "Kau memata-matai kehidupanku? Kukira aku hanya harus menjadi wadah bagi anakmu dan aku bebas melakukan apa yang aku mau!" "Apa yang kau mau kecuali menjual tubuhmu!" Aku bisa merasakan betapa kuat jantungku berdebar saat ini. Leo berteriak tepat di depan wajahku. Aku ingin sekali menamparnya saat ini, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan emosi mempengaruhi saat ini. Jadi aku diam, menarik napasku dalam-dalam. Mencoba membuat diriku tenang. "Leo, Josh adalah temanku." Kataku, memberanikan diri meyentuh lengannya. "Dia teman satu-satunya yang kumiliki." Leo tersenyum miring, "Ya, teman yang memukul bokongmu dan meremas bokongmu." "Aku seorang p*****r, Leo. Begitulah laki-laki memperlakukanku. Dan begitulah kau memperlakukanku." Aku menghembuskan satu napas panjang, "Lagi pula, kenapa kau peduli, huh? Kita hanya orang asing yang saling melakukan bisnis. Bukankah begitu?" Diam diam sesaat. Lalu ekspresinya berubah, "Kau benar." Jantungku berdebar kuat dan terasa sakit. Saat itu lah aku sadar, aku melakukan kesalahan terbesar. Aku tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Leo. Dia membuang muka ke sisi jendela, "Aku tidak seharusnya marah padamu karena hal konyol. Kita punya kesepakatan." Dan begitu saja, Leo kembali menjadi Leonardo Gavinsky, pria kaya yang terhormat. "Ya, kita punya kesepakatan." Kataku, kemudian bergeser darinya. Tidak ada suara setelah itu. Kami hanya diam, saling menatap sisi jendela masing-masing. Aku hanya berjarak beberapa jengkal darinya tapi dia terasa sangat jauh. Air mataku menetes begitu saja tanpa kudadari. aku cepat-cepat menyapunya, sebelum ada yang sadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD