"Are you seriously mad at me when I'm about to f**k you?"

1157 Words
"Apa kau sudah gila?!” Aku tidak pernah berekspektasi tinggi tentang apa pun. Bahkan sebelum sesuatu terjadi, aku selalu memikirkan kemungkinan paling buruk. Sehingga ketika hal buruk itu menjadi kenyataan, aku tidak terluka. “Aku tidak kenal siapa gadis ini, aku tidak tahu seluk beluknya. Dan kau bilang ingin menikahinya?!” Aku sedikit pun tidak terkejut ketika Nyonya Gavinsky berteriak tepat di depan wajahku. Aku bahkan tidak berkedip. "Aku tidak butuh persetujuan Ibu untuk menikah dengan siapapun yang aku mau. Ibu ingin cucu, kan? Delilah juga bisa memberimu cucu." Nyonya Gavinsky adalah tipikal wanita sosialita yang menggunakam setelan glamor bahkan saat di rumah. Ia menggenakan one set berwarna keemasan, senada dengan aksesoris yang menghiasinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Bagaimana jika dia hanya menjeratmu dan ingin membawa kabur hartamu?" Teriak Nyonya Gavinsky, seolah aku tidak pernah ada ruangan itu. Meja makan ini hanya duduki oleh 3 orang—Aku, Leo dan Ibu Leo—tapi setidaknya bisa menampung 20 orang lainnya. Meskipun tubuhku dibaluti gaun paling mahal yang pernah kukenakan, aku akan selalu merasa kecil di tempat ini. "Gadis ini punya nama, for God's sake, Mom!" Bahkan tungkai kakiku semakin lama semakin terlihat canggung dengan hells berwarna maroon yang senada dengan dressku. Entah sudah berapa lama aku menatap kakiku, aku pun tidak tahu. "Aku tidak peduli siapa namanya. Aku tidak sudi gadis sepertinya menyandang nama Gavinsky, Leo." Tangan Leo terkepal di atas pahanya. Aku bisa melihat urat-urat nadi yang seakan mengikat lehernya. Aku tidak tahu dari mana aku mendapatkan keberanian untuk meremas tangan Leo, tapi aku melakukannya. Aku meremas kepalan tangan Leo, mengelusnya lembut dengan ibu jariku. Leo menoleh padaku. Wajahnya tampak sangat keras dan tegang. Aku tersenyum kecil dan menggeleng, mengisyaratkan padanya untuk menahan emosinya. Untuk beberapa saat, kami hanya diam. Mata hitamnya meneliti wajahku dengan penuh kebingungan. Napasnya perlahan mulai berhembus normal. "Ibu, aku berjanji aku akan memberimu keturunan." Katanya kemudian, dengan nada yang lebih pelan. "Aku tahu Delilah bukan gadis yang kau inginkan, tapi jika kau lebih mengenalnya aku yakin kau akan mencintainya... seperti aku mencintainya," Aku tidak bodoh, aku tahu Leo sedang bersandiwara. Tapi, darah berdesir hebat di sekujur tubuhku. Membuat wajahku terasa sangat panas dan leherku terasa dingin. Ia tidak lagi menatapku, tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajah sempurnanya. "Kau anak yang keras kepala, seperti ayahmu!" Ibu Leo bangkit dari kursinya, sebelum pergi dari ruang makan itu, ia menatapku sangat tajam, "Lihat saja, kau akan menyesali keputusanmu, Leonardo!" Aku mengembuskan napas yang tanpa sadar kutahan begitu Ibu Leo meninggalkan ruangan. Leo melakukan hal yang sama. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya terpejam kuat-kuat, ujung alisnya saling bertautan. Aku mendekat padanya, menumpukan satu tanganku ke sandaran kursinya. Napasnya terdengar berat. Kuelus alisnya yang tampak tegang. Sedetik kemudian, mata hitamnya terbuka, menatapku. Aku tersenyum hingga ke ujung telinga, "Kau melakukannya dengan baik, Leo." Leo hanya diam. Ia tidak menghentikan jemariku yang bergerak naik membelai lembut rambutnya. Ia hanya diam, seakan menikmati sentuhan itu. "Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu?" Kataku, mengigit bibirku pelan. Dia mengangguk. Mata hitamnya semakin menggelap. "I need you, right now." Sebelum aku sempat menjawab, Leo menarikku naik ke pangkuannya. Ujung gaunku tersingkap hingga setengah paha ketika aku duduk mengangkang di atas pangkuannya. Leo melepaskan jasnya, membuangnya sembarangan. Kedua tangannya menjalar ke pahaku, meremas kulit pahaku sedikit terlalu kencang. Tubuhku merinding hingga ke ujung kaki. Aku dengan hati-hati melepaskan dasi abu-abu miliknya, melepaskan satu per satu kancing kemejanya. Memperlihatkan tubuh sempurna miliknya yang selalu berhasil membuatku terbakar. Leo menyandarkan kepalanya dengan mata mata terpejam, ketika aku mengecup sepanjang lehernya. Tangannya mulai bermain-main di pahaku, menggelitik sesuatu di pangkal pahaku. Kecupanku mulai berubah menjadi lumatan ketika tangan Leo meremas bokongku dengan kuat. "Kau sangat cantik mengenakan gaun ini," Tangan Leo naik, menyelusuri pinggangku dan berhenti di dadaku, "Tapi aku tidak punya kesabaran untuk itu." Hanya dengan satu tarikan, gaun itu robek terbelah dua, memperlihatkan bra hitamku. "Leo!" Aku nyaris berteriak saking terkejutnya. Dia tidak menyakitiku sedikit pun. Tapi hatiku meringis melihat nasib gaun cantik itu. "Gaun itu sangat mahal, tahu!" "What?" "Gaunku! Kau mengahancurkan gaun mahal karya Valetino.” Gerutuku, semakin kesal karena melihat ekspresi polosnya. “Gadis-gadis itu bilang gaun ini hanya dibuat 3 di dunia, dan kau menghancurkannya!" Untuk beberapa saat Leo hanya diam seperti mencerna ucapanku. Wajah kerasnya yang tampak serius perlahan pecah oleh tawa. "Are you seriously mad at me when I'm about to f**k you?" Dia kembali bersandar, lengannya memeluk pinggangku. "Kenapa kau ketawa? Ini tidak lucu, tau!” Aku menutup dadaku yang terbuka karena ulahnya, "Gaun ini harganya seperti 5 bulan biaya sewa apartemenku.” Lalu aku teringat, “Apa yang mereka gunakan untuk membuat gaun ini ngomong-ngomong?" Wajah Leo mendekat, membuat tubuhku mundur ke belakang hingga punggungku bersadar si ujung meja. Ia menumpukan kedua tangannya di pinggir meja mengunci pergerakanku. "Apa yang membuatmu berpikir aku harus mempriotaskan gaun itu..." Suaranya serak dan dia menatapku dengan senyum miringnya. "...dari pada menidurimu dengan kasar, di atas meja ini?" "L-Leo..." Tenggorokkanku tiba-tiba terasa kering. "Iya, Delilah?" Leo menyapukan jemarinya di batang leherku, turun hingga ke dadaku. "K-kau suka genre yang kasar, ya?" Leo tertawa sangat keras hingga suaranya memenuhi ruangan. Ia kembali bersandar di kursinya. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. "Seriously?” Bisik Leo, dengan bibir gemetar menahan tawa. "Aku hanya penasaran..." Aku memainkan jemariku di d**a bidangnya. "...kebanyakan pria suka bermain kasar dan aku tidak mengerti kenapa." Leo tersenyum, menyibakkan beberapa rambutku ke belakang telinga. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya memandangiku seperti itu. "Leo..." Panggilku, tidak berani melihatnya. Dia hanya bergumam, jemarinya bermain di rambut cokelatku. Aku mengigit bibirku, menahan malu, "Kenapa… kau berhenti?" Ia tersenyum geli, "Delilah, aku bersumpah aku ingin sekali menidurimu saat ini. Tapi kau membuatku terus tertawa dan aku tidak bisa berkonsetrasi. Dan sekarang, aku tidak hanya ingin mendurimu tapi—" "Maaf, aku hanya penasaran." Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, aku memotong. Aku berusaha membuka resleting gaunku yang nyaris tidak berbentuk, "Ayo.. kita bisa melanjutkannya." "No," Leo menahan tanganku. Dia kemudian bangkit, terlalu mendadak. Aku memeluk lehernya dengan erat agar, kedua kakiku melingkat di pinggangnya. "Ayo, pindah ke kamar." Leo berjalan ke arah kamar tidurnya dengan aku berada dalam gendongan. Ia dengan perlahan meletakkanku ke pinggir kasur dengan sangat hati-hati. Leo berlutut di lantai di antara kakiku. Leo menangkup sebelah pipiku dan mencium bibirku. Ciumannya lembut dan berhati-hati. Bibirnya menghisap bibirku bergantian dengan tempo yang pelan namun menuntut. Di sela-sela ciuman itu, aku berusaha membuka resleting celananya. "No." Dia melepaskan ciuman itu, tangannya menggengam tanganku, "Aku tidak ingin menidurimu." “Whaaa…” Aku menatapnya penuh kebingungan, "Why?" Aku nyaris merengak, "Apa karena aku terus membuatmu sulit berkonsentrasi?" Dia tertawa pelan dan menggeleng. “I don’t want to f**k you right now,” Ia menyelipkan beberapa rambutku ke belakang telinga, “Karena aku… ingin mengenalmu, Delilah Davis.” Mata hitam itu menatapku dengan penuh cahaya. Sudut bibirnya mengembang hingga nyaris menyetuh telinga. Leonardo Gavinsky ingin mengenalku. "Aku juga ingin menjadi temanmu." Leonardo Gavinsky ingin menjadi temaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD