***
"Joe, kamu didalam?", Vera memanggil nama Joe sambil berusaha mencari saklar lampu yang terletak dibelakang pintu ruangan Joe. Aneh sekali, pikirnya. Tidak biasanya ruangan Joe gelap gulita seperti ini. Vera berharap dengan kehadirannya dan kue kesukaan Joe, Joe bisa kembali bersemangat seperti Joe yang dulu ia kenal.
Setelah mencari dengan susah payah ditengah kegelapan, akhirnya Vera menemukan saklar yang dicarinya dan ruangan itu pun menyala. Mata Vera menangkap sosok yang dicarinya sedang tertidur diatas meja. Nafasnya yang naik turun dengan teratur menunjukkan bahwa pria itu sedang tertidur nyenyak di tengah-tengah hamparan berkas dan laporan keuangan restoran.
Dengan hati-hati Vera melangkah mendekati Joe, dan meletakkan piring yang dibawanya diatas meja kerja Joe. Tapi, suara ringan piring keramik yang berbenturan dengan meja kaca itu seperti suara gesekan daun di dalam ruangan yang sunyi. Meski teramat sangat pelan, tapi suara kecil itu cukup untuk mengagetkan Joe dari tidurnya.
"Wallace?", Suara serak Joe terdengar, menandakan kalau dia baru saja terbangun dari tidurnya. Perlahan tapi pasti, pria itu menegakkan tubuhnya dan memijat kepalanya yang terasa berat. Ia tertidur saat sedang mengecek semua laporan dan anggaran yang di berikan Wallace. “Bukankah aku sudah bilang bahwa aku sedang tidak ingin diganggu?” tanyanya lagi setelah memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak sempurna.
“Apa aku mengganggumu, Joe?” Suara Vera menyadarkan Joe akan siapa yang sedang berada di hadapannya. Spontan saja Joe mendongakkan kepala, menatap lurus gadis berambut hitam sepunggung yang merupakan kekasihnya.
"Oh Vera! Kukira kamu itu Wallace." Jawab Joe getir. Ia tidak menduga Vera akan datang menemuinya secara langsung tanpa kabar seperti ini. “Kalau tadi itu dia, baru saja mau ku marahi dia.”
“Kukira kamu mau memarahiku juga,” Vera mengerucutkan bibir dengan tidak nyaman.
“Tidak,” jawab Joe cepat. “Banyak yang harus aku selesaikan. Sebelum selesai, aku justru tertidur.”
“Aku membawakan sesuatu untukmu. Mungkin kamu bisa beristirahat sebentar dan mencicipinya?” Vera mengambil kue yang tadi ia letakkan di depan Joe dan menyodorkannya. “Aku membuat kue kesukaanmu di hotel tadi. Cobalah. Aku membuatnya khusus untukmu.”
Alis Joe terangkat. "Red Velvet?" tanyanya.
"Aku suapin ya?” Vera menyodorkan sesuap kue ke mulut Joe yang kemudian ditepis Joe dengan halus.
Senyum Vera yang tadinya sumringah langsung meredup. Ditatapnya Joe dengan penuh tanya. "Maaf, aku sedang tidak nafsu makan",ucapnya lesu.
Vera menatap wajah Joe dengan penuh selidik. "Wajahmu agak pucat , apa kamu sakit?",tanyanya.
Joe menggeleng. "Aku baik-baik saja"
Walaupun Joe berkata seperti itu, tapi Vera tidak mudah menyerah begitu saja. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh dahi Joe bagaikan dokter ahli. Dan sedetik kemudian, ekspresi wajahnya berubah panik. "Joe, badanmu panas sekali! Kau sakit!", serunya.
"Kamu berlebihan , aku cukup tidur saja dan aku akan membaik",kilah Joe.
"Akan kubuatkan bubur dan kubawakan obat untukmu. Kamu masih bisa jalan? Kamu berbaring saja di sofa dan tunggu aku. Aku akan kembali",tukas Vera cemas. Ia lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
"Kamu tidak perlu---", kata-kata Joe terhenti karena Vera sudah terlanjur keluar dari sana dan menutup pintunya.
Vera baru saja memasuki kitchen, dan langkahnya sukses terhenti ketika sayup-sayup ia mendengar suara percakapan dua orang pelayan wanita yang sedang mencuci piring. Keduanya sedang membelakangi pintu dapur sampai tidak menyadari kehadiran Vera. Wallace sedang tidak ada di dapur kala itu, karena atasan mereka sedang tidak ada di tempat, kedua karyawan itu pun bisa leluasa bergosip ria.
"Chef Joe seharian di ruangannya terus"
"Ya, sejak kedatangan wanita cantik itu , chef terlihat aneh", pelayan yang satunya lagi menimpali.
Wanita? ,dahi Vera berkerut.
"Tapi sepertinya chef punya hubungan dengan dia deh. Habis pacar wanita itu pergi sebentar, chef Joe malah mengajaknya masuk ke dalam ruangan berdua saja.”
Hati Vera seperti dihantam palu mendengarnya. Joe bertemu wanita lain? Apakah wanita itu mantan pacarnya? Apa mungkin wanita itu sudah muncul kembali di dalam kehidupan kekasihnya? Hanya dengan memikirkan kemungkinannya saja, hati Vera terasa nyeri. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menengadahkan kepalanya, berusaha menahan perasaannya seperti biasa.
"Bisa jadi. Buktinya setelah wanita itu pulang dijemput pacarnya yang ganteng itu, Chef Joe keluar dari ruangan dan kelihatan sedih banget. Sedihnya itu loh sampai sekarang." Gosip ternyata masih berlanjut. Makin lama gossip dua pelayan wanita itu membuat hati Vera terasa panas.
Merasa informasi yang dia dengar sudah lebih dari cukup, Vera melanjutkan langkahnya ke dalam kitchen dan berdehem. Kedua pelayan wanita itu terlonjak kaget ketika menyadari kedatangannya. Tanpa berkata apa pun, Vera mendekati lemari tempat panci dan mangkuk di simpan, kemudian dengan hati-hati ia mengeluarkan sebuah mangkuk keramik dan panci, lalu mulai memasak bubur. Berhubung restoran sedang sepi, ia bisa memasak sesukanya.
Setelah dirasanya bubur tersebut sudah cukup matang, dia menghidangkannya diatas mangkuk tadi dan meletakkannya diatas nampan yang juga berisi obat penurun panas dan segelas air putih.
Ketika melewati kedua pelayan wanita tadi, Vera berbalik dan menatap keduanya dengan tajam. "Jika kalian punya waktu untuk mengurusi masalah orang, lebih baik kalian urus kehidupan kalian masing-masing" ,sindirnya kemudian berlalu dari sana.
Vera masuk kedalam ruangan pribadi Joe dan mendapati kekasihnya sudah berbaring diatas sofa. Segera didekatinya Joe dan duduk disampingnya.
"Kamu makan dulu ya," ucapnya sambil menyodorkan sesendok penuh bubur pada Joe.
"Aku tidak mau makan",ucap Joe bagai bocah lima tahun yang susah makan.
"Kamu harus makan!",tegas Vera sambil memaksa menyuapkan bubur ke mulutnya.
Joe pun menurut dan memaksakan diri untuk menelan bubur yang terasa hambar di lidah. Ketika yang tersisa hanya setengahnya lagi, dia menyerah. Vera memberikannya obat penurun panas dan langsung diminumnya dengan sekali teguk.
Setelah memastikan Joe telah beristirahat dengan baik di atas sofa miliknya, Vera pun kembali ke kitchen untuk mengembalikan mangkuk kotor. Dan disana dia bertemu dengan Wallace yang baru masuk ke dalam kitchen.
Ia menarik Wallace keluar dari kitchen dan membawanya ke sudut lorong yang ia rasa merupakan tempat yang aman dari tukang gossip. Mata Vera menyipit menatap Wallace penuh rasa ingin tahu. "Kamu tahu sesuatu tentang wanita yang diajak Joe masuk ke dalam ruangan?”
Seketika wajah Wallace menegang. Pria itu tidak pintar berbohong. Sekali melihat ekspresi pria itu, Vera semakin yakin kalau pria itu tahu sesuatu.
***