***
Kedua orang tersebut saling tatap selama beberapa detik dengan reaksi yang saling bertolak belakang. Joe tampak terkejut, sementara Gwen bersikap seolah ia tidak merasakan apapun saat bertemu Joe. Sejujurnya Gwen tidak menyangka George akan membawanya kencan romantis apalagi ke restoran Joe.
Meski Gwen sudah menyiapkan mentalnya, tetap saja bertemu Joe dengan tiba-tiba seperti ini membuatnya bingung harus berbuat apa.
Tapi setelah Gwen pikir-pikir kembali, bukankah akan lebih baik jika ia melakukan sesuai rencana awal sebelum ia menginjakkan kaki di Bali (Jaga-jaga jika ia apes bertemu Joe atau Vera) untuk bersikap sok keren dan sarkastis?
Otak cantik Gwen berputar cepat, ia tidak boleh membuat suasa hening ini berlangsung terlalu lama. Cukup sudah ia melarikan diri dari kenyataan empat tahun lalu. Sekarang ia ingin membalas dendam pada pria yang telah menyakiti hatinya di masa lalu dengan menunjukkan bahwa selama ini ia telah hidup dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
“Sungguh tidak terduga, ternyata chef restoran ini adalah kenalanku,” Gwen tersenyum tipis, mencairkan ketegangan antara dia dan Joe di depan George.
Mata Joe melebar mendengar perkataan Gwen. Otaknya belum bisa menerima pertemuan tidak terduga seperti ini dengan Gwen, hatinya bahkan belum bisa menerima melihat Gwen benar-benar datang dengan tunangannya, sekarang Gwen kelihatannya justru ingin menjelaskan hubungan mereka di depan tunangannya sendiri? Hal itu memang belum terjadi, tapi Joe sudah dapat membayangkan seberapa suasana akan berubah menjadi awkward jika mantan pacar dan calon suami saling berkenalan.
“Kamu kenal dengan chef ini, sayang?” Tanya George.
Gwen tersenyum dan mengangguk. “Ini kenalan Kak Faris.” Jawaban Gwen yang lagi-lagi sama dengan tindakannya yang tidak dapat diprediksi mau tak mau membuat Joe merasa kecewa, meskipun Joe tahu bahwa setelah semua perbuatannya di masa lalu, ia tidak berhak merasa kecewa barang secuil pun pada wanita itu.
Kenalan Faris dari hongkong? batin Joe. Sejak dulu hubungannya dengan Faris sangat buruk. Faris bahkan menjadi orang pertama yang menentang keras hubungan mereka. Gwen tahu hal itu dengan sangat jelas, tapi perkataannya barusan berhasil membuat George percaya tanpa merasa curiga sedikitpun.
“George, kenalkan ini Jonathan. Dan Jonathan, kenalkan ini tunanganku George.” Tidak ada panggilan Joe lagi keluar dari mulut wanita itu. Sekarang wanita itu memilih memanggilnya secara formal. Mendapatkan perlakuan seperti itu, entah mengapa hati Joe makin terasa berat.
George mengulurkan tangan dan Joe menjabatnya dengan setengah hati. Kedua pria itu sama-sama memperkenalkan diri secara bergantian dan setelah berbasa-basi singkat, Joe memilih untuk pergi dari sana sebelum ia menjadi obat nyamuk jika bertahan lebih lama lagi.
Sepeninggal Joe, George melanjutkan makan. Sambil menyuapkan sepotong steak ke dalam mulut, ia buka suara.
“Aku tidak menyangka chef sekaligus pemilik restoran western terbaik di Bali adalah teman kakakmu.”
“Begitulah,”Gwen tersenyum tipis sambil menatap kosong lasagna yang ternyata adalah buatan Joe yang ia rindukan selama ini.
“Kenalan kakakmu banyak yang orang hebat ternyata. Tidak heran sih, kakakmu sendiri seorang pianis.” George terkekeh.
Gwen melirik George yang terkekeh sambil tersenyum kecut. Jika George tahu yang barusan adalah mantan pacar yang belum bisa ia lupakan, apakah pria itu masih akan tersenyum dan tertawa seperti sekarang?
Meski sebagian hatinya merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sejujurnya pada George, Gwen merasa memang lebih baik jika tunangannya itu tidak tahu tentang Joe.
Kadangkala ada baiknya jika tidak mengetahui sesuatu, terutama jika hal tersebut menyakitkan hati. Meski kebohongan pun akhirnya tercipta, tapi setidaknya, kebohongan kecil bisa sedikit terasa manis. Meskipun kebahagiaan yang tercipta hanyalah kebahagiaan semu.
“Kamu terlalu merendah. Justru kamulah yang terhebat,”puji Gwen sungguh-sungguh pada pria yang benar-benar tahan banting menunggunya membuka hati selama bertahun-tahun. Ia tersenyum manis pada George, menunjukkan betapa bersyukurnya ia bertemu George. George membalas senyum Gwen dengan menggenggam tangan wanita itu dengan lembut.
Sementara itu, pikiran Gwen justru tertuju pada Joe. Ia sudah bertekad bahwa kalaupun ia bertemu dengan Joe di pulau dewata itu, ia akan menguatkan hatinya, sekuat tenaga tidak akan peduli.
Joe harus merasakan sendiri bahwa Gwen bahagia setelah putus darinya. Ia akan memamerkan pada Joe betapa bahagianya ia sekarang.
Ia yang sekarang jauh lebih cantik dari Vera, bukan lagi anak kuliah yang culun, polos, dan mudah dibodohi. Ia yang sekarang punya George, yang terlalu sayang jika disia-siakan.
***
Rasanya baru kemarin Joe mengatakan ingin melupakan Gwen, tapi sekarang takdir justru mempertemukannya kembali pada waktu dan tempat yang salah. Ia melihat sendiri bagaimana George menggenggam tangan Gwen dan memperlakukannya dengan penuh cinta.
Disatu sisi ia merasa tenang Gwen bertemu dengan pria yang baik, namun disisi lain, ego dan rasa ingin memilikinya seolah memaksa keluar dari dalam hati. Ia cemburu, walau ia tahu bahwa ia tidak punya hak untuk itu. Ia ingin melepas Gwen, tapi sekarang keinginan itu justru lenyap tak bersisa. Ia tidak bisa rela, sampai kapan pun ia tidak akan pernah bisa rela.
Rasanya sangat menyiksa melihat mereka berdua kencan romantis di restorannya disini. Bahkan ia adalah orang bodoh yang menyiapkan semua ini untuk mereka.
Banyak yang ingin ia katakan dan tanyakan pada wanita itu. Ia ingin minta maaf, ingin bertanya bagaimana kabarnya, kemana ia pergi selama empat tahun ini, dan masih banyak lagi keinginan-keinginan yang sepertinya harus ia pendam jauh di dasar hati.
Sejak melihat Gwen dan George saling menggenggam tangan, Joe tidak tahan lagi terus berada di kitchen dan melihat mereka diam-diam dari sana. Ia kembali ke ruangannya yang terletak tepat di depan kitchen.
Cukup lama ia berada di dalam ruangan pribadinya. Hampir dua jam rasanya. Ia mulai merasa haus. Diambilnya gelas di atas meja kerja dan menghampiri dispenser yang terletak di sudut ruangan. Namun sayang, air di dispenser habis. Ia terpaksa harus mengambil air minum di kitchen dan harus menyaksikan pemandangan memuakkan itu lagi.
Tapi dua jam adalah waktu yang cukup lama, memikirkan kemungkinan mereka berdua sudah pulang, Joe pun beringsut ruangan untuk mengambil air minum.
Jujur saja harga dirinya sebagai seorang pria kekar terluka dengan bersembunyi karena cemburu.
Akan tetapi saat ia keluar ruangan, ia justru dikagetkan dengan sosok yang sangat ia rindukan sedang berbincang-bincang dengan Wallace di depan kitchen.
Merasakan kehadiran seseorang, wanita itu menoleh. Dan tatapan mereka pun bertemu. Diluar dugaan Joe, wanita yang ia kira akan melayangkan tatapan penuh benci padanya, ternyata justru melakukan hal yang sebaliknya.
Wanita itu menyunggingkan seulas senyum manis dan berkata,
“Apa kabar, Jonathan?”
***