8

1076 Words
Rebbeca Larina... Nama itu terus saja menggem di otak Jevin. Bagaimana bisa Beca adalah Rebbeca Larina, tapi kenyataannya seperti itu. Wanita itu berubah banyak. Mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Satu tahun lalu, Rebbeca menghubungi dia—meminta izin untuk menggunakan fotonya sebagai visualisasi tokoh dalam naskah novel yang diterbitkan dalam paltform novel online—w*****d namanya, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku fisik. Mereka hanya berkomunikasi sesekali lewat direct message i********:, dan satu kali bertatap muka langsung melalui skype—saat Rebbeca mau meminta tanda tangan untuk giveaway novel. Rebbeca yang dulu dia hadapi—tidak seperti sekarang, jauh berubah—jangan salahkan dia tidak mengenali wanita itu. Dulu Rebbeca sangat chubby dengan pipi kemerahan, lucu, seperti tokoh-tokoh animasi. Dan sekarang... apa yang terjadi pada wanita itu. Perubahannya terlalu ekstream! Setahun... dan Jevin tidak mengenali wanita itu. Semua berubah. "Bang...," Jevin memanggil Bang Jimmy yang sibuk menyusun rencana peluncuran produk coffee sachet milik Jevin. "Apa?" "Menurut lo, kenapa wanita yang terlihat bahagia sama pernikahannya—santai sama penampilannya setelah punya banyak anak-anak, terus tiba-tiba berubah 180 derajat?" Bang Jimmy berhenti mengetik laptop, menutup setengah, dan memberikan tatapan menyelidik ke Jevin. Bahkan sebelum menjawab, Bang Jimmy mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai kopi Jevin yang sepi dan gelap seolah sedang memastikan tidak ada orang lain yang mendengar mereka. "Kenapa? Nyokap berubah? Rajin ke salon? Diet?" "Eh?" "Jev, gini... wanita menikah yang biasanya nyaman sama penanmpilan mereka, percaya diri—ah, nggak masalah gue gendut laki tetap doyan. Dan tiba-tiba dia mau berubah... berarti ada something bos—gila, bokap lo ketahuan jalan sama abg mana?" Jevin meraih botol mineral kosong, lalu melemparkannya tanpa ampun—tepat mengenai wajah Bang Jimmy. "Mulut sama otak dijaga! Bapak gue masih indehoy sama nyokap di Bali... Nyokap juga nggak perlu diet, udah kurus!" "Yey! Jangan salahin gue kalau pikiran gue bercabang! Pertanyaan lo juga aneh...." "Lo kan udah nikah, siapa tahu lo ngerti." "Hmm." "Gue cuman penasaran aja, teman gue... biasanya dia nggak masalah sama penampilannya setelah punya anak tiga. Dan sekarang, tiba-tiba dia berubah." Dulu Jevin pernah nggak sengaja nonton live i********: Rebbeca, ada pertanyaan tentang apa dia nggak mau diet—dulu Rebbeca pernah share penampilannya sebelum menikah, karena dari itu pembacanya bertanya. Dan saat Rebbeca membagikan penampilannya dulu, Jevin tidak melihat—cerita tentang itu pun dia dengar dari jawaban Rebbeca. 'Pasti liat foto zaman dulu aku ya... nggak, aku nyaman gini. Suami aku juga nggak nuntut apa-apa.' "Ya, pasti ada masalah." "Masalah?" "Iya. Dorongan kuat buat si wanita menikah berubah. Banyak faktor; kayak dia diledekin sama lingkungannya—body shaming, jadi dia berubah... atau ya ini, alasan ini biasanya membuat wanita menikah mulai ketar ketir diet, mempercantik diri—suaminya menunjukkan tanda-tanda melirik wanita lain atau udah terbukti jelas selingkuh." Bang Jimmy merapikan ikatan rambut panjangnya. "Biasanya faktor terakhir paling sering mendasari itu." Jevin tertegun. Apa mungkin? Tapi, Rebbeca memang terlihat tidak sebahagia dulu. Mungkin itu alasan Jevin terdorong mendekati Rebbeca sebelum tahu siapa dia... beberapa minggu yang lalu, Jevin menemukan Rebbeca sebagai wanita karir yang kesepian, rapuh—hanya berteman dengan laptop. Kadang Rebbeca juga terlihat putus asa, hingga mendorong Jevin untuk nekat mendekatinya. Mempunyai keinginan untuk melindungi Rebbeca. Pandangan berbeda dari yang dia lihat satu tahun lalu—saat itu, meskipun hanya melalui skype dan berlangsung sepuluh menit. Sorot mata Rebbeca menggambarkan wanita paling bahagia saat mengatakan dia mempunyai suami dan tiga anak yang lucu, sampai membuat Jevin iri setengah mati. Rebbeca mengatakan umur mereka sama, tapi Rebbeca terlihat sudah menggenggam seluruh dunia. Sementara dia, sibuk bekerja—meniti karir sampai tidak punya waktu mencari pasangan serius. "Emang kenapa sih, Jev?" Apa itu alasannya Rebbeca menyendiri di Indonesia? Sialan! Sepertinya ini lebih rumit dari dugaan Jevin. Lagipula, mana mungkin wanita yang pernikahannya bahagia mau mencium pria asing—bahkan nyaris membiarkan pria itu menghangatkan ranjangnya. "Woi!" "Apaan sih, Bang?" "Kenapa?" "Apanya?" "Ya, lo tanya soal beginian." "Ada teman gue. Dia berubah." "Teman yang mana?" "Yang itu..." Sadar kalau Bang Jimmy akan terus memaksa, sementara dia belum siap menceritakan hubungan—pantaskah antara dia dan Rebbeca disebut hubungan? Jalinan aneh. Ya—dia belum siap menceritakan jalinan aneh yang terjalin antara dia dan Rebbeca. "Gue balik," ujar Jevin sambil memutar kunci motornya. "Terus ini? Katanya mau ngomongin soal kopi." "Besok aja ya? Gue capek baget." "Kebiasaan deh lo!" Memamerkan senyum polos Jevin lalu berdiri, dan bersiap meninggalkan Bang Jimmy. "Atau gue ikut lo aja, terserah lo mau acara launchingnya kayak apa. Lo kan selalu tahu yang terbaik buat gue." Jevin menaik turunkan kedua alisnya, kemudian mengedipkan satu mata dengan cara yang cetil. "Jev... gue masih doyan perempuan. Mau lo segenit apa, gue nggak bakal terpesona!" Jevin tertawa lebar dan berkata, "sialan! Gue juga nggak doyan sama lo, Bang." Lalu, benar-benar keluar dari kedai kopi itu. Jalanan malam ibu kota tergolong sepi, jadi Jevin bisa melajukan motornya dengan speed cukup kencang. Tidak butuh waktu lama untuk Jevin sampai di parkiran khusus motor besar yang disediakan pihak pengelolah. Saat berhasil turun dari motor dan berjalan menuju lift, Jevin kembali memikirkan Rebbeca. Dia mengambil ponsel sambil menunggu lift, membuka aplikasi i********: dan memasuki profile RebbecaLarina. Feed i********: Rebbeca didominasi tentang novel dan quote, walaupun tidak seaktif dulu. Setahun belakangan, dia hanya memposting beberapa feed baru. Tidak ada story. Tidak ada live. Jevin mengklik salah satu postingan Rebbeca.        "Kamu terlalu asyik bermain di luar, sampai lupa ada aku yang menunggu di rumah." Tanpa sadar, Jevin menahan napas. Lalu pindah pada post yang lain.        "Hei kamu, penggenggam hatiku. Kau apakan hati ini? Tak ada debaran. Tak lagi bergerak. Seolah mati." Terlalu asyik memperhatikan isi i********: Rebbeca, Jevin sampai tidak sadar lift sudah membawanya ke lantai yang dituju. Butuh beberapa detik bagi Jevin mengalihkan pandangan dari ponsel, dan menyeret kakinya keluar lift. Begitu melewati pintu apartemen Rebbeca, dia berhenti sejenak di sana. Apa yang terjadi pada kehidupanmu selama setahun ini? Apa yang merubahmu begitu banyak? Rebbeca yang riang dan memancarkan kebahagian, kamu buang ke mana wanita itu? Jevin mengulurkan tangannya ke pintu apartemen Rebbeca, tidak mengetuk, apalagi memanggil nama wanita itu. Hanya menyandarkan telapak tangannya di sana seolah itu wajah Rebbeca. Seolah dia sedang mengelus pipi lembut Rebbeca, menenangkan wanita itu dari segala kegelisahan yang tidak dia ketahui dan melingkupi Rebbeca sedemikian rupa. Kisah hebat macam apa yang kamu lewati? Semoga aku bisa menjadi teman yang kamu percaya untuk mendengarkan ceritamu. Untuk pertama kalinya, Jevin merasakan dorongan kuat untuk melindungi seorang wanita. Cukup lama Jevin berdiri seperti orang bodoh di depan pintu apartemen Rebbeca, setelah puas—dia beranjak dari sana, memasuki apartemennya sendiri dan berharap rencana makan malamnya besok akan berjalan lancar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD