"Gak makan dulu, den?" "Gak, bi. Mau berangkat dulu." Ia berpamitan. Kemudian ya langsung pergi deh. Kadang sih ia suka sarapan. Walaupun makan sendirian kan setidaknya ada ocehan si bibi yang menemani. Tapi berhubung ini akan membuatnya terlambat, jadinya ya berangkat saja. Ia buru-buru berjalan menuju motornya di garasi. Saat keluar dari pintu samping itu eeh ternyata ada tamu di depan mata. Teman-teman kakak lelakinya. Ia menghela nafas. Membuka ponsel untuk menelepon kakak perempuannya. Ya biar pintu kamar dikunci. Maklum kan kakak cowoknya gak punya otak. Tapi sialnya tak diangkat. Akhirnya, ia buru-buru balik lagi tuh. Berlarian ke lantai atas untuk memastikan pintu kamar kakaknya dikunci. Ia menghela nafas lega begitu dikunci. "Bibi yang kunci, den." Si bibi muncul tuh sambil

