03. Hanya tipuan?

1238 Words
"Bangun sayang." Bisik Aldo di telinga istrinya. "Kak Aldo?" Gisel mulai membuka matanya, dan terheran karena Aldo membangunkannya dengan cara yang begitu lembut. "Gimana tidurnya semalam, nyenyak?" Gisel mengangguk. Gisel merapatkan tubuhnya ke arah Aldo, menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang mendadak menjadi wangi kesukaannya sekarang. "Kenapa, bau ya? Aku belum mandi sih." "Aku suka wanginya, em mungkin dedek bayi yang minta." Ucapan Gisel membuat Aldo terkekeh. "Dedek mandi yuk, ayah mandiin ya?" "Ayah?" "Apa bunda." Pipi Gisel bersemu merah, hatinya menghangat ketika Aldo menyebut diri mereka sebagai ayah dan bunda. Aldo benar-benar melakukan syarat yang Gisel berikan waktu itu. "Ternyata kamu cantik banget ya." "Kak Aldo gombal." "Serius, apalagi baru bangun tidur begini." Aldo menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Gisel. Tubuhnya semakin mendekat, bibir itu mendarat dengan sempurna pada bibir ranum istrinya, mengulumnya seolah bibir itu adalah permen yang sangat manis.  ***  "Aduh pengantin baru pagi-pagi udah keramas aja."Goda Vania ketika melihat anak dan menantunya baru menuruni tangga. "Mama kayak gak pernah muda aja." Jawaban Aldo membuat Gisel yang ada di sampingnya semakin malu dan salah tingkah. "Pantesan udah gol duluan, kamu harus main aman Do. Jangan keseringan, mending kalian konsultasi dulu sama Winda, dia kan dokter kandungan tuh." Ucap Vania. "Aman kok mah." Aldo menarik kursi di depannya, "Duduk sayang." "Makasih." "Mama seneng deh kamu nikah sama Aldo, jadi kamu jadi anak mama beneran deh sekarang." Ucap Vania dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya, hal itu selalu menjadi pusat perhatian untuk Aldo. Bukannya marah karena Aldo sudah menghamili anak orang, tapi kedua orang tuanya malah kegirangan ketika tau yang dihamili oleh Aldo adalah Gisel, gadis yang sangat mereka sukai. "Kan dari dulu Gisel juga anak mama." "Tapi dulu gak tinggal di sini." "Bentar lagi Aldo sama Gisel juga gak tinggal di sini." Vania langsung melotot tidak suka ke arah Aldo. "Aldo udah punya rumah sendiri mah." "Kamu mau bawa mantu dan cucu mama tinggal di apartemen? Aldo, kamu gak kasian apa anak istri kamu tinggal di apartemen sumpek punya kamu itu." "Siapa bilang mau tinggal diapartemen?" Tanya Aldo. "Terus mau tinggal dimana lagi?" "Blok depan tuh, rumah baru." Jawab Aldo dengan bangga. "Yang baru di bangun itu?" Tanya Vania memastikan. Aldo mengangguk. "100 buat mama. Keren gak, baru 90% sih. Rumah impian aku dari jaman smp itu." Tanpa sadar Gisel tersenyum, Aldo akan membawanya tinggal di rumah impian Aldo. Ya paling tidak untuk 8 bulan kedepan. "Nanti kita ke sana ya? Kamu bebas desain kamar kita, eh kamar anak kita juga." Ucap Aldo. Apakah ini adalah bagian dari akting di depan keluarga besar? Entahlah. "Mama jadi iri deh." "Iri kenapa?" Tanya Yuda yang baru saja bergabung di ruang makan. "Aldo kasih kado rumah ke Gisel, bebas desain kamarnya lagi. Dulu papa gak gitu sama mama." Rajuk Vania, walupun usia mereka sudah tidak muda lagi namun jiwa mereka masih layaknya seorang remaja yang sedang kasmaran. "Milih desain kamar atau liburan?" Tanya Yuda. "Liburan dong." Ucap Vania dengan semangat, Aldo hanya geleng kepala melihat hobi kedua orangtuanya yang hobi traveling. "Aku gak mau ya punya adik." "Haha, kasihan mama kamu lah Do kalau harus hamil lagi. Cukup kamu aja." "Kalau mama bisa hamil, mama juga mau tau punya anak lagi. Tapikan—" "Gak usah diinget yang dulu-dulu, Aldo aja udah cukup buat papa." "Iya ma, gak udah dipikirin."  ***  "Kak Aldo yakin izinin aku ikut campur buat beresin ini?" Gisel menatap bangunan kosong yang cukup luas. Ini adalah rumah yang di maksud oleh Aldo tadi pagi. "Ternyata kamu gampang dibohongi juga ya?" Aldo tersenyum sinis ke arah Gisel, tangannya dia lipat depan d**a. "Kamu siapa bisa ikut campur desain interior rumah aku?" "Maksud kak Aldo? Tadi kan--." Aldo tertawa cukup keras, melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Gisel. "Bodoh!" Umpat Aldo. "Aku udah sewa orang buat desain interior rumah ini, dan setelah semuanya jadi kita akan pindah ke sini." Aldo berjalan melewati Gisel yang masih mematung, dia bingung dengan perubahan sifat yang ditunjukkan oleh Aldo. Seingatnya tadi pagi dia masih bersikap sangat manis dengannya, tapi sekarang Aldo berubah seperti saat mereka sebelum menikah. Datar dan dingin. "Kenapa diem aja? Ayo ikut aku." Teriakan Aldo membuyarkan lamunan Gisel. "I-iya." Mereka berhenti di taman belakang, disana ada sebuah rumah kecil, kira-kira ukuran 4 x 6 meter. Didalamnya hanya terdiri satu ruang kosong dan satu kamar mandi. "Setelah kita pindah, kamu tidur di sini." "Maksud kak Aldo?" Aldo mendesah pelan. "Kamu tinggal di sini, tidur di tempat ini. Paham?" Ucap Aldo penuh penekanan. "Tapi kata kak Aldo, kita akan tinggal di sana?" Gisel menunjuk rumah besar milik Aldo. "Kamu pikir aku mau tinggal salamanya sama kamu? Tidur seranjang sama kamu? Cih, kamu gak lebih dari seoarang perempuan kotor. Apa pantas aku hidup bersama kamu?" Bagai disambar petir, ucapan Aldo mampu menyayat hati Gisel yang rapuh. Ucapan Aldo mampu mencabik-cabik hatinya, baru semalam Aldo bersikap manis dengannya namun kini Aldo berubah kembali. "Gak usah nangis! Aku gak mempan kena air mata palsu dari kamu." "Maaf." Gisel segera menghapus air matanya dengan kasar. "Gak guna. Sekarang kamu masuk, untuk saat ini kamu boleh nunggu di dalam selama aku pergi." "Kak Aldo mau kemana?" Tanya Gisel takut-takut. "Mau ketemu Kania, dia lagi sakit." Jawab Aldo dengan acuh. "Kak Aldo udah janji sama aku gak akan punya hubungan dengan perempuan lain kan?" Protes Gisel. "Aku gak segila itu buat nurutin kemauan kamu. Dan satu hal yang harus kamu inget, aku hanya menjadi suami kamu di hadapan keluarga kita dan rekan bisnis aku, selepas itu semua kamu adalah pembantu di rumah ini." Setelah mengucapkan itu semua, Aldo segera meuju mobilnya. "Kak Aldo, tolong anterin aku pulang aja. Aku takut di sini sendirian, ini juga udah mau hujan." Gisel mengetuk pelan kaca mobil Aldo. "Kalau aku anterin kamu pulang dan aku pergi lagi yang ada orang rumah bakalan curiga, udah kamu tunggu aja di teras. Aku gak akan lama." Aldo melemparkan jaket miliknya. "Pake ini kalau nanti hujan." Setelah itu Aldo menginjak gas mobilnya, meninggalkan Gisel di sana sendirian. "Ya Allah gimana ini, mana aku gak bawa hp."  ***  "Aldo." "Kania, kamu kenapa hem? Kok bisa sih sampai di rawat gini?" Tanya Aldo setelah sampai di rumah sakit tempat Kania dirawat. "Gara-gara kangen sama kamu." "Ohh udah bisa gombalin aku nih ceritanya, siapa sih yang ngajarin kamu gombal gini?" Kania tertawa mendengar ucapan Aldo. "Ya kamu lah, siapa lagi coba?" "Bisa aja kamu. oh iya, udah minum obatnya?" Kania menggeleng. "Aku gak suka obat Do." "Tapi kamu harus minum obatnya, biar cepet sembuh." Aldo mengitari brankar dan mengambil obat Kania yang sudah disediakan pikah rumah sakit. "Minum ya obatnya." Bujuk Aldo. "Kamu selalu bisa bikin aku jadi senurut ini Do, lemah aku kalau di deket kamu." "Haha, harus nurut dong kalau sama aku." "Hemm." "Nih minumnya." "Makasih." "Sama-sama." "Kamu bakalan jagain aku di sini kan?" Tanya Kania. "Iya, tapi gak bisa sampe malem. Nanti aku telpon asisten kamu aja ya biar jagain kamu di sini?" Kania menggeleng. "Aku maunya sama kamu Do, biasanya juga gitu kok." "Sekarang beda Kania, aku gak bisa seleluasa dulu lagi buat ketemu sama kamu. kalau aku jaganin kamu di sini semaleman yang ada orang-orang nanti curiga." "Pasti gara-gara perempuan itu ya?" "Gak usah dipikirin, dengan dia mengembil kebutusan dengan menjebak aku itu tandanya dia udah siap dapetin segala konsekuensinya." "Janji ya setelah anak haram itu lahir, kamu harus pisah sama dia!" Aldo mengangguk, "Iya." "Ehh, yaampun maapin ai ya cin. Diluar ujan deres banget, baju Bela jadi basah kuyup begini. Mana jalanan macet ampun deh ah." Dia adalah asisten yang dimaksud oleh Aldo tadi, biasa di sebut Bela. "Alesan." Cibir Kania. "Yai bisa keluar kalau gak percaya. Pohon di jalanan pada tumbang malang melintang, mana geledeknya gede banget." "Iya-iya percaya." Mendadak perasaan Aldo menjadi gelisah, bagaimana keadaan Gisel di sana? "Hei, you ngapain ngelamun aja." "Kan Bela udah dateng, aku pulang dulu ya." Ucap Aldo. Kania menggelang, "Do." "Tadi aku udah ninggalin Gisel di pinggir jalan, dan diluar hujan badai. Kalau terjadi sesuatu sama dia gimana?" "Ya terserah, mati aja sekalian." Jawab Kania dengan ketus. "Gak boleh gitu, udah ya aku pulang dulu. Besok aku kesini lagi. Bel, jagain bos lo." "Siap gentengku." to be continue..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD