Bab 2. Sapu Tangan Pak Bos

1831 Words
Oh Tuhan, berapa kali pun aku melihat kalender, waktu acara itu sama sekali tak bergeser. Meski otakku penuh dengan rumus excel, tetap saja tanggal-tanggal horor membayang di pelupuk mata dan sukses mengalihkan fokus. Aku memberengut, menghitung waktu yang bisa kugunakan untuk berpindah ukuran baju minimal turun satu tingkat jadi lebih kecil. No! Hanya kurang dari dua minggu? Oh Tuhan, mana bisa aku menurunkan lima kilogram dalam dua minggu? Ini sih, mustahil. Kutandai di ponselku, dua tanggal kramat. Satu tanda untuk tanggal pernikahan Dion dan satu lagi arisan keluarga. Kenapa arisan keluarga? Karena selain masalah pernikahan mantan, ada lagi yang bikin otakku seketika porak poranda yaitu ancaman Ibu untuk aku membawa calon di hari itu yang kini terancam gagal. Huh! Aku menghembuskan nafas, lalu melangkah ke dalam lobi kantor yang sudah sesak dengan para pekerja. Mereka sama sepertiku terlihat cemas karena sepuluh menit lagi jam kantor di mulai. "Dara buruan! Kenapa lu masih liatin hape mulu!" Suara Soraya terdengar nyaring, wajahnya terlihat kesal karena aku lelet. Kami satu kosan dan kami pun terlambat berbarengan, bedanya aku gendut dia kurus. Aku selalu dibully dia selalu dipuja. Kami dua manusia yang berbeda seperti langit dan bumi yang tinggal satu atap yang letaknya tak jauh dari kantor. "Iya, bentar!" jawabku menyeret tubuh gempal ini. Aku sadar tak ada waktu buat menyesali nasib. Aku langsung berlari menyusul Soraya yang telah lebih dulu masuk antrian. Sampai di lobby, aku terkaget-kaget melihat pemandangan menakjubkan di depanku. Bagaimana bisa antrian masuk lift sepanjang ngantri BPJS? Aku menelan ludahku pahit. Ternyata bukan kami saja yang hari itu kesiangan, ada berpuluh-puluh orang yang sedang berdiri cemas mengantri bersama kami dan mereka pasti akan berdesak-desakan masuk. Semua ini terjadi karena hanya satu lift yang beroperasi sementara satu lagi dalam perbaikan. Melihat fenomena pagi yang bising, aku mulai cemas. Yang body-nya enggak over saja sudah susah masuk, lalu nasibku yang dihitung dua orang ini, bagaimana? Beberapa kali aku tersingkir keluar lift karena tanda lift yang kepenuhan berbunyi. Bip! Bip! "Maaf Ra, kamu ke yang selanjutnya aja ya?" "Maaf Ra, ini udah penuh!" Nada-nada mengusir membuat aku harus mengalah. Soraya yang pada awalnya berbaik hati untuk menungguku sampai mendapat giliran demi rasa pertemanan, mulai terlihat gelisah. "Gimana nih, gue gak apa-apa duluan? Takut Pak Syakir udah di ruangan," sesal Soraya. Aku melirik jam tanganku, betul tiga menit lagi kami harus briefing pagi dan aku masih harus tersingkir. "Oke, lo duluan aja gak apa-apa, santai gue bisa nunggu giliran berikutnya," kataku menghibur. Soraya menunjukan sorot mata tak enak sebelum pintu lift tertutup, aku tersenyum dari luar lift dengan terpaksa. Lift pun membawa kawanku itu ke tujuannya. Aku menghela nafas berulangkali sambil memutar-mutar sepatuku gelisah. Pasti kali ini aku akan kena damprat karena telat. Sebenarnya, beberapa kali aku memang selalu jadi kacung di kantor ini. Bukan hanya urusan lift, kadang mereka menyuruhku membuatkan minuman atau memintaku fotokopi seenak jidat mereka. Kata Soraya, aku ini terlalu baik sementara kata Rasyid aku ini salah mengambil tindakan. Bagaimana pun tidak begitu cara membuat mereka menyukaiku dan tidak menghina lagi. Jika dipikir-pikir, kedua sahabatku itu memang benar, aku ini mungkin terlalu naif juga baik tapi paling tidak itu cara aku bertahan untuk bisa tetap berada di kantor, karena aku membutuhkan pekerjaan ini demi bertahan hidup. Ting! Suara lift kembali sampai di lantai lobi. Untunglah kini tinggal aku, layaknya orang cacingan aku menunggu tak sabar. Lift pun terbuka, aku langsung melangkahkan kaki. Baru saja satu langkah, sebuah gerakan cepat berhasil mendahuluiku masuk. Aku mendongakan kepala kaget untuk melihat si pemburu lift. Bagaimana bisa dia ada di sini? Perasaan tadi hilalnya juga enggak kelihatan. Sejak kapan? "Pak Syakir telat juga?" "Iya, ada masalah?" "Eng-enggak." Jawabku langsung masuk lalu pura-pura sibuk. Baiklah, aku tidak tahu ini musibah atau anugerah, yang jelas aku pastikan lift akan lebih menegangkan dari biasanya. *** Aku berdiri kaku di samping Pak Syakir. Lantai yang kami tuju adalah lantai sepuluh. Mungkin karena di sampingku adalah Bos, entah kenapa lift terasa berjalan sangat lambat. Selain itu, suasana lift berubah jadi sangat canggung. Mana hanya ada kami berdua. Dag ... dig ... dug .... Suara debaran jantungku menabuh genderang perang. Aku menatap kaca lift yang memantulkan bayangan kami yang berendengan. Ada yang aneh pada bayangan itu, kenapa aku kok ngerasanya kaya angka 10 ya? Pak Syakir yang tinggi menjulang adalah angka satu dan aku si nol yang bulat. Honey-bunny-sweety-roti! Ini sih namanya penghancuran harapan tanpa secara langsung. Aku mengamati dalam hening wajah Pak Syakir. Hidung mancung, mata coklat, rambut model jarhead dan yang paling menarik adalah rambut tipis yang tumbuh di rahangnya yang lancip. Apa dia tidak bercukur tadi pagi? Kasian, jomlo sih ... jadi enggak ada yang membantunya mencukur rambut nakal. Namun, terlepas dari hal itu aku senang, karena dari semua perbedaan, paling tidak kami punya satu kesamaan yaitu single. "Kenapa kamu telat?" tanya Pak Syakir membuka percakapan. Aku menoleh, ini pertama kalinya aku menatap Bos-ku dalam jarak terdekat. "Eh, saya bangunnya kesiangan Pak," jawabku gugup. Semoga dia tidak tahu dari tadi aku mengamatinya. "Ka-kalau Pak Syakir kenapa telat?" Oke, Dara kamu sudah mulai berani sekarang. Aku menyesali pertanyaan bodoh yang begitu saja meluncur. Lelaki itu menoleh padaku, sehingga mataku dan matanya berada pada satu garis lurus. Gelenyar aneh merayap sukma kala tatapan kami bersirobok. "Apa saya perlu kasih alasan?" "Enggak sih, maaf, Pak." Refleks aku menundukan kepala seraya memukul mulut. Pak Syakir tersenyum miring, dia kemudian melihat jam di pergelangan tangannya lalu kembali menatap ke depan. Beberapa menit kami diliputi keheningan, rasanya lift berjalan sangat lambat. "Saya ... saya baru menghajar calon Ayah saya yang juga mantan kamu!" ucapnya tiba-tiba setelah kami cukup lama saling berdiam diri. Aku menoleh padanya dengan tatapan tak percaya. Pak Syakir ngajak berantem Dion? Padahal pernikahannya kan bentar lagi? Wah, karma memang nyata. Tak kusangka, ada friksi internal keluarga juga. Tragis. "Kenapa? Kaget?" Aku mendesis lalu melemparkan wajah ke arah lain, seolah tidak perduli. "Enggak, karena bukan urusan saya lagi," jawabku formal. Kuakui, aku cukup syok lelaki itu ternyata tahu kisah tentang aku yang dicampakan. Gosip memang lebih kejam dari pembunuhan. Lagi-lagi, lewat pantulan kaca lift aku bisa melihat ekspresi Pak Syakir yang kaku. "Oke, syukurlah! Paling tidak saya bahagia bahwa Ibu saya tak menikah di atas penderitaan wanita lain," ujarnya miris. Aku tertegun, menatap nanar pada bayangan pria itu yang masih menatap lurus ke arah pintu lift. Aku menderita. Seandainya dia tahu, kuhabiskan sisa tabunganku hanya untuk tampil di pesta pernikahan itu dengan sikap tegar. Ting! Pintu lift yang terbuka membuyarkan kebekuan. Ketika Pak Syakir mendahuluiku keluar lift, tiba-tiba aku tersadar ada yang perlu aku sampaikan sebelum kami kembali menjadi orang asing, tanpa ba-bi-bu aku mengejar langkah panjang Pak Syakir. "Pak Syakir!" teriakku. Lelaki berjas itu berhenti, dia memutar tubuhnya menghadapku yang sedang mengumpulkan keberanian agar air mata tak jatuh begitu saja. Jujur. Aku benar-benar bersyukur dia melakukan, apa yang seharusnya aku lakukan. Ragu. Kutatap wajahnya yang menatap heran, dahinya sampai berlipat tiga menunggu ucapanku. "Sa-saya mau ucapkan terima kasih, karena sudah membantu menghajarnya," ujarku dengan bibir gemetar. Pak Syakir tersenyum tipis. "You're welcome." (***) Suasana di kantor hari ini sangat sibuk, hal ini cukup membuat perhatianku teralih 100% dari kejadian di lift tadi. Semua orang sedang mempersiapkan laporan bulanan. Berkas-berkas yang harus aku fotokopi sangat banyak, belum lagi ada yang minta ini-itu. Tentu saja, hal itu membuat aku sangat sibuk. "Dara, lo mau ke pantry kan? Sekalian bikinin gue kopi ya?" "Dara, lo bisa teleponin orang AC? AC-nya gak dingin nih!" "Dara, wajah gue bentol-bentol, apa gue dipelet?" Begitulah temanku, semua permasalahan selalu bertanya dan minta tolong padaku. Padahal aku tak pernah buka jasa konsultasi ataupun jasa bantu-bantu. "Dara! Minta tolong ini diperbanyak dua bundel aja, satu simpen di meja gue dan satu lagi di meja Rayi ya?" Kali ini Gea yang datang menghampiriku, dengan seenaknya dia menaruh tumpukan berkas di atas meja. "Tapi Ge, gue harus selesein kerjaan gue juga, soalnya Pak Syakir minta sore ini beres!" tolakku dengan nada menyesal. Ada rasa bersalah kala kutolak permintaannya. Nahas, rasa inilah yang membuat banyak temanku memanfaatkannya. "Yah Ra, bentaran doang, ya? Bisa ya?" Gea merajuk. Aku menatap Soraya dan Rasyid yang memberi tanda silang, memberi kode bahwa aku jangan mau diminta oleh Gea. Terakhir kali, aku membantu Gea malah kena omel Pak Syakir. Gea menaruh tangannya di pundakku, membuat aku mau tak mau menatap wajahnya yang dipasang sendu. "Mau ya?" "Baiklah, tapi aku bantu setelah kerjaanku beres ya?" "Oke. Makasih Dara!" Gea memelukku dengan perasaan senang. Melihat temanku senang, aku pun lega. Sudah kubilang kan, inilah yang membuat aku kadang tak bisa menolak dan menyusahkan diri sendiri. "Apa saya menggaji kalian untuk seenaknya bertukar job?" Suara bass dengan nada tinggi membuat pelukan Gea melonggar. Spontan kami melihat ke arah pria yang berdiri dengan memegang map di belakang Gea. Pak Syakir menatap kami dengan tajam secara bergantian. Secara spontan kami berdiri saat melihat Bos senewen, tak menyangka bahwa Pak Syakir bisa saja mendengar permintaan Gea. Di kantor ini memang dikenakan peraturan, agar kami bertanggung jawab pada kerjaan masing-masing tanpa merepotkan yang lainnya. Sebagai bentuk etos kerja dan tanggung jawab. "Eng-enggak Pak, anu.... " "Gea, bundel itu buat rapat sama tim audit internal kan? Kamu baru membereskannya sekarang?" Pak Syakir mengangkat tumpukan berkas yang ada di atas mejaku. "Iya Pak, saya tadinya mau meng-copy dulu jadi say--" "Minta Dara yang melakukannya?" sergah Pak Syakir. Gadis berambut pendek itu menundukan kepala hampir menangis. Gea emang baperan, sedikit ditegur saja, sakitnya berkepanjangan. Aku jadi kasian melihatnya. "Anu Pak, Dara emang suka nawarin bantuan iya kan Dar?" "Eh, aku?" tanyaku kaget seakan mendapat lemparan bola panas mendadak. "Benar itu? Bagus, jadi di sini ada yang mau jadi sok pahlawan!" sindir Pak Syakir tajam. Aku memberinya tatapan tak percaya, dia tak bisa menuduhku seenaknya. "Bukan Pak, saya hanya membantu mereka, maaf jika saya lancang!" ujarku membela diri. Pak Syakir tersenyum miris, dia kemudian melemparkan map ke atas meja dengan kasar. "Dara, tidak usah sok membantu yang lain jika kerjaan kamu sendiri belum selesai, fokus! Ini, laporan hasil tinjauan, perbaiki!" Pak Syakir menunjuk map itu dingin. Pria itu bagaikan memiliki kepribadian ganda, tadi pagi dia selembut kapas kali ini dia setajam pisau. "Lalu kalian! Jika saya lihat, ada yang coba menjadi parasit bagi perusahaan atau tim, hingga, orang lain merasa direpotkan, saya tak segan akan mengeluarkan SP, paham!" Tegasnya membuat semua kepala di ruangan itu menunduk dalam. "Paham Pak." Jawab kami serempak. Pak Syakir menghembuskan nafas lega, kemudian dia melihatku kembali. Aku langsung menundukkan kepala menghindari tatapannya, ingin rasa menangis saat ini juga. Baru pertama kali, aku ditegur di depan orang sebanyak ini. "Nih, sapu tangan!" ujarnya tepat di depanku. "Untuk apa, Pak?" "Ambil!" perintahnya tetap dengan wajah dingin. Walau bingung, aku mengambil sapu tangan Bosku yang galak itu. Tak ayal, mata kami bertatapan walau sekilas. "Saya gak mau disangka bikin nangis anak orang," ujar Pak Syakir sambil melangkah menuju ruangannya. Entah aku yang terlalu syok atau kege-eran. Walau lelaki itu sudah beranjak menjauh, dengan tampang belo’on aku masih menatap tubuhnya yang membelakangiku. Mungkin aku bingung. Bukannya baru saja dia memarahiku, lalu sekarang...? Maumu apa Bambang? Gemas banget deh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD