Mereka berlari menulusuri hutan, beberapa kali mereka harus berisitirahat, kondisi mereka semakin terlihat buruk dengan pakaina yang penuh dengan goresan dan semak-semak liar dan jangan lupakan tanah yang membuat mereka terlihat seperti gelandangan sekarang.
“hosh... bentar kita istirahat dulu..” ucap Nancy yang berada di tengah barisan.
Nancy mengangguk dan mengeluarkan minuman untuk mereka bertiga, menatap ke arah langit yang berhias ribuan bintang yang gemerlap dan bulan yang bersinar dengan lembut.
“Masih jauh perjalananya?”
Nancy menggeleng, “sekitar 30 menit lagi dari sekarang.”
“Ya udah ayo..” ucap Marcela.
Mereka melanjutkan perjalanan, melewati belasan perbatasan pack yang sangat lengah, ini sangat memprihatinkan dan mereka harus bertindak dengan cepat.
“Kita sampai..” ucap Nancy saat mereka berada di sebuah perbatasan hutan.
Nancy melihat sekeliling, mengucapkan mantra untuk menghilangkan jejak mereka dan membuka sebuah pintu penghubung yang tidak kasat mata, hanya anggota golden guide yang tersisa yang bisa melewati batas ini.
“Kita udah aman sekarang..”
Nancy melanjutkan perjalanan mereka yang tinggal beberapa puluh meter lagi, menelusuri aliran sungai yang akan terhubung dengan ruman Rose. Nich dan Marcela terkagum melihat perisai tak kasat mata yang mengelilingi daerah ini.
“Kita dimana? Dan kenapa tadi kamu hilangin jejak kita? Ada masalah?” tanya Nich.
“Kita ada di daerah khusus golden guide, ini tempat biasa Ana, Rose dan Joe beristirahat dari kegiatan mereka, ini tempat yang gak bisa dimasukin sama sembarang orang, beda halnya sama hutan terlarang karena tanda penghormatan, tempat ini yang membuat Rose siap menjadi ketua golden guide, makanya moonlight memberikan khusus buat Rose.”
“Dan kenapa aku hilangin jejak, karena kalau pagi para pasukan pengkhianat itu biasanya berkeliaran, mereka gak bisa masuk ke tempat ini karena yang mereka liat itu jurang yang curam, hanya anggota golden guide yang tersisa ditambah Joe, pengasuh Rose, yang bisa melihat ini hutan.”
“Kalau dia gimana? Dia juga kan awalnya anggota golden guide,” selak Marcela dengan cepat.
“Dia gak bisa liat Cela, Rose udah tau dari awal sebelum kita sadar, kalau dia itu pengkhianat, tapi kayaknya Ana yang lebih peka terlebih dahulu daripada Rose, makanya tempat ini dibuat biar anggota sisa golden guide bisa aman selama mereka dalam masa pemulihan.” Jelas Nancy.
“Ana udah ketemu kan?” tanya Marcela yang hanya dibalas gelengan kepala.
“Sampai sekarang kita gak tau Ana dimana, apa dia aman atau dalam bahaya, kita gak tau. Soalnya kita masih kekurangan orang untuk bergerak.”
“Sekarangkan udah ada aku sama Marcela, jadi pasti lebih gampang kita temuin anggota golden guide yang lain.”
“Iya bener, tinggal Mahendra, Michel dan Ana yang belum ditemuin.”
Mereka berhenti di sebuah rumah tua yang terlihat sedikit menyeramkan, Nich melihat sekeliling tanaman yang hanya satu warna, hitam, ciri khas dari seorang Rose.
“Kalian tunggu dulu, aku panggiling Ken kalau gak Joan.”
Nancy langsung berjalan masuk ke dalam rumah, menyisakan Nich dan Marcela yang masih mengamati sekeliling.
“Ciri khas Rose banget, hitam, semua harus hitam..” gumam Marcela yang berjalan ke arah kebun bunga yang tidak begitu besar.
Tidak berselang lama, Nancy datang dengan dua orang laki-laki yang sudah begitu lama tidak bertemu, Ken dan Joan. Dua laki-laki itu langsung menghampiri Nich dan Marcela, melihat kondisi mereka yang tidak jauh berbeda dari Nancy.
“Ayo masuk... aku yakin Rose pasti bakalan seneng.” Seru Ken.
“Hah? Apa? Bukannya Rose lupa ingatan?” tanya Nich dengan kebingungan.
“Hahaha iya, tapi dia sedikit-sedikit mulai inget kok.” Jawab Joan.
“Kalian genti pakaian dulu, udah itu kalia baru temuin Rose,” ucap Joan dengan mengarahkan pandangan ke arah Nancy, “di ruang tamu, kamu bisa anter mereka kan Nancy?”
Nancy mengangguk, “Ya Joan, aku bisa.”
Mereka berlima langsung masuk ke dalam ruangan, Nancy mengajak Marcela untuk masuk ke dalam kamar tidurnya, mengambil dua pakaian ganti untuk mereka berdua. Sedangkan Ken mengajak Nich untuk berganti pakaian, dan Joan berjalan ke arah ruangan Rose.
Tok.. tok...
“Rose.. kamu udah bangun kan?”
“Iya Joan, masuk aja.”
Joan langsung masuk ke dalam kamar Rose, menghampiri Rose yang sedang membaca beberapa buku tetua setiap pack dari anggota golden guide.
“Ada apa? Tumben banget, matahari aja belum muncul kok.” Rose langsung meletakan buku yang tengah oa baca di atas nakas, memfokuskan dirinya kepada Joan.
“Nancy udah datang, dia datang bareng Nich dan Marcela, anggota golden guide.”
“Hah? Beneran?” Rose langsung berdiri dan melangkah keluar menuju ruang tamu.
“Mana Joan?” Tanya Rose saat sudah sampai di ruang tamu.
“Dih dasar..” Joan menoyor kepala Rose dengan pelan, “merek masih siap-siap kali.”
“Long time no see Rose..” ucap suara bariton yang tidak asing.
“Pasti kamu Nich kan?” Rose membalikan tubuhnya menatap sosok laki-laki di depannya.
“Jelemaan burung pionix punya ciri khas di rambut dan kornea mata,” tambah Rose saat melihat Nich dari atas sampai bawah tubuh.
“Ucapan yang sama seperti dulu kamu ketemu aku.”
“Wah iya gitu?” tanya Rose sembari menelengkan matanya.
“Rose....” suara nyaring Marcela terdengar jelas, tanpa aba-aba Marcela langsung memeluk tubuh Rose, membuat Rose sedikit terhuyung.
“Kamu Marcela... suara bikin sakit telinga..” ringis Rose dengan wajah polosnya, Marcela langsung cemberut.
“Ais.. aku kangen sama kamu tau!”
“Jangan jadi penakut lagi Cela, kamu harus berani meskipun itu punya risiko besar. Oke?”
“Oke, siapa takut...”
“Jadi kita tinggal mencari 3 orang lagi?” tanya Rose yang diangguki oleh mereka berlima.
“Nancy, Nich, sama Marcela kalian bisa istirahat dulu sebelum aku bagi tugas. Sekarang Ken kamu cari ke pack penyihir utara, cari di salah satu gua yang tertimbun pohon dan di tutupi semak belukar, gua itu ada di dalam pack, aku yakin Mahendra ada di sana.” Perintah Rose yang diangguki oleh Ken.
“Kamu perginya saat matahari akan terbenam, jadi nanti nyampenya pas malam, kasih tanda dengan mengirimkan gelombang suara kamu, Mahendra pasti tau itu kamu.”
“Kamu Joan, cari ke pinggiran sungai dengan hutan terlarang, lebih mengarah ke pack Barat dan dekat dengan pantai utama, di sana nanti ada pohon yang lebih pendek dari pohon yang lainnya, arah dedaunannya pasti ke barat, aku yakin di sana ada Michela.” Perintah Rose kepada Joan, Joan mengangguk tanpa ada bantahan.
“Terus Ana dicari sama siapa? Kalau gak ada, biar aku yang cari Rose.” Tawar Nancy yang mendapatkan gelengan kepala oleh Rose.
“Kamu masih lelah, aku yang bakal cari sahabat aku sendiri, dia ada di dalam pack, bersembunyi di salah satu rumah anggota pack, dia menyamar dengan sangat pandai, kamu pasti susah kalau mencari dia. Untung aja aroma kita udah dihilangkan jadi gak terlalu sulit untuk bergerak.”