Samuel memandangi Sarah yang sedang membaca buku. Mereka berdua sedang berada di kantor Sarah setelah pertemuan di Loui tadi siang. Sesekali ia merapikan rambut Sarah yang menjulur ke depan dan menghalangi pandangannya. Tangan kirinya yang bersandar di bahu sofa panjang itu dan menopang kepalanya. Ia tersenyum manis dan mengagumi keindahan wajah Sarah dari dahi yang tidak terlalu lebar, mata yang bersinar, hidung yang kecil, bibir dan pipi yang merona. Saat itu ia ingat dengan seorang gadis yang duduk dihadapannya saat di perpustakaan. Gadis polos berkacamata yang hanya sekelebat ia pandang kala itu. “Kenapa?” tanya Sarah yang sadar bahwa tatapan Samuel sedari tadi tak lepas dari sosoknya. “Mungkinkah kita terikat oleh akai ito?” canda Samuel sambil tersenyum simpul. “Mustahil.

