Apa pun yang pernah aku tonton di bioskop maupun televisi tidak akan menyamai sensasi sebenarnya dari aksi kejar-mengejar. Film menggambarkan kejadian antara tokoh utama dan pengejar bersenjatakan senapan dengan amat terperinci. Mobil-mobil berpenumpang pria berseragam necis, senapan laras panjang dan pistol berdesing memuntahkan peluru, peluru menyerempet badan mobil—meninggalkan bekas galur dalam, ban mendecit di aspal, dan teriakan serta u*****n bersahutan. Sebagai penonton aku merasa berdebar setiap kali tokoh utama hampir celaka, peluru menyerempet pelipis, dan darah merembes keluar. Jantungku berdebar, berharap tokoh utama selamat. Selamat. Terbit keinginan menjadi tokoh utama superkeren, melawan kejahatan, dan membela kebenaran. Dulu. Sekali lagi aku ulangi, dulu. Ketika aku h

