SIDE STORY UNTUK THERESSA DAN VINCENT.
Kisah untuk menceritakan saat Theressa pertama bertemu Vanessa, dan Vincent yang suka padanya.
“VANESSA!” teriak pria yang betubuh tinggi dan atletis tersebut. Dia membuka jaketnya sebab sudah tidak sabar lagi, lalu menghentakkan kaki ke bawah dengan kesal. Mutlak, Vincent Aberanthy sudah tidak paham lagi kenapa dia bisa berhubungan darah dengan gadis yang bahkan tidak ada suaranya dari atas itu.
Sudah lebih dari dua belas menit dia menunggu di depan pintu, dan iya, benar, dia menghitung secara jelas kalau sudah dua belas menit dia berdiri di ambang pintu. Vincent Abernathy bahkan sudah mematikan lagi mesin mobil saking lamanya dia menunggu.
Seharusnya Vanessa yang lebih cepat dari dia, kan? Bagamana pun juga, ini adalah pesta graduasi dia. Masa malah Vincent yang lebih dulu siap dari pada dia?
Masih gladi bersih juga sih, tapi tetap saja.
Vincent yang malah terlihat lebih senang dari pada Vanessa yang masih juga belum turun.
Dia tahu kan ini masih latihan? Apa jangan – jangan dia malah berdandan seperti orang bodoh dan mengira kalau ini adalah acara graduasi sungguhan?
“Vanesa! Serius, jika kau tidak turun sekarang juga, aku yang akan naik ke atas dan menyeret kau ke bawah! Serius, apa sih yang kau lakukan? Ini hanya gladi bersih, sister, bukan acara sungguhan! Lima menit lagi jika kau tidak turun, aku yang akan menyeret kau turun, ingat itu!”
Vanessa, adiknya perempuan satu – satunya masih juga tidak menjawab. Sungguh, jika Vincent bisa, dia akan melempar Vanessa dengan botol minuman yang sedang dia pegang saat ini. Sayangnya, dia terlalu sayang pada adiknya itu.
Adik perempuan yang sepertinya tidak tahu konsep waktu. Atau mungkin dia tidak bisa melihat jam? Jam dinding di kamarnya cukup besar. Seharusnya dia bisa tahu kalau mereka sudah telat sekarang.
“Empat menit, Vanessa!” teriak Vincent lagi.
Bagus. Sekarang suaranya akan serak dan menyedihkan kalau dia harus teriak seperti ini terus. Dia mengerang kesal dan bersandar di sisi pintu, menatap ke atas tangga, namun adik perempuan itu masih juga belu terlihat.
Samar, dia mendengar suara gaduh dari atas, dan suara orang yang berlari – lari. Benar. Dia terlambat. Seharusnya Vincent membangunkan dia lebih dulu, atau memeriksa jika dia sudah bangun apa belum.
Dia berdecak dan memutar dua bola matanya.
“Tiga menit, Vanny sayang!” kali ini suara Vincent terdengar lebih tidak sabar dari pada ibu – ibu di antrian. Sungguh, semenjak masuk ke sekolah menengah atas, Vincent ini jadi lebih mirip seorang ibu muda dari pada laki – laki gagah yang juga atlet kebanggaan kota.
Apa mungkin karena dia merasa lebih dewasa sekarang?
Itu bisa jadi sih, sebab Vincent sendiri tidak tahu jika dia ini sebenarnya pria yang tangguh, atau hanya seorang laki – laki soft yang mudah sekali dirubah pikirannya. Bagi Vincent sih, dia atlet perkasa yang tidak butuh bantuan dari siapa pun, tapi terkadang, dia juga bisa lembut seperti seorang ibu.
Terlebih, dia yang selalu mengurus Vanessa selama ini.
“Vanessa, jika kau pikir aku bercanda dan tidak benar – benar akan menyeret kau ke bawah, aku serius. Dua menit lagi, adik tercinta, dan kau akan aku tarik!”
Vincent membenarkan postur tubuh dan bergerak cepat. Dia membuka pintu lebar sebagai sebuah persiapan bagi Vanessa saat nanti dia tarik paksa. Pria itu menderap ke dalam rumah, tatapannya fokus ke depan tangga yang kosong.
Dia mendongak ke atas dan melihat area lantai atas masih hening. Bunyi langkah kaki tadi tidak terdengar lagi.
“Vanessa, setidaknya jawab aku! Cepat turun ke bawah kau gadis tidak tahu waktu!” Vincent menggerutu. Dia memegang sisi tangga dengan erat. “Jika aku lihat kau masih tidak muncul di atas tangga satu menit lagi—“
“Bisakah kau tunggu sebentar?” teriak Vanessa dari dalam kamarnya. Dia terdengar seperti kehabisan napas.
Bagus. Apa dugaan Vincent benar? Bisa – bisanya dia terlambat ke acara gladi bersih graduasi dia sendiri.
Pria itu berdecak lagi. “Satu menit lagi, Vanny!”
“Tidak! Lima menit,” protes Vanessa dari atas. Gadis itu terdengar seperti habis lari maraton. Mungkin saking dia terburu – burunya. Vanessa terdengar seperti meringis. “Lima menit, Vinny. Serius!”
“Tidak ada lima menit lagi!” Vincent membalas. “Kau sudah terlambat.”
“Biarkan sajalah, lagi pula namaku dari V. Vanessa. Aku akan ada di bagian paling akhir. Tidak mungkin nama aku di panggil dari awal.”
Dan Vincent bisa merasa simpatik dengan kalimat itu. Sebagai Abernathy bersaudara, mereka bertiga ini selalu kebagian hal – hal di akhir.
Valentino.
Vincent.
Dan Vanessa, tentu saja.
Tiga Abernathy bersaudara yang cukup eminen di sekolah. Bukannya mereka sombong, tapi memang benar adanya kalau mereka cukup terkenal di sekolah. Bukan itu saja, Vanessa juga tahu kalau memang status terkenalnya dia itu berkat dua kakak laki – laki yang tampan dan tinggi, dan juga bintang atlet.
Semuanya itu berkat prestasi mereka masing – masing. Valentino dengan prestasi akademis, Vincent dengan prestasi non akademik dan merupakan atlet terbaik di sekolah, lalu ada Vanessa. Vaneesa itu yah, setidaknya dia cukup berbakat dalam bidang seni.
Setidaknya, itu yang dia pikirkan.
“Vanessa, aku akan naik ke atas dan—“
Gadis yang sedari tadi di tunggu berlari ke bawah secara cepat. Dia tergesa dengan pakaian yang kusut dan tas yang masih terbuka. Vincent berkacak – pinggang, persis seperti seorang ibu yang sedang marah. Dia raih tas milik Vanesaa dan menutupnya saat gadis itu sudah sampai di bawah.
Vanessa berlari ke dalam dapur, lalu keluar lagi sembari memegang roti kecil yang sudah dia gigit besar. Gadis itu menarik napas dalams sembari mengunyah.
“Sudah?” tanya Vincent dengan nada bicara sarkas.
Vanessa menyeringai dia dengan mulut penuh. Gadis itu mengikuti kakaknya keluar. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan segera memakai sabuk pengaman. Vincent sibuk dengan mobil, sementara Vanessa sibuk makan.
Sebuah sarapan sederhana sebab dia memang mutlak terlambat.
Ini bukan pertama kalinya Vanessa seperti ini.
“Kau harus membuat alarm dua puluh kali besok,” gerutu Vincent sembari mulai keluar dari dalam garasi rumah mereka. Dia memutar mobil dan berada dalam posisi di sisi jalan rumah. Pria itu menunggu sampai pintu garasi yang menutup otomatis benar – benar tertutup.
“Jangan berlebihan. Aku tidak setelat itu,” kata Vanessa sembari mengunyah. Hal itu membuat Vincent meringis dan mendorong bahu Vanessa kesal. Gadis itu hanya melotot dan tidak peduli sama sekali.
Roti yang tersisa dia masukkan ke dalam mulut semuanya. Vincent membuang napas dan menggeleng. Saat dia melihat kalau pintu garasi sudah tertutup rapat, Vincent mulai menginjak gas dan pergi dari rumah.
“Kau tahu, akan sangat bodoh jika kau terlambat pergi ke graduasi sendiri. Kau akan masuk high school setelah musim panas, Vanny. Jangan pikir ini hanya mainan.”
“Iya, dan itu masih sekitar . . . empat bulan lagi. Kau yang jangan berlebihan.”
Vincent memukul kening adiknya dengan gemas.
“Aw!” Vanessa mengaduh. “Untuk apa itu?”
“Untuk membuatu aku menunggu padahal aku tidak perlu menunggu kau yang tidak tahu waktu,” gerutu Vincent. “Dan untuk kau yang mengatakan aku berlebihan. Aku serius, besok jangan pernah berpikir kalau kau bisa bangun telat, Van. Walau namamu ada di belakang.”
“Iya, iya, mom,” Vanessa menekan katanya pada kata Mom. Vincent selalu benci jika gadis itu mengejek dia dengan sebutan seperti itu. Menurutnya, itu membuat dia terlihat tidak maskulin. Yah, siapa yang bisa berkata sebaliknya?
Lagi pula, sekali melihat Vincent semua orang juga tidak perlu mempertanyakan maskulinitas di dirinya.
Vincent melotot ke arah adiknya. Tapi satu detik kemudian dia kembali fokus ke depan. Pria itu membuang napas panjang. “Dengar, aku saja yang akan membangunkan kamu besok. Tapi ingat, jika aku sangat susah dibangunkan, jangan salahkan aku jika kau terbangun dengan satu ember air di wajah. Mengerti?”
Vanessa memberikan salut yang mencemooh. Dia mengedipkan satu mata pada Vincent. Lagi pula, apa yang bisa salah dari graduasi sekolah saja?