17.12

1334 Words
THERESSA ITU tidak pernah banyak mau. Setidaknya, begitu yang dia pikirkan. Selama ini, dia merasa cukup puas dengan hidupnya. Tidak ada yang dia inginkan secara partikular. Tidak ingin sesuatu yang mewah, atau sesuatu yang berlebihan. Hanya menjadi seorang Theressa yang baik dan berani saja dia sudah senang. Saat melihat banyak anak seusia dia memilih banyak hal, dan meminta ini itu, Theressa tidak pernah merasa seperti dia butuh hal yang sama. Tidak. Justru, Theressa tidak ingin sesuatu. Semua hal yang dia miliki adalah benda yang wajib. Sebuah hal yang memang harus dia miliki agar bisa terus melanjutkan kegiatan sehari – hari. Seperti misalnya buku – buku sekolah, pakaian baju dan seragam, sepatu, dan bahkan ponsel pun mungkin tidak akan dia minta jika tidak mengingat kalau banyak sekali tugas sekolah yang membutuhkan ponsel. Lagi pula, dia butuh ponsel untuk komunikasi, kan? Saat ulang tahun pun, Theressa tidak pernah benar – benar meminta sesuatu pada orang tuanya. Bukannya orang tua dia juga selalu ada saat ulang tahunnya, sih. Baiklah, Theressa. Jangan membuat ini menjadi hal yang sedih. Dan memangnya apa lagi yang Theressa butuhkan jika segalanya sudah disediakan sebagai pengganti sosok orang tua yang selalu absen? Miris sih, sedikit. Tapi itu memang kenyataan yang pahit bagi gadis tersebut. Tapi satu hal yang tidak pernah bisa di ganggu gugat dalam hidup Theressa adalah perkara makan pagi. Iya, sarapan. Theressa itu maniak sekali perkara sarapan. Jika dia tidak sarapan, maka Theressa yakin seratus persen hidupnya akan berantakan. Selama hari itu, dia akan menjadi orang yang payah dan mendapat banyak masalah. Dia akan rentan dengan penyakit, dan mungkin tidak akan semangat menjalani hari. Panggil dia gila, tapi itu lah Theressa. Entah sejak kapan obsesi perkara sarapan ini mulai, namun Theressa sendiri juga tidak ingat. Yang jelas, ritual makan pagi adalah hal yang harus. Mesti. Wajib. Tidak boleh tidak. Dan itu adalah sesuatu yang sudah dia teguhkan di dalam hati semenjak kecil. Mungkin cerita perkara tidak sarapan maka otak akan menjadi kecil yang membuat dia sangat obsesi dengan makan pagi. Mungkin juga cerita kalau tidak sarapan maka akan menjadi anak yang tidak pintar yang membuat dia selalu ingin sarapan. Entah. Theressa memang benar – benar lupa. Tapi sepanjang yang dia tahu, sarapan adalah makan paling penting di hari itu. “Kau akan menggunakan semuanya . .. wow, oke. Baiklah. Kau akan menggunakan semuanya,” kata pria di depan dia saat melihat gadis itu menaruh semua toppings panekuk di atas menara panekuk di piringnya. Dia menaikkan satu alis, siap protes jika Vincent memberikan komentar pedas, namun pria yang sejujurnya sempat membuat Theressa terpana satu detik saja saat bertemu itu terdiam. Mutlak, Theressa merasa seperti anak kecil yang baru menang kompetisi. Dia gunakan krim sebannyak yang dia mau setelah menuangkan sirup. Lalu, dia meraih buah – buahan berries yang banyak, dan tersenyum puas di depan panekuk ala miliknya. Theressa itu sangat suka panekuk. Saat dia masuk rumah tadi, sangat mudah baginya untuk tahu kalau di rumah itu sedang masak panekuk. Wanginya langsung menyerang gadis itu tanpa belas kasih. Peurtnya langsung bergejolak, membayangkan menara panekuk yang banyak. Dan parahnya lagi, Vincent ini mengeluarkan semua toppings yang dia suka. Mulai dari krim, sirup, dan buah – buah berries. Ini seperti surga dunia untuk Theressa yang tidak sempat sarapan tadi pagi saat berangkat ke sini. Dia hanya mengambil granola bar yang ada di konter dapur dan berangkat. Vincent mematai Theressa seperti dia hewan yang kelaparan. “Kau tidak akan menunggu Vanessa sebelum makan?” tanya Vincent. “Van!” Theressa tiba – tiba teriak seperti dia ada di rumahnya sendiri. “Kau keberatan jika aku makan duluan?” “Hah? Makan apa?” teriak Vanessa balik. Hal itu membuat Vincent ternganga ke atas, menatap lantai atas seperti kaget kalau gadis itu sudah bangun. “Sarapan. Ada yang membuat panekuk.” “Aku!” seru Vincent. “Aku yang membuat panekuk.” “Vincent yang membuat panekuk!” teriak Theressa mengulang kalimatnya. Dia tersenyum sarkas ke arah Vincent yang mengangguk puas. “Masa panekuk saja bangga sekali,” gumam Theressa rendah. Tentu saja Vincent mendengar itu. Dia mendelik tapi tidak komentar. “Makan duluan saja!” Vanessa terdengar sedang bergerak ke sana – kemari di atas. “Baik!” Theressa membalas puas. Dia menunjuk ke atas seperti mengatakan, lihat kan? Adikmu saja tidak masalah, lalu mulai menusuk panekuknya dengan garpu silver. Theressa mendesah nikmat saat merasakan jutaan rasa meledak di mulutnya. Dia mengangguk dengan kening mengerut dan serius sekali. Dia potong lagi bagian kecil panekuk dan mulai makan. Theressa menunjuk piring Vincent dengan garpunya. “Cepat makan. Apa lagi yang kau tunggu?” Vincent menghela napas panjang dan akhirnya keluar dari balik konter dapur. Dia duduk di samping Theressa yang sedang menikmati masakannya, lalu mulai makan mengikuti gadis itu. “Hmh, enak. Kau pandai dalam membuat panekuk.” Theressa memberikan satu acungan ibu jari ke arah Vincent. Pria itu menahan dirinya agar tidak berseru bangga, namun rasanya dia ingin sekali tertawa seperti hero yang sombong. Ha. Ha. Ha. Tentu saja panekuk buatan aku enak. Aku sudah membuatnya semenjak aku berusia delapan tahun. Tapi dia hanya mengumbang pelan dan mengibaskan tangan seperti itu bukan hal yang besar. “Wah, mana pernah aku kira seseorang seperti kamu akan semahir ini dalam urusan memasak.” “Seseorag seperti aku?” “Atletik, macho, berselimut maskulin, dan sengak,” komentar Theressa. “You must be a jock in school, aren’t you?” “Diam kau,” Vincent bersungut. Hancur sudah bayangan kemenangan di dalam kepalanya. Dia merasa seperti sudah dikhianati dan ditendang ke bawah setelah di bawa naik ke atas. “Aku bukan itu semua.” “Hmh . . . sulit untuk di percaya.” “Percayalah. Kau bisa tanya Vanessa.” “Vanessa itu sangat sayang padamu. Dia tidak akan membicarakan hal – hal yang buruk tentang kau.” Pria di samping Theressa itu terdiam. Garpu di tangan, dan krim meleleh di piringnya. Dia tersenyum tipis yang tulus, namun tidak mengatakan apa – apa. Jadi, gadis itu meneruskan, “Tapi dia bilang sih kalau kau itu kekanak – kanakan dan sering sekali jahil. Tidak ada bagusnya. Dia merasa kasihan pada kekasihmu di masa depan nanti.” Vincent meringis lagi. Bagus. Dua kali dia di bawa terbang ke atas hanya untuk di tendang ke bawah lagi. Laki – laki yang baru saja memasak makan pagi untuk dua gadis itu melotot lebar. Dia memastikan kalau krim yang ada di depannya sudah dia ambil, lalu dengan sengaja menyemprot krim itu ke tangan Theressa. Gadis di sampingnya memekik ringan. “Wah, benar – benar childish. Kau sudah gila?” Theressa bersungut, namun dia tidak melawan. Gadis itu merasa harus bersikap seperti orang yang lebih dewasa saat menghadapi pria macam begini. Dia meraih tisu dan mengelap krim yang ada di atas telapak tangannya. “Ini namanya membuang makanan. Kau tahu itu?” “Bisakah kau diam dan jangan menghakimi aku sekali saja?” “Kenapa? Bukan menghakimi namanya kalau itu benar.” “Itu tidak benar. Dan memangnya apa yang kau tahu tentang aku?” “Cukup banyak,” jawab Theressa. Dia menggulung tisu dan membuangnya di tempat sampah samping konter dapur. “Vanessa banyak menceritakan tentang kalian bedua. Kau dan Valentino. Dia juga cerita kalau kalian itu mama beruang.” “Ibu beruang.” Vincent mengoreksi kesal. “Jadi kau setuju? Kalau kau ibu beruang?” Vincent mengerang kesal dan melempar garpunya ke piring. Dia melirik Theressa yang menyeringai penuh kemenangan. Dia melipat dua tangan ke depan, wajahnya sengak. Panekuk di atas piringnya sudah habis. Gadis itu menatap lekat dua iris mata yang indah di sampignnya. Jujur, Theressa sebenarnya masih sedikit termangu dengan wajah tampan seorang Vincent Abernathy. Mau bagaimana juga, dia tetap seorang gadis. Tapi sungguh, pria ini membuat dia selalu kesal dua puluh empat jam. Dan dia baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Lagi pula, untuk apa menganalisa rasa aneh itu setiap kali dia melihat Vincent? Akan sangat bodoh dan buruk jika Theressa suka pada kakak laki – laki temannya sendiri, kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD