Darah di Baju Alenta

1332 Words
Kehidupan Alenta dan Dami kembali seperti sediakala. Alenta yang sempat didepak dari film debutnya kini justru mendapat banyak tawaran bermain film. Bahkan, orang yang telah mendepaknya malah memohon agar Alenta bergabung lagi sampai menawari peran utama. Ya, peran yang seharusnya dibawakan oleh mendiang Nirmala. Dengan tegas Alenta mengatakan tidak. Alenta tidak mau disalahkan lagi. Toh, Alenta sudah tidak tertarik. Ah, lebih tepatnya tidak pernah tertarik. Alenta melanjutkan promosi single terbaru yang sempat ditunda karena ia dituduh sebagai dalang atas hilangnya Nirmala kemarin. Ia berdiri di atas panggung, menatap banyak penggemar di depan sana dengan perasaan lebih riang dan ringan secara bersamaan. Sejak dulu hal yang ia sukai adalah menyanyi. Bukan yang lain. "Lakuin apa pun yang lo suka. Jangan menyerah cuma karena sebuah kendala, atau beberapa kendala." Bibir Alenta menyunggingkan senyum. Kalimat itu selalu ia ingat. Ia sadar, selain Fano, ia sangat menyukai musik. Bahkan suasana hatinya yang buruk bisa sedikit terobati setelah bernyanyi. Terlebih di depan kerumunan penggemar. "Tolong beri jalan, ya." Tiara, dua asisten Alenta hingga Rivano mengkawal Alenta keluar dari kerumunan penggemar yang bergerombol dan saling dorong. Cuaca di luar sangat panas. Ditambah ia dihimpit manajer, asisten dan bodyguard-nya karena rombongan penggemar langsung mengerumuninya begitu keluar dari sebuah gedung TV. Ia baru saja menyelesaikan syuting acara musik. Alenta masih bisa menyunggingkan senyum kepada seluruh penggemar walau rasanya sangat sesak dan panas sekali. "Eh, eh, Ra!" seru Alenta memaksa Tiara dan yang lain agar berhenti. Ia melihat seorang penggemar perempuan, berusia sekitar belasan tahun karena terlihat sangat muda sekali. Penggemar itu tidak sengaja terdorong teman-temannya hingga jatuh terduduk di bawah. Tiara menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju atas ide Alenta. Namun Alenta tetap kekeuh. Ia memaksa keluar dari kawalan Rivano lalu menolong perempuan itu. Adegan barusan langsung diabadikan penggemarnya. Alenta mengulurkan tangan sambil tersenyum. Penggemar itu mulanya agak ragu menerima uluran tangan Alenta. Menurutnya, apa ia pantas? Telapak tangannya bahkan kotor dan berkeringat. Apa Alenta tidak risi nantinya? "Ayo, bangun." Alenta menganggukkan kepala seolah tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan itu. Penggemar tersebut pun menerima uluran tangan Alenta kemudian berdiri. "Kak, boleh saya minta foto, nggak?" "Ng—" "Boleh," potong Alenta cepat. Tiara meletakkan kedua tangan ke pinggang memberi Alenta peringatan. Tapi perempuan itu memang keras kepala! Susah sekali diberitahu. "Makasih, Kak!" Kebaikan Alenta kepada penggemar tersebut malah membuat penggemar lainnya iri. Satu per satu dari mereka pun mulai protes dan ingin minta foto bersama juga. Kini, gantian Tiara yang terdorong hingga punggungnya menabrak badan mobil. Seketika penggemar mengerumuni Alenta bak semut yang menemukan gula. Astaga! Tiara memaksa masuk ke dalam kerumunan. Sengaja merentangkan kedua tangan lalu berseru, "Tolong berdiri yang rapi, ya! Kasih Alenta jarak sedikit," kata Tiara kepada semua penggemar. Butuh waktu lama menunggu Alenta memberi foto dan juga tanda tangan. Tiara sesekali mengawasi penggemar Alenta. Siapa tahu ada yang ingin bersikap kurang ajar. Seperti mencubit pipi Alenta salah satunya. Bahkan hal semacam itu sering terjadi. Kalau Alenta ya jelas hanya diam dan tersenyum. Namun Tiara tidak bisa membiarkan. Alenta jelas terlihat tidak nyaman. "Woah!" Tiara mendesah panjang lantas menjatuhkan kepalanya ke punggung kursi mobil. Alenta baru selesai meladeni penggemarnya. Tiara dan yang lain buru-buru membawa Alenta masuk ke dalam mobil. Alenta melambaikan tangan kepada penggemar sebelum pergi meninggalkan tempat. "Gue bukannya mau ngelarang lo ngasih izin foto atau ngasih tanda tangan, Len." Tiara menarik punggung lalu bersedekap. "Bisa aja suasana jadi nggak kondusif. Lo lihat sendiri mereka dorong-dorongan sampai ada yang jatuh!" Tiara tidak berhenti mengomeli Alenta yang dirasanya cukup bandel. Tiara tidak melarang artisnya berinteraksi pada penggemar. Akan tetapi, Tiara meminta agar Alenta melihat kondisi sekitar. "Mana mungkin gue diem aja ada penggemar yang jatuh kayak tadi?" balas Alenta santai. "Nggak ada salahnya foto bareng sama mereka. Lagian gue nggak apa-apa kok." Tiara meringis. Sebelah tangannya bergerak ke udara. "Lo emang bebal banget! Nggak salah si Rayan ngotot ngasih lo bodyguard! Ya, nggak, Van?" seru Tiara kepada Rivano yang ada di kursi depan sedang menyetir. Rivano melirik Alenta dan Tiara dari pantulan spion di atas pun mengangguk canggung. "Ah, nggak asyik lo," decak Tiara mengibaskan tangan. Mereka semua duduk dengan tenang. Tiara sudah berhenti mengomel sendiri. Mungkin perempuan itu lelah karena terus mengoceh. Tapi walaupun begitu, Tiara adalah orang baik dan perhatian. "Mbak Alen," panggil salah satu asisten Alenta. Tidak hanya Alenta yang menatap perempuan itu. Bahkan Tiara yang tadinya sedang memeriksa jadwal Alenta pun ikut menatap. "Kenapa?" tanya Alenta kalem. "Baju Mbak Alen kenapa?" tanyanya sambil menunjuk ke baju Alenta. "Kok, kayak ada bercak darahnya?" Mendengar ada bercak darah di baju Alenta, Tiara dan satu asisten Alenta yang lain pun buru-buru memeriksanya. Tiara membeliakkan matanya. Sontak, perempuan itu mengangkat sebelah lengan Alenta yang tiba-tiba mengeluarkan darah. "Len, darah!" jerit Tiara. Otomatis Rivano menghentikan laju mobilnya begitu saja hingga nyaris menabrak mobil lain di depan. Rivano menengok ke belakang. Tiara sangat histeris. Namun, Alenta malah terlihat tenang saja. "Ini cuma goresan doang," gumam Alenta menggerakkan lengannya agak miring. "Tapi kenapa bisa kegores?!" pekik Tiara. "Nggak! Luka lo ini nggak mungkin lo dapet karena nggak sengaja kena benda apa," gerutu Tiara panik. Asisten di kursi depan memberikan kotak tissue kepada Alenta dan Tiara. "Ke rumah sakit, Van! Buruan!" perintah Tiara ke Rivano. Alenta akan menolak. Namun, Tiara buru-buru memperingati Alenta. "Pergi ke rumah sakit atau gue kasih tahu Abang lo?" Tidak ada cara lain. Alenta pun menuruti perintah Tiara. Padahal luka itu cuma goresan biasa. Diobati di rumah pun juga bisa. Cuma goresan?! Goresan itu lumayan dalam, hei! Kalian tidak tahu saja sebanyak apa darah yang ada di luka Alenta. Bahkan darahnya sampai menempel ke pakaian Alenta. *** Siapa yang sangka, luka dari goresan—yang kata Alenta tidak seberapa dalam itu justru membuat tubuh Alenta secara perlahan. Saat perjalanan akan menuju ke rumah sakit, Alenta masih baik-baik saja. Namun, kurang dari sepuluh menit setelahnya Alenta jadi lemas. Tubuhnya berkeringat banyak, wajahnya berubah pucat. Tiara-lah orang pertama yang menemukan keanehan dari tubuh Alenta. Tiara menjerit, kemudian membentak Rivano agar menambah kecepatan laju mobilnya. Lelaki itu segera menginjak rem, lantas melajukan mobilnya lebih cepat. Bahkan saat lampu berubah merah tetap diterobosnya. Sesampainya di rumah sakit, Alenta segera ditangani dokter dan suster. Tiara menunggu dengan perasaan yang cemas. Ia berjalan mondar-mandir sembari menunggu dokter selesai memeriksa Alenta. "Kok, aneh ya?" gumam asisten perempuan Alenta. "Aneh kenapa?" tanya temannya yang sesama asisten. "Mbak Alenta kenapa bisa kena gores lengannya?" tanyanya dengan suara lirih. Bukannya apa-apa. Tapi semua orang terdekat Alenta tahu bahwa perempuan itu sering menerima banyak teror. Entah dari pembencinya atau memang ada orang yang tidak menyukai Alenta. Orang-orang zaman sekarang sangat menyeramkan. Kalau sudah terlalu benci, pasti ada saja yang akan dilakukan untuk menyakiti orang itu. Dan salah satu contohnya adalah Alenta. Ini bukan pertama kalinya seseorang ingin menyakiti Alenta. "Lo lihat ada darah di baju Alenta dari kapan?" tanya Tiara memutar setengah badannya. "Di panggung.... apa lo udah lihat ada darah?" Si asisten perempuan tampak sedang berpikir. "Saya nggak terlalu perhatiin waktu di panggung, Mbak," jawabnya. "Tapi.... saya tadi sempat video-in Mbak Alen waktu perform." "Mana? Coba lihat!" seru Tiara. Asisten perempuan yang diketahui bernama Mirna itu menyodorkan ponselnya ke Tiara. Video hasil rekaman Mirna sedang berputar. Tiara mengamati Alenta di dalam video, lalu memperbesar layar agar bisa melihat lebih jelas. "Berarti luka yang didapet Alenta, kemungkinan selesai nyanyi," gumam Tiara. Ia mengembalikan ponselnya ke Mirna lagi. Tiara diam sebentar dan berpikir. Ia mengingat ke mana saja Alenta pergi setelah selesai bernyanyi. Pertama: Alenta pergi ke kamar mandi. Namun tidak lama Alenta kembali dan mereka bersiap pulang. Kedua: Alenta pulang dengan ditemani Tiara, dua asisten dan Rivano. Mereka susah payah keluar dari kerumunan penggemar Alenta. "Atau...," gumam Rivano yang sedari tadi diam dan mendengarkan obrolan Tiara dan Mirna. Tiara menatap Rivano. Kedua matanya mengerjap. Sepertinya, mereka memiliki jawaban yang sama. "Sesi foto bareng penggemar?" tebak Tiara sambil menatap ke Rivano. Tiara nyaris menjerit. Buru-buru ia menyumpal mulutnya sendiri sebelum membuat keributan di rumah sakit. "Lo pasti mikir yang sama kayak gue kan, Van?" Rivano mengangguk cepat. "Tapi.... penggemar yang mana?! Mereka tadi dateng keroyokan!" pekik Tiara kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD