Lagu untuk Alenta

1217 Words
Alenta terbangun dan turun ke lantai bawah. Jam dari layar ponselnya menunjukkan lewat tengah malam. Lampu di lantai bawah sudah dimatikan. Alenta menuruni tangga satu per satu sambil menguap. Alenta menghidupkan lampu. Ia masuk ke dalam dapur untuk mengambil air minum. Alenta membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air dingin dan gelas kosong. Ia menarik kursi tinggi di dapur lalu meletakkan kedua benda yang dipegangnya ke atas meja. Suara air yang dituang ke dalam gelas kosong terdengar lebih keras saat tengah malam begini. Alenta mengangkat gelas, meneguk air dari gelas sedikit demi sedikit. Wuuuusssss. Alenta merasakan sesuatu yang dingin menyentuh belakang lehernya. Ia meletakkan gelasnya ke meja lagi. Ia mengusap tengkuk sesekali menengok kanan dan kiri lalu ke belakang. Tidak ada siapa-siapa di dapur selain dirinya. Ini di dapur, tidak ada jendela yang bisa membuat angin dari luar masuk ke dalam. Alenta memilih mengabaikannya. Menggaruk belakang telinga tetap santai. Ia mengeluarkan ponsel. Duduk di kursi dapur sembari mengutak-atiknya. Dari mengecek pesan masuk, melihat isi sosial medianya. Ada banyak notifikasi masuk ke ponselnya. Dari ratusan ribu akun memberi tanda love ke postingan terbarunya. Juga, ada ribuan komentar yang ditinggalkan penggemar mau pun... pembencinya. Bukannya penggemar dan pembenci sudah menjadi paket komplit? Kata siapa hidup Alenta sempurna? Kata siapa semua orang mencintainya? Ia pikir, tidak ada manusia mau pun kehidupan sempurna. Begitu pun dengan Alenta. Ia punya penggemar, jelas juga punya pembenci yang aktif menyatroni akun sosial medianya. Alenta mendengkus pelan. Sibuk menaik turunkan gambar di layar ponsel. Sejauh ini ia tidak akan mengambil pusing atas komentar orang. Sudah menjadi konsekuensinya sebelum terjun ke dunia yang ia geluti sekarang. Ini hal lumrah. Alenta cukup mengabaikan ketika seseorang meninggalkan komentar buruk. Alenta hanya harus fokus apa yang menjadi tujuan hidupnya. Apa tujuan hidupnya? Bulu mata Alenta bergerak naik lalu turun. Kelima jarinya memutar gelas di atas meja. Jika ditanya apa tujuannya sekarang, Alenta tidak menemukannya. Cita-citanya menjadi seorang penyanyi telah tercapai. Lewat ajang pencarian bakat, walau bukan sebagai pemenang utama, nama Alenta melejit tinggi seiring wajahnya muncul di TV selama satu minggu sekali. Alenta banyak belajar selama di asrama. Ia digembleng untuk latihan. Ia tidak mau menyiakan kesempatan yang datang. Alenta boleh saja berada di peringkat kedua. Tapi namanya lebih banyak dicari ketimbang si pemenang pertama. Segera Alenta mendapat banyak tawaran muncul di sana-sini. Diundang dari satu stasiun TV ke stasiun TV lainnya. Ketika namanya makin melambung setelah meluncurkan album pertama, muncul lagi tawaran membintangi iklan. Dari produk kecantikan wajah hingga rambut. Apa Alenta sudah cukup puas? Entahlah. Alenta belum menemukan jawaban. Sosok tinggi besar sedang memerhatikan Alenta dari belakang. Badannya tinggi, badannya berbulu lebat. Sebenarnya Alenta sudah merasakan hawa tidak enak sejak tadi, tapi perempuan itu malah mengabaikannya. Alenta tidak tahu saja kalau mahluk itu terus menatap ke arahnya. Alenta hendak turun dari kursi dan kembali ke kamar. Begitu kakinya akan menyentuh lantai, Alenta merasakan hawa dingin kembali melewati lehernya. Alenta memejamkan mata, kemudian menggelengkan kepala mengusir pikiran anehnya. "Hhh..." Alenta mengembuskan napas panjang. "Kayaknya gue terlalu capek sampai mikir aneh. Mana ada hantu di rumah ini." Ia menyambar gelas dan botol. Ia hendak mencuci gelasnya lebih dulu sebelum kembali ke kamar. Sesaat, langkah Alenta terasa berat. Begitu juga dengan kepalanya. Untuk sekadar menggerakkannya saja agak sulit. Ada apa sebenarnya di belakang? "Nggak," ujar Alenta menepuk sebelah pipinya sendiri. Botol minumnya sudah ia masukan ke dalam kulkas. Gelas bekasnya juga telah ia cuci. Alenta mengeringkan tangan, hendak membalikkan badan. Tapi... ia melihat bayangan lelaki tinggi dari lantai. Alenta mematung. Diam setengah melamun. Cuma kedua matanya yang bergerak, mengerjap naik lalu turun. "Alen?" Alenta membuang napas. Sontak ia menengok ke belakang dan mendapati kakaknya berdiri di ambang pintu dapur sambil menatapnya dengan mata menyipit. "Huuuh. Kak," rengek Alenta menarik napas lega. Rayan mendekati Alenta. "Kenapa sih? Kayaknya kaget banget Kakak panggil tadi." Perempuan itu menyibak rambutnya ke belakang punggung. "Ah, tahu, ah!" ringis Alenta berjalan melewati Rayan begitu saja. Nyaris saja Alenta jatuh pingsan karena kepikiran tadi itu hantu. Namun ternyata malah sang Kakak. Alenta menaiki anak tangga dengan langkah lesu. Hampir saja ia percaya di rumah ini ada hantu, astaga! Sosok itu menyeringai. Jelas bukan Rayan yang memerhatikan Alenta sejak tadi. Sepertinya, Alenta tidak menyadari bahwa ada mahluk tak kasat mata terus menatapnya, memerhatikan semua gerak-geriknya. *** Alenta telah melupakan kejadian semalam. Walau berakhir tidak bisa tidur lagi setelah itu, Alenta tetap harus bersiap pergi karena ada jadwal rekaman siang ini. Di samping Alenta ada Tiara. Sementara di belakang kedua perempuan itu ada Rivano. Alenta terlihat masih mengantuk. Sedari tadi Alenta menguap kemudian menggeleng seperti mengusir rasa kantuknya. "Semalem lo tidur jam berapa, Len?" tanya Tiara menengok sepintas. Mereka memasuki tempat Alenta akan melakukan rekaman untuk lagu barunya. Perempuan itu menguap, entah yang ke berapa kalinya. "Jam... empat?" gumam Alenta ragu. "Ngapain lo tidur jam segitu? Nonton pertandingan bola atau jaga lilin?" "Iya. Lo babi-nya," jawab Alenta sekenanya. Bukannya marah, Tiara malah terbahak keras mendengar jawaban Alenta barusan. "Oh ya. Gue denger yang bikin lagu ikut lihat lo rekaman," kata Tiara sembari menunggu pintu lift terbuka. "Hmm... udah tahu siapa orangnya?" tanya Alenta. Tepat di saat bersamaan suara denting lift berbunyi. Alenta memasuki lift lebih dulu lalu disusul Tiara dan Rivano yang sejak tadi hanya diam. Ah, ya, lelaki itu memang jarang berbicara padanya kecuali ada hal penting. "Belum," jawab Tiara menekan tombol lift. "Tapi yang gue denger, yang bikin lagu baru lo itu Anjas." "Anjas vokalis Star Band maksud lo?" tebak Alenta. Tiara mengangguk dan menjentikkan jari. "Iya, Anjas yang itu. Pantes aja lagu lo bagus sih kalau emang dia yang bikin lagunya." Alenta cuma mengangguk-angguk. Ia belum bertemu secara personal dengan Anjas. Hanya beberapa kali berada di acara yang sama, namun belum memiliki kesempatan untuk saling menyapa atau ngobrol sebentar. Keduanya sama-sama sibuk. Baik Alenta mau pun Star Band memiliki jadwal padat. Mereka akan pergi dari satu acara ke acara lainnya dengan sisa waktu yang mepet. "Gue harap Anjas nggak sombong kayak vokalis band sebelah," cibir Tiara. "Ada band yang namanya sebelah emang?" tanya Alenta polos. Oh, astaga! Tiara menepuk keningnya pelan. Rupanya Alenta tidak mengerti siapa yang dimaksud sang manajer! Siapa lagi kalau bukan Dami memangnya? Tiara tidak berhenti mengutuk lelaki itu! "Woah." Tiara mengerucutkan bibir. "Emang ada, Ra?" tanya Alenta lagi. Tiara menunjuk pintu lift yang terbuka. "Nggak penting bahas siapa vokalis band sebelah, ya. Ayo, Len, kita hampir telat!" Sesampainya mereka di depan pintu ruan rekaman, Tiara menggandeng Alenta masuk ke dalam. Mulanya mereka menyapa dua orang lelaki yang duduk membelakangi pintu. Namun, saat salah satu lelaki yang mereka sapa memutar kursinya, betapa terkejutnya kedua perempuan itu. Khususnya Tiara. "Dami," gumam Alenta terbengong dari tempatnya berdiri. Baru kemarin Dami membuat isi apartemennya seperti kapal pecah. Sekarang lelaki itu tahu-tahu muncul di hadapannya. "Kok, ada dia?" tunjuk Tiara tanpa sadar. Lelaki yang satunya lagi menepuk punggung Dami. "Karena Dami yang bikin lagu untuk Alenta." "Hah?" Tiara membulatkan bibir. Sementara Alenta, hanya bisa diam menatap Dami penuh tanda tanya. Apa maksudnya? "Pasti kalian sudah saling kenal, kan? Kalian pernah nyanyi bareng di panggung waktu itu. Apalagi Dami yang nyelamatin Alenta dari kejatuhan lampu saat itu." Lelaki yang dikenal sebagai seorang produser musik itu menjelaskan sambil tertawa riang. Dami berdeham detik itu. Alenta membuang tatapannya ke objek lain lantas menjilat bawah bibirnya merasa canggung. Kenapa harus dibahas soal insiden itu! Alenta sungguh tidak nyaman jika ada yang membahasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD