Jepit Rambut

1150 Words
Ada banyak piring, gelas, bungkus snack sampai botol air mineral di atas meja hingga berceceran di lantai. Siapa pelakunya? Jelas bukan Dami. Tapi tiga serangkai—Raka, Adam dan Abra. Ketiga mahluk itu duduk bersandar setelah melahap banyak makanan yang dipesan Raka, dan dibayarnya menggunakan kartu milik Dami tadi. "Aduh...." Adam bergerak miring di atas karpet bulu. "Kenapa? Kekenyangan lo, ya?" ejek Raka sambil memegangi perutnya sendiri. Abra mendengkus dari atas sofa. "Lo sama Adam sama aja padahal. Kayak besok mau kiamat," decaknya. Raka mengangkat sebelah tangan, menarik ujung celananya Abra. "Lo juga ikut makan ya, jingan!" Adam rasanya ingin muntah saking kenyangnya. Ia beranjak dari karpet berniat pindah ke atas sofa. "Bang, minggir kali. Gantian gue yang rebahan di atas." Setengah tidak rela pindah duduk di bawah, Abra mendecakkan lidah. Adam terus menepuki pahanya agar mereka berpindah tempat. Raka sama kekenyangan seperti Adam. Berapa banyak makanan yang mereka pesan. Mulai dari makanan kekinian, makanan berat hingga ringan. Belum lagi beraneka macam minuman sampai snack. Alhasil Raka, Adam dan Abra cuma bisa duduk malas-malasan. Dan di mana si pemilik apartemen? Dami ada di dalam kamar, memberi peringatan agar mereka tidak membuat keributan selama di sini. "Eh, apa nih...." Adam mengangkat bokongnya naik. Sebelah tangannya merogoh sesuatu yang terjepit di sela sofa. "Jepitan rambut siapa....," Sontak, Adam menurunkan pandangan ke bawah, tepat pada Raka dan Abra yang sekarang rebahan bak ikan pindang. Adam menyipitkan mata, membolak-balikan benda di tangannya. Benda yang ditemukannya di sofa adalah jepitan rambut mutiara. Jelas milik seorang perempuan. Oh, atau milik Abra? "Lo pake jepitan rambut, Bang?" tanya Adam pada Abra. Kedua lelaki itu menoleh bersamaan. Raka protes. Katanya, Adam tidak lengkap saat memanggil salah satu dari mereka. Adam hanya memanggil 'Bang'. Ya jelas Raka dan Abra menoleh barengan. "Apanya yang mau dijepit?" Abra balas bertanya. "Lagian gue cowok! Ngapain juga pake jepitan rambut." Adam diam sebentar. "Oh, punya Bang Raka ya?" "Hah?" Setengah mengantuk dan lemas, Raka malah membeo seperti orang linglung. Abra mencibir Raka. "Lo kekenyangan makan martabak, efeknya kayak orang kelar nyimeng ya?" Raka meluruskan kaki kemudian mendorong paha Abra dengan ekspresi sebal. Teman bandnya satu ini kadang mulutnya kurang difilter ketika berbicara. Kalau sampai ada orang yang dengar dan dikira sungguhan, bagaimana? Biar begini, Raka tidak pernah neko-neko. Merokok saja tidak seaktif Abra. Apalagi memakai barang begituan! "Hei, malah berantem!" lerai Adam. "Ini jepitan rambut siapa dong!" Tepat di waktu yang sama, pintu kamar Dami dibuka. Suasana dingin sontak dirasakan ketiganya kala lelaki itu duduk bergabung bersama mereka. Aduh, alamat kena semprot mereka! Apalagi Raka dan Adam yang memang hobi membuat keributan di mana-mana. Tidak kenal tempat dan waktu. "Bukan gue yang rusuh, Bang," ujar Adam membela diri. "Gue cuma nanya ini jepitan rambut siapa. Bang Raka sama Bang Abra malah gelud." Jepitan rambut mutiara di tangan Adam menarik perhatian Dami. Kedua matanya memicing, kemudian mengambil alih benda itu dari tangan Adam. Anggota termuda Missing You tersebut sampai mengurungkan niatnya untuk tidur sebelum diseret pulang oleh Raka dan Abra. Adam ikut-ikutan menatap jepitan itu dengan seksama. "Nggak mungkin punya lo, kan, Bang?" Adam mengangkat kepalanya. Kedua matanya mengerjap saat menatap Dami. "Oh, bukan kayaknya." Adam menyadari balasan Dami yang kelewat dingin. Buru-buru ia merapatkan bibir sebelum kena semprot vokalis Missing You itu. "Jepitan mana sih?" Raka ikut bangun dan duduk. Tanpa harus bertanya pada teman-temannya. Dami sudah mendapat jawaban siapa pemilik jepitan rambut yang ditemukan Adam di sofa. Hampir tidak pernah ada satu perempuan pun yang datang ke apartemennya selain Alenta. Ya, Alenta, orang yang telah membuatnya masuk rumah sakit hingga dua kali. Dami mendengkus tanpa sadar. Adam melirik dua temannya di bawah. Agak ngeri, ya. Dami tahu-tahu mendengkus kemudian menyeringai sinis. "Kayaknya gue kenal," gumam Abra. Ketiga pasang mata kompak mengarahkan pandangan ke Abra. Sementara lelaki itu dengan santai mengeluarkan ponsel dari saku celana, lantas membuka akun sosial medianya. Dipikirannya cuma ada satu. Memeriksa postingan seseorang yang dikenalinya. Orang yang beberapa hari terakhir berurusan dengan Dami hingga menimbulkan kesalahpahaman. "Tuh, kan." Abra menjentikkan jari. "Apa sih?" Raka menyeret bokongnya mendekati Abra. Adam sampai pindah duduk di bawah. "Lihat apa sih, Bang? Kasih tahu, dong!" Tiga serangkai itu ramai-ramai melihat akun sosial media milik Cahaya Alenta. Kenapa Alenta? Karena Abra teringat perempuan itu pernah memakai jepitan rambut yang sama persis. Beberapa kali Abra berpapasan dengan Alenta, pasti perempuan itu mengenakan jepitan rambut mutiara di rambutnya. "Jeli juga mata lo, ya," puji Raka sambil tertawa. "Kok bisa ketinggalan di sofa?" gumam Adam, polos. Abra dan Raka menatap Adam kompak. "Itu artinya dia datang ke sini," ujar Raka melirik Dami. "Ya, nggak, Dam?" Raka menaik turunkan alisnya jahil. "Apa?" tanya Dami, dingin. Raka menyambar jepitan rambutnya. Mengulum senyum jahil. Mereka bersiap menggoda Dami habis-habisan setelah ini. "Ngaku lo. Punya Alenta, kan?" "Hm." "Woah!" seru ketiganya bersamaan. Tidak diduga, Dami sama sekali tidak mengelak. Dengan santai menjawab pertanyaan Raka barusan. Apa ini? Ada apa dengan Dami dan Alenta sebenarnya? "Ada urusan apa Alenta ke sini, Dam?" tanya Raka lagi. "Penting ngasih tahu lo?" Dami malah melempar pertanyaan kepada Raka. Bibir Raka mengerucut sebal. Daripada sakit hati karena balasan pedas Dami, ia lebih penasaran soal hubungan keduanya. Pacaran, bukan. Pedekate juga bukan. Tapi sering kemari? "Oh, gue tahu." Raka menjentikkan dua jarinya. "Bang, ayo tuang tehnya!" seru Adam penasaran. "Ngapain juga lo minta dituangin teh!" balas Abra kesal. "Apa sih, lo," cibir Adam. "Yang gue maksud, tuh, minta Bang Raka spill, gitu, lho! Ah, lo nggak gaul, Bang!" Raka baru ingat Alenta bilang akan mengurus Dami selama sakit. Bisa jadi Dami setuju untuk diurus Alenta. Wah, kalau benar, Alenta hebat. Perempuan itu berhasil meluluhkan manusia es seperti Dami. "Ngapain lo lihat gue kayak gitu?" tegur Dami pada ketiganya. Terutama Raka. "Alenta sering ke sini pasti!" seru Raka penuh keyakinan. "Hah? Ngapain sering ke sini?" tanya Abra bingung. "Itu...," Raka bergumam panjang. "Selama Dami sakit, Alenta mau ngurus Dami." "Hah?" Adam dan Abra kompakan bengong. "Alenta merasa bersalah. Karena nolong dia, Dami sampai kena tembak." Raka menjelaskan. "Bener kata gue kan, Dam?" Dami beranjak dari sofa. "Udah pada kenyang, kan? Mending lo bertiga pulang. Gue mau istirahat dan nggak pengin diganggu siapa pun!" "Diganggu Alenta mau tapi, kan, Bang?" ledek Adam. "Heh!" tegur Raka pura-pura berada di pihak Dami. Setelahnya, ia ikutan meledek. "Lo bikin Dami malu! Lo mau bikin pipi Dami berubah merah?!" "Mana?" Bodohnya, Adam menanggapi serius. Tidak tahan mendengar ocehan Raka dan yang lain. Dami mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong ketiga rekan satu bandnya menuju pintu. Raka dan Adam terus mengoceh tentang Alenta. Sementara Abra menunjukkan gaya khasnya ketika dua temannya membuat keributan. Bersedekap. Tatapan mata lurus ke depan. "Dam, hei," seru Raka membalikkan badan tidak ingin pulang. Brak! Pintu apartemen ditutup kuat oleh Dami dari dalam. Dami sungguhan mengusir mereka. Astaga. "Orang lain mah malu-malu kucing ya." Adam berceloteh. "Kalau Bang Dami beda. Jadi malu-malu harimau! Lihat, kita malah diusir keluar cuma karena cengin soal cewek!" Adam hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD