Perjodohan

1214 Words
Bab 1 Perjodohan Drtttdrttt Terdengar sebuah getar ponsel di dalam saku kemeja seragam gadis bernama Kiana yang akrab dipanggil Kia ini. Hal tersebut membuat Kia berhenti menyantap bakso di hadapannya. Kia menggulir tombol berwarna hijau dengan segera ketika melihat nama sang mama yang terpampang dilayar ponselnya. “Ya ma,” sapa Kia kepada seseorang yang tak lain adalah Maretha-ibu kandungnya. Kia meletakkan garpu yang ia gunakan untuk mengambil bakso. Ia fokus mendengarkan suara sang ibu karena suasa kantin terlalu bising. “Sayang, kita diundang makan malam sama keluarga Hutama,” ucap perempuan yang akrab dipanggil Retha. “Kapan?” potong Kia. “Ish makanya dengerin mama ngomong dulu. Nanti malam acaranya jam 7,” jawab Retha dengan suara sebal dari seberang sana. “Hari ini? Jam 7?" tanya Kia lagi. “Iya hari ini jam 7, makanya jangan kemana-mana langsung pulang ya,” pesan Retha. “Iya iya Kia langsung pulang. Bye, Ma,” jawab Kia enteng. "Bip," suara sambungan telepon terputus. “Siapa Ki?” tanya salah seorang teman Kia. “Biasalah nyokap,” ucap Kia sembari melanjutkan menyantap makanannya. “Oiya... nantu pulang sekolah jalan yuk Ki?” ajak Nia teman sekelas Kia. Kiana menghentikan aktifitas makannya lalu menoleh ke arah Nia dengan wajah memelasnya. "Aduhh sorry, jangan nanti yak? gue gak bisa! di rumah ada acara,” elak Kia. “Oke deh next time harus bisa yak?” seru Nia yang dibalas anggukan oleh Kia. Jujur saja telepon dari sang mama membuat Kia tak bisa konsentrasi dan fokus terhadap pelajaran. Sungguh Ia sangat penasaran mengapa tiba-tiba keluarga Hutama mengundang keluarganya makan malam karena ia tahu keluarga itu sangatlah sibuk. “Haduh lama banget sih ini jamnya, pefttt,” keluh Kia sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Nia memperhatikan tingkah sang sahabat yang terlihat tak tenang. "Kenapa sih, Ki ? Gelisah banget lu?” tanya Nia penasaran. “Kepengen cepet pulang gue, ngantuk parah,” elak Kia sembari menyengir. “Elah, kirain napa. Sabarlah sentar lagi juga pulang,” bisik Nia terkekeh. Tak lama kemudian terdengar suara bel pertanda pulang sekolah yang membuat Kia ingin cepat bergegas. “Tan, Ni gue duluan yak? dah,” ucap Kia kepada Intan dan Nia sembari berlari keluar kelas menuju ke depan gerbang sekolah karena Kia sudah dijemput sopirnya. Sesampainya di rumah Kia langsung berjalan cepat mencari keberadaan sang mama karena Kia penasaran tentang acara pertemuan nanti. “Hai, Sayang, cepat ganti baju habis itu makan terus istirahat ya? biar nanti malam terlihat fresh,” ucap Retha sembari tersenyum ke arah Kia. “Ma, kasih bocoran Kia dong! Ada acara apa nanti sampai Om Rudy ngundang makan malam segala? Kia keponih," ucap Kia sembari mengerucutkan bibirnya. “Udah deh gak usah manyun gitu. Nanti juga tau,” ucap mama yang membuat Kia kesal dan berlari meninggalkannya. Sesampainya di kamar Kia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang bersepreikan doraemon. Tangan Kia bergerak lincah meraih sebuah laptop lalu jari jemarinya mulai membuka laptop tersebut dan memutar sebuah film korea yang sedang ngehits saat itu. “Ya ampun ganteng banget sih,” ucap Kia sembari terus menatap wajah artis korea di laptopnya. “Ahh semoga jodohku nanti kaya kamu oppa," ucap Kia lagi sembari membayangkan w. ajah artis korea sembari terkikik. Setelah lama menonton drama korea Kia pun memutuskan untuk tidur karena Ia merasa sangatlah lelah. Tanpa mengganti seragam Kia pun tertidur pulas hingga sebuah teriakan dari balik pintu kamar menyadarkan Kia dari mimpi singkatnya. “Kiana Kiana! Buka pintunya! Mama mau make up-in kamu ini udah jam 6 sore lho!” teriak Retha membuat Kia gelagapan. “Astaga,” ucap Kia sembari menepuk jidat dan langsung berlari kearah pintu untuk membukanya. “Ya ampun Kia kamu gimana sih? kok belum mandi? Cepetan! Nanti kita telat loh!” semprot Retha membuatnya berlari ke kamar mandi. Sementara Kiana sedang mandi sang mama dengan setia menunggui sang putri di kamarnya sembari memilih-milih baju yang cocok untuk Kiana pakai pilihannya jatuh pada sebuah dress berwarna baby pink dengan motif bunga di ujung roknya yang tampak cantik jika dikenakan Kiana. Usai mandi dan ganti baju sang mama membantu Kiana merias diri dengan memoleskan beberapa make up kewajahnya dan membubuhkan lipstick ke bibir Kiana. “Nah! Gini kan cantik. Ya sudah, ayo turun! kita akan segera berangkat,” ucap mama yang dibalas dengan anggukan oleh Kiana. Di dalam perjalanan Kiana sibuk dengan ponselnya, ia asik berbalas pesan grup dengan sahabatnya. Setibanya di restoran Kiana tersenyum ramah menyapa sepasang suami istri yang ia kenal bernama Rudy dan Mei yang sudah lebih dulu datang. “Selamat malam, Om Tante," sapa Kiana ramah. “Malam, Sayang, ini Kiana ya?” tanya Mei memastikan. “Iya, Tante saya Kiana.” Kiana tersenyum manis kepada wanita yang terlihat anggun dan modis di hadapannya itu. “Oh, Sayang kamu sudah dewasa sekarang, cantik lagi,” puji Mei sembari mengusap pipi Kiana. “Terima kasih, Tante,” ucap Kiana tersipu malu. “Ah iya sampai lupa, mari kita ke dalam,” ajak Retha menggiring kami masuk ke dalam sebuah ruangan VIP. Aku membelalakkan mata takjub melihat sebuah ruangan yang didekorasi sangat romantis. Di dalam hati Kiana bertanya-tanya. "Mengapa ruangannya didekorasi sebagus ini? jika tujuannya hanya untuk makan malam saja," batin Kiana. “Sah-sah saja sih mereka kan kaya,” gumam Kiana kemudian. Kiana melangkahkan kakinya menuju deretan kursi yang tersusun rapi berhadap-hadapan dengan sebuah meja panjang di tengahnya. Ia memilih kursi paling ujung sebagai tempatnya untuk duduk. Rudy dan Mei sibuk berbincang dengan Tama dan Retha, sementara Kiana lebih memilih asik dengan ponselnya berbalas pesan dengan kedua sahabatnya. Sesekali ia terkikik sendiri membaca pesan konyol kedua sahabatnya, mengabaikan kedua orang tuanya yang berkali-kali menegurnya. Tak lama setelahnya, seorang pria datang dan menyapa. Suaranya sangat tegas sontak membuat Kiana yang asik dengan ponselnya pun mendongakkan kepala. Kiana terkejut melihat seseorang yang berada di hadapanya. "Bukankah dia pemilik yayasan sekolah? Mengapa dia di sini?" tanyanya dalam hati. "Apa ini semacam pertemuan bisnis?" lanjut Kiana. "Ah bodo amat!" tukasnya masa bodoh. “Oh ya kenalkan ini Rama putra kami, Rama kenalkan ini Kiana dan ini orang tuanya,” ucap Mei lembut. “Rama om tante,” sapa Rama dengan senyuman tipis. “Rama," sapa Rama dengan gaya cool-nya kepada Kiana. Jantung Kiana mendadak bekerja berlipat-lipat lebih cepat, lidah Kiana kelu. Kiana hanya membalasnya dengan sebuah senyuman saja. Kiana terdiam sejenak otaknya mulai berfikir keras tentang pria si pemilik yayasan tempat ia bersekolah. Seputar pertanyaan menghinggapi kepala Kiana. Ia sungguh penasaran sekarang. "Ganteng banget, uhhh kayak oppa oppa korea," batin Kiana. "Tapi sayangnya dingin kaya kutub," imbuh Kiana. Kiana masih terdiam membatin sikap Rama kepadanya. Sejujurnya dia kagum dengan ketampanannya tapi ia tidak suka dengan sifat dinginnya. Sesekali Kiana mengumpat dalam hati melihat wajah datar Rama. “Ehem,” deham Rudy yang membuat semua mata tertuju padanya. “Malam ini saya ingin mengumumkan berita yang sangat penting.” Rudy menggantung ucapannya sejenak melirik ke arah Kiana dan Rama bergantian yang membuat keduanya bingung. “Kami bersepakat menjodohkan Rama dan Kiana, suka tidak suka, mau tidak mau kalian akan segera menikah,” tegas Rudy melanjutkan ucapannya. Rama dan Kiana terkejut kemudian saling berpandangan satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Otak mereka sejenak berhenti lidah mereka kelu untuk berucap. “Jadi kalian setuju kan?” tanya Rudy meminta persetujuan keduanya. Bersambung….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD