Usai menyelesaikan pekerjaannya Nunik hendak mematikan lampu, ia melihat sang Nyonya muda tertidur di sofa ruang tengah. Hati Nunik pun terketuk untuk membangunkan Kiana.
"Non, bangun," ucap Nunik lembut sembari menepuk-nepuk pundak Kiana.
Kiana menggeliat, sepersekian detik ia teringat tentang Rama. Ia pun segera membuka mata dan melirik ke arah jam.
"Jam sepuluh," desisnya dengan wajah sedih. Ia mengira jika sang suami sudah pulang dan ia melewatkan makan malam bersama dengan Rama.
"Bi, apakah kak Rama sudah makan?" tanya Kiana kemudian.
Nunik menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, Non. Tuan muda belum pulang," jawab Nunik yang membuat Kia menghela nafas lega namun juga terdapat sebuah kekhawatiran.
"Belum pulang? Apa kak Rama memberitahu Bibi ia kemana?" tanya Kia khawatir.
Lagi-lagi Nunik menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Non. Tuan muda memang biasa pulang larut malam."
"Hah, apakah setiap hari begitu?" tanya Kia tak percaya.
Kali ini Nunik menganggukkan kepalanya. "Iya, Non. Bahkan di hari libur pun Tuan muda akan tetap bekerja."
Kiana menghembuskan nafas tak beraturan. Ia mengusap wajahnya kasar, ia sungguh terkejut mendengar penjelasan sang asisten rumah tangga. Dalam hatinya berkata "Wajar saja ia pergi di malam pengantinnya."
"Ya sudah kalau begitu tolong bereskan makanan di meja makan ya, Bi. Kia mau ke kamar saja."
"Baik, Non."
Kiana melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia mencuci muka lalu berganti pakaian tidur. Setelahnya, ia meraih ponsel dan sebuah novel lalu berjalan menuju kamar sang suami. Ia menyalakan lampu kamar lalu duduk di sofa sembari membaca novel. Tidak ada maksud lain, ia hanya ingin menunggu sang suami pulang.
Kiana membuka lembar demi lembar halaman novel, membacanya dengan seksama hingga matanya terasa berat dan ia kembali tertidur di sofa.
Di tempat lain Hans terpaksa membawa pulang sang boss yang sudah mabuk berat. Ia membawa sang Boss ke apartemennya karena ia tidak ingin Kia dan Tuan besarnya tahu jika Rama mabuk. Tak lupa ia mengirim pesan kepada Kia jika Rama menginap di apartemennya malam ini karena ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
Kiana membuka matanya ketika mendengar bunyi alarm dari ponselnya. Ia mematikan ponselnya lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku. Kia menoleh ke sisi ranjang, ia terheran melihat ranjang yang kosong. Ia bergegas bangun dan mencari tahu keberadaan sang suami. Lihatnya kamar mandi kosong, ia memeriksa kamarnya dan ruang kerja pun kosong, sepi tak ada pergerakan sama sekali. Kiana meraih ponselnya hendak bertanya kepada Hans, namun niatnya urung ketika melihat pesan dari Hans. Ia buru-buru membuat nasi goreng dan langsung bersiap menuju ke apartemen Hans.
"Non Kia mau kemana?" tanya Nunik heran.
"Mau nganterin sarapan ke apartemen Kak Hans, Bi," jawab Kia santun.
"Untuk Hans?"
"Untuk Kak Rama dan Kak Hans, Bi. Semalem Kak Hans mengirim pesan kalau Kak Rama tertidur di apartemennya," jelas Kia.
Nunik mengangguk kecil tanda paham. Ia pun melanjutkan pekerjaannya. Pun dengan Kia, ia berjalan cepat keluar karena sudah ditunggu oleh sang sopir.
"Pak, antar saya ke apartemen Kak Hans ya?"
"Baik, Non."
Sekitar lima belas menit perjalanan kini Kia sudah tiba di lobby apartemen milik Hans. Ia melangkahkan kaki menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas gedung ini. Kia mempercepat langkahnya menu unit apartemen Hans. Ia memencet bell tidak sabaran begitu sampai di depan unit apartemen Hans.
Hans mengumpat kecil ketika mendengar bunyi bell yang dipencet tidak sabaran. Ia segera bangkit dari tidur dan melihat siapa yang datang.
"Nona Kia," ucap Hans terkejut mendapati Kia berdiri di depan pintu.
"Apakah Kak Rama masih tidur, Kak?" tanya Kiana.
Hans menganggukkan kepalanya, lalu mempersilakan Kia masuk ke dalam apartemen. Kia menyusun nasi goreng dan roti selai yang ia bawa dari rumah di atas meja. Ia juga membuat s**u serta kopi. Ia lantas berjalan menuju kamar tempat Rama tidur. Kia membuka pintu dan masuk ke dalam, dilihatnya sang suami masih meringkuk tertidur pulas, tak ingin mengusik tidur Rama Kiana pun berjalan pelan keluar kamar.
"Kak Hans, aku pergi dulu ya? Bangunkan kak Rama dan ajak ia sarapan ya Kak, aku sudah siapin sarapannya di bawah," ucap Kia berpamitan.
"Loh, Non Kia enggak sarapan bareng saja?" tanya Hans.
Kia menggeleng pelan sembari tersenyum. "Aku buru-buru, Kak. Pagi ini ada ujian sekolah, aku takut terlambat."
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, Non. Semoga ujiannya lancar."
"Terima kasih, Kak." Kia berjalan keluar apartemen tergesa.
Sesampainya di sekolah Kia disambut oleh Intan dan Nia yang terlihat heboh melihat kedatangan Kia. Keduanya menarik lengan Kia menuju bangku kosong di lorong kelas.
"Apaan sih ini?" ucap Kia kesal.
Bukannya menjawab Intan malah justru bertanya kepada Kia. "Gimana Ki? Ayo dong cerita, aku pengen denger nih gimana anu-nya? Lancarkan? Enak enggak?" tanya Intan berurutan.
"Ihh apa sih? Anu apa? Jangan aneh-aneh deh, Tan," desis Kia.
"Ihh Kia gak asik, itu first night lo gimana? Ayo cerita!" ucap Nia memperjelas.
Kia memutar bola mata jengah ia lantas menyentil jidat kedua temannya bergantian.
"Dasar omes lo tuh ya!" cibir Kia.
"Ihh Kia pelit banget sih, ayolah kasih tau. Dikit aja, Pliss?" pinta Nia memelas.
"Ckk ogah!" seru Kia berlalu pergi.
"Kia, Pliss!" ucap Intan mendesak.
"Enggak! gue mau belajar dulu, jangan ganggu gue!"
"Ya sudah, tapi nanti kasih tahu ya? kita penasaran nih, iya 'kan, Tan?"
"Iya, Ni."
"Enggak! udah sana balik ke ruangan kalian!" kekeh Kiana.
"Yahhh," ucap Intan dan Nia memelas. Keduanya menghela nafas pasrah.
Intan dan Nia meninggalkan ruangan Kiana menuju ruang mereka karena sebentar lagi bel masuk kelas. Namun sebelumnya Intan berkata kepada Nia agar memikirkan cara yang lebih jitu untuk mmbuat Kia mau bercerita.
Bel masuk berbunyi. Guru pengawas jalannya ujian masuk ke dalam kelas membagikan soal ujian. Dengan santai Kiana mengerjakan soal-soal yang telah di bagikan dan mengumpulkannya tepat sebelum jam selesai.
Di apartemen dua orang lelaki sedang sarapan bersama. Hans dan Rama memakan makanan yanv telah disiapkan oleh Kia pagi tadi. Rama menyantap makanan dengan lahap, sesekali ia memuji nasi goreng yang ia makan enak, Rama menyangka jika Hans lah yang memasaknya. Hans hanya tersenyum mendengar pujian Rama.
"Nasi goreng ini bukan saya yang buat, Tuan," ucap Hans yang membuat Rama menghentikan makannya.
"Lalu siapa? Kamu pesan dimana?" tanya Rama penasaran.
"Nasi goreng ini buatan Nona Kiana, Tuan," jelas Hans.
Rama yang saat itu sedang meminum air pun tersedak. Ia terkejut gadis kecil yang manja itu bisa memasak nasi goreng seenak ini.
"Kau bercanda 'kan?" ucap Rama tak percaya.
Hans menggelengkan kepalanya. "Saya tidak bercanda, Tuan. Nona Kiana yang menyiapkan semuanya pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah."
Rama terhenyak sesaar mendengat penjelasan Hans.