Matahari sudah sangat tinggi bertengger, tetapi Tulip masih tidur di tempat tidurnya, padahal sekarang sudah hampir jam dua belas siang, bukan Tulip tidak tahu kalau hari sudah siang. tapi entah kenapa sudah dua bulan belakangan ini Tulip seakan-akan terus merasa kelelahan, seperti energinya hilang entah kemana,..
Mungkin itu yang membuat emosi Tulip yang gampang meledak-ledak akhir-akhir ini, seing kali hal sepele saja ia sudah sangat marah dan acapkali melampiaskannya secara tidak sadar kepada anak semata wayangnya itu..
Tulip juga sering kali menyesali ketika hal tersebut terjadi, sebenarnya ia sangat menyangi anaknya.. maka setelah ia tersadar dari marahnya itu, ia pun menangis dan meminta maaf kepada anaknya..
Saat ini isi kepala Tulip rasanya sangat berisik dan penuh.. ia hanya ingin ketenangan, karena itu Tulip hampir setiap hari menghabiskan waktunya di kamar untuk tidur.
Akhirnya di jam satu siang Tulip memutuskan untuk bangun karena ia merasa lapar, ia memasak air dan menyeduh kopi, memasak mie instan dan telur. Setelah semua matang ia segera memakan mie tersebut sampai habis dan mencuci semua alat masak yang ia pakai dan juga piring kotor, setelah selesai mencuci piring ia juga menyapu rumah, lalu pergi pekarangan belakang rumah untuk mencuci pakaian kotor..
Kopi yang tadi ia seduh pun tak lupa dibawanya ke pekarangan belakang, sesekali ia menyesap kopi nya yang sudah mulai dingin, sambil termenung menunggu cucian yang sedang di giling di mesin cuci.
Kali ini pikirannya kembali flashback jauh kemasa remajanya, entah kenapa Tulip sangat rindu masa-masa kecil dan remajanya, mungkin ia rindu kedua orang tua dan kedua kakak nya. Ternyata menjadi dewasa dan menjadi orangtua itu sangat rumit dan tidak mudah, belum lagi merasakan beban hidup yang datang silih berganti..
Tulip sedang duduk di kursi panjang di ruang keluarga, matanya lurus menatap ke arah televisi yang sedang menyiarkan kejadian kerusuhan tahun 1998. Sungguh kejadian tersebut membekas di pikiran Tulip sampai saat ini, sangat mencekam dan menimbulkan kengerian..
Belum lagi krisis moneter yang melanda saat itu, harga kebutuhan jadi semakin mahal, dampaknya sungguh terasa bagi Pak Sudin dan keluarga.
Bayangkan saja, gaji pak Sudin sebagai guru swasta kala itu mencapai tujuh ratus ribu rupiah perbulan, sedangkan upah minimum regional DKI Jakarta itu masih seratus lima puluh ribu rupiah perbulan.
Tiba-tiba nilai tukar rupiah anjlok signifikan dari Rp2.441 ke Rp16.900 per dolar AS hanya dalam waktu singkat, di itambah saat itu pak Sudin juga baru saja pensiun.
Karena pak Sudin telah mengambil sebagian uang pensiunnya di muka, maka kini uang pensiun yang ia terima hanya sekitar tiga ratus empat puluh ribu rupiah. Belum lagi nilai rupiah saat itu anjlok, yang tadinya sepuluh ribu rupiah itu sangat tinggi nominalnya, sekarang seperti tidak ada artinya jika di belanjakan.
Bagaimana hal itu tidak ngeri dirasakan Tulip.. karena akibat dari krisis moneter, sampai-sampai untuk spp sekolahnya Tulip saja pak Sudin pontang panting untuk membayarnya.
"Ma kira-kira kapan Tulip bisa bayar uang SPP, Tulip malu setiap kali di panggil TU ditanya kapan mau bayar SPP nya, Rengek Tulip.
Bu Elen menghela nafas lalu dengan lembut menjawab pertanyaan Tulip, "tunggu ayahmu terima uang pensiun akhir bulan ini yah, nanti langsung di bayar sekaligus dengan tunggakan SPP bulan kemaren."
Tulip manyun karena lagi-lagi harus menahan malu, kalau besok kesekolah pasti ia dipanggil lagi ke ruang TU.
"Trus.. ini sepatu aku bagaimana? udah jebol semua tumit nya, kalau hujan kaos kaki Tulip basah semua, belum lantai kelas juga pasti jadi kotor karena sepatu Tulip, kapan Tulip di beliin sepatu baru ma..?" mata Tulip mengembang menahan tangis.
"Ya, sabar ya.. nanti kalau ada rezeki mama belikan yang baru" seperti biasanya bu Elen tidak bisa menjanjikan pada Tulip kapan ia bisa membelikan nya.
Keesokan paginya Tulip terlihat sedang sibuk menyiapkan perkengkapan sekolah, dan segera bersiap untuk berangkat sekolah, ia menatap langit dari jendela. "Hhgghhh...."Tulip menghempaskan nafasnya, ia sangat muak dengan cuaca di pagi hari akhir-ahir ini, "kenapa sih lagi-lagi mendung, hujannya kenapa gak sore aja..!" gerutu Tulip kesal.
Walaupun demikian Tulip tetap memutuskan untuk berangkat ke sekolah, dengan uang saku pas-pasan yang hanya cukup untuk naik angkot pulang pergi ke sekolah, Tulip tidak pernah lagi diberikan uang jajan sejak krisis ekonomi melanda.
Seringkali Tulip menahan rasa lapar dan ingin sekali jajan, apalagi di cuaca yang sering hujan seperti ini.
Saat teman-teman nya pergi ke kantin Tulip pura-pura menyibukkan diri dengan menulis atau membaca, bukan karena ingin, tapi sekedar mengalihkan perutnya yang sering konser di saat jam istirahat, melihat teman-temannya makan jajanan mereka, perut Tulip semakin menjadi-jadi juga konsernya..
Setelah sampai di sekolah, dengan perasaan was-was dan malu dalam hati, Tulip menoleh ke belakang, memastikan lantai yang telah ia lewati tadi apakah kotor atau tidak akibat dari pijakan kedua sepatunya yang jebol bagian tumit nya itu, yup.. tentu saja kotor..!
Tulip mempercepat langkah kaki nya menuju ruang kelas nya, Tahun ini adalah tahun terakhir ia bersekolah disana, karena Tulip sudah kelas 3 SMP saat ini. (yeaayyy..!)
Tapi sesuai dugaan, ternyata tulip masih harus menahan rasa malunya lagi, karena apa...? ya, karena lagi-lagi setiap musim hujan siswa siswi di haruskan membuka sepatu di pintu masuk ruang kelas, agar kelas tidak becek dan kotor...
Loh bagus dong?! jadi Tulip tidak akan merasa malu saat berjalan-jalan di kelas nanti, sepatu nya tidak akan meninggalkan jejak kotor dan becek di lantai..?
Ohh.. tentu tidak sesimpel itu..! rasa malu yang kedua adalah ketika ia membuka/memakai sepatu dan melepaskan/memasang kembali kaos kakinya.. karena apa? kaos kakinya juga bolong di bagian ujung jempol kaki nya.. yuhuuuu..!
Tulip celingak celinguk memastikan tidak ada yang melihat saat ia membuka sepatunya, lalu dengan kecepatan secepat cahaya ia mekepas kaos kaki nya, lalu memasukkan kedalam sepatunya..
"hhhffhh.. amaaan" bisiknya.
"Ayo.. apa yang aman?" tanya Dian teman sebangku Tulip, entah dari kapan Dian datang dan berdiri di belakangnya.
"eh elo Ian, dari kapan lo di belakang gue? kok, gue ga denger langkah kaki lo?" tanya Tulip kebingungan.
Dian tidak menjawab tapi hanya mengisyaratkan melalui kedua tangan dan pundaknya yang terangkat bersamaan juga bibir bawah nya di buat maju kedepan bersamaan dengan kedua alisnya yang terangkat.
"Btw lo udah ngerjain PR matematika belum?" selidik Dian, ia tahu benar Tulip sering lupa mengerjakan PR nya, bukan hanya Tulip sih, tapi hampir semua teman sekelasnya sering lupa mengerjakan PR, sudah biasa melihat pemandangan kelas pagi hari yang riweh, dimana seluruh siswa dan siswi sibuk menulis atau menyalin dari buku teman yang rajin mengerjakan PR.
Seketika Tulip membeku sesaat, "Aaagghhh.. iya gue lupa ada PR matematika yaa...! untung lo ingetin!"
ucap Tulip panik.
*****