Peristiwa menyesakkan hati

1227 Words
Tulip termenung menatap lurus keluar jendela, diluar terlihat banyak anak-anak sedang bermain, gelak tawa mereka membawa lamunan Tulip jauh kemasa ia masih anak-anak, pikirannya sedang kalut saat ini, buntu.. seakan keadaan menuntut dirinya untuk mengakhiri hidup saja agar ia bisa terbebas dari beban hidup saat ini, layar ponselnya sedari tadi bolak balik mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal, karena Tulip mengaktifkan mode blokir panggilan dari nomor tidak di kenal, jadi sudah enam ratus tiga puluh empat kali panggilan yang tereject dengan otomatis. Panggilan tersebut semua tiada lain adalan dari beberapa debt collector dari pinjol yang sudah menunggak dua minggu lalu. Kopi instant yang diseduhnya dari sejam lalu, kini sudah dingin tanpa di sesap sedikitpun oleh nya, seakan- akan ia tidak pernah menyeduhnya, terabaikan begitu saja.. bukan hanya kopi, tapi semua pekerjaan rumahnya pun terabaikan, bukan malas, tapi dia merasa sangat lelah dan tidak punya semangat walaupun itu hanya untuk menggerakkan jari-jemarinya sekalipun. Tulip.. sosoknya saja ada disitu tapi tidak dengan hati dan pikirannya, yang entah terbang melayang jauh dari dirinya. Tulip kembali mengingat saat di mana tiba-tiba kakak nya Wati mengalami kecelakaan saat menyebrang sewaktu sedang menginap di rumah sepupunya kala itu. Saat kejadian itu ia sedang bermain petak umpat dengan sepupu-sepupu dari anak paman dan bibinya (saudara kandung Ibu Elen yaitu mamanya mama Tulip), sampai tiba-tiba Ara kakak pertama Tulip dan Oval salah satu sepupunya yang lebih tua dua tahun dari nya kembali kerumah paman dan bibinya itu sehabis pergi membeli jajan di sebrang jalan utama yang banyak di lalui kendaraan mulai dari sepeda motor, mini bus sampai bus antar kota, mereka datang dengan tergopoh-gopoh setengah berlari, mata mereka sembab dan basah berlinang air mata.. "Mama.. mama.." teriak Ara yang muncul dari gerbang dan berlari menuju ruang tamu , diasana sedang berkumpul ibu Elen dan kedua kakaknya ibu Elen, mereka sedang bermain remi sambil bercertia, seketika suasana gembira ditempat itu menjadi mencekam, karena tangis kedua anak perempuan yang datang sabil berteriak-teriak dan menangis meraung-raung, entah mungkin karena syok ataupun takut dan merasa bersalah, mata keduanya tampak bengep karena menangis. "Ada apa Ra..?!" selidik ibu Elen "adikmu mana Ra..? Wati dimana..?" perasaan bu Elen tiba-tiba tidak enak, pantes saja sedari tadi bu Elen merasa gelisah, tapi ia tidak tahu kenapa. "Wa.. Wati ma.. hikks.. hiks.. Waaa ti..." Ara sesenggukkan, " iya wati kenapa?" bu Sudin mendesak Ara supaya ia segera memberi tahunya ada apa dengan Wati. "Wati tadi di tabrak mobil, Wati terpental jauh maaa.. hhuwaaaa.. hii..hiks.. darahnya banyak ma.. tadi Wati pingsan, trus ada banyak orang datang ngerubunin Wati, Ar.. Araa takut maaa.. Wati ga akan kenapa-napakan maa? hiks" bibir Ara tampak pucat dan seluruh tubuhnya gemetar hebat, ia sangat ketakutan. Ibu Elen segera memeluk Ara untuk menenangkannya sesaat, lalu ia berkata "sekarang adikmu ada dimana? ayuk antar mama kesana" lalu Ara, Oval, Ibu Sudin dan hampir semua orang dewasa disana pergi ke tempat dimana kejadian yang membuat trauma semua orang saat itu. Tulip masih belum dapat mencerna apa yang sedang terjadi.. karena ia masih kecil saat itu, ia masih dududirumahnyak dikelas 3 Sd, ia ingin menangis tapi disaat bersamaan ia merasa bingung, cemas, yang ia tahu.. kakaknya Waduluti mengalami kecelakaan, dan sedang tidak sadarkan diri sekarang, dalam hatinya ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Sang Pencipta, agar kakanya tetap hidup dan baik-baik saja. Lamunan Tulip kini lompat ke masa kakaknya Wati harus menginap di tempat alih patah tulang selama setahun, Wati terpaksa harus absen sekolah dan belajar mandiri, setiap ujian di lakukan ditempat itu, sampai ujian kelulusan juga, karena saat itu Wati sedang duduk dibangku kelas 6 Sd. Wati menjadi anak yang temperament, sedikit-sedikit marah, mungkin karena ia merasa prustasi dan kesakitan, kaki yang sebelah kanan patah, dan saat itu ia sedang dalam masa pemulihan, meskipun telah dilakukan tindakan urut patah tulang, namun hasilnya tidak sempurna, karena ia tidak tahan dengan rasa sakit yang luar biasa saat kakinya ditarik agar tulangnya yang patah tersambung kembali. Pak Sudin yang menyadari akan hal itu, mencoba menenangkan dan mengambil hati Wati dengn membelikan apa yang iya inginkan, seperti makanan ataupun minuman apa yang Wati inginkan sampai dengan gamebot, dan komik jepang yang sedang trend saat itu, pak Sudin merasa sedih dan iba karena keseharian Wati hanya bisa duduk ataupun tidur saja ditempat tidurnya, seringkali ia mengeluh punggung dan bokongnya panas, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa, yang hanya pak Sudin dapat lakukan hanyalah menghibur anak perempuannya itu dengan mengabulkan keinginannya. Sesekali Tulip ikut membesuk kakaknya saat weekend, ia pergi bersama pak Sudin. "Kita mampir ke toko buku emperan di jalan itu dulu yuk Lip" ajak pak Sudin. "Ayah mau beli buku..? koran..?" Tulip juga kepingin dibeliin majalah BOBO dalam hati nya penuh harap. "Iya, sekalian kakakmu minta dibeliin beberaa komik" pak Sudin mengambil satu koran Pos Kota, dan memilih tiga komik yang sama tapi beada seri. Tulip agak kecewa, karena pak Sudin tidak menawarkan ia untuk membeli majalah BOBO yang dari tadi ia pilah-pilih, meskipun demikian Tulip tidak merengek, di usianya yang tergolong masih sangat muda, ia sudah mulai mengerti keadaan orang tuanya, ia tidak ingin menambah beban mereka lagi dengan rengekannya. Rumah pak Sudin sudah rampung di bangun, para pekerja sudah tidak ada lagi terlihat di rumahnya, walaupun sebenarnya rumah impian pak Sudin belum bisa dikatakan rampung, karena atap plafon belum terpasang, langit-langit atap rumahnya tampak kokoh terpasang kuda-kuda dari kayu untuk menyokong genteng-genteng yang terbuat dari tanah liat, kamar anak-anaknya tidak jadi di bangun di lantai dua, karena rumah tersebut tidak jadi di tingkat seperti rencana awal, ruang tengah lantainya masih plesteran kasar dan tembok nya masih terlihat batu bata merah, dinding ruang tamu dan luar teras, samping dan halaman teras belakangpun belum di cat. Mau bagaimana lagi, pak Sudin dan bu Sudin harus tetap legowo dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi, uang yang tadi nya untuk pembangunan rumah kini mereka alihkan sebagian untuk perawatan kesembuhan Wati. Pak Sudin sebenarnya merasa kecewa degan adik ipar bu Sudin yang seenak nya ikut campur dan memutuskan sepihak untuk berdamai dengan pelaku penabrak Wati saat itu, alasannya karena pelaku tersebut adalah kenalannya, dan biaya pengobatan dan perawatan di bagi dua, separuh dari pelaku dan separuhnya lagi dari pak Sudin. Walaupun demikian kalau dihitung-hitung ya tetap pak Sudin yang sangat dirugikan, karena bukannya fifty-fifty, melainkan pak Sudin yang harus keluar biaya lebih banyak karena menanggung biaya makan transport bolak balik kesana setiap hari. "Wati,, pinjem dong komik nya yang paman gober aja.." Tulip melihat tumpukan komik Wati, ia juga merasa bosan sedari tadi diam dan hanya bisa bengong melihat beberapa orang yang sedari tadi mondar-mandir, di satu ruangan yang besar itu terdapat sekitar sepuluh tempat tidur dan nakas disamping setiap tempat tidurnya, setiap tempat tidur dibatasi hordeng sebagai pemisah nya, sama seperti ruang rawat inap di rumah sakit kelas tiga. "Ga boleh..! ntar lo bacanya di tekuk lagi sampulnya, ntar rusak..!" ketus Wati, ia adalah anak yang paling rapi di rumah, setiap pakaian, buku dan pernak-perniknya selalu tertata rapi. "Gaaa... ga bakalan gua tekuk, beneran deh... boleh yaa" Tulip tampak memelas, suaranya sedikit tercekat hampir menangis. Pak Sudin yang melihat nya, menjadi tidak tega.. ia tahu pasti Tulip sedang mersa sangat bosan, "sudah pinjami saja dulu, kasihan adikmu.. mungkin dia bosan." "Ya udah nihh.." Wati menyodorkan komik paman gober itu dengan sedikit kasar "awas loh kalo ditekuk, buka halaman nya jugaa hati-hati jangan sampai robek, jangan sampai kotor..!!" tegas WAti, sedikit mengancam. "iyaaaaa.. " sambut Tulip kegirangan, matanya berbinar-binar sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD