1. Arka dan Neta

1079 Words
Arkana Nuraz Sadewa. Lelaki yang tidak perlu diragukan ketampanannya. Dengan fisik nyaris sempurna membuat Arka sering dikejar wanita yang cantiknya paripurna. Dia memikat. Ya, Arka. Lelaki pujaan seluruh siswi SMA Cakra Buana, dia pangeran kelas, atau bahkan kaisar di sekolahnya. Sebab ratu di SMA Cakra Buana jatuh cinta kepadanya. Netalia Aurahma. “Arka, kok aku nggak dijemput?” tanya Neta dengan bibir mengerucut. “Aku bukan tukang ojek kamu, sorry aja.” “Ih, kan kamu pacar aku.” Netalia bersama nada manjanya. Biarkan, dia hanya manja kepada Arka seorang. Hanya Arka. Di hidup Neta isinya Arka saja. Dan Arka mendengkus. Memilih diam. Demi Tuhan, jika sekali lagi Arka boleh berkata jujur kepada Neta, dia tidak menyukai perempuan itu. Tidak sama sekali. Tolong garis bawahi, berpacaran dengan Neta saja Arka enggan jika bukan karena taruhan. Ya, taruhan. Neta tahu, tetapi Neta mau. Neta sadar, tetapi Neta enggan menghindar. Neta terluka, tetapi hanya dengan Arka … Neta lupa dengan luka lainnya. Hanya Arkana Nuraz Sadewa, putra dari rekan bisnis papanya, Sehun Adhidarma, yang Neta pikir tepat dia jadikan tempat pelarian. Sebab sekali lagi, hanya Arka seorang yang bisa membuat Neta lupa bahwa di rumah … ada neraka. “Arka, pulangnya bareng loh, ya. Awas aja!” teriak Neta, dia tidak malu meski ditatap sedemikian banyak siswa. Bahkan Neta tersenyum, walau hanya punggung Arka yang Neta lihat. Ah, dia menyukai lelaki itu. Lelaki yang demi Tuhan akan Neta buat takluk, tunduk, dan mencintainya sampai-sampai Arka tidak mau melepasnya. Neta bersumpah, lelaki itu dia tandai … miliknya. Yang Neta tatap dengan nyalang mantan pacar dari seorang Arkana Nuraz Sadewa. Benar … Vira Alisandina namanya. *** Dulu, mengenang di saat Arka masih seorang anak kecil. Dia lahir dan hidup dengan baik di lingkungan yang cukup apik. Dia hidup dan dirawat dengan orang tua yang tidak lengkap, memang, tetapi dewasa kemudian mama dan papanya bersatu, semakin baik kondisi keluarga Arka yang sempat pelik. Namun demikian, Arka tumbuh menjadi remaja yang terdidik. Arka kecil pernah diomeli mama gara-gara sering mengintip isi rok teman perempuannya ketika SD. Bahkan saat itu telinganya dijewer. Mama selalu memberi Arka tausiah mengenai bagian tubuh mana saja yang tidak boleh dia sentuh, yakni tubuhnya perempuan, dan bagian tubuh Arka yang tidak boleh diumbarkan. Banyak hal yang mama larang, tetapi mama tidak memberikan jawaban dari pertanyaan Arka terkait alasan … kenapa? Arka tidak boleh melihat film tumpang-tindih antara laki-laki dan perempuan, di saat Jordy rajin mengirimkannya link yang demikian. Tentu Arka tidak bilang, sebatas tanya kenapa dan mama jawab: Nurut aja. Maka, Arka patuhi mama. Dia memang sepatuh itu sama mama terkecuali kasus dilarang pacaran. Ah, nggak bisa. Arka terlanjur cinta mati sama Vira. Pacarnya. Yang kini menjadi mantan di mata orang-orang. Ah, entahlah. Gara-gara taruhan, status Arka sekarang bermetamorfosis menjadi kekasih Netalia. Si Ratu di sekolah Cakra Buana. “Arka!” Bisa nggak, sih, Neta buta? Supaya nggak lihat Arka. Lama-lama Arka kesal, dia jadi malas sekolah kalau tiap kemunculannya di sana selalu disambut Neta. “Apa?” Perempuan itu tersenyum. Manis. Sayang, Arka terlalu malas meliriknya. “Bareng dong ke kelasnya.” “Kita bahkan nggak searah,” gumam Arka. Yang Neta sahuti, “Santai aja, aku bisa kok nganterin pacar ke kelasnya dulu, baru aku ke kelas aku. Sesimpel itu.” Arka mengerling. Lain hal dengan Neta yang bersinar. Iya, sinar yang berdebu. “Nah, lain kali Arka yang antar aku ke kelas. Sekarang mah gak apa-apa Arka yang aku antarin. Tenang aja, Arka aku maafin.” Yang Arka tatap dengan jengah. Memangnya Arka meminta Neta lakukan itu? Tentu saja, tidak! Agaknya Arka tidak menyangka kalau siswi yang nyaris seisi sekolah kagumi terutama oleh lelaki, ternyata Netalia setidak logis ini, semenggelikan itu, dan Arka tidak suka. “Terserah lah.” Arka nggak mau memusingkan diri dengan terlibat obrolan bersama Neta. Dia langkahkan kakinya memasuki kelas. Saat itu … Neta melihatnya. Seorang Vira Alisandina yang sama-sama menjatuhkan pandang di sosok Neta. Mantan pacar Arka yang Neta pandangi sepersekian detik sebelum berikutnya dia berbalik. *** Ketika pagi burung berpidato. Malamnya, jangkrik bernyanyi. Ketika pagi Neta laksanakan rangkaian skenario. Malamnya, Neta lakukan senandung dalam sunyi. *** Di muka bumi ini, ada satu yang Neta benci: perusak rumah tangga orang tuanya. Kemudian, ada satu yang Neta harap bisa dia lukai: perebut papa dari mamanya. Dan terakhir, ada satu … seseorang yang Neta inginkan kematiannya: pembunuh mama. “Makasih ya, Arka, udah nganterin aku pulang. Kamu baik deh.” Sambil tersenyum, memandang Arka kagum, lelaki tampan, tidak salah kalau di sekolah jadi pangeran dan diperebutkan. “Besok-besok pulang sendiri kan bisa.” “Oh ya gak boleh gitu, dong! Arka kan pacar. Sesama pacar harus saling antar-mengantar pacarnya pulang.” Perspektif dari mana, tuh? Arka menatap Neta malas. “Aku aja pulangnya nggak diantar tuh, walau punya pacar.” “Oh, jadi Arka mau aku anterin pulangnya? Boleh.” Arka berdecak. “Emang lo pacar gue?” Mulai jengah ber-aku-kamu-an dengan Neta. Sangat jengah. Jadi, sudahlah. Toh, sebatas pacar taruhan. Yang tidak berharga. Neta terkekeh. “Lupa, ya? Seminggu lalu kamu nembak aku pake mawar merah loh di belakang sekolah. Ya, aku juga tau sih kalo mawarnya dapat kamu petik dari depan kantor guru. Gak apa-apa kok, suka.” Ugh, lihat! Dengar! Perempuan seperti Netalia, bagaimana bisa menjadi ratu di sekolah Cakra Buana? Arka tak habis pikir. Lebih tidak habis pikir lagi karena dia mau taruhan dengan kawan-kawannya hanya untuk menaklukkan seorang Netalia Aurahma. Dan Arka berhasil. “Terus kamu juga belum putusin aku ... eh, gak bisa, ya? Kan waktu taruhannya sampai kamu lulus sekolah. Berapa bulan lagi, tuh? Masih lama, ya?” Cewek yang katanya tidak tergapai, beku, menolak semua lelaki yang datang. Tapi nyatanya? Apaan! Gampang banget tuh dapetin Neta. Arka cuma perlu metik mawar di depan kantor guru, lalu merangkai kata, dan Neta bersedia. Semudah itu. “Jadi, kita ini pacar terlepas dari Arka anggap aku atau nggak.” Apakah keterangan bahwa adik kelasnya yang satu ini adalah ice queen itu palsu? Hanya rumor? Atau bagaimana? Kenyataan, Neta sebanyak omong ini. “Oh, aku tau!” Neta nyeletuk, Arka masih diam memandangnya. Dan Neta tersenyum sambil berkata, “Jangan-jangan kamu balikan, ya, sama Vira?” Cewek aneh. “Iya, kan? Makanya kamu bilang, emang lo pacar gue? Karena kalo balikan, pasti yang dianggap cuma Vira aja.” Arka tidak bersuara selain menyalakan mesin motornya. “Arka jahat banget kalo gitu.” Terserah. Kemudian Arka berlalu tanpa pamit. Meninggalkan Neta yang masih berdiri di tempatnya. Setia. Arka tidak tahu kalau Neta lama berdiri di sana. Memandangnya. *** N O T E: SELAMAT DATANG DI KISAH ARKA DAN NETA. CERITA INI ADALAH LANJUTAN ATAU SQUEL DARI CERITA HBD YANG KE-21+ HARAP BERSABAR UNTUK BACA LANJUTANNYA.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD