7 | Daddy

1218 Words
Lahar Bara Budiman adalah pimpinan generasi kelima dan pemilik perusahaan furnitur besar merek Luxe. Cucu tertua dari Daaron Edzhar Reinaldi yang merupakan pimpinan Luxe generasi ketiga, dan merupakan cucu dari Atmaja—pendiri PT. Atmaja Group di Jakarta. Ilusi menggigit bibir bagian dalam, jantungnya berdetak kencang. Bukan, ini bukan karena naksir. Informasi tentang Baralah yang membuat jantung Lusi terpancing nge-drum. Bahkan setelah beberapa jam berlalu dari saat dirinya searching tentang itu. Demi Tuhan, Lusi nggak tahu! Nggak pernah dia dengar soal siapa pimpinan tinggi di Atmaja Group—tempatnya magang baru-baru ini. C'mon! Namanya juga cuma anak magang, meski posisinya bukan yang terlalu jauh dari golongan petinggi, tetapi sama sekali para staf tidak me-notice soal siapa CEO-nya, Lusi juga tidak inisiatif mencari tahu jajaran petingginya. Bertemu Bara juga baru dua kali, yang satunya malah tak sengaja di lift. Bicara soal lift, ternyata itu lift eksekutif! Lusi se-ndeso itukah? Padahal sudah tiga tahun di Jakarta. Pantas saja areanya terasa sangat sepi, terpencil, dan seperti jarang dilalui karyawan. Terus waktu Lusi hendak naik lift itu lagi tadi, sebelum benar-benar cabut dari Luxe, liftnya tidak bisa terbuka. Perlu akses kartu dan Ilusi tak punya. Jelas! Lift eksekutif, Uciii! Mana mungkin bisa sembarang orang memasukinya. Saat itu, kan, Ilusi nerobos ketika pintu lift masih terbuka. Ada sosok Lahar Bara di dalamnya. Argh! Makanya tatapan Bara setajam silet kala itu, kan? Dan sekarang Lusi di sini, duduk diam bin tertekan di sisi kemudi. Masalahnya, yang nyetir itu Mr. Bara YTH. Artikel menyebutkan bahwa: Setelah Danapati Jagat Atmaja naik jabatan sebagai Komisaris, Lahar Bara selaku ponakan tertua, di usianya yang menginjak 30 tahun resmi menduduki bangku CEO Luxe. Di mana Atmaja Group telah menjadi salah satu perusahaan raksasa yang produk furniturnya berhasil menjangkau berbagai pasar mancanegara. Kalian tahu itu? Jadi, hanya Lusi yang baru tahu soal siapa Lahar Bara? Anehnya, kenapa Nonalea tidak antusias dengan kedekatan ini? Kenapa harus meminta Ilusi gantikan? "Pak—" "Berapa kali saya bilang, Nona tidak menyebut saya 'Pak.'" Oke, ralat. "S-Sayang—" "Dia juga tidak menyebut saya begitu." Eh? Lusi menoleh, menatap sisi wajah Bara—dari samping terlihat lebih garang, alis dan matanya macam menukik terus, rahangnya juga terlalu kokoh. Ugh ... salfok. "Bukannya Om sendiri yang bilang waktu di hotel bahwa Mbak Nona nyebut Om Bara ini dengan panggilan 'Sayang'?" Sial. Terlalu mencekam. Lusi nyaris bergidik ketika mata tajam itu menatapnya walau sekilas. Why? Karena Ilusi panggil 'Om'? Habisnya sebut 'Pak' juga tidak boleh! Sebut 'Mas' pun diprotesi. Nona beginilah, Nona begitulah. Halah! "Bara," katanya. "Nona memanggil saya Bara, hanya nama." "Jadi, waktu itu Om Bara Yang Terhormat ini bohongin saya?" Sampai Lusi nyebut 'sayang' di kantor, hari terakhir kerja, dan itu diisi dengan sejarah paling memalukan. "Lebih tepatnya, ngetes. Dan terbukti ampuh," balas Bara, santai sekali tutur katanya. "Ngetes?" "Ya. Kepekaan kamu nol persen." Lusi tercengang, lalu mengembuskan napas ala-ala terhenyak. "Saya cuma lagi denial." Menolak yakin bahwa kala itu penyamarannya sudah terbongkar. "Dan sekarang gimana kalau saya sampai salah bicara—" "Jangan salah." Belum selesai ngemeng juga sudah dibabat habis saja kalimatnya! Sabar, Ci. Orang sabar bokongnya aduhai! "Mereka lebih jeli dari yang kamu kira," kata Bara lagi. "And then ... Anda memaksa saya buat menerima peran Nona palsu, padahal tahu kemungkinan saya gagal itu 99%." Bara fokus mengemudi, arahnya ke butik. Ilusi perlu dipermak sebelum Bara ajak ke rumah orang tuanya. "Tapi dibanding orang lain, kamu sudah lebih dulu mengambil peran itu. Harusnya bisa improve." Ndasmu, Pak! "Di samping itu, kamu juga butuh posisi ini. Terlebih setelah resign dari pekerjaan magangmu." Gara-gara siapa Lusi resign? Beliau. Meski asal-muasalnya tentu karena ... salah Ilusi menerima tawaran Nonalea. Harusnya dia tidak terlibat sejak awal, seperti yang Bara bilang. "Jadi, saya sebut Anda apa kalau sedang berperan sebagai diri saya sendiri?" Lusi tak mau memusingkan soal perannya sebagai Nona. "Senyamanmu. Tapi saat ini sebagai bentuk latihan, baiknya samakan dulu saja dengan Nona." B-Bara? Lidahnya ngereog, berasa tak cocok, mengingat rentang usia Bara dengannya adalah selisih 10 tahun—Ilusi lebih muda. "Satu lagi," tutur Bara, suaranya selalu tenang dan terjaga. Ilusi menatap beliau. "Jangan 'saya', gunakan 'aku.'" *** Di lain tempat, ada seorang ibu yang tiap malam mulai sering nangis macam tiga tahun lalu. Rasa sedihnya kembali saat mendengar kabar pernikahan mantan calon suami sang putri. Seperti sengaja ingin melukai—walau waktu sudah berlalu jauh, yang diundang hanya Ilusi. Tidak Kalisa, tidak dirinya selaku ibu Lusi, dan tidak pula sang suami. Well, sejak saat itu hubungan antara orang tua Ilusi dan keluarga Satria jadi saaangat renggang. Ya, siapa yang mau akur? Ibu dan bapak Ilusi merasa sakit hati putri mereka dikatai mandul, tanpa mau mendengarkan dulu penjelasannya, padahal sama sekali tidak ada maksud menipu. Bu kades dan pak kades pun enggan sekadar bertegur sapa. Malah kalau mata tak sengaja berpapasan, memilih melengos—pura-pura tak lihat. Tiga tahun seperti itu, lalu apa maksud Ilusi diundang ke acara nikahan Satria? Tapi undangannya sudah Bu Wiwi bakar, Ilusi tak harus tahu, hanya saja ... Kalisa telanjur menginfo sang kakak. Demikianlah air mata seorang ibu itu kembali menetes. Pesannya belum dibaca pula oleh si sulung. Yang selalu bilang baik-baik saja di Jakarta, yang selalu penuh tawa saat bertelepon. So, Bu Wiwi menelepon anaknya yang berada nun jauh di ibu kota. Yang kalau mau menyusul ke sana perlu menempuh perjalanan selama kurang-lebih empat jam. Lalu di sini, ponsel Ilusi bergetar di dalam tas. "Matikan ponselmu, kita sudah sampai," ucap Bara, memasuki area perumahan. Ibu .... Ilusi membaca nama si pemanggil. Rasanya durhaka sekali kalau menolak panggilan itu. Hanya sebentar. "Halo, Bu." Bara melirik tajam. "Bu, Uci lagi nggak bisa nerima telepon. Nanti kalo udah di kosan, Uci telepon balik, ya?" Sudah, hanya itu. Ilusi pun mengakhiri sambungan nirkabelnya, lalu mengirim pesan singkat agar ibu tidak khawatir di sana dan—Ilusi membeku. Tubuhnya kaku. Kalian tahu? Lahar Bara mencondong ke arahnya, membuat jarak terpangkas banyak, sampai-sampai aroma maskulin itu semerbak lagi di hidungnya. Bahkan terpaan napas panas Bara bisa Lusi rasakan—lagi—di pipinya. Namun, kali ini lebih dekat. Sangat dekat. Lusi tahan napas, apalagi di detik mata ke mata bersua tatap dengan lelaki itu. Yang begitu lebar bahunya, begitu bidang dadanya, hingga Lusi seakan apik tersembunyi di sini. Ilusi mengerjap. Meremas ponsel di dua tangan yang bertengger depan dadaa. Sementara, matanya hanyut pada keindahan wajah Lahar Bara. Tidak, Lusi tidak terpesona. Ini hanya bentuk kekaguman alami dari seorang wanita normal saat melihat pria tampan dan berkarisma. Sampai di detik terdengar bunyi 'klik', barulah Ilusi tersadar, Bara mendekat untuk membukakan sabuk pengamannya. Lepas itu, Bara menjauh dan meletakkan ponsel Ilusi ke pangkuan. Bahkan tangan Lusi yang memegang benda itu pun tertuntun patuh. "Orang tua saya di teras, jangan biarkan mereka melihat kamu lebih tertarik dengan apa pun selain saya." Uh .... Ilusi menelan ludah. Vokal Bara amat rendah, membuat detak jantung tertabuh gundah, lalu ... o-orang tua? Bara pun mengulas senyum, tepat di saat Ilusi menoleh ke arahnya. S-senyum?! Oh, senyumnya cuma akting ternyata. Dan sekarang ... inilah waktunya Ilusi menghadap mereka—seperti yang Bara agendakan—makan malam di rumah orang tuanya. Bara turun lebih dulu, dia pun membukakan pintu bagian Ilusi—si Nona Palsu. Persis di kala kakinya menapak paving block, dari kejauhan Ilusi mendengar suara langkah kaki mendekat disertai seruan, "Daddy!" D-Daddy? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD